
Malam pun begitu cepat berlalu.Tak terasa adzan subuh sudah berkumandang,dan aku masih dalam kondisi tidur.Ininadalah kali pertama aku bangun disaat adzan subuh,karena biasanya aku terbangun saat sebelum adzan.
Perlu kalian ketahui,semalam aku tidak bisa memejamkan kedua mataku.Pikiranku terus terbayang tatapan bersalahmya mas Pras.Hingga aku baru tertidur disaat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
Dengan sedikit malas aku bangun.Lalu kubasuh wajah dan kakiku,kulakukan wudhu,untuk menunaikan ibadah wajibku.
Dan pagi ini kegiatanku kembali seperti semula.Memandikan baby Val,lalu menjemurnya.
Dan lagi-lagi kudapati mas Pras yang sedang joging.Kulirik sekilas,dan kudapati ada mata panda disana.
"Pffftt",senyumku ku tahan.
"Ada apa dengan manusia satu ini.Tumben-tumbenan dia bermata panda",batinku.
"Dek,semalam sampai rumah jam berapa",tanyanya tiba-tiba membuyarkanku.
Aku pun menoleh dan kulihat mas Pras sudah duduk disampingku.
"Jam berapa ya,aku ngga sempat lihat jam.Karena aku terlalu capek mendengar keluhan mas Arya.Sepanjamg jalan dia mengeluh mengenai gebetannya,Astaga",jawabku.
"Heh sok pura-pura ngga tahu.Bukannya semalam dia masih ngobrol.Okay lah ente jual,ane beli",batinku.
"Ooohh",jawabnya sok dingin.
Mendengar mas Pras yang hanya ber oooh ria,aku pun hanya terkekeh.Lalu aku bangkit dan segera menuju kedalam rumah.
"Maaf mas,baby Val sudah kepanasan dari tadi,Anit tinggal masuk dulu ya!",pamitku.
"Ngga bisa sebentar lagi?",tanya mas Pras sambil mencekal tanganku.
"Maaf,baby Val sudah kepanasan",jawabku.
Dan akhirnya,mau tidak mau mas Pras pun harus melepaskan cekalan tangannya.
"Baik,tapi nanti siang aku ingin bicara,bisa!",pintanya.
"Maaf mas aku ngga janji,hari ini kerjaanku banyak,ciba nanti ya",jawabku."Maaf mas,Anit masuk dulu",pamitku.
"Baiklah",jawab mas Pras sambil menatapku penuh selidik.
Akupun segera berlalu dari lapangan Volly danenuju kerumah.
"Maaf mas,kita hanya bersandiwara,jadi aku harus jaga jarak denganmu",batinku.
Briptu Wito Prasetyo POV
Malam itu,aku melakukan kesalahan dengan Anita.Sehingga dia marah,aku ingin memperbaiki semua,namun Arya keburu meminta Anit untuk pulang dengannya,karena ada hal yang ingin dibicarakan katanya.
Dan Anit pun menyetujuinya,sungguh membuatku kecewa,namun mau bagaimana lagi.
Aku pun segera pulang menuju asrama,sampai diasrama aku tidak langsung masuk kerumah,aku ngobrol dulu dengan rekanku yang sedang piket malam sambil menunggu kepulangan Anit.
__ADS_1
Tak lama kemudian,kulihat mobil Arya memasuki areal asrama.
"Kok cepat sekali mereka",pikirku.
"Baiklah nanti aku tanyakan sama Arya,setelah Arya mengantar Anit",batinku.
Tapi ternyata Arya tidak mampir dulu kerumah pak Budi,begitu pun dengan Anit,kulihat dia langsung masuk kedalam rumah.
"Sepertinya mereka tidak melihatku,tapi ngga mungkin,siapaun yang lewat pasti melihatku disitu.Tapi mengapa Anit seoalh-olah ngga tahu ya",batinku lagi.
Sudahlah besok saja aku bicarakan dengan Anit.Aku pun memutuskan untuk segera masuk kedalam rumah.
Segera kurebahkan tubuhku diatas kasur dimana Anit tadi siang menempatinya.Bantal yang Anit gunakan tadi siang pun,malam ini aku pakai.
Namun setelah kuhirup aroma Anit yang tertinggal dibantal,bukannya bisa tidur,aku malah terbayang dengan manisnya bibir Anit.
Sial,otakku kenapa mendadak jadi mesum begini.Bayangan ciuman yang kudaratkan tadi dibibirnya masih begitu terasa.
Padahal ini bukan yang pertama untukku,namun entah mengapa begitu terasa indah untukku.Apa mungkin ini yang pertama untuk Anit ya,pikirku.
Semakin aku berusaha melupakan,gejolak kelelakian dalam diriku semakin bergelora.
Astaga,kenapa hanya mengingatnya saja reaksi tubuhku seperti ini.Apa aku benar-benar jatuh cinta pada gadis kecil ini ya?
Akhirnya setelah jam menunjuk pukul 03.00 dinihari,aku baru bisa terpejam,sehingga membuatku bangun kesiangan pagi ini.
Setelah kujalankan ibadah wajibku,aku pun segera joging seperti biasa sambil berharap bisa bertemu dengan Anit.
Aku pun segera menghampirinya dan kutanyakan beberpa hal padanya.Dan entah mengapa,aku merasa sepertinya dia berusaha menjauh dariku.
