
" Tuan Aslan maafkan saya! Saya tak bisa berbuat banyak dan saya juga tak mungkin merelakan pekerjaan saya hanya demi anda…" Sang manajer terpaksa tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh sang pemilik hotel mewah itu.
" Tak apa Tuan saya mengerti…" Dia merasa hancur sekarang. " Kalau begitu saya permisi."
Aslan terpaksa pergi dengan rasa sedihnya, tadi dia yang senang bukan main senyum yang mengembang dari tadi kini hilang dengan wajah sedihnya. Dia sedih karena apa yang ia inginkan tadi kini lenyap sudah. Harapannya kini hilang sudah.
Kenapa ini harus terjadi. Batinnya bergejolak tak karuan saat ini.
Pikirannya campur aduk, saat ini yang diinginkan hanya investor malah sekarang hilang harapannya. Aslan pulang dengan raut yang begitu sedih, dia yang susah payah mendapatkan orang yang mau bekerja sama dengan nya tapi sekarang hilang hanya karena masalah yang sudah terjadi.
Aslan menghela nafasnya dengan berat dia sekarang tak mampu berpikir, seakan semuanya berputar-putar di pikirannya. Hatinya begitu hancur selain dia yang tak menemukan orang lain dia juga harus memikirkan orang-orang yang membantunya akan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan.
" Bos bagaimana kita mendapatkan kontraknya?" Aslan yang baru masuk ke kedainya membuat para karyawannya langsung menanyakan apa yang ingin mereka dengar dari tadi.
Wajah mereka semua begitu senang, mereka juga sudah menunggu kedatangan Aslan dari tadi. Jantung mereka berdetak lebih cepat tak seperti biasanya menunggu jawaban dari pemilik kedai tersebut.
Aslan tak tega mengatakan bahwa dia gagal lagi tapi dia juga tak mungkin berbohong dalam hal ini. Dia hanya menatap satu persatu wajah karyawannya dengan tatapan sendu.
" Bos apa kita mendapatkannya?" Tanyanya dengan di ulangi.
" Maaf kita belum mendapatkannya…" Ucapnya dengan lesu.
Semua orang yang mendengarkannya juga merasa kecewa tak hanya Aslan tapi semua orang yang ada di sana saat ini kecewa. Mereka juga sama lesu nya dengan Aslan.
" Maaf aku mengecewakan kalian semua."
" Tak apa bos ini bukan salah anda!" Timpal yang satunya.
" Jika begitu kita harus lebih extra lagi mencari investor dan bekerja agar kedai kita ramai seperti dulu…" Mereka memberikan semangat untuk Aslan.
Aslan tersenyum meskipun dia kecewa tapi dia tak ingin semua orang tahu bahwa dia kecewa dan terluka.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kita turun ke jalan lagi siapa tahu ada salah satu orang yang mencicipi kue kita lalu mengajak kita kerja sama."
" Ide bagus! Ayo.. ayo…" Mereka bersemangat lagi agar Aslan merasa tak sedih.
Semua karyawannya jelas tahu di sini tak hanya mereka yang kecewa tapi yang paling terpukul adalah bosnya. Kedai yang biasanya ramai kini tiba-tiba sepi tak ada pengunjung sama sekali. Hari ini mereka mendapatkan tawaran dari hotel terkenal tapi nyatanya mereka gagal lagi gagal lagi.
" Aslan kita sungguh tak mendapatkan kontrak itu?" Ibunya datang menghampiri putranya yang saat ini begitu murung. Aslan hanya mengangguk pelan.
Saat ini di kedai itu hanya mereka berdua semua karyawannya telah turun ke jalan mereka ingin mempromosikan kue yang ada di kedai tersebut.
" Apa mereka sungguh tak menyukai kue kita tadi?" Aslan menggeleng dengan pelan juga.
" Bukan hanya tak menyukai kue nya Bu tapi pemilik hotel iti tak menyukai aku juga…" Dia mengusap wajahnya dengan kasar. " Ini semua salahku jika saja."
