
Dari arah depan nampak Mila datang dengan senyum mengembang berjalan ke arah teras rumah. Dia mengenakan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil berwarna hitam dan memakai bolero rajut berwarna hijau toska di bagian luarnya.
Penampilannya yang segar membuat parasnya yang ayu semakin terlihat menarik. Bahkan jika disandingkan dengan Citra, mereka terlihat seperti kakak beradik.
"Tante, kemana aja, sih?" tanya Citra.
"Habis jalan-jalan keliling kompleks, Cit. Kata dokter mendekati HPL baiknya dipakai jalan-jalan, supaya bayinya mapan menuju ke jalan lahir," tutur Mila seraya mendudukkan diri di kursi teras sembari mengusap-usap pada perutnya yang buncit.
Mila membuka tutup botol yang sejak tadi ditentengnya, kemudian meneguk air mineral itu hingga berkurang separuhnya.
"Citra dari tadi nyariin loh, Tante kenapa nggak bilang ke aku kalau mau jalan-jalan keliling kompleks? Aku kan jadi bingung, apalagi Tante orang baru di sini, kalau nyasar gimana?" tutur Citra dengan sedikit kesal.
"Iya deh, maaf! tadi waktu mau pamit Tante dengar kamu masih di kamar mandi, ya udah Tante nggak jadi pamit, deh," ujar Mila menjelaskan sembari memperhatikan penampilan Citra yang sudah rapi dengan seragamnya. "Eh, udah mau berangkat ke sekolah, ya? barusan Tante belikan bubur ayam lhoh, yuk sarapan dulu!"
"Udah setengah tujuh, Tante. Tante aja deh yang makan, Citra langsung berangkat aja deh keburu telat ntar," tolak Citra.
"Yah, dibekal aja gimana? Tante nggak akan habis makan dua bungkus sendirian."
"Ya udah deh aku bawa satu, ya. Makasih, Tante. Aku berangkat dulu, ya? Assalamu'alaikum," pamit Citra
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Citra!" ujar Mila mengiringi kepergian Citra.
......................
Pada jam istirahat Citra bergegas keluar kelas bersama Amel menuju ke kantin. Sesampainya di kantin Citra bercerita tentang mimpinya semalam pada Amel.
"Pertanda apa ya, Mel?" tanya Citra.
"Gue rasa sebaiknya lo ceritakan tentang mimpi-mimpi itu sama papanya Andra, Cit. Siapa tahu hal itu memang ada hubungannya dengan keluarganya Andra. Mungkin saja hal itu dapat memberikan sebuah petunjuk atas sesuatu hal yang selama ini sedang dicari solusinya, Cit!" tutur Amel antusias.
"Gitu, ya? oke deh, nanti sepulang sekolah gue ke rumah sakit buat temuin papanya Andra!"
"Perlu gue temenin?"
__ADS_1
"Nggak usah juga nggak apa-apa, Mel. Justru gue khawatir papanya Andra nggak nyaman kalau ada lo di sana. Entah mengapa gue merasa ini ada hubungannya dengan sebuah aib yang sedang ditutup-tutupi sejak lama. Tapi ini baru dugaan gue sih, semoga aja gue salah. Soalnya kalau bener gue kasihan banget sama si ceweknya itu, hidupnya sangat menderita sekali, Mel!" tutur Citra panjang lebar.
"Iya sih Cit, ya udah lo ntar hati-hati ya, semoga papanya Andra bisa bersikap dengan bijak seandainya kisah mimpi lo itu ada hubungannya dengan masa lalunya. Oh ya, by the way Tante Mila gimana?"
"Gimana apanya? dia enjoy aja, bahkan seperti tinggal dirumahnya sendiri," tutur Citra sembari menyeruput lemon tea di hadapannya.
"Oh, ya? emang suaminya kemana sih, masa istri mau lahiran malah jauh dari suami?" tanya Amel yang mulai kepo.
"Nggak tahu juga sih, Mel. Tapi dia tuh kayak yang nggak ada masalah, bahkan nggak ada sedih-sedihnya gitu padahal kan ditinggal suaminya kerja jauh, malahan dia kelihatan happy, terus tadi pagi aku bingung nyariin dia kan kok nggak ada di rumah, eh nggak taunya jalan-jalan keliling kompleks."
"Lo nggak khawatir kalau dia kenapa-napa di rumah lo, Cit? secara di rumah lo kan banyak hantunya, Cit?" tanya Amel antusias.
Citra terdiam memikirkan perkataan Amel. Selama ini yang tinggal di rumahnya tidak ada yang betah, ada sedikit kekhawatiran muncul. Tapi, mengingat sejak kemarin dia tidak mendapat keluhan apa pun dari Mila, Citra pun percaya mungkin Mila akan baik-baik saja.
