Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 45


__ADS_3

Citra berjalan pelan memasuki lorong rumah sakit. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah sakit. Dia menjadi bimbang untuk melanjutkan langkahnya saat melihat papan nama bangsal tempat bundanya di rawat. Sebab, ia masih belum siap untuk bertemu dengan ayahnya. Namun, ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan bunda.


Sebelumnya Citra sudah mencari tahu pada bagian resepsionis mengenai tempat bundanya di rawat. Sehingga Citra tidak perlu bertanya pada ayahnya tentang hal itu. Rasa kesal yang menyelimuti hatinya, membuat Citra enggan untuk bertemu dengan ayahnya atau pun Mila.


Sesampainya di depan pintu kamar nomor tujuh, Citra berhenti sejenak di depan pintu untuk memastikan jika ayahnya tidak berada di sana. Citra mengintip dari celah kaca pintu dan beruntungnya di sana hanya terlihat bunda yang tengah berbaring di atas brangkar.


Citra bergegas membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Bunda ...!" serunya seraya menghambur ke pelukan bunda.


"Citra, kamu kemana saja?" tanya bunda seraya membelai lembut kepala putrinya.


Isak tangis pun pecah di antara keduanya. Citra sangat menyayangi bundanya melebihi rasa kecewanya terhadap bunda. Ia yakin bunda pasti mengalami hal berat ketika harus merelakan ayah menikah lagi. Dan bunda memilih menyimpan lukanya sendiri.


Bunda mengurai pelukan mereka dan mencakup wajah Citra dengan salah satu tangannya yang tidak terpasang infus. "Citra, Bunda minta maaf. Semua ini memang salah Bunda. Tapi, Bunda mohon jangan pernah tinggalkan Bunda, Sayang!"


"Bunda, hal itu sangat menyakitkan bagi Citra. Citra merasa dibohongi sama Bunda dan ayah. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tanya Citra sembari terisak.


"Baik Bunda akan menjelaskannya, Sayang. Tapi, katakan sama Bunda, semalam kamu tinggal di mana?" tanya bunda.


"Hati Citra sakit sekali mengetahui kenyataan itu, Bun. Citra butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua itu. Citra menginap di tempat kost teman Citra, Bun."


"Teman kamu? laki-laki yang mengejarmu kemarin?" tanya bunda.


"Iya, tapi Citra numpang tidurnya di kamar cewek kok, Bun. Bukan sama dia!"


"Temen cewek kamu juga satu kost sama dia?" tanya bunda lagi yang belum puas dengan jawaban Citra.


"Jadi dulu Citra saking takutnya tidur di rumah, Citra pernah ngekost, Bun. Dan di sana Citra mengenal Bima dan mbak Dinara. Semalem Citra numpang tidur di kamar mbak Dinara itu," tutur Citra menjelaskan.


"Kamu takut tidur di rumah? kenapa, Sayang? apa yang terjadi sama kamu selama tinggal di sana? selama ini Bunda pikir ...." Bunda tidak melanjutkan kata-katanya. Ia merasa sangat bersalah karena membiarkan Citra tinggal sendirian di rumah itu.


"Citra sudah pernah bilang waktu itu sama Bunda dan ayah 'kan? Citra sering diganggu oleh sosok tak kasat mata di rumah itu, Bun. Bahkan teman Citra sampai mengalami kecelakaan di depan rumah kita. Dia sampai koma dan entah bagaimana keadaannya sekarang Citra nggak tahu, Bun! hiks ... hiks ...!" Citra kembali terisak di pelukan bundanya tatkala rasa sedih kehilangan Andra kembali muncul.


"Citra ..., maafkan Bunda, Sayang! Maafkan Bunda telah membuatmu mengalami hal buruk itu sendiri!"


Tok tok tok.


Ceklek!


Citra seketika menoleh ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang.

__ADS_1


"Selamat siang, ini makan siangnya ya, Bu," ujar seorang pramusaji masuk seraya membawa kotak makan di tangannya.


Citra merasa lega karena bukan ayahnya yang datang.


"Terima kasih, Bu!" ujar Citra saat menerima kotak makan tersebut.


"Sama-sama, saya permisi!" ujarnya pamit lalu beranjak keluar.


"Makan dulu ya, Bun. Citra suapin?" ujar Citra seraya membuka kotak makan bunda.


"Iya, Sayang!" ujar bunda seraya membenarkan letak duduknya.


Citra menyuapi bundanya suap demi suap dengan telaten. Namun, baru beberapa suap bunda sudah menolak untuk disuapi lagi.


