
" Aslan dimana Cevdav?" Wanita tua itu menatap sekeliling putranya mencari sosok menantu nya tapi dia tak melihat sama sekali. " Apa dia tak mau ikut denganmu?" Wajahnya sedih suaranya juga sedikit bergetar.
Aslan menghela nafasnya dengan kasar dia mengusap wajahnya dengan kasar, Aslan langsung duduk di kursi dengan wajah yang sangat terlihat murung.
" Aslan jadi Cevdav benar tak ingin pulang bersamamu?" Saat ini sang Ibu malah bergetar suaranya dia berusaha untuk kuat tapi nyatanya wanita tua itu tak bisa.
" Papa tak mengizinkan aku membawa Cevdav Bu!" Suaranya lemas. " Aku sudah berusaha tapi mereka tetap tak membiarkan aku membawa Cevdav."
" Kalian disana bertengkar?"
" Aku berusaha untuk mengalah kali ini Bu, aku juga terpaksa mengakui bahwa apa yang aku katakan kemarin adalah kebohongan yang sengaja aku lakukan karena aku merasa iri kepada Tuan Kemal…" Dia mengusap wajahnya berulang kali dengan kasar dia tak tahu saat ini harus seperti apalagi.
" Lalu apa Cevdav juga tak ingin kembali kepadamu?"
" Dia ingin kembali Bu tapi-" Aslan menghentikan ucapannya dengan wajah yang benar benar lesu.
" Tapi apa?"
Aslan memejamkan matanya mengingat apa yang dikatakan oleh Istrinya itu. Masalah yang awalnya kecil nyata sekarang kini tambah besar karena dia yang tak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Ibu nya waktu itu. Jika saja waktu itu dia bisa menahan emosinya mungkin ini semua tak akan terjadi.
Flashback On
Cevdav dan Aslan saat ini sedang berada di dalam kamar, hanya mereka berdua yang ada di sana. Tak ada pembicaraan diantara mereka saat ini. Hanya rasa canggung dan dingin yang menerpa kedua insan yang sedang diam dengan pemikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
" Sayang aku ingin kita bicara baik-baik. Aku minta maaf karena aku salah sudah berkata yang tidak-tidak tentang keluargamu, aku juga salah telah memiliki sifat iri kepada Tuan Kemal, harusnya aku tak melakukan ini semua…" Aslan yang dari tadi diam memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk dikatakan kepada Istrinya yang sama-sama diam di sana.
Cevdav yang tadi menangis kini menghapus air matanya dia menghela nafasnya dengan berat dia yang tadi tak menatap ke arah Suaminya kini langsung menghadap ke arah Suaminya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" Kenapa kamu tega melakukan ini kepada ku?, Apa salahku atau keluargaku?" Suaranya bergetar dia juga tak habis pikir dengan suaminya yang mengakui hal tersebut.
" Cevdav semua orang telah memuji Tuan Kemal dia adalah orang hebat, laki laki terpandang, dia memiliki semuanya. Kedua orang tuamu juga sangat menyayanginya. Sedangkan aku hanya seorang menantu yang tidak tahu diri, menantu yang miskin yang tak memiliki apapun. Aku-"
" Lalu jika kau miskin apa keluargaku pernah menghinamu?" Tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
" Waktu itu aku bertemu dengan Papa dan rekan kerja nya menghina ku dan membandingkan aku dengan Tuan Kemal yang memiliki segalanya dan itu mungkin membuat Papa malu hingga menyuruhku pulang meskipun pada awalnya Papa mengakui bahwa aku memang menantunya…" Aslan memejamkan matanya dia tahu apa yang dikatakan oleh dirinya adalah kebohongan.
Mertuanya memang mengakui dia sebagai menantunya tapi setelah itu dia menghina Aslan dengan berbagai perkataan hingga membuatnya terluka berulang kali.
" Cevdav Sayang aku tahu aku salah, aku memang bodoh bisa berpikir seperti itu. Aku tak berpikir logis tapi mengerti lah aku seperti ini karena aku merasa iri kepada Tuan Kemal. Mereka semua memuji Tuan Kemal membandingkan aku dengan nya. Aku marah, aku kecewa dengan keadaan ku hingga aku memiliki pikiran buruk tentang kalian semua…" Elaknya dengan segera.
Cevdav hanya mampu menggeleng dia tak bisa mengerti dengan jalan pikiran suaminya saat ini.
" Kenapa kamu malah memikirkan apa yang orang katakan? Yang terpenting adalah aku yang tak membandingkan dirimu dengan laki laki manapun. Aku Istrimu bukan mereka."
" Aku tahu aku salah saat ini, maafkan aku Sayang, maafkan aku!" Tak ada lagi yang bisa diucapkan karena ini semua adalah kebohongan semata. Dia terpaksa berbicara seperti ini agar semua masalahnya selesai.
" Kau memang salah! Apa kau tak lihat tadi Kemal membela kita, bahkan dia yang berhasil membujuk Papa tadi. Kenapa kau masih tega dengan nya…" Cevdav malah tak habis pikir saat ini.
__ADS_1
" Aku tahu aku salah, aku akan meminta maaf kepadanya nanti…" Ujarnya membuat kedua orang itu diam. " Cev aku datang kemari tak hanya untuk meminta maaf tapi ingin membawamu pulang. Aku ingin kita seperti dulu dan aku juga akan menerima bantuan mu itu."
" Kamu mau menerima tawaran ku untuk kedai itu?" Aslan mengangguk tak ada jalan lain selain dia harus menerima bantuan dari Istrinya.
" Apa kau mau jika kita pulang dan kembali seperti dulu lagi?"
" Tentu aku akan pulang bersamamu! Tapi untuk sementara aku ingin disini menenangkan hati Papa dan Mama. Jika aku pulang sekarang maka semuanya akan menjadi berantakan Aslan. Saat ini mereka sedang marah denganmu jika aku pulang kesana mereka bisa memisahkan kita."
" Jadi kau tak akan pulang bersama ku?"
" Aku akan pulang nanti! Tapi tidak sekarang. Aku akan menenangkan kedua orang tua ku dulu. Mereka sangat marah padamu jika kamu terus memaksa aku pulang bersamamu ini akan berdampak buruk tentang rumah tangga kita…" Cevdav saat ini harus merayu Papanya dia ingin semuanya baik-baik tanpa ada harus pertengkaran.
" Sayang ini bukan alasanmu karena kamu belum memaafkan aku bukan?"
" Aku memaafkanmu Sayang! Meskipun aku kecewa aku sudah memaafkanmu tapi please untuk sementara aku tinggal di sini jika semuanya sudah dingin dan aman aku akan pulang. Aku tak ingin semuanya berantakan lagi…" Mata mereka bertatapan dengan tangan mereka saling menggenggam erat satu sama lain.
" Baiklah aku mengerti Sayang, aku akan menuruti apa yang kamu katakan. Ini adalah salahku jadi aku harus menanggung semua resiko ini."
" Hanya sementara aku janji tak akan lama! Aku hanya butuh untuk bicara dan memberi pengertian kepada mereka berdua. Kalau sekarang aku bicara kepada Papa yang jelas saat ini Papa akan tambah murka, aku hanya mencari waktu yang tepat ketika emosinya sudah menurun aku akan bicara baik-baik."
" Maafkan aku Sayang ini salah ku!" Aslan mendekap tubuh Istrinya dengan erat dia merasa bertambah bersalah jika saja waktu itu dia bisa mengontrol emosinya ini semua tak akan pernah terjadi. Tapi semuanya sudah terlanjur dan itu membuat semuanya berantakan tak karuan.
Flashback of
__ADS_1