
Usai berbelanja mereka kemudian keluar mini market lalu menuju mobil Bima terparkir. Citra mengikutinya dari belakang bersama Yodha.
Sesampainya di parkiran Bima menyempatkan untuk mengirim pesan pada mamanya agar tidak bingung mencarinya. Lalu, Bima mengambil sebuah amplop dari dalam dashboard kemudian menyerahkannya kepada Citra.
"Ini, Cit!" ujarnya seraya mengulurkan amplop biru berukuran sedang ke hadapan Citra.
Citra menerimanya dan mulai penasaran dengan isi di dalam amplop itu.
"Apa ini?" tanyanya.
"Buka aja dulu, nanti kamu juga tahu!" ujarnya.
Citra sedikit merasa heran, ia kemudian bergumam, "kenapa musti pakai amplop? tinggal bilang aja apa susahnya?" tanyanya.
"Bawel! buruan buka!" perintah Bima.
Citra kemudian membuka amplop berwarna biru tersebut. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas putih. Citra mengambilnya lalu membukanya.
Dear Citra,
Assalamu'alaikum,
Citra, jika diperkenankan di akhir pekan ini Insyaallah aku akan berkunjung ke rumahmu bersama keluargaku. Aku harap kamu dan orang tuamu bisa mengosongkan waktu untuk menerima kedatangan kami.
Citra melirik sebentar ke arah Bima. Ia sedikit bingung ini surat dari siapa? dari tulisannya Citra tahu ini bukan karakter Bima. Lagi pula Citra sudah pernah menolak berpacaran dengan Bima saat kelulusan SMA. Alasannya tentu saja karena Citra tidak mencintai Bima. Namun, setelahnya mereka masih berteman baik.
Bima yang merasa ditatap Citra dengan penuh tanya akhirnya buka suara, "Lanjutin bacanya, Cit!" titahnya.
Citra kembali melihat pada surat itu. Di bagian bawah tidak ada nama pengirimnya. Ia lalu membuka lembar berikutnya.
Curriculum Vitae Pemintaan Ta'aruf.
Nama. : Andra Melvino.
Umur. : 22 th.
__ADS_1
Profesi. : Web Developer.
Kriteria Pasangan :
- Semua yang ada pada dirimu.
Di bagian bawah masih ada informasi tentang data diri yang berkaitan dengan Andra.
Citra seketika shock mengetahui jika Andra lah pengirim surat ini. Ia mengulas senyum dengan mata berkaca-kaca saking terharunya. Ia membungkam mulutnya saking terkesima dengan apa yang dibacanya. Ia seolah tak percaya mendapatkan ajakan bertaaruf dari Andra.
Sudah empat tahun berlalu dan mereka tidak pernah bertemu, tiba-tiba muncul kembali dengan melayangkan sebuah surat ajakan bertaaruf. Bagaimana Citra tidak shock dengan kejutan ini.
"Bim, ini ... beneran dari Andra? kok bisa ada sama kamu?" tanya Citra merasa heran.
"Tentu saja dari Andra. Beberapa tahun yang lalu ia tinggal di pondok Ustadz Fahri untuk menjalani pemulihan pasca koma, dan Bu Nurma itu adalah tantenya Andra, adik dari Mama Andra. Ia selama ini mengawasimu dari jauh. Lewat perantara Bu Nurma yang sering berkomunikasi dengan bundamu ia mendapatkan segala informasi perkembangan yang terjadi padamu.
"Belakangan dia sibuk menuntaskan studinya dan semenjak ayahnya meninggal ia yang mengurus perusahaan Software House milik ayahnya sembari belajar mendalami ilmu agama dengan ustadz Fahri."
"Aku beberapa kali bertemu dengannya saat mengantar mama untuk diruqyah. Tapi, dia nggak ngijinin aku untuk mengatakan hal itu padamu. Dia bilang belum saatnya. Nanti jika sudah saatnya baru dia akan mendatangimu sendiri. Nah kemarin itu kebetulan ketemu di pondok, Andra menitipkan itu padaku untuk diberikan kepadamu," tutur Bima menjelaskan panjang lebar.
Setitik air mata lolos dari sudut mata Citra. Citra buru-buru menyekanya. Namun bulir-bulir air mata bahagia justru semakin deras meluncur di pipinya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Andra selama ini ternyata memperhatikannya dari jauh tanpa dia ketahui.
Hari yang ditunggu pun tiba. Sebelumnya Citra sudah memberitahukan semua itu pada ayah dan bundanya jika Andra dan keluarganya akan datang.
Tepat di jam makan siang Andra datang beserta mama, bu Nurma, Ustadz Fahri dan beberapa orang yang merupakan keluarga besar Andra.
Citra melirik sejenak pada Andra. Empat tahun berlalu rupanya banyak yang sudah berubah dari Andra secara fisik. Semakin gagah dan terlihat lebih dewasa dengan setelan kemeja berwarna soft blue dan celana panjang bahan berwarna hitam. Dari wajahnya Andra bahkan jauh lebih tampan daripada dahulu. Mungkin karena saat ini lebih terlihat rapih tidak seperti dulu dengan gaya urakan khas anak muda.
Citra segera menundukkan pandangannya saat pandangan keduanya saling bertemu. Dan, jangan ditanyakan lagi. Kini ia seolah dapat mendengar debar jantungnya yang berdetak kencang.
