
Keesokannya Citra terbangun saat bunda beranjak ke luar dari kamar. Semalam Citra bisa tidur dengan nyenyak setelah ditemani oleh bunda yang tidur di kamarnya.
Citra kemudian beranjak duduk mengumpulkan kesadaran sembari mendengarkan adzan berkumandang. Setelahnya dia mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Pagi ini Citra sangat bersemangat menyambut hari karena ada orang tuanya di rumah. Citra bergegas mandi dan berganti baju dengan seragam sekolahnya. Di kuncirnya rambut panjangnya ke belakang seperti biasa. Citra kemudian keluar dari kamar dan menuju dapur untuk menjumpai bundanya yang sedang memasak.
"Bunda, masak apa?" tanya Citra seraya masuk ke dalam dapur.
"Ya apa boleh buat, di dapur cuma ada beras dan telor. Jadi bunda cuma masak nasi goreng dan goreng telur nih. Habisnya kamu nggak mau belanja bahan memasak, sih!" tutur bunda seraya menaburkan bumbu instan nasi goreng ke atas nasi yang bertengger di atas wajan.
"Citra sebenarnya kemaren sempat kost, Bun. Jadi nggak kepikiran beli bahan memasak," tutur Citra.
"Kost? kenapa harus kost, Cit?" Bunda sejenak menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap ke arah Citra.
"Citra kesepian, Bun. Citra di sini sendiri nggak ada temennya. citra takut!" tutur Citra.
"Mulai sekarang kan ada Tante, Citra," tutur suara dari arah belakang.
Tercium aroma wangi parfum yang menyeruak. Citra dan bunda serentak menoleh ke arah belakang. Terlihat Mila berjalan mendekat ke arah dapur sembari tersenyum. Rambutnya yang basah masih terbungkus handuk di atas kepalanya.
"Tante Mila nggak dingin pagi-pagi begini sudah mandi keramas?" tanya Citra.
"Enggak, udah biasa kok!" ujarnya seraya mengisi panci dengan air dan merebusnya di atas kompor. "Masak nasi goreng ya, Mbak?" tuturnya seraya melirik ke arah wajan bunda.
"Iya, nggak ada bahan memasak soalnya. Nanti biar aku belanja dulu bahan memasak untuk persediaan kalian," tutur bunda tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan di hadapannya.
"Nggak usah repot-repot, Mbak. Nanti jika butuh sesuatu saya bisa ajak Citra berbelanja bareng. Iya kan, Cit?" ujar Mila seraya melihat ke arah Citra.
"Iya, Tante," jawab Citra patuh.
"Baiklah, terserah saja!" ucap bunda.
Mila terlihat membuka rak atas pada kitchen set dan mengeluarkan sebuah kotak yang berisi susu bubuk untuk ibu hamil.
"Citra, mau minum apa biar Tante buatkan sekalian?" tanyanya dengan ramah.
"Teh hijau, Tante. Citra nggak suka minum susu!" tuturnya.
__ADS_1
"Oke, Mbak mau minum apa?" tanya Mila kepada bunda Citra.
"Nggak usah, aku minum air putih saja!" tolak bunda.
Mila nampak manggut-manggut tanpa berkata lagi. Dia mengambil tiga cangkir gelas dari rak. Kemudian mengisi satu gelas dengan empat sendok susu bubuk ibu hamil, satu cangkir diisinya dengan gula dan teh celup punya Citra, dan satu cangkir lagi diisinya dengan bubuk kopi hitam.
Mila menuangkan air panas pada ketiga cangkir itu satu persatu. Kemudian mengaduk masing-masing cangkir dengan sendok teh.
"Ini teh buat kamu, Citra. Semoga takaran gulanya pas, ya!" ujarnya seraya menaruh cangkir teh berisi teh panas untuk Citra ke atas meja makan.
"Terima kasih, Tante," ucap Citra seraya menggeser kursi dan mendudukkan diri di sana.
"Sama-sama, Cit."
Mila kemudian menaruh cangkir yang berisi kopi di atas nampan dan menaruhnya ke atas meja makan. Sementara itu dia kembali dengan memegang cangkir berisi susu dan duduk di samping Citra. Mila mulai menyeruput cangkir berisi susu itu sedikit-demi sedikit.
"Tante, bukannya ibu hamil nggak boleh minum kopi ya?" tanya Citra yang merasa heran karena Mila juga membuat secangkir kopi.
"Hah ... aku nggak minum kopi kok, Cit!" tuturnya seraya menghentikan acara minum susunya dan meletakkan cangkirnya ke atas meja.
