
Hingga sore menjelang Citra masih menjaga bundanya di rumah sakit seorang diri. Tidak nampak ayahnya datang untuk menengok keadaan istrinya itu.
"Bun, bagaimana mungkin sedari tadi ayah tidak datang barang sebentar saja untuk melihat keadaan, Bunda? malah menjaga tante Mila terus, Bunda kan juga istrinya," keluh Citra yang merasa kesal dengan sikap ayahnya.
"Mungkin keadaan Mila masih lemah pasca melahirkan. Dia pasti kerepotan beradaptasi dengan bayinya yang mungkin belum pandai menyusu," tutur bunda.
"Apa dulu selama Bunda sakit juga seperti ini? Sendirian tanpa ada yang menjaga di rumah sakit?" tanya Citra.
"Ya begitulah. Bunda sudah terbiasa berada di rumah sakit sendirian, Citra. sesekali ayahmu datang namun tidak lama Mila sudah meneleponnya dan memintanya kembali. Lagi pula Bunda tidak akan lama berada di rumah sakit. Biasanya dua hari saja Bunda sudah diijinkan pulang karena keadaan Bunda dikatakan baik-baik saja," tutur bunda seraya mengalihkan pandangannya ke depan. Terlihat jelas jika bunda sebenarnya lelah dengan keadaannya.
"Jika Citra mengetahuinya lebih awal, Citra tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mana bisa begitu? ayah seharusnya berbuat adil juga kepada Bunda!" Citra semakin kesal.
Tok tok tok.
Seorang perawat dan seorang dokter datang untuk melakukan visit.
"Selamat sore, Ibu Ratih. Saya periksa dulu ya?" tutur seorang dokter.
"Baik, Bu," jawab bunda.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan kepada bunda.
"Baik, semuanya bagus. Jangan lupa diminum obatnya agar cepat sembuh ya, Bu," ujar dokter usai memeriksa keadaan bunda.
"Dokter tunggu dulu, apa yang terjadi dengan Bunda saya? Bunda mengatakan jika ia harus bolak balik ke rumah sakit karena perutnya terasa sakit. Sebenarnya Bunda sakit apa?" tanya Citra.
"Oh, asam lambung Bu Ratih naik, itulah yang membuat perut Bu Ratih terasa sakit. Jangan terlalu banyak pikiran dan jaga pola Anda ya, Bu. Saya permisi karena harus memeriksa pasien yang lain," tutur dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih!" jawab Ratih.
Citra merasa tidak puas dengan jawaban dokter, namun ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Drrttt drrrttt drrrtt.
Citra segera melihat pada layar ponselnya. Terdapat panggilan masuk dari Dinara.
"Halo, Assalamu'alaikum, Mbak," jawab Citra saa mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikumsalam, kamu di mana, Cit?" tanya Dinara.
"Aku di rumah sakit, Mbak. Bundaku sakit," tutur Citra.
"Di rumah sakit mana?" tanya Dinara.
"Di rumah sakit Kasih Ibu, Mbak."
__ADS_1
"Baiklah, nanti Mbak ke sana buat jenguk Bundamu, ya? kirimkan nama tempat Bunda kamu di rawat!"
"Baik Mbak, tapi apa tidak merepotkan."
"Tentu, tidak. Ya sudah kamu baik-baik jaga Ibumu ya? Mbak tutup dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Telepon di tutup.
Usai menelepon Citra kembali memassukkan handphone ke dalam saku celananya.
"Siapa, Cit?" tanya bunda.
"Teman Citra yang semalem Citra numpang tinggal di kostnya, Bun. Pasti dia khawatir saat Citra tidak beradda di kamar kostnya," tutur Citra.
"Syukurlah meski kamu tinggal di kota ini sendirian, tapi kamu mempunyai banyak teman yang baik sama kamu. Bunda selalu merasa bersalah karena membiarkan kamu tinggal di sini sendirian."
"Mulai sekarang Bunda harus tinggal dengan Citra, biarkan aja ayah sama perempuan itu. Toh ayah tidak peduli lagi dengan keadaan Bunda. Citra yang akan selalu menjaga bunda."
"Iya, Sayang," ucap bunda seraya membelai lembut kepala putrinya.