......................
Sesuai rencana usai pulang sekolah Citra pergi ke rumah sakit untuk menemui papanya Andra. Namun, di depan kamar Andra nampak sepi. Tidak ada yang berjaga di sana. Citra lalu memutuskan untuk menjenguk Andra di kamarnya.
Hingga usai berdoa Andra masih tidak menunjukkan respon apa pun. Citra melihat jam pada handphonenya sudah menunjukkan pukul 15.30. Citra memutuskan untuk pulang.
Namun, saat keluar dari kamar Andra terlihat papa Andra duduk di kursi tunggu pasien. Citra lantas teringat akan tujuan awalnya untuk menceritakan mimpinya pada papanya Andra.
"Om," sapa Citra sembari menunduk hormat pada papa Andra.
"Terima kasih ya, Nak. Kamu baik sekali selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk Andra!" tutur papa Andra dengan ramah.
"Sama-sama, Om," balas Citra dengan tersenyum kecil. "Em ... Om, ada yang ingin saya ceritakan pada, Om!" ungkap Citra seraya mendudukkan diri di kursi.
"Cerita apa, Nak? tentang Andra?" tanya papanya Andra.
"Bukan, Om. Tentang mimpi saya ...," tutur Citra.
"Mimpimu?" Papa Andra merasa sedikit terkejut, beliau merasa heran mengapa teman Andra berniat menceritakan mimpinya kepadanya.
__ADS_1
Citra mengangguk dengan sedikit ragu, lalu dia mulai menceritakan mimpinya yang pertama kali tentang gadis bernama Anya dan laki-laki bernama Ardy.
Dia bercerita tentang gadis yang terpaksa menggugurkan kandungannya akibat mendapat desakan dari seorang teman laki-lakinya. Lalu Citra juga menceritakan jika pada akhirnya gadis itu meninggal dunia karena mengalami perdarahan yang terus-menerus keluar tanpa henti usai menggugurkan kandungannya.
Ayah Andra terkesiap saat mendengar Citra bercerita. Beliau shock dan terdiam tanpa bisa berkata-kata. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya namun beliau dengan kuat menahannya agar tidak jatuh. Dadanya bergemuruh tatkala mengingat dosa-dosanya di masa lalu yang pernah ia lakukan kepada Alya, terungkap oleh Citra.
Terlebih ketika tahu Alya telah meninggal setelahnya, beliau sangat terkesiap dan merasa bersalah. Karena selama ini dia tidak tahu menahu kabar tentang Alya dan malah menyimpan rapat-rapat kisahnya dengan Alya dari siapa pun.
Beliau kini merasa sangat bersalah dan tidak menyangka jika saat itu Alya mengalami penderitaan yang teramat menyakitkan usai diantarnya pulang kerumahnya. Bahkan hingga meregang nyawanya keesokannya.
Ardy ingat betul bahwa saat itu beliau tengah mengubur semua kisah kelamnya. Dia pergi ke luar kota dan membuang kenangan pahitnya bersama Alya, tanpa mencari tahu apa yang terjadi dengan Alya setelahnya.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan terkuak juga. Begitulah yang saat ini ia rasakan. Beliau berpikir mungkinkah semua kemalangan yang menimpa Andra, adalah teguran dari Allah agar ia bertaubat dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu. Sebab ia telah menelantarkan Alya dan janin yang telah digugurkannya.
Ardy dengan terbata-bata akhirnya mengakui hal itu adalah kisah masa lalunya. Dia mengaku bahwa dia telah bersalah kepada Alya.
"Tapi, Nak, bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan mimpi tentang kisah yang sama persis tentang masa lalu saya dengan Alya?" tanya Ardi.
"Mungkin, dia ingin saya membantu dia untuk menyampaikan keinginannya kepada Anda, Om," tutur Citra. "Tolong kuburkan janin itu dengan layak, Om. Dan segeralah temukan makamnya! Mungkin dengan begitu dia kan berhenti mengikuti saya."
"Baik, Nak. Terima kasih sudah menceritakan mimpimu kepada saya, saya akan segera mencari tempatnya dikuburkan dan memenuhi keinginannya!"
"Baik, Om. Saya permisi pulang dulu! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
......................
Dua hari berlalu dengan tenang Citra merasa tidurnya nyenyak tanpa ada yang mengganggunya. Hanya sesekali dia merasa ada sekelebatan hitam yang nampak fi rumahnya.
"Cit, jika kamu terkadang melihat sesuatu yang aneh di rumahmu, abaikan saja!" tutur Mila.
...________Ney-nna_______...
__ADS_1