Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 21


__ADS_3

Amel dan kakaknya menelusuri tempat yang gelap di samping rumah Citra. Banyak pepohonan tumbuh tidak beraturan dan semak-semak belukar yang tumbuh tidak terawat. Tidak ada lampu yang menerangi tempat itu, mereka hanya mengandalkan cahaya senter dari handphone, sehingga suasana semakin mencekam.


Amel terus mengeratkan pegangannya di lengan kakaknya. Saat berjalan menuju jendela kamar Citra, tiba-tiba saja Amel tersandung oleh sebuah gundukan yang membuatnya terjatuh di atas tanah.


"Aww ...!" pekik Amel merasa tidak nyaman pada kakinya.


"Kamu kenapa, Dek?" ujar Kakak Amel merasa cemas dengan adiknya uang terjatuh.


"Aduh, kakiku sakit sekali, Kak!" ujar Amel mengaduh merasakan kakinya yang terasa sakit untuk berdiri.


Kakak Amel berjongkok seraya membantu Amel untuk kembali berdiri. "Ayo, bangun pelan-pelan!"


"Gimana, masih bisa jalankan?" tanya kakak Amel.


"Iya, aku coba jalan pelan-pelan, Kakak bantu aku ya?" tutur Amel kemudian mulai berjalan maju.


Mereka pun berjalan beriringan menuju jendela kamar Citra dan mengetuknya beberapa kali sembari meneriaki nama Citra.


"Citra ... Cit ...Citra, kamu ada di dalam kan?" teriak Amel tepat di samping jendela.


Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Kemudian, mereka memutuskan untuk kembali ke depan rumah. Saat berjalan kembali tiba-tiba Amel merasa kakinya terasa berat, seperti ada yang sedang menarik kakinya dari bawah.


"Aaarrgh! tolong aku, Kak. Seperti ada yang menarik kakiku di bawah sana!" teriak Amel sembari gemetaran, karena tarikannya cukup kuat hingga tidak bisa dilepaskan.


Kakak Amel menyoroti bagian bawah kaki Amel, tapi dia tidak melihat apapun.


"Tapi, di bawah nggak ada apa-apa, Dek. Coba deh lihat ke bawah ... enggak ada apa-apa, kan?" ujar kakak Amel.


Amel merasa itu tidak mungkin, sebab dia masih merasa kakinya sedang dicengkeram dengan kuat. Amel penasaran ingin memastikannya sendiri. Seketika dia menengok pada kakinya bagian bawah.


Betapa terkejutnya dia saat melihat ada sepasang tangan mungil yang muncul dari dalam gundukan tanah dan tepat pada tempat yang sama saat dia terjatuh tadi.


"Arrrgghhh ... Kakak! tangan itu menarik kakiku, Kak!" seru Amel saat kakinya tertahan oleh tangan mungil dari dalam tanah.


Kakak Amel mencoba menarik Amel kuat-kuat, namun Amel masih tak bergeming. Disorotnya kaki Amel dengan lampu pada handphone. Tiba-tiba saja tarikan itu terlepas dan tubuh Amel limbung jatuh ke tanah.


Kakak Amel dengan segera membantu Amel berdiri dan mereka segera berlari menuju depan rumah, tepat saat itu mereka melihat Citra berdiri di teras rumah.

__ADS_1


"Citra-a ...!" teriak Amel sembari menghambur memeluk Citra.


"Amel, kamu kenapa?" tanya Citra.


"Kamu dari mana? aku dari tadi nyariin kamu, tapi pintu rumah kamu terkunci dari dalam," tutur Amel sembari mengusap pipinya yang basah karena air mata, saat insiden yang terjadi di samping rumah.


"Maaf aku tadi ketiduran di kamar," jawab Citra pendek.


"Sebaiknya kamu segera mengambil barang-barang yang perlu kamu bawa, dan kita segera pergi sekarang!" perintah kakak Amel pada Citra.


Citra mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah mengambil barang-barangnya yang sudah dia siapkan sejak tadi sore.


Seusai berkemas Citra mengunci pintu dan pergi bersama Amel dan kakaknya menuju rumah Amel.


"Mel, kamu bawa motor aku ya?" tutur Citra seraya menyerahkan kunci motor ke hadapan Amel.


"Ya udah, ayok!" ujar Amel sambil menyabet kunci motor dari tangan Citra.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah Citra. Amel berada di depan membonceng Citra sedangkan kakak Amel mengikuti dari belakang. Motor pun melaju menuju rumah Amel.


Namun, saat belum terlalu jauh Amel merasa boncengannya terasa berat dan semakin berat. Amel mengurangi kecepatan motornya karena takut tidak seimbang antara bagian depan dan belakang.


