Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 49


__ADS_3

Citra duduk di sebuah bangku taman bersama Bima dan Dinara. Angin sepoi-sepoi menghembuskan hawa dingin hingga menembus ke dalam pori-pori kulit. Sebuah lampu taman yang temaram menjadi penerangan di gelapnya malam itu.


"Mau bicara apa sih, Bim?" tanya Citra.


"Cit, sebenarnya sejak kemarin aku tahu ada yang tidak beres dalam keluargamu!" ujar Bima.


"Nggak beres gimana maksudnya?" tanya Citra.


"Aku melihat ada aura jahat yang menyelubungi Bundamu!" tutur Bima.


"Aura jahat? maksudnya Bunda ada yang ngikutin?" tanya Citra penasaran.


"Aku tidak tahu pasti tapi aura jahat itu menyelubungi tubuh ibumu yang membuat ibumu sakit-sakitan. Kamu pernah dengar ada ilmu hitam yang sengaja dikirimkan pada seseorang agar orang itu sakit dan menderita? Aku rasa seperti itu, lebih jelasnya kamu bisa mencari orang pintar atau paranormal yang lebih paham akan hal-hal seperti untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada ibumu," tutur Bima menjelaskan apa yang ia lihat dalam mata batinnya.


"Aku juga merasakan ada energi negatif saat di kamar ibumu tadi, Cit. Dulu tetanggaku juga pernah mengalami seperti itu. Dia sakit-sakitan dan saat diperiksa ke rumah sakit tidak terdeteksi penyakitnya. Padahal tetanggaku itu mengalami sakit kepala yang luar biasa. Dia akan membenturkan kepalanya ke tembok ketika rasa sakitnya kambuh. Hingga bertahun-tahun ia mengalami sakit seperti itu. Akhirnya keluarganya membawanya ke orang pintar. Kata orang pintar itu tetanggaku di santet oleh orang yang tidak suka padanya. Ngeri deh yang kaya gitu itu!" ujar Dinara menceritakan panjang lebar.


"Aku sebenarnya juga melihat sesuatu yang aneh pada Tante Mila. Ada sesuatu benda asing yang tertanam di wajahnya. Benda asing itu memiliki suatu energi daya tarik. Dan ada sosok yang terus mengikutinya. Jadi kamu musti berhati-hati saat berada di sekitar tante Mila, Cit!" tutur Bima menasehati.


Citra dan Dinara seketika berpandangan. Mereka merasa ngeri dengan apa yang dikatakan oleh, Bima.


"Ayo Mbak kita pulang, ini sudah malam. Sebentar lagi jam besuknya habis!" Bima mengingatkan.


"Oh iya, kita pulang dulu ya, Cit. Kamu jaga diri baik-baik!" Dinara memeluk Citra berpamitan.


"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan!"


Dinara dan Bima bangkit kemudian beranjak meninggalkan rumah sakit.


Citra kembali ke kamar bundanya. Saat ia membuka pintu kamar ternyata ada ayahnya yang tengah duduk di samping bunda.

__ADS_1


Citra hendak mengurungkan langkahnya untuk masuk karena ia merasa masih marah dengan ayahnya. Namun, bunda memanggilnya.


"Citra, tunggu!" ucap bunda.


Citra kembali berbalik dan memandang tajam pada ayahnya.


"Kemarilah, Nak. Kita bicarakan hal ini baik-baik!" tutur bunda lagi.


Akhirnya dengan malas Citra melangkah masuk dan mendekat kepada bundanya berada.


"Citra kamu kemarin kemana saja?" ayah pulang ke rumah mencarimu tapi nggak ada," tanya ayah.


"Kemanapun Citra yang jelas Ayah bisa lihat bahwa Citra baik-baik saja, jadi Ayah nggak perlu khawatir. Toh Ayah nggak menganggap keberadaan aku hingga tega-teganya Ayah menyembunyikan hal sebesar itu dari Citra! Teganya Ayah melakukan hal itu sama Bunda!" tutur Citra marah.


"Citra kamu masih sangat muda dan kamu nggak akan mengerti tentang permasalahan kami. Karena itulah Ayah tidak mengatakan hal itu kepadamu semata-mata karena Ayah sangat menyayangimu. Ayah tidak ingin kamu merasa sedih jika mengetahui permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga Ayah dan Bunda," tutur ayah menjelaskan.


