Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 51


__ADS_3

Keesokan harinya bunda memaksa Citra agar berangkat ke sekolah. Sebab, Citra sudah dua hari tidak masuk sekolah. Citra akhirnya menurut dengan catatan bunda harus segera mengabarinya jika terjadi sesuatu.


Sesampainya di sekolah Amel sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Sebab, Citra tidak memberitahunya tentang apa yang terjadi hingga dia tidak masuk dua hari.


Citra hanya bercerita jika ibunya tengah sakit, tanpa menceritakan tentang pernikahan ayahnya dengan Mila. Sebab itu adalah aib keluarganya yang harus ia simpan rapat-rapat.


Saat jam istirahat Citra segera pergi ke kelas Bima. Ia berniat untuk bertanya. Namun, Bima tidak berada di kelasnya.


Citra hendak kembali ke kelasnya, namun saat berjalan di koridor dia mendengar sesuatu yang mampu membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah seseorang yang tengah berbicara tersebut.


"Iya, gimana kalau nanti kita jenguk Andra?" ujar seorang siswi yang pernah dilihatnya di mall dan di rumah sakit saat menjenguk Andra.


"Oke, nanti sepulang sekolah kita ke sana!" tutur seorang siswa laki-laki yang Citra ketahui adalah teman sekelas Andra.


Mendengar hal itu seketika membuat Citra terkesiap, ia menajamkan telinganya menatap ke arah mereka. Jika benar apa yang didengarnya itu artinya Andra sudah pulang dari singapura.


"Tunggu!" seru Citra pada kedua orang tersebut.


Kedua anak itu pun menoleh ke arah Citra sembari saling melempar pandangan.


"Maaf, tanpa sengaja aku mendengar kalian menyebut nama Andra. Apa benar Andra sudah pulang dari Singapura?" tanya Citra.


"Iya, benar. Dia sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu," tutur Clara. Terbaca dari nama dada yang tertempel di bajunya.


"Kalau boleh aku tahu di mana tempat tinggalnya sekarang? setahuku rumah Andra sudah di jual, bukan?" tanya Citra.


"Dia tinggal di rumah keluarga mamanya. Kami mau menjenguknya nanti sepulang sekolah," tutur Clara lagi. "Apa kau mau ikut?"


"Bolehkah? jika diijinkan aku ingin ikut menjenguknya," ujar Citra penuh harap.


"Tentu saja boleh. Nanti kita tunggu di dekat pintu gerbang sepulang sekolah!" jawab teman Andra yang laki-laki.


"Baiklah, terima kasih!" ucap Citra dengan tersenyum senang.


Mereka berdua kemudian berlalu pergi. Citra tidak sabar untuk bertemu dengan Andra sepulang sekolah nanti.


......................


Saat pelajaran usai Citra bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya. Di saat yang sama Bima juga hendak pulang. Bima menyapa Citra yang hendak pergi.


"Cit, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Bima.

__ADS_1


"Oh iya semalam bunda ku kambuh lagi, Bim!" tutur Citra.


"Benar kan kata aku, bundamu itu penyakitnya tidak wajar maka tidak akan bisa sembuh jika hanya mengandalkan pengobatan secara medis!" ujar Bima.


"Tadi sewaktu jam istirahat aku sempat ke kelasmu untuk mencarimu, Bim. Aku hendak menanyakan hal itu. Aku bingung harus ke mana mencari orang pintar yang bisa mengobati penyakit bundaku!" tutur Citra.


"Kalau masalah itu kamu tenang aja, aku punya kenalan seorang paranormal hebat yang sering menyembuhkan orang-orang yang terkena ilmu hitam. Bagaimana jika kita bawa ibumu pergi sekarang ke rumahnya?" tanya Bima.


Mendengar ajakan Bima, Citra seketika teringat jika ia memiliki janji untuk menjenguk Andra bersama teman-teman Andra.


"Haruskah sekarang, Bim?" tanya Citra. Ia masih ragu memilih antara menjenguk Andra atau mengantar bundanya ke paranormal.


"Kapan lagi ..., kamu ingin melihat ibumu terus menderita jika tidak segera disembuhkan?" tanya Bima.