"Cukup, Cit. Bunda sudah kenyang," tutur bunda seraya mendorong pelan tangan Citra yang hendak menyuap kembali.


"Tapi, makanannya masih tersisa banyak, Bunda. Sedikit lagi, ya?"


"Tidak, Sayang. Bunda sudah tidak sanggup. Perut Bunda terasa sedikit mual, jika dipaksakan yang ada Bunda malah ingin muntah," kilah bunda.


"Oke, baiklah." Citra menutup kembali kotak makannya, kemudian menaruhnya di atas nakas.


Citra lantas mengambil gelas yang berisi teh untuk bundanya. "Ayo minum dulu, Bun. Obatnya diminum sekalian, ya?" ujarnya.


Citra menceritakan pada bunda tentang perjalanannya menuju rumah sakit. Tentang dia yang kehilangan dompetnya, kemudian tentang pertolongan dari ibu-ibu paruh baya tadi.


"Apa kamu terluka, Cit? Mana yang sakit?" tanya bunda khawatir.


"Tidak, Bun. Hanya tas Citra saja yang sedikit terdapat robekan seperti bekas di silet," tutur Citra.


"Syukurlah, Nak. Bunda merasa lega jika kamu baik-baik saja. Lain kali lebih berhati-hati lagii, ya!" tutur Bunda menasehati.


"Iya, bun. Bunda sekarang istirahat, ya? Citra mau salat dulu ke musala."


"Iya, Cit. Tolong bantu Bunda berbaring!" titah bunda.


Setelah itu Citra beranjak meninggalkan kamar ibunya dan menuju ke musala rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit ternyata Citra bertemu kembali dengan perempuan yang tadi menolongnya di bus.


"Bu, kita bertemu lagi," tutur Citra.

__ADS_1


"Kamu ...? Oh, iya yang tadi di bus ya?,"


"Benar, Bu."


"Baiklah nanti kita lanjut lagi ngobrolnya. Ayo kita salat sekarang!" tuturnya mengajak Citra untuk salat berjamaah.


Beberapa wanita ikut menjalankan salat berjamaah dengan mereka.


Usai salat Citra berjalan bersama ibu itu sembari mengobrol. Nama ibu itu Nurma.


"Ibunya sakit apa, Nak?" tanya Nurma.


"Saya belum tahu, Bu. Bunda mengeluhkan jika perutnya sering sakit. Tapi, dokter belum menemukan penyakitnya," tutur Citra bercerita.


"Boleh saya jenguk ibunya?" tanya Nurma.


"Tentu saja boleh, Bu. Mari ikut saya!"


Mereka kemudian sampai di kamar bunda. Citra memperkenalkan ibu Nurma kepada bundanya.


"Oh ya, Cit. Ambilkan tas, Bunda!" perintah bunda.


Citra dengan sigap segera mengambilkannya. "Bu, berapa hutang anak saya, biar saya menggantinya?"


"Tidak perlu, Bu. Saya sudah mengikhlaskan hal itu. Uangnya juga tidak seberapa. Tolong jangan menganggapnya sebagai hutang. Saya sudah mengatakan kepada nak Citra agar tidak perlu menggantinya!" tutur Nurma.


"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda," ujar bunda tulus.


"Sama-sama, Bu. Kalau saya boleh tahu Anda sakit apa?" tanya Nurma pada bunda.


"Saya juga belum tahu. Sudah setahun lebih saya merasakan seperti ini. Namun, dokter bilang saya hanya asam lambung. Padahal saya merasakan sakit luar biasa ketika rasa sakitnya itu muncul!" tutur Bunda.


"Bisakah anada menjelaskan lebih detail lagi, mungkin saja saya bisa membantu."


"Perut saya terasa sangat kencang seperti ada ikatan yang sangat kuat melilit pada perut saya. Saking sakitnya saya sampai tidak bisa berdiri dengan tegak saat sakitnya muncul. Bahkan, seringkali keluar cairan seperti nanah dari lubang pusar saya," tutur bunda menjelaskan.


"Apa rasanya kambuh di saat-saat tertentu?" tanya Nurma.


"Iya, Bu betul."


"Apa, Ibu tahu Bunda saya sakit apa?" tanya Citra penasaran. Sebab, selama ini bunda tidak pernah bercerita tentang penyakitnya. Bunda terlihat sehat-sehat saja saat berada di rumah.

__ADS_1


..._______Ney-nna_______...


__ADS_2