Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 50


__ADS_3

Usai berkemas Citra hendak menyelesaikan urusan administrasi biaya perawatan bundanya. Ia menuju ke bagian pembayaran. Bunda sudah membekalinya sejumlah uang kepada Citra untuk membayar biaya rumah sakit. Namun, ternyata biaya rumah sakit sudah dibayar oleh seseorang. Orang itu tak lain adalah ayah.


Citra akhirnya kembali menuju kamar bunda untuk bersiap-siap pulang. Saat tiba di kamar bunda ternyata ada ayahnya.


"Citra, Ayah akan siapkan mobilnya di luar. Bantu Bunda ke depan!" tutur ayahnya.


Citra tidak menjawabnya ia hanya mengangguk mengiyakan. Ia lalu menggamit lengan bundanya dan membawa bunda meninggalkan ruangan kamarnya.


Sesampainya di loby ternyata ayah sudah menunggu di depan. Citra dan bundanya berjalan menuju mobil ayahnya berada. Citra bersyukur setidaknya ayahnya masih ingat tanggung jawabnya untuk mengurus kepulangan bunda dari rumah sakit.


Mobil melaju dengan pelan menuju kompleks perumahan. Saat melewati gang menuju ke rumahnya, lagi-lagi ia melihat Bima yang sedang turun dari mobil bersama seorang wanita paruh baya kemudian masuk ke dalam rumah yang terletak di samping gang itu.


Citra sebenarnya penasaran dengan hal itu, namun saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk mencari tahu. Hingga mobil pun berhenti di depan pagar rumahnya. Ayah segera turun untuk membuka gerbangnya kemudian kembali masuk untuk memarkir mobil di halaman rumahnya yang cukup luas itu.


Citra kemudian membawa bundanya masuk. Citra baru ingat jika kamar utama bahkan sudah dipakai oleh Mila. Sedangkan kamar tamu belum dibersihkan karena lama tidak ditempati.


"Bunda, istirahat di kamar aku aja ya, Bun. Kamar tamunya belum dibersihkan," tutur Citra. Bunda hanya mengangguk pasrah.


Citra kemudian membawa bundanya masuk ke kamarnya.


"Bunda duduk dulu, ya! Citra ganti dulu sepreinya!" ujar Citra seraya mengambil bantal.


Tiba-tiba saja ada yang jatuh saat ia menyingkap bantal tersebut. Rupanya ada sebuah foto yang awalnya tersimpan di bawah bantal.


"Eh, foto siapa ini, Cit?" tanya bunda seraya membungkuk mengambil foto yang terjatuh di lantai.


Citra segera menoleh dan melihat pada foto yang tengah diambil oleh bunda.


"Oh, itu ... foto teman Citra, Bun!" jawab Citra.


"Kamu berteman dengan anak kecil? apa anaknya tetangga?" tanya bunda yang merasa lucu mengetahui putrinya berteman dengan anak kecil.


"Bukan, Bunda. Foto itu Citra temukan di gudang belakang waktu kita bersih-bersih rumah ini. Dan, ternyata itu adalah foto teman Citra waktu kecil," tutur Citra.


"Lhoh, kok bisa fotonya ada di rumah ini?" tanya bunda penasaran.


"Jadi ternyata rumah ini dulunya adalah rumah papanya. Tapi, setelah neneknya meninggal rumah ini di jual. Lalu papanya membeli rumah mewah di kawasan kompleks ini juga, Bun."

__ADS_1


"Oh, apa dia sering datang kemari?" tanya bunda menyelidik.


"Iya ..., terakhir kalinya dia hendak kemari malah mengalami kecelakaan di depan rumah, hingga dia mengalami koma. Citra tidak pernah tahu lagi keberadaannya setelah dia dipindahkan ke Singapura oleh orang tuanya," tutur Citra dengan sendu. Tergambar sekali kesedihan di wajahnya.


"Innalilahi ..., kamu yang sabar ya. Do'akan saja semoga teman kamu itu diberikan kesembuhan oleh Allah. Kita tidak tahu umur seseorang. Semoga saja dia selamat dan bisa kembali pulih!" tutur bunda menenangkan.


"Aamiin."


......................


Seharian itu Citra menghabiskan waktu dengan bundanya. Sedangkan ayahnya tak berapa lama setelah mengantar pulang, sudah kembali lagi ke rumah sakit dengan alasan Mila membutuhkannya.


Citra tak ambil pusing tentang hal itu. Ia sudah mulai tak mempedulikan lagi urusan ayahnya. Bagi dirinya yang terpenting adalah ada bunda yang selalu bersamanya. Dia hanya fokus pada kesehatan bunda. Dia berharap bunda bisa benar-benar sembuh dari penyakitnya.


"Bunda, mau makan malam apa? biar Citra yang memasak!" tanya Citra.


