Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 38


__ADS_3

Malam semakin larut, Citra beranjak masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Baru beberapa saat tidur Citra sudah mulai bermimpi. Wanita muda yang tempo hari datang ke dalam mimpinya kembali mendatanginya dalam mimpi. Sosok gadis belia seumurannya yang telah kehilangan janinnya itu menangis meratap di bawah kakinya.


"Tolong ... tolong aku! tolong ... hiks hiks hiks!" ratapnya sembari memegangi kedua pergelangan kaki Citra.


Citra merasa sangat pilu dan sedih. Isak tangis itu terdengar menyayat hatinya. Hingga kakinya pun tak mampu untuk digerakkan. Semakin lama Citra semakin membatu. Ia bahkan tidak bisa menggeser tubuhnya. Dia sadar ini adalah mimpi buruknya. Namun, terasa sulit untuk bangun dari tidurnya.


Citra mencoba melawan namun terasa semakin berat. Ia merasa sudah berteriak sekencang-kencangnya namun gaungnya sama sekali tidak terdengar. Bahkan sekuat apa pun dia berusaha melawan justru semakin terasa berat.


Sosok gadis pilu itu pun seketika berubah, menjelma menjadi sosok yang buruk rupa, dengan baju putihnya yang lusuh dan noda darah di bagian depan jubah lusuhnya.


Sosok itu berubah menjadi garang dengan mata merah menyala. Sorot matanya tajam penuh kebencian. Dia tidak berkata apa pun, namun dari sorot matanya itu saja sudah mampu membuktikan bahwa dia tengah marah terhadap sesuatu hal. Citra menjadi semakin ngeri melihatnya.


Kali ini Citra benar-benar merasa capek. Dia pasrah dan tidak lagi melawannya. Perlahan dia mencoba untuk tenang dan menguasai kesadarannya bahwa itu hanya mimpi dan tidak akan ada yang bisa mencelakainya tanpa seizin Allah.


Citra kemudian mencoba untuk beristighfar dan melantunkan doa. Dia mencoba menggerakkan jarinya sedikit demi sedikit yang dia mampu. Perlahan-lahan ia mampu menggerakkan seluruh tubuhnya dengan kesadaran penuh dan kembali terjaga dari tidurnya.


Citra mengucap syukur karena terbebas dari mimpi buruknya. Dia menyeka keringatnya yang membasahi wajahnya. Perlahan dia bangkit untuk meraih handphone yang ada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB.


Awalnya dia hendak ke kamar mandi, tapi merasa was-was setelah teringat akan mimpi buruknya barusan. Ia pun mengurungkan niatnya untuk bangkit dan berniat untuk kembali tidur. Ia meraih selimut tebalnya dan melingkupi sebagian tubuhnya, berharap bisa tertidur kembali dengan tenang.


Citra membaca doa dan mulai memejamkan mata. Baru beberapa menit berlangsung tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Teriakan itu seperti suara dari Mila.


"Aaaargghh!"


Citra kembali tergugah dan seketika bangun. Rasa penasarannya timbul akan apa yang terjadi pada Mila. Citra segera beranjak berdiri dan berjalan keluar menuju kamar Mila.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Tante!" panggil Citra seraya mengetok pintu. Namun, tidak terdengar sahutan dari dalam kamar Mila.


Tok tok tok.


"Tante, apa yang terjadi?" seru Citra lagi dari depan pintu kamar Mila.


Saat tidak ada sahutan juga, Citra dengan perlahan memutar gagang pintu.


Cklek!


Citra melongokkan kepalanya melihat ke dalam kamar.


Hah! Tante Mila tidur pulas, lalu siapa yang tadi berteriak? gumam Citra di dalam hati.


Bulu kuduknya seketika meremang saat tahu bahwa teriakan itu bukan dari Mila, melainkan ada sosok tak kasatmata yang tengah menirukan suara Mila untuk mengganggunya. Citra semakin gemetar menyadari ada sosok yang tengah mengerjainya.


