
Area 18+ mohon bijak dalam membaca...!!!
Malam harinya, setelah kami selesai dengan makan malam kami, kami pun bersama membersihkan bekas makan kami.
Setelah aku selesai mencuci perkakas dan disaat aku sedang mencuci tangan, mas Pras berlalu ke kamar sambil berkata. "Dek, kalau sudah segera nyusul ke kamar ya, mas tunggu! ".
" Okay", jawabku singkat.
Setelah mengeringkan tangan, ku tuang kopi kedalam cangkir dan segera ku seduh dengan air yang telah mendidih.Karena tadi selama mencuci piring, aku nyambi rebus air.
Secangkir kopi dan teh beserta cemilan telah siap ku taruh didalam baki. Lalu ku bawa baki kedalam kamar.
"Mas, lagi ngapain? ", sapa ku disaat aku telah memasuki kamar. Pasalnya kulihat mas Pras tengah menbolak balikkan beberapa undangan.
" Eh dek sini deh", kata mas Pras sambil menarik tanganku dan menyuruhku duduk di atas karpet.
"Ada apa sich mas? " tanyaku sambil berkerut dahi karena bingung.
"Nich kamu pilih deh dek, mana undangan yang kamu sukai", jawab mas Pras sambil menyerahkan setumpuk sample undangan.
" Emang kapan kita akan mengadakan resepsi mas? Kok udah mau bikin undangan segala? ", tanyaku.
" Mas sih maunya dua minggu lagi dek, gimana? ", tanya mas Pras padaku.
" Dua minggu lagi? ", beoku." Apa tidak terlalu mendadak mas? ", tanyaku kemudian.
" Ngga sih.Mas udah ngga sabar mau mengumumkan pada dunia bahwa kamu adalah istri mas cup..cup", jawab mas Pras dengan antusias sambil mengecupi pipi kananku.
"Mas Pras... ", kataku dengan rona merah dipipi yang begitu kentara.
" Apa? Mau lagi heemm? ", goda mas Pras sambil melingkarkan tangannya di perutku.
Tangan mas Pras pun dengan perlahan melepas hijab yang kupakai.
" Mas, kok dilepas sih? ", cegahku.
" Kalau dirumah ngga usah pakai dek, lagian kita kan sudah sah didepan agama. Jadi ngga papa kan? ", jawab mas Pras sambil melepas ikat rambutku.
" Iya deh ", jawabku pasrah.
" Heeem, kopi buatanmu emang yang paling enak dek", puji mas Pras dikala ia menyeruput kopinya di sela-sela pelukannya.
"Terimakasih mas, tapi maaf bisa nga mas agak jauhan dikit? ", tanya ku.
" Loh kenapa memangnya cup... cup... cup", balas mas Pras sambil mengecupi leher belakangku.
Jangan tanyakan lagi gimana jantungku. Dia sudah jelas jedug bak musik disko di club malam.
"Maass geli iihh... ", kataku sambil menahan *******, karena aku merasa seperti ada sesuatu yang menjalar ke seluruh tubuhku.
Mendengar apa yang kukatakan, bukannya berhenti mas Pras malah semakin menjadi.
Bukan hanya kecupan yang ia berikan, namun terkadang juga gigitan kecil. Dari area leher bagian belakangku, cuping telinga, hingga leher depanku.
__ADS_1
"Eeemmhh mas Pras... ", ******* yang dengan sekuat tenaga ku tahan, akhirnya keluar juga.
" Eeemmhh apa dek? ", goda mas Pras padaku.
" A-aku... gi-mana aku bi-saahh... ", dengan terbata-bata aku berucap.
" Bisa apa heemmhh? ", goda mas Pras lagi, masih dengan mode mengecupi bagian-bagian leherku.
" Maass... Anit mau piliihh undangannya... awww", jerit ku tatkala kurasakan tangan mas Pras menempel ke tubuh bagian depanku dan meremas nya dengan gemas.
"Ya udah, tinggal pilihkan! ", jawab mas Pras, namun kali ini dengan suara yang terdengar berat.
" Maaasss..... ", aku tak lagi mampu meneruskan kata-kataku.Karena bibirku sudah dibungkam dengan bibir mas Pras.
" Hah hah... mas Pras iihh, katanya Anit disuruh milih undangan. Gimana sih? ", sungut ku dengan bibir mengerucut.
" Eh eh bibir bebek kenapa? Minta dicium lagi? ", goda mas Pras sambil menaik turunkan alisnya.
" Iihh apaan sih mas", jawabku sambil mencubit lengan kekarnya.
"Awww aduh aduh, dek sakit! ", seru mas Pras sambil mengusap-usap lengannya.
