
**Ketika matamu menatap kearahku
Dunia terasa berhenti
Detak jantungku seakan tak memiliki ritme lagi
Ada apa.dengan diriku,masih kupelajari
Aku sungguh tidak mengerti
Akankah ini hanya rasaku,ataukah kau juga rasa yang sama
Oh ataukah mungkin aku hanya bermimpi
Menjadi kekasih hatimu
Apakah benar bagiku berharap dengan rasa ini
Sungguh rasa ini sangat menyiksaku
Semoga kau pun rasa yang sama denganku
Itulah harapku
//Briptu Wito Prasetyo//
*
*
Setelah makan siang yang begitu menggugah selera dirumah pak Budi,aku segera mengajak Anit untuk kerumah.
Dengan dalih untuk membantuku mengerjakan tugas,sebagai imbalan karena aku sudah membantu Anit bersih-bersih tadi.
Padahal itu hanya modusku saja,entah hari ini aku ingin sekali berdua dengan gadis kecil ini.
Saat kudengar dia berbicara bahwa aku dan Arya adalah manusia berlebel,sejujurnya aku sedikit terkejut,namun aku segera tersenyum ketika dia mengatakan bahwa tak akan ada perempuan yang bakal nolak aku dan Arya.
Timbul niat dalam diriku untuk bertanya.
__ADS_1
"Berarti termasuk kamu juga,kan dek?",tanyaku padanya.
Mendengar pertanyaanku,jelas sekali jika Anit terkaget,hingga timbul niat isengku untuk mengerjainya lagi.Kugoda dia,lalu kutanyakan padanya apakah dia bukan wamita juga,kenapa dia tidak termasuk salah satunya?
Wajah Anit makin memerah karena malu,semua itu terlihat sangat jelas dimataku,hingga entah bisikan darimana,tiba-tiba dengan refleks kutarik tangan Anit,lalu kududukkan dipangkuanku.
Dia berontak berusaha untuk lepas,nampak sekali kalau Anit sangat tidak nyaman dengan keadaan ini.Dia terus berusaha lepas dari pangkuanku,hingga membuat sesuatu berdiri tegak,namun bukan keadilan.
Entah disadari atau tidak oleh Anit,namun aku tetap tak ingin melepaskan tubuhnya.Jujur ketika kudekap tubuhnya,ada rasa nyaman disana.
"Tolong,biarkan sebentar mas seperti ini",kataku pada Anit ketika dia terus berusaha untuk berontak.
Namun perlahan-lahan kurasakan belaian lembut tangannya dikepalaku.Sungguh aku tak menyangka kalau Anit sepeka ini.
"Mas kenapa?Cerita sama Anit,mana tahu bisa swsikit mengurangi beban mas",kata lembut Anit seolah salju yang turun digurun pasir dihatiku.
Begitu menyejukkan,hingga membuatku merasa nyaman dan dengan sendirinya aku ceritakan tentang semua rasa sakitku.Semua cerita mengalir begitu saja.
Dan meski Anit masih tergolong kecil bagiku,karena saat ini usianya belum genap sembilan belas tahun,namun Anit sungguh dewasa.Dia benar-benar jadi pendengar yang baik,karena selama aku bercerita ,dia tidak memotong pembicaraanku sama sekali.
Baru setelah aku selesai bercerita,dia berkomentar,yang lagi-lagi membuatku semakin mengaguminya.
Aku pun jadi tersadar,benar sekali semua kata-kata Anita Angelia ini,iya untungnya Allah menunjukkan aslinya mantan pacarku disaat kita masih pacaran,kalau kami sudah menikah,wwaah ngga tahu lagi harus bagaimana.
Apalagi diinstansi tempatku mengabdi ini,kami tidak bileh berpoligami,tidak kebayang akan seperti apa hidupku jika hal itu terjadi.
"Benar juga apa yang kamu katakan dek",jawabku pada pernyataan Anit.
Kulihat dia begitu terhanyut dengan ceritaku,entah bisikan dari mana,timbul lagi niat iseng dalam diriku.Entah kenapa aku begitu menikmati saat aku menggoda Anit.
"Kalau gitu tolong nanti temani aku menghadapi mantan mas ya!"pintaku pada Anit.
Mendengar permintaan ku,Anit menolak.Berbagai alasan dia sampaikan.Akhirnya aku mengancam akan melakukan sesuatu pada tubuhnya dia menolak ajakanku.
Kulihat dia menegang ketakutan,dan ini yangembuatku terhibur.Lihatlah kegugupannya,rona pipinya yang tiba-tiba memerah membuatnya terlihat semakin imut dan lucu.Aah dasar gadis kecilku,sepertinya aku sudah jatuh cinta pada gadis kecil ini sejak pertama melihat tatapan mata cokaltnya malam itu.