"Ayo, kita memasak bersama!" ujar bunda seraya bangkit berdiri dengan penuh semangat.


"Lhoh, memangnya perut Bunda sudah nggak terasa sakit?" tanya Citra heran.


"Bunda sudah baikan, kok. Entahlah sebentar sakit sebentar enggak. Tapi, selama tidak terasa sakit Bunda ingin berbuat sesuatu yang menyenangkan. Karena ketika kambuh, Bunda pasti hanya bisa diam di kamar. Bunda, bosan seperti itu terus selama berbulan-bulan!" tutur bunda.


"Sudah, tidak usah sedih begitu. Bunda pasti bisa sembuh karena di sini Bunda merasa bahagia bisa berkumpul dengan putri Bunda! ayo, kita ke dapur!" ujar bunda seraya merangkul bahu Citra. Mereka lalu menuju dapur dan memasak bersama.


Saat asyik bercengkrama sambil memasak tiba-tiba terdengar sesuatu.


Duarr!


Terdengar bunyi benda berat yang jatuh disertai bunyi ledakan yang sangat kencang yang terdengar seperti di atap rumah.


Citra dan bunda seketika kaget karena bunyinya cukup memekakkan telinga.


"Astaghfirullah, bunyi apa itu, Bun!" tanya Citra pada bundanya.


"Entahlah, tapi Bunda beberapa kali juga pernah mendengarnya saat berada di rumah Surabaya. Kita berdoa saja semoga itu bukan pertanda buruk!" ujar bunda.


"Astaghfirullah, Bun. Omelettenya hampir gosong!" pekik Citra seraya mematikan kompor.

__ADS_1


"Yah sedikit kehitaman, deh. Nggak apa-apa deh nanti kita sisihkan yang kehitaman. Yang masih bisa dimakan udah cukup kok buat kita berdua!" tutur bunda seraya memindahkan omelette itu ke atas piring saji.


Setelah memasak Citra kemudian makan malam berdua bersama bunda. Meskipun dengan bahan seadanya namun terasa menyenangkan bagi Citra.


Usai makan malam, mereka membereskan dapur bersama-sama. Setelah itu mereka salat isya berjamaah. Namun, Citra merasa ada yang janggal pada gerakan salat bundanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullah ..., assalamu'alaikum warahmatullaah," ucap Citra salam pada akhir salatnya sembari menoleh ke kanan kemudian ke kiri.


Citra segera menoleh ke arah bunda yang ada di sampingnya. Terlihat bunda terduduk dengan wajah pucat seraya memegangi perutnya.


"Bunda ..., Bunda kenapa?" seru Citra dan segera beranjak merangkul tubuh bundanya yang terlihat lemah.


"Perut Bunda terasa sakit sekali, Cit!" ujar bunda dengan lirih. Wajahnya meringis menahan sakit di bagian perutnya. Dengan wajah tertunduk serta memegangi perutnya bunda kembali mengaduh. "Aww ..., sakit!"


Citra panik dan tak kuasa melihat bunda menderita. "Bunda, kita ke rumah sakit, ya!"


"Enggak perlu, Cit. Bantu Bunda berbaring di tempat tidur! Bunda hanya perlu beristirahat!" tutur bunda.


Tanpa melepas mukenanya Citra beranjak berdiri dan membantu bundanya untuk bangkit. Kemudian menyangga tubuh lemah bunda hingga ke pembaringan. Air mata Citra seketika jatuh melihat bundanya meringis kesakitan. Dia bingung harus berbuat apa untuk meringankan penderitaan bundanya itu.


"Apa bunda yakin sakitnya bisa berkurang tanpa Citra panggilkan, dokter?" tanya Citra pada bunda.


"Bunda sudah terbiasa begini. Bunda hanya perlu beristirahat, Citra. Tidurlah di samping Bunda!"


Citra segera melepas mukenanya dan menyimpannya di rak penyimpanan. Setelah itu dia bergegas berbaring di samping bundanya.


"Bunda, sebelah mana yang sakit? biar Citra usap-usap ya!" tutur Citra seraya memeluk bundanya.


"Di sini, di sini sangat sakit!" tutur bunda seraya menaruh tangan Citra tepat di atas pusarnya.


"Seperti apa rasanya, Bun?" tanya Citra lagi.


"Seperti diikat dengan sangat kencang!" tutur bunda dengan suara paraunya.


"Citra, setiap malam bunda selalu memikirkan kamu, apakah saat Mila di sini kamu baik-baik saja?" tanya bunda.


"Enggak, Bun. Citra seringkali bermimpi buruk, seperti ada yang selalu menghantui, Citra, Bun! meski Tante Mila selalu bersikap baik sama Citra, tapi Citra merasa ada kejanggalan pada tante Mila!" tutur Citra.

__ADS_1


...________Ney-nna_______...


__ADS_2