"Terus kenapa buat kopi juga?" tanya Citra seraya melirik pada cangkir kopi yang bertengger di atas nampan.
Citra sejenak terpaku mendengar perkataan Mila. Tiba-tiba saja ada perasaan tidak suka muncul terhadap Mila.
Sok perhatian banget sih, sama ayah! gumamnya di dalam hati.
Citra beranjak berdiri dan mengambil nampan yang terdapat cangkir berisi kopi itu. Citra lantas keluar dari dapur dan mencari keberadaan ayahnya. Rupanya ayahnya sedang duduk-duduk di teras rumah sembari menikmati udara pagi.
"Yah, ini bunda buatkan kopi untuk ayah!" ujarnya berbohong seraya meletakkan secangkir kopi pada meja kecil di antara tempat duduk mereka.
"Oh, iya terima kasih, Cit."
"Terima kasihnya sama bunda, jangan sama Citra," ujar Citra sembari menatap heran kepada ayahnya yang tumben sekali sudah serapi ini di pagi hari.
"Iya, nanti Ayah berterima kasih kepada bunda."
"Ayah, mau ke mana pagi-pagi sudah rapi?" selidik Citra dengan muka masam. Tidak biasanya ayahnya bangun tidur langsung mandi dan berpakaian rapi seperti saat ini.
__ADS_1
"Hahaha ... Citra kamu tahu saja kalau Ayah mau pergi. Ayah cuma mau berkunjung ke rumah pak RT untuk melapor tentang Mila yang akan tinggal di sini. Takutnya nanti keburu pak RT berangkat kerja!" tutur ayah menjelaskan.
"Oh, terus semalam Ayah ke mana? katanya mau tidur, kok bunda semalam tidur sendirian di kamar?" Entah mengapa Citra mulai curiga dengan ayah dan Mila. Dia takut jika di belakang bunda, ayahnya telah berkhianat dan menjalin hubungan terlarang dengan Mila.
"Oh, itu ... Ayah hanya berjalan-jalan di luar sebentar untuk mencari angin," jawab ayah sembari menggaruk belakang kepalanya. "Sebaiknya Ayah ke rumah pak RT sekarang saja ya, Cit. Kamu sarapan duluan aja sama bunda dan Mila!"
Ayah beranjak bangkit dari duduknya dan berpamitan pergi tanpa meminum kopinya.
Citra mengambil cangkir kopi yang belum tersentuh itu, kemudian membuang isinya ke samping. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah.
Saat melewati ruang tengah dia melihat Mila masuk ke dalam kamarnya dengan muka masam seraya menutup pintu dengan tergesa-gesa.
Citra tidak ambil pusing dan segera kembali ke dapur menjumpai bundanya. Citra kemudian sarapan pagi berdua saja dengan bundanya.
"Bunda, memangnya suami Tante Mila, kerja apa?" tanya Citra dengan sedikit berbisik.
"Em, Bunda juga kurang tahu. Tapi katanya kini dipindahkan ke luar kota sehingga tidak bisa membawa dia turut serta," tutur bunda.
"Kalau saudara? apa tidak ada saudara dan kerabat dekat untuk dititipi?" bisik Citra lagi yang penasaran dengan latar belakang Mila.
"Dia yatim piatu, Cit. Sejak bekerja dengan kita dia memang sudah tidak punya siapa-siapa. Dia juga anaknya rajin dan mau membantu pekerjaan apa saja," tutur bunda.
Citra menjadi merasa iba dengan kisah latar belakang Mila. Namun, perasaan Citra masih was-was dengan perhatian Mila terhadap ayahnya. Mungkin karena dia tidak tahu keseharian mereka di tempat kerja membuat Citra masih ragu dengan ketulusan Mila terhadap keluarganya.
Usai sarapan Citra berpamitan untuk berangkat ke sekolah kepada bundanya. Citra mencium punggung tangan bunda kemudian menaiki sepeda motornya dan melaju menuju ke sekolah.
......................
Di sekolah Citra tidak sempat curhat kepada Amel karena ada presentasi di pelajaran pertama. Semua anak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Hingga pulang sekolah Citra tidak lantas bergegas pulang agar bisa bertemu dengan ayah dan bunda sebelum kembali ke Surabaya.
......................
"Assalamu'alaikum!" ucap Citra saat berlari menuju teras rumah. Dia buru-buru melepas sepatu dan menaruhnya asal di rak sepatu di samping pintu, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Mila yang baru muncul dari balik pintu kamar.
Citra terpaku menatap ke arah Mila dengan sangat terkejut. Sebab, Mila keluar dari kamar orang tuanya, bukan dari kamarnya sendiri.
__ADS_1
..._______Ney-nna_______...