Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Apa Halusinasi?


__ADS_3

Saat dibawa masuk ke dalam ruang pengobatan, anak itu justru semakin kencang tangisannya. Ia meronta-ronta dari gendongan seraya menunjuk ke arah luar.


Air matanya mengalir deras di kedua pipinya. Sang ibu sampai kewalahan menjaganya agar tidak jatuh. Sementara suaminya mengikuti dari belakang tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Sebentar, Nak. Ayo tenang dulu, Nak!" ucap sang ibu.


"Silakan duduk, Bu!" ujar ustadz Fahri mempersilakan agar sang ibu duduk.


"Baik, Pak Ustadz!" Si ibu pun segera duduk di tepian tempat tidur yang biasa digunakan untuk memeriksa pasien.


"Sejak kapan demamnya, Bu?" tanya ustadz Fakhri.


"Dari dua hari yang lalu, Pak Ustadz! Sudah saya bawa ke bidan, namun panasnya tidak kunjung turun setelah meminum obatnya. Dia terus saja rewel," tutur sang ibu di sela-sela menenangkan anaknya.


"Berapa usianya?" tanya pak ustadz.


"Dua tahun, Pak Ustadz!" jawab ayahnya.


"Sebelum demam apa yang di konsumsi? apa dia minum es?" tanya pak ustadz.


"Tidak Pak Ustadz, saya tidak memberinya es. Hanya minum susu dan makan nasi sayur yang saya masak sendiri," ujar si ibu.


"Sebelum panas apa sempat berkunjung ke suatu tempat?"


"Em ... kemarin hanya saya bawa jalan-jalan ke taman, Pak Ustadz."


"Jam berapa pulangnya?"


"Menjelang maghrib, Ustadz!"


"Begini, Bu. Anak kecil itu ruhnya masih bersih. Belum terkontaminasi dengan hal-hal yang haram. Bisa jadi dia peka terhadap dimensi lain seperti jin atau malaikat. Dan, sebaiknya ketika menjelang magrib tidak sedang berada di luar rumah. Pastikan ketika menjelang magrib itu sudah berada di dalam rumah. Tutup semua pintu dan jendela dan juga makanan dengan tudung saji. Jemuran yang basah juga jangan dimasukkan ke dalam rumah karena jin itu suka hinggap di tempat-tempat yang lembab. Jika anak mengompol secepatnya diganti biar tidak menjadi sarang-sarang jin. Dan sebaiknya seringlah membaca surat Al-Baqarah agar rumah Anda terasa nyaman."


"Baik Pak Ustad!" jawab ibu itu patuh.


"Tolong ambilkan air!" ucap ustadz Fahri kepada asistennya.


Asistennya mengulurkan sebotol air mineral itu kepada ustadz Fahri. Lalu beliau menuang sedikit ke dalam cawan. Pak ustad mulai membaca surat Al-fatihah surat An-nas, Alfalaq, Al-ikhlas dan surat Al-Baqarah ayat 255 ( Ayat Kursi) berulang kali pada masing-masing surat. Kemudian meniupnya ke dalam cawan yang berisi air tersebut.


"Silahkan diminumkan sedikit saja pada anaknya dengan sendok, Bu!" perintah ustadz Fahri untuk meminumkan air yang sudah dibacakan doa tadi kepada anaknya.


Kemudian sisa air pada cawan itu diusapkan kepada si anak dibagian kepalanya hingga ke telinga, di bawah ketiak, dadanya, perutnya, punggung, telapak tangan hingga ke telapak kakinya.

__ADS_1


Anak itu berangsur-angsur tenang setelah kelelahan menangis.


"Pak, Bu, misalkan suatu saat anaknya kembali mengalami hal serupa, bacakan surat-surat pendek seperti yang tadi kepada si anak bisa tiga kali atau tujuh kali. Bisa juga dibacakan sebagai pengantar tidur. Tiup dari ubun-ubun kemudian usapkan dari kepala hingga ke kakinya agar dilembutkan hatinya!"


"Baik, Ustadz. Terima kasih atas bantuannya. Berapa kami harus membayarnya, Ustadz?" tanya ayah si anak.


"Jika berkenan bisa mengisi kotak infaq di sebelah sana seikhlasnya saja, Pak," ucap ustadz Fahri.