Amel sangat terkejut ketika tiba-tiba ada kain berwarna putih yang terulur panjang di samping kanan dan kiri Amel, sejajar dengan bahu Amel. Kain itu berkelebatan seperti gelombang air laut yang mengulum. Seketika bulu kuduk Amel bergidik menyadari ada yang tidak beres di belakangnya.


Ya Allah ini apa? mama ... mama tolong Amel, Ma! seru Amel di dalam hati sambil berlinang air mata. Amel tidak berani menoleh ke belakang, dia terus melajukan motornya ke depan tanpa tahu arah dan tidak terpikirkan olehnya juga untuk berhenti. Sehingga motor itu tetap berjalan terus ke depan.


Tangan Amel gemetaran dan keringatnya bercucuran. Amel penasaran dengan apa yang dia bonceng, perlahan-lahan dia memutar kepalanya melirik ke belakang. Betapa kagetnya dia saat melihat apa yang ada dibelakangnya.


Seketika lidah Amel mendadak kelu tidak mampu untuk berucap dan tidak bisa berbuat apa-apa selain terus melajukan motornya.


Dari awal kakak Amel merasa ada yang aneh dengan adiknya. Sebab, Amel tidak melaju ke luar kompleks, namun motor yang dikendarai oleh Amel berbelok-belok memutari kompleks, hingga hampir tiba kembali di rumah Citra.


Kakak Amel yang merasa bingung terus mengikuti laju motor adiknya yang berada di depannya dengan keheranan. Dia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi pada Amel.


Tiba-tiba ada sebuah mobil datang dari arah berlawanan. Sorot lampu utama yg memancar sangat terang dari mobil itu membuat Amel menjadi tersadar. Kain putih yang melambai pun hilang. Pelan-pelan Amel menepi kan motornya itu di pinggir jalan dan menghentikan motor yang dia naiki sedari tadi di pinggir jalan.


"Mel, kamu kenapa balik lagi ke sini?" tanya kakak Amel yang ikut berhenti setelah Amel berhenti.

__ADS_1


Amel tidak berkata apa-apa namun raut muka ketakutan masih nampak di wajahnya. tangan dan kakinya masih gemetaran.


"Ba- bantu aku berdiri, Kak!" ujar Amel dengan terbata-bata.


Kakak Amel turun dari motornya, kemudian mendekat ke arah adiknya untuk membantu Amel berdiri.


"A- ayo kita segera pulang, Kak!" ucap Amel dengan mencengkeram lengan jaket kakaknya.


"Oke, ayo kita pergi!" ujar kakak Amel yang menyadari jika terjadi sesuatu terhadap adiknya tidak lagi bertanya dan memilih meninggalkan kawasan itu dengan segera.


****


Citra terus berjalan di jalanan kompleks hingga sampai di depan rumah Andra. Dia benar-benar takut berada di rumahnya sendirian sejak terbangun dari mimpi buruknya tadi.


Melihat ada yang duduk di depan pos penjagaan, satpam rumah Andra pun mendatangi Citra.


"Mbak! Mbak ini yang waktu itu, Kan?" tanya Pak Bejo.


Citra menoleh ke arah sumber suara. "Iya, Pak, saya temennya Andra yang waktu itu menanyakan soal Andra sama, Bapak," tutur Citra. "Bagaimana dengan keadaan Andra, Pak?"


"Mas Andra masih di ICU, dan belum sadarkan diri. Mbak ini bukan hantu, Kan?" tanya satpam itu yang masih khawatir jika Citra bukan manusia.


"Astaghfirullah, jelas saya manusia, Pak!" tutur Citra. "Saya mengalami hal buruk di rumah, saya. Saya tidak berani pulang ke rumah, biasanya dulu Andra yang selalu menolong dan menemani saya," ujar Citra sambil meneteskan air mata saat mengingat Andra.


Andra yang dulu selalu ada buat dia, tapi Citra menjadi sedih saat Andra harus mengalami kecelakaan dan itu karena akibat ulah dari sosok tak kasat mata yang tinggal di rumah Citra. Dia merasa bersalah karena tidak mengindahkan saran dari cowok misterius itu untuk segera pindah dari rumah itu.


"Malam itu mas Andra hendak menemui kamu, Mbak. Tapi naas, Mas Andra malah mengalami kecelakaan," tutur Bejo.


Mendengar hal itu Citra menyadari jika malam itu, makhluk tak kasat mata yang berada di rumahnya sengaja ingin mengganggu dia dan Andra, hingga Citra tidak mengetahui jika Andra mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Dan sosok yang kala itu menemaninya jelas bukan Andra.


Malam itu bejo memberi tumpangan kepada Citra untuk tinggal di messnya bersama pembantu rumah Andra.


****


Sesampainya di rumah, mama Amel langsung menyambut anak-anaknya.


"Lhoh Mel, mana Citra?"

__ADS_1


_____________Ney-nna____________


__ADS_2