
Tok tok tok.
"Assalamu'alaikum!"
Ratih kemudian berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Terlihat Bima tengah berdiri di depan pintu.
"Nak Bima, mari masuk!" Ratih mempersilakan Bima untuk masuk ke dalam rumah.
"Baik, Tante!"
"Duduk dulu, ya! Tante panggilkan Citra dulu," ujar Ratih kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
"Citra, Bima sudah datang," ujar Ratih.
Citra yang awalnya sedang tiduran menelungkup di atas tempat tidur segera bangkit duduk. "Kalau begitu kita pergi sekarang saja, Bun. Aku malas melihat ada mereka di rumah!"
"Citra, jangan berkata seperti itu! bagaimana pun mereka adalah orang yang lebih tua darimu. Tetaplah bersikap santun karena kamu anak baik!" ujar bunda dengan lembut.
"Baiklah, Bunda!" ujar Citra dengan wajah yang ditekuk.
"Ayo, kita temui Bima ke depan!" Bunda menggamit lengan putrinya keluar dari kamar.
......................
"Bim, kita langsung berangkat saja, ya!" ujar Citra sesampainya di ruang tamu.
"Ayok!" jawabnya singkat.
"Sebentar, Bunda bilang dulu ke Ayahmu!" ujar bunda kemudian masuk kembali ke dalam rumah menjumpai suaminya.
Karena pintu terbuka lebar Ratih langsung mengetahui jika suaminya tengah berada di kamar Mila. Terlihat suaminya tengah membereskan barang bawaan Mila dari rumah sakit.
Tok tok tok.
Arman dan Mila seketika menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
"Mas, aku pergi dulu ya sama, Citra?" pamit Ratih kepada suaminya.
"Mau ke mana?" tanya ayah.
"Mencari obat," jawab Ratih pendek.
"Mencari obat? ke rumah sakit?" terka Arman. Ia merasa heran karena istrinya selalu mengeluhkan sakit dan selalu bolak-balik ke rumah sakit.
"Tidak, Mas. Kami sedang berikhtiar untuk pengobatan non medis," tutur Ratih.
"Non medis? ke orang pintar maksudnya, Mbak? hati-hati jangan sampai kena tipu loh, Mbak. Karena banyak pengobatan non medis yang abal-abal!" Mila menimpali.
"Iya, Mil. Aku akan lebih jeli tentang hal itu!"
"Ya sudah. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku!" tutur Arman.
"Aku berangkat, Mas. Assalamu'alaikum."
Ratih kemudian menyambar tote bagnya yang sejak tadi ia simpan di sofa ruang tengah.
"Ayo, kita berangkat!"
Saat mobil hendak melewati rumah yang dekat gang kompleks. Citra seketika teringat jika beberapa kali melihat Bima berada di depan rumah itu dengan menaiki mobil yang sama.
"Oh ya, Bim. Beberapa kali aku melihat kamu berada di depan rumah ini. Sebenarnya ini rumah siapa?" tanya Citra.
Sejenak hening karena Bima tak langsung menjawab.
"Itu adalah tempat tinggal ibuku. Terkadang aku kadang untuk menengok keadaannya," jawab Bima.
"Kenapa kamu tidak tinggal bersama ibumu saja dari pada ngekost, Bim?" tanya Citra lagi yang kepo akan hal itu.
"Karena aku tidak suka tinggal di sini!"
Mendengar hal itu Citra mulai paham jika ada sesuatu yang terjadi di dalam keluarga, Bima. Citra pun memilih untuk tidak mengungkitnya lagi. Ia khawatir membuat Bima tersinggung.
Perjalanannya ternyata cukup jauh. Bahkan melewati beberapa tanjakan dengan rute yang berkelok-kelok. Sebab, mereka memasuki kawasan perbukitan.
__ADS_1
Tiba-tiba mesin mobilnya mogok tepat setelah melewati tanjakan. Saat itu jalanan mulai gelap karena terdapat guratan senja di waktu sore. Dan, saat itu adalah menjelang maghrib.
"Astaghfirullah, Bagaimana ini, Cit?" tanya bunda khawatir.
"Tenang dulu, Bun. Semua pasti bisa kita lewati.
"Kalian tunggu dulu di sini, ya? aku coba jalan dulu ke sekitar sina. Siapa tahu ada rumah warga di sekitar sini!" tutur Bima.
Citra pun mengangguk mengiyakan. Citra dan bundanya kemudian menunggu di dekat mobil. Mereka duduk pada sebuah akar pohon besar yang mencuat ke luar.
Citra mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Ia bergidik ngeri melihat tempat itu yang sangat sunyi. Di belakangnya adalah tebing sementara di seberang jalan adalah jurang. Langit perlahan-lahan mulai semakin gelap membuat pandangannya semakin terbatas.
"Bun, Bima ke mana, ya? kenapa lama sekali!" tutur Citra.
"Iya, Cit. Semoga dia baik-baik saja dan segera kembali dengan membawa bantuan!" tutur bunda menenangkan.
Sayup-sayup terdengar kumandang adzan dari kejauhan. Itu artinya tak jauh dari sana masih ada rumah penduduk. Citra berharap Bima menemukan rumah penduduk itu agar mereka bisa segera mengerjakan salat.
"Ahh ...!" pekik bunda tiba-tiba.
"Ada apa, Bun?" tanya Citra ikut panik.
Bunda nampak meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Dari sudut matanya mengalir setitik air mata. Citra merasa pedih melihatnya seolah bisa merasakan apa yang tengah bunda rasakan.
Tiba-tiba nampak setitik cahaya dari kejauhan yang semakin lama semakin mendekat. Citra terus memperhatikannya sembari merapal doa di dalam hati. Berharap hal itu bukanlah sesuatu yang buruk.
Lama-kelamaan terlihatlah sebuah bayangan yang terbentuk diantara cahaya itu diikuti suara bising kendaraan bermotor. Setelah jaraknya semakin dekat nampaklah seseorang yang ia kena dibalik cahaya itu. Rupanya itu adalah cahaya dari lampu sen motor yang kendarai salah seorang laki-laki yang asing bagi Citra dan di belakangnya nampak Bima.
Citra beranjak berdiri menyambut kedatangan Bima. "Bim!"
"Maaf, Cit. Aku tadi harus berjalan jauh untuk menemukan rumah warga. Di rumah warga masih jarang yang mempunyai mobil. Aku kesulitan mencari bantuan kendaraan agar bisa kembali ke sini. Untunglah ada Bapak, ini!" ujar Bima. "Namanya adalah Pak Budi
sementara waktu kita menginap di rumah Pak Budi sampai mobilku bisa diperbaiki!" tutur Bima.
Setelah itu, tak berapa lama nampak dua pengendara motor lain datang mendekat. Mereka adalah tetangganya Pak Budi.
Citra dan Bundanya kemudian di bawa ke rumah Pak Budi.
__ADS_1
...______Ney-na_____...