" Makanya jangan usil, Anit lagi konsen ini", jawabku sambil melotot kearah mas Pras.
"Seksi ihh... cukup", sambil mengecup pipiku mas Pras mengeratkan pelukannya.
" Kamu pilih yang mana dek? ", tanya mas Pras kemudian sambil masih memelukku dari belakang.
" Mas juga suka yang ini sih, tapi mas pinginnya silver, gimana dong? ", tanya mas Pras.
" Soft pink silver.... atau soft pink metalic ya? ", kataku sambil membuka komputer untuk mencari perpaduan warna yang pas.
" Ngapain dek? ", tanya mas Pras.
" Nah jadi. Bagus yang mana mas? ", tanyaku sambil memperlihatkan dua warna undangan didepan mas Pras.
" Wow dek, dua-duanya bagus ini. Kamu pilih yang mana? ", tanya mas Pras,lagi-lagi sambil mengecupi leher belakangku lalu menyandarkan kepalanya dipundakku.
" Anit suka yang softping metalic mas, kalau mas yang mana? ", jawabku sekaligus bertanya sambil menyandarkan kepala dibahu mas Pras.
" Mas juga lebih suka yang ini", jawab mas Pras sambil menunjuk warna yang dia suka.
"Ternyata kamu pinter milih warna dek, jadi makin cinta.. cupp cupp", kata mas Pras sambil mengecupi pipi dan leherku.
" Jadi kalau Anit ngga pinter, mas ngga cinta? ", tanyaku sambil bersungut-sungut.
"Ha ha ha kamu lucu banget sih dek", bukannya menjawab, mas Pras malah tertawa.
" Iiihh mas Pras, apanya yang lucu coba? ", sungutku.
" Cantiknya istriku kalau lagi ngambek gini. Sini-sini mas cium sini! ", goda mas Pras.
" Aahh mas Pras nyebelin! ", seruku sambil berbalik menghadap mas Pras dan memukul-mukul dada bidangnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, mas Pras langsung menangkap kedua tanganku dan menguncinya dibelakang tubuhku.
Satu tangan kirinya mengunci tanganku. Sedangkan tangan kanannya menahan tengkuk ku.
Aku sudah tak bisa lagi berkutik, hanya mampu terpaku melihat tatapan mata mas Pras begitu dalam. Menghipnotis ku.
Makin lama jarak antara wajahku dan mas Pras semakin dekat, hingga akhirnya.
"Cupp... ",
Dengan penuh kelembutan mas Pras mengecup lembut bibirku.
Aku hanya diam terpaku, masih mencerna apa yang terjadi.Hingga mas Pras mengigit kecil bibir bawah ku. Aku pun secara refleks membuka sedikit mulutku, hingga mas Pras dengan leluasa mengeksplor seluruh isi dalam mulutku.
Mengabsen satu demi satu apa yang ada didalam mulutku. Memberikan lidahnya ke lidahku, hingga terjadilah pertarungan lidah yang semakin menggelora.
Entah sejak kapan, tanganku telah mengalung indah dileher mas Pras.
Dan tangan mas Pras pun sudah merayap didalam bajuku. Mencari dia gundukan kenyal yang berbukit kecoklatan.
Dari bibirku, bibir mas Pras turun ke leherku. Dikecup inya leher depanku sambil digigit kecil.
"Uuuhhhh mas Pras.... ", lenguh ku tertahan membuat mas Pras semakin bersemangat.
Dari leher turun tulang selangka, dan terus turun. Hingga kurasakan geli-geli enak diarea bukit kembarku.
" Eeemmhh.... ", lenguh ku lagi sambil ku buka mata melihat apa yang terjadi.
Begitu mataku ku buka, hanya rambut mas Pras saja yang terlihat.Sedang wajahnya sedang menghadap kearah dadaku.
" Ooohh apa yang dilakukan mas Pras? Kenapa mas Pras seperti bayi?Tunggu tunggu, berarti mas Pras...? ", batinku saat melihat mas Pras.
" Eeemmhh mas Pras.... ", lenguh ku lagi.
" Manis dek... n*n*nmu", goda mas Pras.
"Aahh mas Pras seperti bayi besaarrhh", desah ku lagi.
" Heemm ukurannya luar biasa dek, mas suka", kata mas Pras.
Dari bukit kembar tangan mas Pras turun kebawah, kebagian inti tubuhku.
Tok tok tok...
"Pras... kamu didalam? ", seru orang di luar sana.
" Shiitt,,siapa sih? Nganggu aja! ", gerutu mas Pras.
TBC
Ha ha ha nanggung ya...
Tunggu kelanjutannya ya...
__ADS_1