Cinta Bersemi Diasrama POLRI

Cinta Bersemi Diasrama POLRI
LIA 15[Rasa Ini]


__ADS_3

Aku yang sudah dikuasai amarah,tak memperhatikan sekitarku lagi saat aku berjalan.Hingga tak kusadari,aku hampir tersungkur dari lantai paling atas sebuah hotel dipusat kota Jogja.


Jika saja tanganku tidak segera ditarik oleh mas Pras,mungkin aku sudah berada dirumah sakit,dan mungkin lebih parahnya,MATI.


Aku masih mencoba mencerna apa yang terjadi saat ini.Tubuhku masih kaku,hingga aku tak menyadari jika aku masih dalam pelukan hangat mas Pras.Astaga ada apa dengan otakku.Hei otak,ini hanya permainan ya,kamu jangan baper.


"Apa yang kamu lakukan dek?Kamu mau mati hah?",tanya mas Pras berhasil membuyarkan lamunanku.


"Ng-ng a-aku ng-ngga tahu....",jawabku bingung,karena aku masih mencoba mencerna situasi yang terjadi.


"Makanya kalau jalan itu hati-hati.Untung saja mas segera menarik tanganmu tadi.Gimana,apa ada yang luka!",seru mas Pras dengan paniknya.


Dan entah mengapa,aku merasa senang dengan kepanikan mas Pras.Dia begitu panik saat aku hampir terjatuh,sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku mas?.Apakah ini benar-benar hanya permainan,ataukah,...aah sudahlah.Aku ngga boleh terlalu berharap,jika aku tidak ingin sakit hati.


Akhirnya akupun melepas pelukan mas Pras sambil memikirkan apa rencanaku kedepan.


"Ehemm,mas sebaiknya kita segera kembali ketempat pertunangan deh",kataku,tak lupa kupamerkan deretan gigi putihku dihadapan mas Pras.


"Kamu ngga papa dek",tanya mas Pras.


"Ya,aku baik-baik saja mas,tenanglah!",jawabku sambil tersenyum manis kearah mas Pras.


Akhirnya mas Pras pun menuntun tanganku untuk turun ke aula dimana pesta pertunangan berlangsung.Sampai dibawah aku langsung disambut oleh mas Arya.


"Hei,kalian dari mana?",tanyanya penuh selidik.


"Tsk,mau tahu aja mas Arya ini",jawabku sambil terkekeh."O iya mas,nanti pulangnya bareng ya,pliss",bisikku ditelinga mas Arya.


Mendengar bisikanku,mas Arya mengerutkan dahinya,sbil menatapku penuh tanya.


"Ada apa",begitu kira-kira yang ingin disampaikan mas Arya padaku.


Kubalas tatapan mas Arya dengan tatapan memohon.


"Pliss"


"Ehem,Pras!",tiba-tiba mas Arya bersuara.


"Iya Arya,ada apa?",tanya mas Pras.


"Eemm,ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Anit,bolehkah nanti pulang,aku yang antar Anit??",tanya mas Arya.


"Hal penting apa memang?Kok sampai segitunya?Emang ngga bisa dibicarakan disini?",tanya Mas Pras bertubi-bertubi.


"Busyet,nanyanya satu-satu napa Pras,kaya gerbong kereta aja!",balas mas Arya."Masalahnya ini rahasia Pras,kalau dibahas disini,ngga mungkinlah",sambung mas Arya sambil mengerling penuh arti pada mas Pras.


"Tapi tadi Anit kesini bareng sama aku,masa pulangnya sama kamu.Nanti gimana dong pertanggungjawabanku sama pak Budi?",balas mas Pras yang sudah mulai protektif.

__ADS_1


"Emang hal penting apaan sih mas Arya,hayooo masalah cewek nich pasti?",godaku sama mas Arya agar meyakinkan mas Pras.


"He he he,seperti biasa Nit,kamu memang pandai menebak",balas mas Arya."Masalah pak komandan,kamu ngga perlu khawatir Pras,aku udah izin kok",sambung mas Arya sambil memperlihatkan bukti smsnya sama pak Budi.


"Ooohh ya udah kalau begitu,aku sih tergantung Anitnya gimana.Gimana Nit?"tanya mas Pras padaku.


Mulut mas Pras bertanya,tapi matanya memberi kode agar aku menolak.


Akupun berpura-pura berpikir,kulihat mas Pras lalu kulihat mas Arya.


"Maaf mas Pras,sepertinya jomlo satu ini butuh teman bicara",jawabku.


Mendengar jawabanku,seketika kulihat rona kekecewaan dimanik mata mas Pras.


"Maaf mas,aku harus belajar menghindar darimu",batinku dalam hati.


"Tapi tenang mas Pras,kita keluarnya dari sini harus bersama,agar akting kita meyakinkan",bisikku ketelinga mas Pras.


Mas Pras melirikku sebentar,lalu tersenyum sambil berkata,"harus itu",balasnya ditelingaku.


"Siap",balasku sambil kuacungkan dua jempolku.


Selang dua jam kemudian,pesta pun berakhir.Aku segera mengamit lengan mas Pras layaknya pasangan kekasih.Sementara mas Arya mengekor dibelakang kami.


