
Citra menangis tersedu-sedu di pelukan Amel. Dia merasa sangat sedih karena Andra sudah pergi, bahkan tanpa sempat ia melihat untuk yang terakhir kalinya sebelum Andra dipindahkan ke rumah sakit lain oleh keluarganya.
Setelah bertanya pada bagian front office rumah sakit, tubuh Citra seketika lemas dan tak bertenaga. Andra ternyata sudah dipindahkan ke Singapura oleh orang tuanya. Dan itu artinya Citra tidak akan bisa menemui Andra lagi, entah sampai kapan.
Citra merasa sedih dan merasa sangat kehilangan sosok Andra yang dulu selalu ada menemaninya. Jarak antara tempat tinggalnya kini dengan Singapura tentulah sangat jauh. Bahkan sekedar nomor kontak Andra maupun keluarganya pun dia tidak punya.
"Cit, semua ini demi kebaikan Andra. Siapa tahu Andra akan cepat sembuh setelah mendapatkan penanganan yang lebih baik di sana," tutur Amel mencoba menenangkan sahabatnya.
"Tapi setidaknya gue ingin melihatnya sebelum dia dipindahkan, Mel. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum keberangkatannya gue ingin mengatakan sesuatu, Mel," protes Citra seraya terisak degan bulir-bulir air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Iya gue ngerti, Cit. Sekarang lo musti tenang dulu, ya. Percayalah Andra akan baik-baik saja. Andra pasti akan sembuh dan suatu saat nanti lo pasti bisa lihat dia lagi dalam keadaan sehat. Doakan aja semoga Andra segera pulih. Setelah sadar nanti dia pasti akan mengingat segalanya termasuk tentang, lo!" ujar Amel menyemangati Citra.
Citra akhirnya mau tidak mau mencoba menerima kepergian Andra dengan lapang, dengan keyakinan bahwa ini adalah jalan yang terbaik yang harus ditempuh oleh Andra agar sembuh dari sakitnya.
Meski dalam hati dia juga bertanya-tanya apakah ketika Andra sadar nanti Andra akan mengingatnya atau justru Andra akan semakin tidak mengenalinya.
"Cit, sekarang kita pulang ya? Biar gue aja yang bawa motor lo, Cit!" tutur Amel seraya menengadahkan tangan untuk mengambil alih kunci motor.
Citra menurut dengan perkataan Amel. Sepanjang jalan Citra lebih banyak diam dan masih larut dalam kesedihan.
Setibanya di rumah Amel meminta Citra untuk menginap di rumahnya. Namun, Citra menolaknya. Citra masih bersikeras untuk pulang ke rumahnya. Dia yakin dia akan baik-baik saja.
......................
Saat perjalanan pulang dan melintasi rumah Andra, Citra menyempatkan untuk berhenti sejenak. Dia melihat rumah Andra nampak sepi. Tidak terlihat satpam yang biasanya berjaga di sana. Rumah itu nampak seperti tidak ditempati.
Hingga sebulan berlalu Citra tidak pernah melihat lagi penjaga rumah Andra dan pembantunya. Namun, suatu ketika melintasi rumah Andra pada sore hari, Citra terkesiap saat melihat sebuah spanduk besar terpampang di depan pagar rumah Andra. Di sana tertulis jika rumah itu dijual.
Citra menjadi semakin sedih. Sebab dengan begitu harapan satu-satunya dapat bertemu kembali Andra ketika kembali pulang ke rumahnya pupus sudah. Dan dengan demikian artinya keluarga Andra tidak akan lagi menempati rumah itu ketika berada di Indonesia.
Mungkinkah mereka tidak akan kembali lagi ke indonesia sampai harus menjual rumah itu? batin Citra dengan sendu.
Saking penasarannya Citra menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Andra. Dia melihat ada seorang laki-laki keluar dari pintu gerbang rumah Andra. Citra menghampirinya saat dia duduk di teras depan rumah Andra. Citra berharap mendapat kabar tentang Andra dari seorang penjaga rumah yang baru itu.
"Permisi, Pak. Bolehkah saya bertanya tentang pemilik rumah ini?" tanya Citra dengan sopan.
"Anda siapa?" tanya penjaga rumah itu.
__ADS_1
"Saya teman dari anak pemilik rumah ini, Pak," tutur Citra.
"Oh, maaf saya tidak tahu menahu tentang pemilik rumah ini, Mbak. Saya berjaga di rumah ini baru dua hari yang lalu atas perintah agen property yang memperkerjakan saya," tutur laki-laki setengah baya itu.
