Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 47


__ADS_3

Arman sontak terkejut dengan penuturan Mila. Namun semakin diperhatikan Mila terlihat lebih menarik dari sebelumnya. Lebih cantik dan semakin betah untuk memandangnya. Arman mulai terpikat dengan pesona Mila. Ia pun beralih menginginkan Mila.


Tanpa babibu Arman langsung menyetujui permintaan Mila. Padahal Arman belum membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan Ratih istrinya. Bahkan Arman sudah tidak sabar untuk segera menikahi Mila.


Keesokannya Arman barulah mengajak Ratih berbicara dan mengutarakan keinginannya untuk menikahi Mila.


"Ratih, secepatnya aku akan menikahi Mila. Aku harap kamu bisa menyutujuinya demi kebaikan kita!" ujar Arman tanpa basa basi.


"Menikahi, Mila? Mas kamu bercanda?" Ratih seketika terperanjat mendengar keinginan suaminya untuk menikahi asistennya itu. Ia seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku serius, Ratih!" jawab Arman.


"Lalu bagaimana dengan aku? apa Mas akan menceraikan aku demi Mila?" tanya Ratih dengan nada meninggi.


"Memangnya aku bilang akan menceraikanmu? Aku hanya bilang akan menikahi Mila. Bukankah kamu tidak bisa melayaniku karena sakit? Aku ini laki-laki normal, Ratih. Aku membutuhkan seorang wanita untuk melayaniku. Aku janji akan bersikap adil kepada kalian berdua nantinya," ujar Arman meyakinkan.


"Toh aku cukup mampu untuk menghidupi kalian berdua. Selama ini Mila yang telah menggantikan untuk melaksanakan tugas-tugas mu, lantas apa ruginya jika aku menikah dengannya?"


"Bukankah dengan menikahi Mila, justru akan meringankan bebanmu. Kamu bisa lebih fokus untuk berobat dan mengurus Citra nantinya." Arman berbicara panjang lebar.


"Bagaimana jika aku tidak mengijinkannya, Mas?" Tanya Ratih.


"Dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku akan tetap menikahi Mila!" kekeuh Arman.


Ratih sontak nembulatkan mata tak percaya jika suaminya tega mengatakan hal itu padanya. Tentu saja hal itu sangat menyakiti hatinya. Sesungguhnya dia tidak ingin dimadu. Namun dia sadar diri bahwa semenjak sakit-sakitan dia memang tidak bisa melayani suaminya untuk berhubungan suami-istri. Sebab, Ratih selalu merasa sakitnya kambuh saat berdekatan dengan suaminya.


"Kamu tahu Ratih, Mila bahkan terlalu baik padamu. Mengetahui kamu sudah tidak bisa hamil, Mila berbaik hati untuk merelakan anaknya nanti untuk diakui sebagai anak kita di hadapan Citra. Dia ingin memberikan Citra seorang adik. Bukankah jika saat itu tiba, Citra pasti akan sangat senang ketika keinginannya untuk memiliki seorang adik telah terwujud," tutur Arman.

__ADS_1


Ratih tidak mampu menyangkalnya. Ia memang tidak akan pernah bisa untuk memberikan Citra seorang adik dari rahimnya sendiri.


"Aku sudah menyuruh orangku untuk menyiapkan segala sesuatunya. Minggu ini juga aku akan mengadakan pernikahan kecil-kecilan. Aku harap kamu berbesar hati untuk turut hadir dan memberikan ijin atas pernikahanku nanti."


Hingga saat itu tiba, Ratih akhirnya mengikhlaskan untuk dipoligami karena mengingat akan kekurangannya. Ia bersedia datang dan memberikan ijin kepada suaminya untuk menikahi Mila.


Dalam keseharian Ratih juga berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan Mila. Mila pun memperlakukan Ratih dengan sangat baik dan menghormatinya sebagai istri pertama dari Arman. Hingga Arman semakin bangga pada Mila, karena kebaikan hatinya itu.


Lama kelamaan Arman semakin bergantung pada Mila. Terlebih ketika Mila mengandung anaknya. Apa pun yang diinginkan Mila pasti akan dipenuhi olehnya.


Sedangkan Ratih semakin hari sakitnya semakin menjadi-jadi. Ia sering bolak-balik dirawat di rumah sakit akibat penyakitnya yang tidak jelas itu. Tentunya tanpa sepengetahuan Citra. Ia tidak ingin Citra sedih melihat kondisinya yang lemah. Terlebih agar Citra tidak tahu menahu tentang keberadaan Mila sebagai istri kedua ayahnya.