Citra mengambil napas dalam-dalam dan menepis prasangka buruknya. Dia menutup kembali kamar Mila perlahan, kemudian berbalik hendak kembali ke kamarnya.


Namun, saat melewati ruang tamu tiba-tiba ada sekelebat bayangan hitam melintas masuk dari ruang tengah menuju ke dapur. Citra sejenak terperanjat dibuatnya.


Hal itu membuat Citra kaget dan was-was dengan sosok yang sempat menampakkan diri itu. Namun, rasa penasaran terus membuatnya ingin untuk menengok ke arah pintu dapur.


Citra menimang-nimang untuk mengecek ke dapur atau lebih memilih untuk kembali ke dalam kamarnya. Namun, rasa penasaran yang besar membuatnya kakinya melangkah mendekati pintu dapur.

__ADS_1


Sesampainya di dapur Citra tidak melihat siapa pun di sana. Seingat Citra baru kali ini dia melihat sosok hitam yang barusan di lihatnya. Sebab setahu Citra sosok yang ada di rumah ini adalah anak kecil, bayi, dan sosok yang menyerupai Andra. Karena tidak menemukan apa pun Citra akhirnya beranjak kembali ke kamarnya.


Tanpa sepengetahuan Citra sebenarnya sosok bayangan hitam itu tengah bersembunyi di dalam kamar mandi samping dapur. Dia tengah tertawa senang karena berhasil mengganggu tidurnya Citra. Baginya Citra adalah mainan barunya. Dia sangat suka dengan manusia yang kesepian dan merasa sendirian di dalam hidupnya.


......................


Keesokannya Citra sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolahnya. Dia mengenakan atasan berwarna coklat muda dan bawahan berwarna coklat tua. Tidak lupa rambut kuncir kudanya yang membuat tampilannya semakin segar dan percaya diri.


Karena di dapur tidak ada makanan, pagi ini dia tidak sarapan seperti biasanya. Namun, dia justru memikirkan Mila yang tengah menumpang di rumahnya. Lantas dicarinya Mila ke semua ruangan. Dia bermaksud untuk menyuruh Mila beli di warung depan. Namun setelah berputar-putar kesemua ruangan, Mila tidak juga ditemukan.


"Astaghfirullah, Tante Mila ke mana sih!" ujar Citra sembari berkacak pinggang. Netranya sibuk mengitari ke seluruh sudut ruangan di rumahnya. Dia khawatir jika Mila juga mendapatkan gangguan dari makhluk gaib di rumahnya.


Citra menjadi was-was dan berpikir ulang untuk meninggalkan Mila di rumahnya sendirian. Terlebih mengingat oa tengah hamil besar, dia khawatir akan disalahkan oleh orang tuanya atau suami Mila jika sampai terjadi sesuatu hal pada Mila.


Citra pun menjadi bimbang haruskah menelepon ayahnya mengenai hilangnya Mila. Sebab dia sendiri kemarin belum sempat bertukar nomor dengan Mila.


Citra duduk dengan gelisah sembari memegangi handphonenya. Dia bingung harus berkata apa nanti pada ayah dan bunda ketika mereka menanyakan tentang Mila seandainya tidak ditemukan juga.


Ditengoknya jam di dinding menunjukkan pukul 06.20 WIB. Berdiam diri di rumah juga tidak mungkin. Sebab dia harus segera berangkat ke sekolah agar tidak terlambat. Citra hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa terhadap Mila.


Citra bergegas memakai jaket dan tas ranselnya. Kemudian menyabet kunci motor dan berniat untuk berangkat ke sekolah meskipun Mila belum ditemukan. Sesampainya di teras rumah, tiba-tiba dari kejauhan nampak Mila berjalan dari arah pintu pagar. Nampak Mila tengah menenteng bungkusan di salah satu lengan tangannya. Citra menghela napas beratnya melihat hal itu. Meski kesal karena tidak dipamiti oleh Mila, setidaknya kini Mila terlihat baik-baik saja dengan senyum di wajahnya.


"Tante, ke mana aja?" tanya Citra.


...______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2