
" Aku hanya bertengkar dengan Aslan Ma, Kemal yang membesarkan masalahku. Aku dan Aslan bahagia…" Ucapnya dengan sisa tangisannya.
" Aku hanya membesarkan masalahmu Cev? Aku memang wanita bodoh yang sudah tertutupi oleh cinta butamu itu…" Katanya dengan nada tinggi. Kemal tak peduli dia tak peduli dengan kedua orang tua itu melihat ke arahnya.
" Harusnya kau tahu mana yang berhak kau bela atau tidak. Dan suamimu itu tak berhak kau bela. Aku tahu dia suami tapi disini kau punya keluarga yang selalu ada disisimu dari kau kecil hingga sekarang. Apa kau juga tak memikirkan perasaan mereka yang kau pikirkan hanya perasan suami kurang ajar mu itu…" Emosinya meluap ketika sahabatnya malah tak ingin membuka masalah apa yang terjadi.
Cevdav melepaskan pelukan sang Mama berbalik menatap ke arah Kemal dengan mata yang merah karena dia menangis dari tadi.
" Kau siapa mengatakan suamiku seperti itu? Kau tak berhak ikut campur dalam urusan keluarga ku, kau hanya orang lain disini…" Jawabnya dengan sinis. Entah sadar atau tidak Cevdav melukai hati Kemal saat ini.
" Cevdav apa yang kau kata-"
" Tak apa Ma aku memang orang lain disini. Aku sudah tak menjadi sahabatnya yang selalu dianggap kakak baginya. Aku tak masalah sekarang dia berkata seperti itu…" Kemal tersenyum getir.
" Kemal aku tak bermaksud seperti itu…" Cevdav kini sadar bahwa apa yang dia katakan sudah keterlaluan tapi ini semua karena dia emosi. " Aku minta maaf."
" Tak perlu, sekarang kau menyadarkan aku tentang siapa aku bagimu. Aku hanya ingin melindungi sahabatku yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri tapi kau mempertanyakan status kita. Jika kau sudah tak menganggapku lagi tak apa sebaiknya aku pergi mulai sekarang…" Kemal lagi lagi tersenyum hatinya kecewa dan terluka tentang apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
" Sudah cukup hentikan!" Bentakan dari Papa membuat mereka diam. " Kemal ada apa ini tolong katakan apa ada?"
Kemal membuang nafasnya dengan kasar dengan dia yang diam. Jika aku tak mengatakan apa yang terjadi Cevdav tak akan mau mengaku dan dia mudah kembali dengan Aslan.
" Kemal!"
" Paa.. maafkan aku mungkin ini yang terakhir kalinya aku ikut campur urusan keluarga kalian setelah ini aku akan pergi dari kalian…" Kemal menekan kata katanya.
" Tidak Kemal jangan berkata seperti itu."
__ADS_1
" Cevdav dan Aslan bertengkar dia…" Kemal mulai bercerita tentang apa yang terjadi. Emosi yang tadi menggebu kini luntur dengan rasa kecewa yang telah ia terima dari ucapan Cevdav barusan.
\=\=\=
" Jadi tadi mereka bertiga bertengkar di pinggir jalan?" Seorang yang melapor langsung mendapatkan kebahagian dari bos nya.
" Anda benar bos! Yang sempat saya dengar tadi, Aslan menuduh orang tua Nona Cevdav yang membuat kedai nya sepi dan dia juga mengatakan bahwa orang tua Tuan Kemal yang sudah membuatnya tak jadi menerima kontrak itu…" Lapornya.
Orang itu tertawa keras dia bahagia mendengar kabar ini. " Dia pikir dia siapa bisa membuat putra ku harus kehilangan cintanya? Putraku yang malang itu sekarang harus melihat wanita yang dicintai bersama laki laki lain."
" Lalu apalagi yang kau lihat di sana tadi?"
" Nona Cevdav di bawah pergi oleh Tuan Kemal."
" Benarkah? Ini berita yang sangat membahagiakan sepertinya aku harus bertanya kepada sahabatku. Aku yakin dia pasti senang jika mendengar rencana ku untuk memisahkan kedua orang itu hampir berhasil…" Senyumnya mengembang dengan senang.
