
"Sebenarnya aku pernah tinggal di rumahmu bersama keluargaku sewaktu aku masih kecil, Cit!" ujar Bima.
"Oh ya?" Citra nampak terkejut mendengarnya.
"Kamu pernah melihat sosok anak perempuan di sekitar rumahmu?" tanya Bima.
"Iya, benar. Temanku yang melihatnya, aku juga pernah tapi di dalam mimpiku," jawab Citra antusias.
"Dia adalah kakakku," tutur Bima.
"Kakakmu? kakakmu sudah meninggal?" tanya Citra dengan sendu.
Bima mengangguk pelan. Matanya terlihat sayu seolah menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Apa kakakmu meninggal akibat tertabrak mobil saat bersepeda di depan rumah?" tanya Citra.
"Benar, rupanya kamu sudah mendengarnya dari para tetangga ya! hah ...," ujar Bima seraya tersenyum sinis.
"Iya, ada seseorang yang memberitahu kepada ku. Oh iya aku baru ingat Bim aku pernah melihat mamamu saat dia menabur bunga di depan rumahku, mamamu pasti merasa sangat kehilangan dan sulit untuk menerima kepergian kakakmu ya?" tutur Citra.
__ADS_1
"Iya benar. Mama sangat terpukul atas meninggalnya kakakku sebab mamaku melihat langsung bagaimana kakakku tertabrak oleh mobil yang melintas saat itu. Mama merasa sangat kehilangan hingga ia mengalami depresi. Terlebih karena ada hal lain yang membuat kakakku menjadi celaka!" ujar Bima. Kini matanya tengah menatap tajam ke arah depan seolah menyimpan kebencian.
"Hal lain? apa itu jika aku boleh tahu?" tanya Citra yang penasaran ingin tahu.
"Kamu pasti juga sudah dengarkan kalau kakakku ditumbalkan oleh ayahnya sendiri!" ungkap Bima.
Citra seketika membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia baru ingat tentang hal itu. Tetangganya bercerita jika anak itu ditumbalkan demi pesugihan oleh orang tuanya. Saat mengetahui bahwa itu adalah kisah dari keluarga Bima Citra pun merasa iba terhadap Bima. Ia tidak menyangka ada orang tua yang sangat tega menumbalkan darah dagingnya sendiri.
Pasti cukup sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa kakaknya meninggal karena ditumbalkan oleh ayahnya sendiri. Pantas saja Bima sangat tertutup. Ia pasti tidak ingin jika latar belakangnya diketahui oleh banyak orang. Sebab bisa jadi dia akan mendapatkan buliying dari teman-temannya.
Citra pun merasa ragu untuk kembali mengulik sebuah cerita kelam dari keluarganya Bima. Ia tidak ingin Bima semakin sedih saat harus mengingatnya kembali.
"Iya, Bim. Aku ingat tentang hal itu. Pasti itu sangat membebanimu!" ujar Citra.
"Dan ketika sudah cukup lama berada di desa, mamaku ingin kembali lagi melihat lokasi terjadinya kecelakaan yang menimpa kakakku. Sebab, saat itu organ tubuhnya tercecer di jalan. Mama yakin jika arwah kakakku masih tersesat di sana."
"Mama seperti orang gila ketika mengingat kejadian itu. Ia akan terus merasa depresi seolah menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga kakakku."
"Karena itulah mamaku mendatangi rumahmu. Ia ngin berjumpa dengan arwah kakakku. Dengan menabur bunga dan juga mendoakan kakakku. Namun, ia tidak pernah diberi kesempatan untuk melihatnya."
__ADS_1
"Tadinya aku tidak tahu tentang hal itu, tapi suatu ketika aku membuntutinya saat mama mengendap-endap pergi keluar rumah. Ternyata beliau menuju ke depan rumahmu. Dan aku melihat beliau menaburkan bunga di sana. Saat itulah aku tahu bahwa kau adalah penghuni rumah itu. Dan, aku juga melihat bahwa kamu sering dapat gangguan dari mereka. Sosok yang tak kasat mata di sekitar rumahmu."
"Awalnya aku berusaha keras untuk mengabaikanmu dan tidak ingin menolong mu. Namun entah mengapa aku merasa tidak tega dan takut jika kamu akan bernasib sama dengan kakakku yang celaka di rumah itu."
"Maaf ya, Bim. Saat itu aku tidak mempercayaimu. Aku awalnya tidak percaya bahwa mereka akan mencelakaiku. Yang aku tahu jika kita berani maka mereka tidak akan mencelakai kita namun ternyata sesuatu yang tidak baik terjadi pada temanku aku benar-benar menyesal tidak menuruti petunjukmu waktu itu untuk segera pindah dari rumah itu." Citra kembali teringat akan Andra.
"Banyak kejadian yang tidak baik di rumah itu sehingga energi rumah itu tidak begitu bagus Citra. Meskipun kamu menggunakannya untuk salat di sana, tapi banyak peristiwa yang tidak baik terjadi di rumah itu sebelumnya."
"Kamu sudah tahu kan jika di rumah itu dikuburkan sebuah janin yang digugurkan. Tentu saja hal itu mengandung aura yang tidak baik, terlebih lagi dulu papaku adalah pengabdi setan yang melakukan berbagai ritual di rumah itu hingga kakakku sendiri ditumbalkan oleh papaku di rumah itu, tentunya tempat itu menjadi sarang jin yang kemudian berdatangan, terlebih ada jin kiriman yang sengaja didatangkan untuk mencelakai ibumu!" tutur Bima mengungkapkan apa yang dilihatnya dari mata batinnya.
"Jadi sampai sekarang masih banyak jin yang tinggal di sana, Bim?" tanya Citra.
"Iya, tentu saja sulit untuk melakukan pembersihan di rumah itu. Sudah larut malam Citra, pergilah ke kamarmu, istirahatlah! besok aku akan mengantar kamu ke tempat yang ingin kamu datangi untuk berobat ibumu!" tutur Bima.
"Baiklah, Bim. Sebelumnya terima kasih atas bantuanmu!" ucap Citra dengan tulus.
......................
Keesokannya Citra dan bundanya sudah bersiap-siap untuk pergi ke pondok ruqyah yang bertempat di desa sebelah itu. Mereka meminjam sepeda motor pak Budi dan tetangga yang berkenan meminjamkan motornya.
__ADS_1
Citra menaiki motor dengan berboncengan dengan bundanya. Dan pak budi berboncengan dengan Bima. Sedangkan mobil Bima sudah dipanggilkan montir untuk diperbaiki.
...______Ney-nna______...