Cinta Bernoda Darah

Cinta Bernoda Darah
Cinta Mereka


__ADS_3

" Sayang kamu ada di sini?" Cevdav yang tadi keluar kini langsung di sambut mesra oleh Aslan. 


" Hai selamat datang!" Dia yang saat ini malah canggung. Cevdav yang menerima pelukan itu merasa dia yang tiba-tiba canggung. " Sejak kapan ada di sini?" 


" Dari tadi. Apa kamu mendapatkan kontraknya Sayang?" Mereka saling melepaskan pelukan itu dengan saling menatap satu sama lain.


" Kita pasti mendapatkannya, aku yakin. Pemilik dari hotel tadi juga menyukai kue kita, hanya saja dia tak bisa memutuskan satu pihak dia ingin berunding hanya saja dia memastikan bahwa mereka pasti akan mengontrak kita…" Senyum Aslan begitu lebar tak dapat di pungkiri bahwa dia begitu senang.  Meskipun dia belum mendengar keputusan final nya.


" Selamat kalau begitu…" Senyumnya yang tipis seakan di paksa. Hatinya begitu terluka melihat kedekatan sang suami bersama wanita lain tapi dia juga senang karena suaminya sebentar lagi bisa menemukan jalan keluar untuk kedainya.


" Nona Ariana sekali lagi terima kasih karena sudah membantu Suami saya. Jika tak ada anda kami mungkin tak memiliki harapan seperti sekarang…" Timpalnya lagi dengan dia yang menatap ke arah Ariana yang saat ini berdiri tak bisa berkutik di sana.


" Ah iya sama-sama aku senang membantu orang yang saat ini membutuhkan bantuan ku…" Suaranya begitu canggung dia juga tak tau kenapa hatinya terasa sakit ketika melihat Aslan begitu saja memeluk Istrinya di depan nya.


Cevdav dan Ariana terlihat tersenyum tapi ada arti makna tersendiri dari senyuman mereka berdua saat ini, hanya mereka yang tau bagaimana arti senyuman yang terukir di ujung bibir kedua wanita yang saling menatap tersebut.


" Sayang kenapa kamu tidak menyuruh Nona Ariana untuk duduk, agar yang lain membuatkan minuman untuknya. Aku pikir kalian lelah seharian ini."


" Aku hampir lupa maafkan aku. Gara-gara melihat kamu aku melupakan semuanya…" Ucapnya dengan dia yang tersenyum penuh cinta.


" Aslan kau membuat ku malu!" Cevdav kini memukul pelan lenggan Suaminya ketika sang Suami secara tiba-tiba mencuri ciuman kecil di pipinya. Ariana yang melihatnya kini merasa hatinya tertusuk dia dengan cepat memalingkan mukanya dengan perasaan yang campur aduk.

__ADS_1


" Nona Ariana silahkan duduk saya akan buatkan anda minuman!"


" Ah iya terima kasih!" Ariana dengan segera duduk dia berharap saat ini Aslan duduk di sebelahnya tapi saat ini dia sadar bahkan Aslan tak mungkin ikut duduk di sebelahnya dia akan mengikuti Istrinya.


Rasa apa ini ya Tuhan, rasa ini ada seperti aku bersama Kemal. Tuhan dia sudah memiliki Istri jangan buat aku seperti ini lagi. Batinnya bergejolak dia tak ingin menyiksa dirinya karena mencintai orang yang mungkin tidak mencintai dirinya.


" Bawah minuman ini ke depan katakan pada Ariana aku masih ada hal yang perlu dibahas dengan Istriku…" Perintahnya ketika dia sudah selesai membuat minuman serta kue ringan untuk  kepada Ariana yang saat ini sedang duduk manis di depan.


" Sayang aku merindukanmu!" Aslan secara tiba-tiba memeluk Cevdav dari belakang ketika pegawainya tadi sudah keluar dengan nampan di tangannya.


Cevdav tersenyum dia senang bahwa suaminya sifatnya tak berubah apa yang dikhawatirkan tadi seakan lenyap seketika ketika melihat tingkah laku sang suami yang sama seperti dulu.