Citra pun mengerti jika laki-laki itu hanya penjaga rumah yang dipekerjakan oleh seorang agen yang menjualkan rumah itu. Citra tidak dapat menggali informasi apa pun darinya. Citra pun kemudian pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Mila ternyata sudah menunggunya di teras rumah. "Kok baru pulang, Cit? ada kegiatan extra, ya?" sapa Mila.
Citra menggeleng lesu. "Citra ke kamar dulu, Tante. Mau mandi!" ujarnya tanpa memberi jawaban atas pertanyaan Mila.
Citra kemudian bergegas masuk tanpa bercerita apapun kepada Mila.
Hingga jam makan malam pun Citra masih tidak berselera untuk banyak berbicara. Dia hanya berbicara seperlunya saja ketika Mila mengajaknya mengobrol. Setelah menyelesaikan makannya Citra lebih memilih kembali ke dalam kamarnya.
Citra menyendiri di kamarnya sembari memandangi foto Andra waktu kecil yang dulu ditemukannya di gudang. Di malam yang sepi itu dia merasa sangat merindukan Andra.
Dia sangat ingin tahu tentang keadaan Andra setelah sebulan berada di Singapura. Namun, sayangnya tidak ada seorang pun yang tahu tentang kabar Andra.
Saat di sekolah Citra bahkan sempat memberanikan diri untuk bertanya kepada teman-teman sekelas Andra. Dan, ternyata mereka juga tidak ada yang mengetahui kabar tentang Andra, bahkan sejak Andra dipindahkan ke Singapura.
"Citra, cepat ke sini!" Terdengar teriakan Mila untuk yang kedua kalinya.
Citra menaruh dengan asal foto Andra di atas kasurnya dan bergegas keluar dari kamar menuju Mila berada.
Citra terperanjat saat melihat Mila terlihat kesakitan duduk di atas sofa sembari memegangi perutnya yang besar.
"Tante, apa yang terjadi, Tan?" tanya Citra dengan panik ketika melihat raut wajah Mila yang pucat seraya meringis kesakitan.
"Sepertinya bayinya mau keluar, Cit. Uuh ... uuh ..., sakit!" seru Mila.
Mila berkeringat dan netranya berkaca-kaca. Citra merasa tidak tega melihatnya.
"Tante mau melahirkan? sekarang juga kita ke rumah sakit, Tante!" ujar Citra sembari mengalungkan tangan Mila di bahunya.
"Naik apa, Cit? arrghh ...!"
"Bagaimana jika Citra bonceng naik motor?" tanya Citra.
__ADS_1
"Nggak mungkin Cit, aku udah nggak kuat buat naik motor. Tolong cari bantuan ke tetangga sebelah, Cit!" perintah Mila dengan suara parau menahan rasa sakit.
"Baik, Tante. Citra ke depan dulu, Tante."
Citra bergegas berlari ke luar rumah untuk mencari bantuan. Tepat saat itu ada sebuah mobil berhenti tidak jauh dari rumahnya menurunkan seseorang. Citra segera menghentikan pengemudinya saat hendak tancap gas.
"Tolong berhenti, tolong bantu saya!" seru Citra sembari melesat menepuk pelan pada badan mobil lalu menggedor pada kaca jendela mobil itu. "Tolong tante saya mau melahirkan!" ujarnya lagi.
Perlahan si pengemudi menurunkan kaca jendelanya. Nampak seorang laki-laki muda yang tengah mengemudikannya. Betapa terkejutnya Citra saat mengenali pengemudi mobil tersebut.
"Bima!" pekik Citra.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Em, Bim, tolong anterin Tante gue ke rumah sakit. Dia mau melahirkan!" ucap Citra memohon.
"Tapi gue harus-," Bima menggantungkan ucapannya saat menyadari jika Citra sedang kesulitan.
"Please, Bim. Tolong gue!" Citra kembali memohon.
Beberapa saat Bima diam. Lalu, ia mengiyakan permintaan Citra. "Oke, ayo masuk!"
Citra pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan segera masuk ke dalam mobil Bima. Mereka kemudian segera membawa Mila ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit Mila diantar ke ruang bersalin, Citra menunggu di luar dengan ditemani Bima. Sembari menunggu Citra menghubungi orang tuanya dan mengabarkan tentang Mila yang sedang dalam proses bersalin.
Ayah Citra mengatakan bahwa secepatnya mereka akan segera pulang. Ayahnya berpesan agar Citra menemani Mila dan terus berjaga di dekat Mila hingga mereka datang.
Sembari menunggu akhirnya Citra membuka obrolan. "Bim, makasih atas bantuannya," tuturnya.
"Hmm!"
Astaga ngeselin banget sih jawabannya! batin Citra.
"Oh ya, kok lo bisa ada di sekitar rumah gue? Lo tadi habis nganter siapa?" tanya Citra.
...______Ney-nna______...
__ADS_1