Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab.27


__ADS_3

Citra mencoba mengalihkan rasa takutnya dengan menyibukkan diri. Dia merapikan barang-barang bawaannya dari dalam tas ke dalam almari penyimpanan. Buku-bukunya dia taruh di rak yang melintang di samping tempat tidur. Sejenak hal itu mampu membuatnya teralihkan dari kecemasan berada di tempat tinggal yang baru.


Capek beberes barang-barangnya, Citra merasa haus. Udara dingin malam itu membuat Citra ingin minum minuman yang hangat untuk menghangatkan diri. Citra mengeluarkan kopi sachet dari dalam tasnya. Kemudian memutuskan untuk ke luar kamarnya untuk menyeduh kopi di dapur umum yang berada tepat di samping kamarnya.


Saat ke luar dari kamar ternyata ada seseorang di sana. Orang itu berdiri membelakangi Citra. Seorang laki-laki yang mengenakan kaos warna hitam dan celana jeans pendek selutut. Citra nampak sungkan untuk nimbrung karena dia masih belum mengenal penghuni kost yang lain.


Slurrpp!


Laki-laki itu mengaduk minumannya beberapa kali, lalu meneguk dengan perlahan minumannya seraya berbalik.


Tap!


Dia nampak terkejut dan mundur satu langkah ke belakang saking kagetnya.


Begitu pun dengan Citra yang sama terkejutnya saat melihat laki-laki itu.


"Lo ... ngekost di sini juga?" tanya Citra dengan mata terbelalak dan seketika menunjuk ke arahnya.


Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan si cowok misterius itu di tempat kostnya.


Cklek!


Terdengar suara pintu terbuka diiringi denge


"Eh, siapa ini?" tanya seorang perempuan muda dan cukup cantik yang baru ke luar dari kamar yang terletak di samping tangga itu.


"Saya yang menempati kamar sebelah, Mbak," ujar Citra memperkenalkan diri sembari menunjuk ke arah kamarnya.


"Oh, penghuni baru, ya? saya Dinara," ujarnya ramah sembari mengulurkan tangan ke hadapan Citra.


"Saya Citra, Mbak," jawab Citra seraya membalas uluran tangan dari Dinara.

__ADS_1


"Masih sekolah?" tanya Dinara.


"Iya, Mbak. Saya sekolah di SMANSA," jawab Citra jujur.


"Lhoh, satu sekolah sama lo dong, Bim?" ujarnya seraya memandang ke arah si cowok misterius.


Laki-laki itu hanya mengangguk kecil menanggapi. "Gue balik dulu, ya, Mbak. Mau ngerjain tugas!"


Tanpa menunggu jawaban, cowok misterius itu berjalan melewati Citra dan Dinara dengan santai.


"Oke, nanti temenin gue begadang ngerjain tugas ya, Bim!" serunya yang masih bisa terdengar oleh cowok itu.


Dia tidak menjawab dan hanya mengacungkan jari jempolnya tanpa berbalik. Dia melanjutkan langkah masuk ke dalam kamar yang paling ujung, tepatnya di sebelah kamar Dinara.


"Wah satu sekolah dengan Bima. Kalian saling kenal dong?" tanya Dinara. seraya melangkah maju, mengisi panci dengan air dan menaruhnya di atas kompor.


"Namanya Bima? tanya Citra yang baru pertama kalinya mendengar nama cowok itu disebut.


"Bukanlah, Mbak. Kita tuh beda kelas. Lagian dia itu terlalu misterius dan aneh!" ujar Citra blak-blakan atas penilaiannya terhadap Bima.


"Ishh ... dia emang gitu kalau belum kenal sama orang. Dulu pertama kali kost di sini sikapnya juga gitu sama gue. Tapi, kalau udah kenal dia anaknya asik dan baik, kok," ujar Dinara seraya berbalik menuju meja dapur. "Mau buat kopi juga, ya? nih air panasnya masih cukup buat satu cangkir kopi."


"Makasih, Mbak," ucap Citra.


"Iya, nih buruan seduh keburu dingin airnya!"


Citra dan Dinara kemudian mengobrol tentang diri mereka masing-masing. Keduanya bercerita banyak hal hingga malam semakin larut. Keduanya semakin akrab karena Dinara cukup ramah dan mudah bergaul.


"Oh ya, Mbak. Dua kamar di sebelah kamar saya masih kosong, ya?" tanya Citra.


"Iya, Cit. Tapi tenang aja penghuni di sini ramah-ramah semua kok. Mungkin agak jahil dikit, itu cuma pas di awal doang sebagai salam perkenalan. Kedepannya pasti akan terbiasa."

__ADS_1


"Maksudnya, Mbak?" tanya Citra yang merasa tidak jelas dengan maksud perkataan Dinara.


"Nanti juga lo tahu sendiri!"


"Ish, bikin penasaran aja sih, Mbak!" protesnya.


"Buruan habisin kopinya. Gue mau balik ke kamar dulu, ya?" pamitnya seraya hendak beranjak menuju kamarnya. "Oh ya, ketika di dalam kamar berpikirlah hal-hal yang positif dan jangan melamun atau sering-sering berucap di dalam hati saat lagi di kamar sendirian," ujarnya menasehati seraya tersenyum sebelum berlalu masuk ke dalam kamar.


Citra terdiam mencoba mencerna kata-kata Dinara barusan yang terkesan aneh dan membingungkan. Citra segera menepis selintas pikiran negatif yang sempat muncul. Dia tidak ambil pusing tenteng hal itu lagi.


"Kata-katanya aneh banget sih! Apa dia punya six sense?" gumam Citra seraya kembali masuk ke dalam kamarnya.


Drrrt drrt drrt.


Handphone Citra berdering. Ada panggilan masuk dari ayahnya.


"Halo. Assalamu'alaikum, Yah!"


"Wa'alaikumussalam. Cit, istrinya temen Ayah kan lagi hamil tua dan nggak bisa ikut suaminya berkeliling ke luar kota. Kalau kamu nggak keberatan istrinya mau dititipkan untuk tinggal di rumah biar ada temannya kalau sewaktu-waktu melahirkan. Sekaligus bisa nemenin kamu di rumah kan? gimana menurut kamu,? setuju nggak?" tanya ayah setelah menjelaskan panjang lebar.


"Tapi, Yah--," ujar Citra yang ingin menjelaskan jika rumah mereka cukup angker, terpotong dengan kata-kata ayahnya.


"Ayolah Citra, kan kamu minta dicarikan teman biar nggak sendirian bukan? dengan begini kalian bisa saling menjaga," bujuk ayah.


"Baiklah, terserah Ayah saja," ujar Citra pasrah.


"Oke, selamat tidur, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Telepon ditutup.


Citra kemudian menaruh handphone di atas nakas dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Padahal baru saja dia menempati kostnya, pada akhirnya dia harus kembali lagi tinggal di rumahnya itu.

__ADS_1


...________Ney-nna________...


__ADS_2