Aslan tersenyum dengan dia yang menggeleng pelan. Kedua tangannya kini berada di wajahnya menyentuhnya dengan lembut. " Tak apa Sayang ini semua salahku, jika saja waktu itu aku mendengarkan apa yang kamu katakan maka kita tak mungkin berjauhan. Jadi maafkan aku."


" Kita semua salah oke jadi jangan salahkan dirimu sendiri."


Tak ada kata kata yang mampu terucap lagi hanya tatapan penuh cinta yang begitu tulus dari mereka berdua saat ini yang terpancar, cinta serta kerinduan kini seakan melekat begitu nyata di wajah serta mata mereka berdua.


Tak ada yang tau siapa yang memulainya hanya saja saat ini kedua bibir itu bertemu dengan mesra, mereka seakan saling melepaskan kerinduan yang terpendam beberapa minggu ini. Mereka saling membelitkan lida* saling menekan satu sama lain, ciuma* yang begitu lembut seakan menggambarkan bahwa mereka sama-sama saling merindukan satu sama lain.


Mereka saling membalas saling menyesa* satu sama lain, saling menyapa di antara kedua lida* tersebut. Aslan mengangkat tubuh Istrinya untuk duduk di antara meja besar yang ada di sana. Tangan Cevdav kini berada di lehernya saling mengikis jarak di antara keduanya, tangan Aslan tentu saja tidak akan tinggal diam dia berkeliaran menjelajahi tubuh Istrinya yang terbuka.

__ADS_1


" Hmmm.. Aslan.. hentikan…" Cevdav sadar ini bukan tempat yang tepat mereka berada di tengah-tengah banyak orang saat ini.


" Aku sangat merindukanmu Sayang!" Bisiknya tepat di telinga Cevdav sesekali dia mencoba menggoda sang Istri dengan lida* nya yang sengaja menyentuh telinga nya.


" Sayang aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu tapi kita di kedai… Argh…" Otaknya ingin menolak semuanya tapi bahasa tubuhnya sangat menginginkan sentuhan yang saat ini begitu ingin mereka rasakan.


" Aku tau! Aku akan menutup pintunya jika begitu…" Aslan sudah kehilangan akalnya mana mungkin mereka akan melakukan hubungan di tengah-tengah banyak orang saat ini.


" Sayang hentikan!" Dia menolak nya lagi meskipun tubuhnya merespon cepat apa yang di terima tapi akal sehatnya masih bisa untuk berpikir.


" Kau menolakku tapi bahasa tubuhmu sangat menginginkan ku Sayang…" Senyumnya dengan mata mereka saling menatap satu sama lain.


Kedua tangan Cevdav menyentuh rahang Suaminya menatap dalam dalam mata yang terpancar hasrat serta cinta mereka yang begitu tulus. " Sayang aku sangat menginginkanmu percayalah aku juga sangat merindukanmu. Kau tau bagaimana tubuhku merespon ini dengan cepat hanya saja kita sedang berada di kedai kita tak mungkin melakukan ini di sini bukan? Bukannya aku menolak!" Cevdav segera menjelaskan apa yang ada di pikirannya dia tak mungkin melakukan hal ini di sini.


Terdengar hembusan nafas kasar dari Aslan dia menatap sekelilingnya dengan cepat. " Aku tau aku salah tempat sepertinya!" Dia tersenyum sendiri ketika dia sadar bahwa mereka berdua tak sedang berada di tempat yang aman.


Mereka saling tersenyum dengan saling menempelkan kening dengan mata mereka yang terpejam. " Maafkan aku! Tapi sebentar lagi masalah kita akan selesai dan kita akan kembali bersama. Aku sedang berjuang untuk memantaskan diriku untuk berdiri di sampingmu!"


" Segera lakukan karena aku tak sabar untuk bersamamu lagi seperti dulu Sayang!" 


Mereka langsung saling memeluk satu sama lain, mereka sepasang suami istri tapi mereka dipisahkan karena kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2