"Baiklah kami permisi, Ustad. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam. Allahumasyfi semoga diberi kesembuhan oleh Allah," ucap ustadz Fahri.


"Aamiin."


Seorang asisten mengantar hingga keluar ruangan kemudian memanggil pasiennya yang lain.


Sementara di luar Citra mulai kebingungan mencari ke setiap sudut pondok bagi pasien yang menginap untuk memastikan bahwa yang dilihatnya tidak salah.


Flashback On.


Citra berdiri dari duduknya saat melihat seperti seseorang yang ia kenal. Ia seperti melihat Andra pada kursi roda yang didorong oleh bu Nurma.


Tiba-tiba handphonenya bergetar. Dilihatnya pada layar handphonenya ada panggilan masuk dari ayahnya. Citra segera mengangkatnya.


"Halo. Assalamu'alaikum, yah," jawab Citra.


"Waalaikumsalam, kamu di mana semalaman tidak pulang?" tanya ayah.


"Semalam mobilnya mogok yah, kami menginap di rumah warga. Ini Bunda sedang mengantre untuk di ruqyah," jawab Citra.


"Ya sudah, perlu Ayah jemput nggak?" tanya ayah Citra.


"Mas, tolong gendong dulu ya, Mas. Aku nggak tahan mau ke kamar mandi!" terdengar suara Mila lirih.


"Oh, iya-iya ...."


Mendengar hal itu Citra hanya menghela napas beratnya. Selalu ada saja yang dilakukan Mila untuk mengalihkan ayah Citra agar berpaling padanya.


"Halo, Citra maaf sepertinya Ayah tidak bisa menjemputmu. Kamu pesan taxi online saja ya. Hati-hati dan cepat pulang jika sudah selesai!" telepon langsung dimatikan.


Huh, sok-sokan mau jemput segala. Urus aja istri muda ayah! gumam Citra dengan kesal.

__ADS_1


Citra menyimpan handphonenya kembali ke dalam saku celananya. Ia kembali berpaling pada sosok yang tadi sempat dilihatnya. Namun, tidak terlihat ada Andra ataupun Bu Nurma lagi di tempat yang tadi.


Citra segera mendatangi teras pondok yang tadi dilihatnya ada Andra yang sedang duduk di kursi roda. Ia edarkan pandangan hingga ke seluruh sudut tempat itu namun tidak ada siapa-siapa.


"Di mana mereka aku yakin banget tadi aku lihat Bu Nurma bersama Andra. Kenapa cepat sekali menghilang!" gumam Citra sembari celingak-celinguk mencari ke segala arah.


"Ya Allah di mana Andra, aku yakin banget cowok yang aku lihat barusan Andra!" gumamnya.


Tiba-tiba Bu Nurma terlihat keluar dari sebuah kamar di pondok itu. Citra segera menghampiri keberadaan bu Nurma.


"Bu, tunggu, Bu!" seru Citra seraya berlari kecil mendatangi bu Nurma.


Bu Nurma nampak menoleh ke arah sumber suara. "Citra, ada apa?" tanya bu Nurma.


"Em, Bu tadi saya melihat Anda mendorong kursi roda yang di duduki seorang laki-laki. Sekarang laki-laki itu di mana?" tanya Citra.


"Siapa?" Bu Nurma terlihat berpikir.


"Namanya Andra kan, Bu?" tanya Citra.


"Oh, yang barusan? bukan kok itu orangnya.


Bu Nurma menunjuk dari arah belakang Citra.


Citra seketika menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa yang dilihatnya benar-benar Andra. Namun, saat ia berbalik, ia harus kecewa. Sebab, yang dilihatnya tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu mengenali anak laki-laki itu, Citra?" tanya bu Nurma.


"Bukan, Bu. Bukan dia ...," ujar Citra lirih dengan lemas.


"Ibu, Permisi dulu ya Citra. Suami Ibu mengirim pesan agar ibu ke ruang tindakan!" ujar bu Nurma.


Citra hanya bisa mengangguk lesu mengiyakan hal tersebut.


Citra kembali mengintip ke celah pintu yang sedikit terbuka. Namun, rasanya tidak ia temukan Andra.


Apa mungkin tadi itu halusinasiku saja? gumam Citra di dalam hati.


"Citra kamu ngapain di sini?" tanya seseorang seraya menepuk bahu Citra dari belakang.


...______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2