Dia hanya menjawab seperlunya pertanyaanku,lalu meninggalkanku sendiri dibangku lapangan Volly dengan alasan baby Val sudah kepanasan.
Hari berganti minggu,minggu berganti bulan.Tak terasa tiga bulan sudah berlalu.Dan hubunganku dengan Anit,bukannya makin rapat seperti yang kuharapkan,tapi malah makin renggang.
Semakin hari,Anit semakin dingin denganku.Bahkan dengan semua teman-teman pak Budi.Padahal sebelumya dia cukup ramah.Hanya dengan Arya dia bisa ramah dan dekat,tapi tidak dengan yang lain.Hingga membuat mereka mengira bahwa akulah penyebabnya.
"Huuu mentang-mentang sudah menjadi pacar Anit,terus kamu posesif,sampai-sampai Anit yang biasanya ramah,jadi cuek dan dinginbegitu",kata salah satu rekan sekantorku.
Aku hanya terkekeh menanggapi celoteh teman-temanku yang mengira aku lah penyebab Anit jadi dingin dan cuek.
"Asal kalian tahu aja ya,bukan hanya sama kalian Anit dingin dan cuek,tapi samaku juga",jerit batinku meronta.
Hingga disuatu hari aku bertemu dengan Arya.Dia bercerita kalau minggu depan dia janjian dengan Anit hendak pulang kampung karena ada acara Rasulan atau bersih dusun.
Arya bercerita jika acara Rasulan adalah tradisi turun temurun dari leluhur mereka.Rasulan adalah sebuah acara sedekah bumi sebagai rasa syukur atas nikmat yang Tuhan anugerahakan kepada rakyat kampung dengan hasil panen yang melimpah.
Dengan diadakannya Rasulan ini,mereka berharap panen mereka selalu melimpah.
Setelah mendengar cerita Arya,aku pun ada ide.Aku meminta pada Arya untuk membatalkan janjinya,dan sebagai gantinya,akulah yang akan mengantar Anit pulang.
Dengan harapan dengan mengantar Anit pulang kekampungnya,aku bisa dekat lagi dengannya.
__ADS_1
Hari yang dijanjikan Arya pun telah tiba,dan kulihat Anit mencak-mencak karena Arya membatalkan janjinya.
"Kenapa mas Arya ngga bilang dari kemarin-kemarin?",tanya Anit.
"Maaf Nit,acaranya mendadak",jawab Arya.
"Sebagai gantinya,bagaimana kalau Pras yang mengantarmu?",tanya Arya.
"Tsk",hanya itu tanggapan Anit sambil melirikku tajam.Namun akhirnya kulihat senyuman dibibirnya.
"Baiklah kalau begitu",akhirnya diapun setuju.
Aku pun segera meraih tasnya,lalu kumasukkan kedalam mobilku.Hatiku sudah berbunga-bunga.Akhirnya akubisa dekat lagi dengannya.
"Mas!",serunya memecah keheningan,karena entah mengapa aku mendadak canggung.
"Iya",jawabku.
"Maaf,bisa antar Anit keterminal?",tanyanya yang membuatku memberhentikan laju mobilku dengan mendadak.Untung saat itu jalan sedang sepi.
"Maksudmu apa dek?",tanyaku bingung.
"Ya antar Anit ke terminal.Anit pingin pulang naik bis saja",jawabnya datar.
"Maksudmu,kamu ngga mau kuantar pulang,begitu?",tanyaku.
"He he he,maaf mas",jawabnya lagi.
"Ngga,ngga bisa,kenapa kamu mengacuhkan ku dan terus menghindariku dek?.Okay mas akui mas salah,tapi mas mohon jangan acuhkan mas dek.Mas ngga bisa kamu acuhkan begini",kataku.
"Maaf mas,memang hubungan kita apa ya??Bukannya kita hanya bersandiwara ya?",tanyanya.
"Iya,tapi mas ngga bisa kamu acuhkan dek",jawabku dengan sedikit emosi.
"Siapa yang mengacuhkanmu mas,Anit biasa aja kok",jawabnya.
"Ngga bisa,kalau kamu ngga mau kuantar pulang lebih baik kamu ngga usah pulang",kataku,lalu kulajukan mobilku dengan kecepatan tinggi.
"MAS,jika mas tidak mengantarku keterminal,maka aku akan lompat dari mobil ini!!",serunya.
Namun apa yang dikatakannya tak kuindahkan,karena pintunya sudah kukunci,pikirku.Tapi ternyata belum,tiba-tiba dia membuka pintu mobil,hingga secara mendadak kuinjak pedal rem.Untungnya tak terjadi kecelakaan.
"Gila ini gadis kecil berani banget",batinku.
Saat Anit hendak keluar,kucekal tangan kananya dengan kuat.Dia meronta untuk terlepas.
"Baik,mas antar kamu keterminal,tapi mas mohon jangan turun disini,dan jangan berusaha turun dari mobil ketika mobil sedang berjalan.Itu bahaya kamu tahu!",seruku.
Anit tidak menjawab apapun,namun tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia sedang kesal sekaligus marah.
Akhirnya mau tak mau,aku pun mengantarkan Anit hanya keterminal bis.Ngga jadi kerumahnya.Yang semula kukira ini bisa mendekatkanku pada Anit,tapi justru makin menjauhkanku dari Anit.
__ADS_1