"Citra udah cukup dewasa untuk memahami, Yah. Setidaknya jika Citra tahu sedari awal Citra nggak akan biarkan Bunda menanggung kesedihan dan penderitaan ini seorang diri!" ujar Citra dengan isak tangis yang mengalir dipipinya.


"Itu menurut Ayah. Tapi dari yang aku lihat di mata Bunda lain, Yah! Bunda sakit-sakitan dan Ayah nggak pernah perhatiin Bunda malah sibuk dengan istri muda Ayah. Dan, jangan berdalih Ayah menikah lagi semata-mata demi memberikan Citra seorang adik. Karena Citra nggak butuh seorang adik dari wanita lain. Ayah hanya egois melakukan poligami demi kepentingan pribadi Ayah. Atau jangan-jangan selama ini Ayah memang sengaja menelantarkan aku dan Bunda, agar Ayah bisa hidup bahagia bersama keluarga baru Ayah!" tutur Cinta meluapkan emosinya.


Plakk!


Sebuah tamparan melayang di pipi Citra.


Arman lepas kontrol dan tidak kuasa menahan diri. Ia merasa harga dirinya telah direndahkan oleh perkataan putrinya sendiri.


"Mas, Sabar..., kendalikan emosimu!" seru bunda.


Dengan cepat bunda membawa Citra ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut pipi Citra yang memerah akibat tamparan ayahnya. Air matanya pun tak kuasa terbendung melihat pertengkaran suami dan anaknya.

__ADS_1


Ratih tidak menyangka kepedihan dalam dirinya yang sejak lama ia tahan, akhirnya keluar dari mulut Citra. Apa yang tidak mampu dia ucapkan justru Citra yang pada akhirnya mengungkapnya.


"Ajari putrimu untuk tidak kurang ajar terhadap orang tua! katakan yang sesungguhnya apa yang tidak bisa kamu lakukan hingga aku harus menikah lagi!" tutur ayah dengan nada meninggi, kemudian beranjak menuju pintu.


Brakk!


Pintu di gebrak oleh ayah saat meninggalkan ruangan itu.


Citra menatap nanar kepada ayahnya. Hatinya terasa perih merasakan pipinya yang memanas bekas tamparan ayahnya. Ini adalah pertama kalinya ayahnya menamparnya.


"Citra benci sama ayah, Bunda. Citra benci ayah!" seru Citra dengan berlinang air mata.


Malam harinya Ratih menceritakan tentang kondisinya yang tidak bisa hamil lagi karena rahimnya sudah diangkat. Bunda juga menceritakan bahwa bunda sudah sejak lama tidak bisa 'melayani' ayahnya.


Citra semakin sedih mengetahui keadaan bunda yang sangat menderita. Semalaman Citra susah tidur memikirkan kondisi keluarganya yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata sangat menyedihkan.


......................


Keesokannya bunda sudah diijinkan untuk pulang. Citra membantu bunda untuk mengemas barang-barangnya.


"Bunda, ingat teman Citra yang kemarin datang menjenguk tidak?" tanya Citra.


"Yang perempuan sama laki-laki kemarin, 'kan? iya Bunda ingat, memangnya kenapa, Cit?" tanya bunda.


"Teman Citra itu indigo, Bun. Dan, kemarin dia bilang ada aura jahat yang menyelubungi Bunda. Mereka menyarankan agar membawa Bunda ke orang pintar. Menurut Bunda bagaimana?" tanya Citra.


"Ke dukun atau ke paranormal maksudnya?" tanya bunda.


"Bunda nggak pernah ke dukun atau paranormal, Citra. Bunda nggak percaya sama yang seperti itu. Bunda nggak mau, Bunda takut!" tolak bunda.

__ADS_1


"Entahlah, Bun. Penyakit Bunda terlihat tidak wajar. Sama seperti apa yang diceritakan mbak Nara kemarin. Citra hanya ingin Bunda cepat sembuh," ujar Citra seraya memeluk bundanya dengan sendu.


...________Ney-nna________...


__ADS_2