Mila dan Arman semakin hari semakin lengket. Arman juga kurang peduli dengan keadaan Ratih. Terkadang Ratih dirawat di rumah sakit tanpa ada yang menemani. Karena Mila selalu punya cara untuk meminta Arman pulang.


Beberapa bulan berlalu dan Mila sudah hamil. Mila mengingkari janjinya di awal untuk menyerahkan anaknya agar diakui sebagai anak Ratih dan Arman. Akhirnya bayi yang ia kandung tetap disembunyikan dari Citra.


"Mas, aku ingin tinggal di rumahmu bersama anakmu saja," ungkap Citra.


"Tidak mungkin Mila, aku harus bilang apa sama Citra?" tolak Arman.


"Bilang saja aku istri temanmu, Mas. Dan suamiku bekerja di luar kota. Aku ingin semakin dekat dengan anakmu, Mas. Ketika bayi ini lahir nanti, Citra pasti akan menyayangi anakku seperti adiknya sendiri. Dan suatu saat dia pasti bisa menerimaku sebagai ibunya juga," tutur Mila membujuk suaminya.


"Apa kamu yakin, Sayang?" tanya Arman ragu.


"Aku yakin, Mas. Aku saja bisa mengurusmu, mana mungkin aku tidak bisa mengurus anakmu. Aku akan merawatnya seperti anakku sendiri. Aku ingin dia menganggapku seorang keluarganya juga. Atau paling tidak anakku nantinya akan mengenal kakaknya," tutur Mila.


"Baiklah! aku akan mengantarkanmu ke sana sebelum berangkat ke luar kota," ujar Arman.

__ADS_1


Flashback Off.


Di rumah sakit...


"Bu apa Anda tahu ibu saya sakit apa?" tanya Citra.


"Saya tidak yakin, tetapi suami saya mungkin mengetahuinya. Sebab beliau yang biasanya berhadapan langsung dengan pasien-pasiennya," jawab Nurma. "Suami saya adalah peruqyah, jika Ibu berkenan untuk diruqyah, Ibu bisa datang ke pondok keluarga saya. Semoga dengan diruqyah dapat membantu Anda untuk mendapatkan pertolongan dari Allah!" ujar Nurma kepada bunda Citra.


"Baiklah, Bu. Terima kasih atas informasinya. InsyaaAllah saya akan berkunjung jika sudah diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit."


"Pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kehadiran Anda. Kalau begitu saya permisi. Saya sedang menemani keponakan saya yang sedang menjalani terapi pasca koma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab bunda dan Citra bersamaan.


"Bunda, sejak kapan Bunda sakit? mengapa tidak pernah memberitahu Citra, Bun?"


"Bunda sudah lama mengalami hal ini, Cit. Bunda tidak ingin membebani kamu. Bunda tidak ingin kamu sedih," tutur Ratih.


"Bunda, mulai sekarang tolong terbuka sama Citra, jangan ada yang Bunda tutup-tutupi lagi dari Citra apalagi tentang pernikahan ayah dengan tante Mila."


"Bunda tahu kemarin Citra sangat terpukul karena kalian telah membohongi Citra. Citra sangat sedih dan merasa tidak dianggap oleh kalian. Bagaimana mungkin selama ini Bunda bisa menyimpan semua ini dari Citra, apa Bunda tidak terluka melihat ayah bersama wanita lain? tolong jujur pada Citra, Bun!" ujar Citra dengan isak tangis.


"Tolong maafkan, Bunda. Ini semua salah Bunda. Bunda yang jadi penyebab ini semua. Tadinya Bunda tidak ingin melukai perasaanmu. Tetapi ternyata Bunda salah, Bunda tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang!" tutur Ratih dengan tangisnya yang pilu.


"Kita lupakan dulu masalah ayah dengan tante Mila. Mulai sekarang Citra yang akan merawat Bunda. Jika nanti dokter sudah mengijinkan Bunda pulang, kita datangi pondok ruqyah keluarga ibu Nurma. Siapa tahu ini adalah petunjuk dari Allah untuk kesembuhan, Bunda," tutur Citra lalu memeluk bundanya.


..._______Ney-nna_______...

__ADS_1


__ADS_2