Para orang tua mulai berbincang basa basi untuk mengakrabkan diri dan menghidupkan suasana. Tak berapa lama ustadz Fahri mulai menyampaikan maksud kedatangannya.
"Ekhm ... Pak Arman dan Bu Ratih, kedatangan kami kemari sebenarnya karena ada suatu maksud yang ingin kami sampaikan. Saya selaku wali dari Andra saya ingin menyampaikan jika keponakan saya mempunyai keinginan untuk lebih dalam mengenal putri kalian dalam artian meminta untuk bertaaruf. Bagaimana bapak, ibu dan nak Citra apakah berkenan untuk menyetujui permintaan keponakan saya ini?" tanya ustadz Fahri.
Ayah dan bunda kompak menoleh pada Citra. Sebab, mereka ingin putrinyanya lah yang memutuskan mau bertaaruf atau tidak.
__ADS_1
"Saya rasa nak Andra cukup baik, apalagi selama ini hubungan silaturahmi keluarga kami dengan keluarga ustadz cukup baik. Jadi saya rasa tidak mungkin Ustadz menyodorkan sesuatu yang tidak baik pada kami. Untuk saya pribadi insyaallah saya menyetujuinya, namun hal itu saya kembalikan lagi pada putri saya. Sebab, bisa jadi ini akan berkaitan dengan masa depan putri saya nantinya," ujar Arman. "Bagaimana, Citra?"
Semuanya pun fokus menunggu jawaban dari Citra.
Citra menghembuskan nafasnya perlahan kemudian berucap, Bismillah! di dalam hatinya. "Saya bersedia untuk menjalani ta'aruf dengan Andra, Ayah," jawabnya.
"Alhamdulillah."
Semua orang yang berada di ruangan itu pun nampak lega. Terlebih dengan Andra yang seketika mengulas senyumnya, sebab merasa sangat bahagia karena permintaannya diterima.
Tiga bulan berlalu dari waktu ta'aruf, kedua keluarga sepakat untuk melanjutkan pada jenjang berikutnya. Sebab keduanya sudah sama-sama yakin untuk melanjutkan pada tahap yang lebih serius yaitu pernikahan.
Usai mengucap qobul, Andra menyematkan cincin emas di jari manis Citra. Setelahnya Andra mengulurkan tangannya ke hadapan Citra. Citra pun menyambutnya kemudian mencium punggung tangan Andra dengan hikmat. Tepat di saat itu Andra pun segera melafalkan doa sembari menahan kepala Citra dengan telapak tangannya yang ia taruh di atas kepala Citra.
Usai berdoa Andra mengangkat tangannya. Saat Citra mengangkat wajahnya, Andra menahan bahu Citra lalu memberi kecupan di kening istrinya.
Malam itu Citra nampak cantik dengan kebaya putih dan Andra yang terlihat gagah dengan setelan jasnya. Usai mengucap ijab qobul mereka duduk bersanding di kursi pelaminan. Keduanya nampak malu-malu namun kebahagiaan terpancar di wajah mereka.
"Citra, ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu," ujar Andra.
"Ya, apa?" tanya Citra mengalihkan pandangannya dari tamu-tamu yang datang beralih melihat ke arah Andra.
Andra merogoh ke dalam bajunya. Sebuah kalung perak berliontin ia lepas dari lehernya.
"Ini punyamu?" tanyanya.
Citra nampak terkejut melihat apa yang di lihatnya di genggaman Andra.
Perlahan tangan Citra terulur untuk mengambilnya. Ia membuka liontin berbentuk hati itu. Di dalam liontin itu tersemat sebuah foto seorang anak perempuan yang tengah tersenyum manis.
"Andra, bagaimana kalung ini bisa ada padamu?" tanya Citra.
"Aku menemukannya di jalan kompleks ini saat sedang joging, aku menyimpannya karena aku tidak tahu siapa pemiliknya. Setelah itu aku sering bermimpi bertemu seorang gadis, namun ketika terbangun dari tidurku aku tidak ingat wajahnya."
"Dan, kemarin saat aku koma aku tiba-tiba berada di sebuah tempat di mana di tempat itu terjadi sebuah kecelakaan. Saat aku lihat ternyata korban kecelakaan itu adalah diriku. Dan lokasinya tepat berada di depan rumahmu, sama seperti di mana aku mengalami kecelakaan. Aku berlari ke rumahmu mencarimu untuk meminta pertolongan. Namun rumah ini kosong. Tapi di kamarmu aku menemukan sebuah pigura yang menampakkan sebuah foto yang sangat familiar bagiku. Saat aku sadar, aku ingat jika foto yang berada di kamarmu itu sama persis dengan foto yang tersemat di dalam kalung berliontin hati yang aku simpan. Dan setelah koma itu aku mengingat dengan jelas wajah gadis yang ada di setiap mimpiku. Gadis itu adalah kamu!" ungkap Andra.
__ADS_1
"MasyaaAllah. Aku rasa mimpi kita terhubung Andra. Aku juga menyimpan foto masa kecilmu yang aku temukan di gudang belakang. Aku awalnya mengira benar-benar bertemu denganmu. Dan, merasa sedih saat kamu nggak mengenali aku saat kita bertemu di sekolah. Namun, belakangan aku tahu jika sebenarnya semua itu hanyalah mimpiku," ujar Citra dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan Citra akan kisah cintanya di alam mimpi.
...______TAMAT______...