Aslan tak jadi melanjutkan ucapannya dia tak jadi meneruskan apa yang ingin ia katakan.
" Apa yang kau katakan? Kenapa? Jika saja apa?"
Aslan membuang nafasnya dengan berat dia tak ingin bercerita kepada ibunya tapi jika dia tak bercerita dadanya terasa sesak dan penuh dengan semua kejadian yang sedang menimpah nya saat ini.
" Astaga…" Ibunya jelas paham saat ini.
Setiap orangtua pasti merasakan kemarahan jika calon menantunya di ambil oleh orang lain pasti mereka juga akan melakukan hal itu kepada orang yang mengambilnya.
" Bu sebenarnya banyak orang yang tak menyukai aku, tak hanya dengan kedua orang tua Tuan Kemal tapi kedua orang tua Cevdav juga sangat membenci ku."
Deg !!
\=\=\=\=
" Kau harus tenang mungkin Aslan hanya sedang kondisi nya tak baik jadi dia sedikit marah padamu…" Kemal mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
" Aku tahu tapi kenapa dia malah membentak ku dan marah padaku hanya karena aku yang ingin membantunya. Dia adalah suamiku dan aku juga berhak membantunya tapi kenapa dia malah menganggap aku ingin merendahkan nya di depan orang tua ku…" Tangisannya pecah dari tadi dia yang bercerita tentang masalahnya sudah meneteskan air matanya dengan isak tangis.
" Terkadang ego laki laki lebih tinggi Cev kau harus sadar tentang hal itu."
" Tapi dia tak memikirkan pikiranku sedikit pun, dia meminta maaf tapi tak ada ujungnya kami malah bertengkar hebat dan yang membuatku tak habis pikir dia malah menjelekan keluarga yang tak menyukainya dan dia malah membandingkan dirinya dengan mu…" Ujarnya dengan keceplosan.
" Maksudmu membandingkan dengan ku?"
" Tidak! Tidak ada!" Katanya dengan dia yang gugup.
" Cev apa yang kau katakan barusan?"
" Tidak ada Kemal!" Dia tak ingin berkata jujur tapi sayangnya Kemal bukan orang yang mudah melupakan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
" Jika kamu tak mau jujur tak masalah bagiku tapi aku yang akan mencari tahu sendiri ke Aslan…" Kemal berdiri dengan cepat.
" Tidak jangan lakukan ku mohon!" Cevdav menarik tangan Kemal dengan cepat agar laki laki itu tak jadi pergi.
" Jika kau tak ingin aku menemui Cevdav maka katakan apa yang kau maksud tadi?" Mau tak mau kali ini Cevdav harus mengakui apa yang dikatakan tadi. " Cevdav!" Panggilnya dengan nada serius.
" Iya aku akan katakan tapi jangan marah pada Aslan."
" Katakan!"
" Dia hanya ingin sepertimu yang mendirikan usahanya tanpa bantuan siapapun, dia tak ingin aku bantu karena dia ingin berdiri dengan kakinya sendiri dan dia selalu membandingkan dirinya dengan mu."
Cevdav menceritakan semuanya dari awal pertengkaran yang membuat mereka kini sedikit menjaga jarak, kemarahan Cevdav ketika suaminya malah menyalahkan keluarganya. Kemal mengepalkan tangannya bagaimana bisa dia melampiaskan semuanya kepada sahabatnya.
" Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?"
" Kemal jangan katakan kepada orang tua ku, aku tak ingin mereka marah kepada Aslan. Aku sudah berulang kali menjelaskan bahwa tak mungkin mereka tak menyukai nya meskipun semuanya butuh proses."
__ADS_1
" Jika dia seperti itu aku tak akan melepaskanmu. Dia tak mampu membuatmu bahagia malah dia membuatmu terluka seperti sekarang…" Nada emosinya dan dingin.
Cevdav hanya diam seribu bahasa dia tak bisa membantah karena terlihat jelas nada dari Kemal begitu marah dan kecewa dengan Aslan.