******
Usai melaksanakan salat maghrib di musala rumah sakit Citra iseng mengintip ke arah kamar Mila. Namun, hal itu malah membuatnya semakin kesal. Rasanya ia ingin melabrak ayahnya. Tapi ia mengurungkan niatnya tatkala merasakan ada yang menarik ujung rambutnya.
Namun, tidak ada seorang pun di sekitarnya. Tiba-tiba citra merasakan ada angin berhembus di belakang tengkuknya yang seketika membuat bulu kuduknya meremang.
Tiba-tiba terlihat dari arah depan Bima tengah berlari ke arahnya.
"Itu kan, Bima. ngapain dia lari-lari kayak gitu?" Citra menatapnya dengan heran.
Bima berhenti tepat di hadapan Citra. Tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Citra reflek menghindar ke samping. Namun, Citra masih bisa merasakan jika Bima tengah menyentuh kepalanya bagian belakang, seperti mengusap rambutnya perlahan.
"Eh, kamu-," belum sempat Citra melanjutkan ucapannya tangannya sudah di tarik Bima pergi.
Setelah berjalan agak jauh Bima baru melepaskan tangan Citra.
"Kamu tuh kenapa sih narik-narik tangan aku, Bim?" tanya Citra kesal.
"Mbak Nara udah nungguin kamu di kamar Ibumu. Kamu nih malah bengong aja di sana! kalau kesambet bagaimana? lain kali jangan berdiri di sana lagi!" ujar Bima dengan nada mengomel.
"Ih, kesambet apa? pakai pegang-pegang rambut aku segala lagi!"
Tiba-tiba saja Bima berhenti berjalan dan menatap tajam pada Citra. Citra seketika ikut berhenti lalu bertanya, "Apa?"
"Jangan Ge-Er. Aku nggak lagi naksir sama kamu!" tuturnya kemudian kembali melangkahkan kaki berjalan meninggalkan Citra di belakang.
__ADS_1
"Cowok aneh!" gumam Citra kemudian mengikuti Bima dengan berjalan pelan di belakangnya.
Tanpa sepengetahuan Citra sebenarnya Bima melihat Citra hendak diganggu sosok hitam yang tempo hari dilihatnya di kamar para bayi. Bima berniat menghalaunya.
......................
Sesampainya di kamar bunda, Dinara terlihat cukup akrab berbincang-bincang dengan bunda. Citra lantas menghampirinya.
"Mbak, makasih ya udah datang jenguk, Bunda!" ujar Citra seraya tersenyum senang.
"Sama-sama, Cit. Nih, aku bawakan kamu makan. Kamu pasti belum makan, kan?" tanya Dinara.
Citra terdiam melihat nasi kotak yang dibawa Dinara. Bahkan sejak tadi siang dia juga belum makan. Dia hanya makan saat tadi pagi sarapan bersama Dinara di kost.
"Astaghfirullah, Citra. Bunda lupa kami sejak siang tidak terlihat keluar untuk makan, kan?" pekik bunda yang seketika panik.
"Nggak apa-apa, Bun. Citra tadi siang masih kenyang," tutur Citra berbohong. Sesungguhnya masalah yang tengah dihadapinya yang membuat Citra merasa tidak berselera untuk makan.
"Sudah aku duga! Kalau kamu nggak makan secara teratur, bagaimana jika kamu sakit? Lantas siapa yang akan menjaga Bunda jika kamu juga sakit?" tutur Dinara mengomel.
"Iya Mbak, nanti Citra makan," jawab Citra.
"Nanti kapan? Sekarang!" paksa Dinara.
"Terima kasih ya, Nak. Sudah menjadi teman yang baik bagi Citra," tutur bunda.
"Sama-sama, Tante. Tante berhubung sudah malam saya harus pamit karena harus menyelesaikan tugas akhir saya. Saya permisi dulu ya, Tante. Semoga Tante lekas sembuh!" tutur Dinara berpamitan.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang untuk menjenguk saya, ya, Nak!" Ujar bunda.
"Sama-sama, Tante. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Citra kemudian beranjak berdiri untuk mengantar Dinara dan Bima keluar.
"Cit, ikut kita sebentar!" ujar Bima.
"Kemana?" tanya Citra bingung.
"Ada yang ingin gue sampaikan tentang Bunda kamu!" tutur Bima.
Citra berpamitan pada bunda untuk mengantar mereka sampai ke depan. Setelah itu Citra dan Dinara mengikuti ke mana Bima pergi.
...______Ney-nna______...
__ADS_1