" Jangan biarkan satu orang pun masuk kesana tapi ada yang harus kalian kerjakan setelah ini…" Idenya kini bermunculan di otak liciknya. " Ingat kau harus mencegah jika dia ingin mendapatkan investor kau ikuti saja dia dan laporkan siapa yang dia datang aku akan menghubunginya."
" Siap bos!" Laki laki itu kini pergi dengan segera menjalankan perintahnya dengan segera.
Sedangkan orang itu kini bahagia karena sudah hampir berhasil membuat laki laki yang dia benci dalam kesusahan. Senyumnya dari tadi begitu mengembang dia begitu senang mendengar berita yang dibawah oleh orang nya.
" Kau lihat saja kau akan hancur, sehancur-hancur nya bahkan lebih hancur dari putra ku Kemal…" Desis nya dengan menatap kedepan.
Dia tak sabar melihat kehancuran laki laki yang bernama Aslan. Laki laki yang membuat putranya hancur berbulan-bulan. Saat ini dia yang bertindak balas dendam menghancurkan usaha kecil milik dari Aslan.
" Jika aku menghancurkan kedainya malah membuat rumah tangga nya juga hancur, bukankah itu juga bonus bagi ku…" Katanya dengan tawa yang senang. Tak dapat dipungkiri bahwa laki laki tua itu begitu senang.
__ADS_1
" Aku tak sabar melihat kehancuran Aslan seperti kertas ini…" Sambungnya dengan meremas kertas yang ada di tangan nya.
Matanya menatap kedepan dengan dendam yang membara, orang tua mana yang tak terluka ketika melihat putra satu-satunya menderita hanya karena cinta. Cinta yang telah dipendam bertahun-tahun harus tertahan ketika wanita yang dicintai harus direbut oleh laki-laki lain.
Egois? Iya dia memang egois. Tak seharusnya hanya Aslan yang disalahkan, ada pihak wanita yang juga harus disalahkan disini tetapi hati nya lemah karena dia juga sudah menganggap wanita itu seperti anak nya sendiri. Saat ini kehancuran kedai kecil dan kehancuran rumah tangga Aslan juga sudah terlihat. Hanya tinggal menunggu bom waktu untuk meledak, kapan kehancuran itu benar-benar terjadi.
***
Bruak!!!
" Kurang ajar! Dia pikir dia siapa seenaknya menuduhku seperti itu? Apa dia pikir aku tak memiliki pekerjaan yang lebih penting dengan menghancurkan kedai kecilnya hah?" Gebrakan meja serta nada emosi kini membuat semua orang yang di sana diam seribu bahasa.
" Anak itu benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa dia menuduh kita menyabotase kedai nya. Apa dia pikir kita ingin melihat anak kita menderita di sana…" Timpal sang Mama yang juga tak terima dengan tuduhan itu.
Dada mereka naik turun wajahnya memerah karena emosi. Telinganya panas mendengar apa yang diceritakan oleh Kemal. Cevdav tak bisa berkutik karena dia sendiri juga mendengar apa yang dikatakan suaminya tadi.
" Maa, Paa, aku yakin ini hanya salah paham. Aku juga belum mendengar penjelasannya kenapa dia bisa berkata seperti itu…" Cevdav masih saja membela suaminya meskipun dia sendiri beberapa hari ini berdebat tentang masalah ini.
" Kau masih ingin membela suamimu itu? Padahal kau sendiri juga mendengarnya…" Sang Papa tampak tak habis pikir dengan putrinya.
" Aku hanya butuh alasannya Pa."
" Alasan apa lagi yang ingin kau dengar? Kau ingin dengar dia berkata apa?"
Cevdav hanya diam dia tak bisa berkata-kata sebaliknya dengan Kemal yang juga hanya diam. Dia membisu seribu bahasa padahal dia selalu orang yang membela nya jika kedua orang tuanya marah pada dirinya tapi kali ini Kemal diam bagaikan patung tak bersuara.
Bersambung Besok ya jangan lupa kasih like dan ramaikan kolom komentar dulu ya 🤗
__ADS_1