Untuk semakinenggodanya,aku pun semakin mengeratkan pelukanku pada pinggangnya yang ramping.Akhirnya dengan terbata dia menjawab dan bersedia menemaniku.
Sebenarnya,jikapun aku sendiri,aku juga tidak apa-apa.Hanya saja rasanya akan lebih nyaman jika Anit bersamaku.Karena kehadirannya selalu membuatku merasa nyaman.
__ADS_1
Akhirnya kutinggalkan Anit dikamarku umtuk melanjutkan tuganya mengetik.Selang satu setengah jam kemudian,aku masuk kamar lagi dan kulihat Anit sudah terlelap dimeja kerjaku.
Kepalanya tertelungkup dimeja kerja.Aku tidak tega melihatnya tidur dengan keadaan seperti itu,akhirnya kuputuskan untuk memindahkan Anit ke atas tempat tidurku.
"Heeh ceroboh sekali gadis kecil ini.Untung saja dirumahku,kalau dirumah pria lain,begitu bangun ,mungkin kamu tak utuh lagi Nit",gumanku sambil mengangkat tubuh Anit yang terlelap.
Kuperhatikan bibir merekahnya,otakku langsung traveling membayangkan bagaimana rasanya.Tak tergambarkan lagi bagaimana jantungku saat ini,dia berdetak dengan sangat tidak normal.
Aku jadi semakin tersentak,ada apa dengan jantungku.Bahkan dulu saat aku masih bersamanya,aku tak pernah merasa seperti ini.Namun kenapa gadis kecil ini bisa membuat jantungku seperti ini.
Kurebahkan tubuh Anit kekasur empukku.Kulihat lagi bibir merekahnya.Tak sadar wajahku semakin mendekat kearah Anit.
Cuuupp
Satu kecupan curian kudaratkan dibibir merekahnya.Ada rasa lain dalam gejolak jiwaku.Aku ingin pebih dari sekedar kecupan.Ingin kulumat nikmat bibirnya.
Astaga,aku langsung menggelangkan kepalaku.Tidak,aku tidak boleh seperti ini.Aku harus menjaga gadis kecil ini,dan aku berharap semoga Allah menjodohkan aku dengan gadis kecil ini.
Setelah menidurkan Anit dikasurku,aku bergegas keluar dari kamar.Aku tak ingin terjadi sesuatu didalam sana.Aku yakin,jika aku terus bersamanya,aku pasti hilang kendali.Dasar kau gadis kecil yang menggoda.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang tivi yang tepat berada didepan kamarku.Dari sini aku bisa melihat wajah Anit yang tengah terlelap.
Tak lama kemudian kulihat Anit membuka matanya,dia sepertinya sedang melihat sekeliling.Lihatlah ekspresinya,dia begitu lucu.Apalagi ketika dia memperhatikan bajunya,apa coba yang dipikirkannya??
Aku dibuat geleng-geleng kepala dengan kelakuan gadis kecil itu.Saat itu timbul niat iseng lagi dalam otakku.
"Kenapa?Tenang jilbabmu tetap aman,tapi tidak dengan itu",kataku sambil menunjuk suatu bagian dalam tubuhnya.
Dan persis seperti yang kuharapkan,dia langsung bereaksi.Melihat reaksinya,aku tak kuasa menahan tawaku.Melihatku tertawa reaksinya semakin lucu,dan itu semakin membuatku terbahak.
Hingga tawaku kuhentikan,karena kini reaksinya berbeda.Kini Anit menangis sesenggukan.Membuatku yang tadi tertawa jadi kelabakan.Segera kurengkuh tubuh Anit,dia terus berontak sambil sesenggukan.
Kubiarkan dia memukul-mukul dadaku,agak sedikit nyeri sih,tapi kubiarkan Anit melepas kejengkelannya padaku.Lalu kubisikkan kata maaf ditelinganya.Tak lupa kusisipkan kata iseng untuk mengerjainya,dan sebelum Anit tersadar,aku segera berlari dan langsung dikejarnya.
Jadilah kami beradegan layaknya film India,saling kejar-kejaran.Otakku langsung traveling dengan film Kuch Kuch Hota Hei,berasa seperti Rahul yang sedang kejar-kejaran dengan Angeli.
Tak berapa lama,aku justru yang berhasil menangkap Anit.Setelah itu,Anit merebahkan tubuhnya dikasur dan segera kususul.
Tak berapa lama,Anit nampak terkaget sambil bertanya jam,setelah tahu,dia pamitan mau pulang.Katanya mau sholat,o iya aku sendiri juga belum sholat.
__ADS_1
He he he sebenarnya aku suka bolong-bolong sholatnya.Saat dia hendak pulang,kuajak saja dia sholat berjamaah.Lagi pula aku punya sepasang mukena baru yang belum terpakai,dulu mukena itu aku beli untuk acara lamaran,namun sebelum acaranya berjalan,kami sudah bubaran.