
Sesungguhnya pada saat melihat Citra kemarin, Andra langsung sembunyi saat Citra tengah mengangkat telepon. Andra segera meminta tantenya untuk menukar orang lain di tempatnya semula.
Andra merasa belum siap untuk bertemu dengan Citra dengan keadaannya yang seperti sekarang. Namun, Andra merasa bahagia karena dapat dipertemukan dengan Citra kembali meskipun hanya dapat melihatnya saja dari jauh.
Sesungguhnya ada hal yang sangat ingin Andra sampaikan kepada Citra. Namun, bukan sekarang saatnya. Ia bertekad suatu saat nanti akan menjumpai Citra di saat yang tepat.
......................
Sesampainya di rumah Citra, mereka disambut oleh ayah dan Mila yang kala itu tengah berada di teras rumah. Bima mendapat tatapan yang tidak baik dari Mila dan ayah Citra. Akhirnya Bima pun berpamitan untuk pulang.
"Assalamualaikum," ucap bunda kemudian mencium punggung tangan ayah. Citra pun melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumsalam, ayo masuk. Kita perlu bicara," tutur ayah.
Bunda mengangguk, kemudian semuanya masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah. Mila menggendong anaknya masuk ke dalam kamarnya. Citra pun masuk ke dalam kamarnya. Tinggallah bunda dan ayah di ruang tengah.
"Bagaimana pengobatannya?" tanya ayah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku merasa lebih baik, Mas," ujar bunda. "Mas, aku ingin meminta maaf kepadamu, selama ini mungkin aku kurang baik dalam melayanimu. Kedepannya juga tolong bimbing aku dan ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan!" tutur bunda dengan tulus.
Ayah terperangah mendengar perkataan istrinya, yang tadinya ia ingin marah akhirnya ia mengurungkan niatnya. Ayah pun memeluk bunda.
"Aku juga minta maaf, mungkin selama ini aku banyak menyakiti hatimu. Kita harus saling mengingatkan," ujar ayah.
Setetes cairan bening keluar dari sudut mata bunda. Ada kelegaan baginya ketika saling maaf memaafkan. Saat ini ia hanya ingin mengharap keridhaan dari Allah dengan mengikhlaskan apa yang terjadi dalam rumah tangganya.
Tidak cukup di sana bunda pun meminta maaf kepada Citra. Ia merasa berdosa karena telah membiarkan anak yang diamanahkan kepadanya tinggal sendirian menghadapi hari-harinya di rumah ini. Hanya karena egonya yang ingin menjaga suaminya agar tidak berpaling kepada wanita lain. Namun, tanpa sadar ia telah menelantarkan anaknya. Dan, pada akhirnya justru hal itu membuat kekhawatirannya menjadi nyata.
Semenjak hari itu bunda belajar untuk lebih sabar. Menyibukkan diri dengan mengurus rumah, mengurus kebutuhan suami dan anaknya sebisa mungkin. Bunda lebih banyak menghabiskan waktu untuk beribadah dan menjalankan perannya sebagai seorang istri. Meskipun tidak mudah namun bunda terus berusaha untuk pasrah ketika sesekali masih bisa merasakan rasa sakit. Ia pun belajar ikhlas untuk berbagi cinta dengan Mila. Menjalin komunikasi yang baik dengan Mila bak seorang adik perempuan. Bunda pun tidak segan-segan untuk menggendong anak Mila ketika Mila mulai kewalahan untuk menenangkan putranya.
"Mila, sebenarnya ada yang sejak dulu mengganggu pikiranku," tutur bunda setelah meletakkan Yodha di tempat tidur.
"Ada apa, Mbak?" tanya Mila nampak serius menunggu apa yang ingin Ratih utarakan padanya.
"Mila, apakah Ibumu waktu itu meninggal karena terlambat ditangani?" tanya Ratih.
__ADS_1
Mila seketika mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan Ratih. Dadanya kembali bergemuruh saat diungkit kembali tentang hal itu. Hal yang membuatnya sangat sakit ketika harus mendapati kenyataan kehilangan ibunya tercinta.
"Benar, Mbak. Memangnya kenapa Mbak menanyakan kembali hal yang sudah lama berlalu!" ucapnya dengan menahan rasa kesal.
"Aku benar-benar meminta maaf akan hal itu, Mila. Karena kelalaian ku waktu itu ibumu terlambat mendapatkan pertolongan. Sungguh aku sangat merasa bersalah padamu. Waktu itu aku dan mas Arman terlalu sibuk hingga tidak ingat untuk memberikan bantuan kepadamu. Sungguh aku menyesali hal itu, Mila. Apa kamu mau memaafkanku?" tanya Ratih.
Dada Mila semakin bergemuruh dan terasa perih. Namun, ia berusaha untuk tersenyum dan mengangguk kepada Ratih.
"Terima kasih, Mila. Kalau begitu aku keluar dulu, ya? istirahatlah!" Ratih pun keluar dari kamar Mila dan kembali menutup pintu.
Aku tidak akan pernah ikhlas, Mbak! gumamnya di dalam hati.
Rupanya hatinya yang sudah mengeras membuatnya tetap menyimpan dendam pada Ratih. Dia hanya baik ketika di depannya saja. Karena bara api kebencian di hatinya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia tidak ikhlas untuk memaafkan Ratih. Terlebih kini ada Yodha, putranya. Ia ingin menjadi satu-satunya istri Arman.
Diam-diam Mila menghubungi paranormal langganannya untuk kembali meminta bantuan. Ia ingin kali ini bukan hanya dibuat sakit, tapi ia ingin Ratih meninggal dengan segera.
"Saya akan membayar mahal asalkan wanita itu benar-benar Mati!" tutur Mila berbicara di telepon.
__ADS_1
..._______Ney-nna______...