Tiba diparkiran,aku langsung masuk kedalam mobil mas Pras.Dan lagi-lagi mas Arya mengekori dibelakang kami dengan mobilnya.


Mas Arya keluar menyambutku,dan lagi-lagi dian meminta izin sama mas Pras.


"Ngapain minta izin lagi,kaya aku pacarnya dia aja",batinku.


Aku sudah hampir sampai disamping mobil mas Arya,namun tiba-tiba mas Pras memanggilku.


"Nit!",serunya.


"Iya",jawabku sambil membalikkan badanku.


"Maaf",hanya itu yang diucapkan mas Pras dengan sorot mata sedih.Membuat aku mengeryitkan dahiku,tapi aku langsung menjawab,"Maaf?maaf untuk apa ya?",tanyaku.


"Eem,maaf karena aku ngga bisa mengantarmu",jawabnya.


"Oohh,ngga papa mas,lagian masku yang satu ini butuh teman bicara,kasihan dia",jawabku sambil terkekeh.


"Maaf mas,aku tahu kamu mau minta maaf untuk yang tadi,tapi aku ini bukan peremouan murahan yang bisa mas perlakukan seenaknya.Sandiwara kita cukup sampai disini aja",batinku dalam hati.


"Ya udah,udah malam.Ayo buruan masuk mobil,nanti kita kehabisan waktu buat ngobrol",ajak mas Arya,"Pras Anitnya aku bawa ya?",sambung mas Arya lagi.


"Sip,nitip ya,kembalikan dalam kondisi utuh!",seru mas Pras.

__ADS_1


"Busyet dikira aku barang apa",batinku.


"Tenang,aku pastikan dia kembali dalam kondisi mulus tanpa lecet sedikitpun"jawab mas Arya.


Aku pun akhirnya masuk kemobil mas Arya yang disusul mas Arya,lalu kami pun melaju.


Aku masih sempat melirik mas Pras dari spion,dia belum beranjak masuk kemobilnya,dia terus menatap kearah mobil yang kutumpangi dengan mas Arya.


Ternyata semua itu tak luput dari perhatian mas Arya.


"Apa yang terjadi",tiba-tiba Mas Arya bertanya hingga mengangetkanku.


"Ngga ada apa-apa sih,kenapa memangnya mas?",tanyaku.


"Kalian ada masalah?",selidik mas Arya.


"Ngga,aku hanya ingin pulang bareng mas Arya aja kok",jawabku.


"Kamu jangan bohong Nit,aku bisa lihat kekecewaan Pras saat kamu setuju pulang bareng aku.Cerita sama mas ada apa sebenarnya?",tanya mas Arya lagi.


"Bener mas ngga ada apa-apa.Ya kalau mas Pras kecewa mungkin karena dia ngga jadi jalan-jalan sama aku kali mas",jawabku sekenanya.


"Emang dia mau ajak kamu jalan-jalan tadinya?",tanya mas Arya lagi.


"Iya",jawabku.


"Ya Allah Nit,pantesan dia kecewa.Tunggu-tunggu.Dia mau ngajak kamu jalan,terus kenapa kamu memohon untuk pulang bareng mas?",tanya mas Arya kembali ke mode menyelidik.Kali ini disertai dengan tatapan tajam,seolah aku ini seorang tersangka yang sedang ia intrograsi.


"He he he,aku capek mas.Aku ingin segera pulang,tapi aku bingung gimana jawabnya",jawabku memelas.Padahal sebenarnya aku ngga sanggup aja kalau harus berduaan dengan mas Pras dalam satu mobil setelah kejadian tadi.


"Astaga,kan kamu bisa bilang kalau kamu capek,Anit-Anit.Kamu ini!",seru mas Arya sambil mengusak ujung kerudungku.


"He he he,maaf mas",kekehku.


Kami pun melanjutkan obrolan yang penting sampai hal yang ngga penting.Hingga tanpa terasa kami telah sampai di asrama.


Kulihat mobil mas Pras sudah terparkir rapi diparkiran.Dan sewaktu aku keluar mobil kulihat dia sedang berbincang dengan beberapa polisi yang saat itu sedang piket malam.


Begitu mobil mas Arya berhenti,aku segera turun sambil berkata,"mampir dulu mas Arya".


"Ngga aku mau istirahat juga,aku capek.Lagian aku ngga mau nanti diintrogasi sama pacarmu itu",jawab mas Arya membuat aku kaget setengah mati."Pacar?maksudnya?",tanyaku dalam hati.


Aku pun hanya terkekeh menanggapai perkataan mas Arya sambil membuka pintu mobil,lalu turun dan berlalu menuju kerumah pak Budi.


"Makasih ya mas Arya",kataku sambil berbalik sebelum aku masuk rumah.


"Sama-sama.Sampaikan salamku sama komandan dan ibu ya",balas mas Arya,kemudian ia berlalu.

__ADS_1


Aku pun segera masuk kerumah,namun sebelum masuk,aku sempat melirik kearah mas Pras.Kulihat dia memperhatikan aku,namun aku seolah tidak tahu kalau mas Pras disitu.


__ADS_2