Citra terdiam memikirkan hal itu. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggunya untuk bertemu Andra setelah sejak lama. Namun, ibunya saat ini sedang sangat membutuhkannya untuk segera diobati agar ia tidak terus-terusan menderita dengan penyakitnya yang tidak wajar itu.


Citra akhirnya memutuskan untuk tidak ikut menjenguk Andra hari ini dan lebih mengutamakan untuk mengantar ibunya berobat. Dia berpikir masih bisa menjenguk Andra di lain waktu setelah bundanya sembuh.


"Baiklah kalau begitu aku akan pulang menjemput bunda dulu!" tutur Citra.


"Kamu tunggu aku saja di rumahmu! biar aku yang ke sana nanti. Aku akan pulang dulu untuk mengganti baju dan mengambil mobil, sehingga bundamu bisa merasa nyaman selama di perjalanan," tutur Bima.


"Baiklah kalau begitu aku tunggu di rumah!"


Citra lalu menyalakan sepeda motornya dan menuju ke gerbang sekolah untuk menjumpai Clara.


Terlihat Clara dan teman-temannya sudah berkumpul. Mereka kurang lebih ada enam orang dan sudah menunggu kedatangan Citra sejak tadi. Citra kemudian turun dari motor dan mendekat ke arah Clara.


"Clara, mohon maaf sekali karena sudah membuat kalian menunggu! Tapi, aku juga ingin meminta maaf karena aku tidak jadi ikut untuk menjenguk Andra," tutur Citra dengan berat hati.


"Nggak jadi? ya nggak apa-apa sih, tapi memangnya kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Clara.


"Ibuku sedang sakit, aku harus mengantar bunda berobat," jawab Citra jujur.


"Oh, ya sudah kalau begitu tidak apa-apa. Ibumu jauh lebih penting," tutur Clara seraya menepuk pelan lengan Citra.


"Nanti kalau ibuku sudah baikan aku akan menyempatkan waktu untuk menjenguk Andra. Bisakah aku meminta nomor handphone-mu?" tanya Citra sembari mengeluarkan handphonenya.


"Tentu, nomorku 081*********," ujar Clara menyebutkan dua belas digit nomor handphonenya.


"Ya sudah kalau begitu salam buat Andra ya! aku pulang duluan," pamit Citra.

__ADS_1


"Oke nanti akan kusampaikan," jawab Clara.


Citra kemudian menaiki motornya dan beranjak pulang menuju rumah.


......................


Sesampainya di rumah, Citra segera membantu ibunya untuk bersiap-siap. Citra sudah memberitahu bunda tentang rencananya membawa bunda pergi bersama Bima untuk mendatangi paranormal.


Terdengar bunyi kendaraan berhenti di halaman. Citra segera mengintip pada jendela untuk melihat siapa yang datang. Rupanya itu adalah suara mobil ayahnya.


Ayah terlihat turun dari mobil lalu memutarinya. Dibukanya pintu mobil bagian tengah. Kemudian nampaklah seorang perempuan turun dari mobil seraya menggendong seorang bayi di dalam dekapannya. Siapa lagi kalau bukan tante Mila.


"Siapa, Cit?" tanya bunda.


"Ayah dan tante Mila!" tutur Citra seraya masuk menuju ke dalam kamarnya. Ia tidak ingin bertemu dengan wanita itu.


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara Mila mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ratih dari ruang tengah.


Ayah berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah bersama Mila, dan senyum bahagia terukir di wajah mereka.


Bunda yang tengah duduk di ruang tamu menyaksikan hal itu dengan pilu. Hal itu seolah mengingatkannya akan delapan belas tahun silam saat Citra terlahir ke dunia. Ia dan suaminya nampak sangat bahagia sama seperti mereka. Ia pun turut bahagia melihat senyum merekah dari bibir suaminya.


"Eh, Mbak. Citra, mana?" tanya Mila yang menyadari keberadaan Ratih.


"Ada di kamarnya. Mungkin sedang beristirahat, dia pasti capek usai sekolah," tutur Ratih berbohong. Ia tahu bahwa putrinya saat ini pasti sedang sedih.


"Oh, ya sudah. Aku ke kamar dulu ya, Mbak. Si kecil pasti capek berada di gendongan terus dari tadi!" tutur Mila.


Ratih terlihat menganggukkan kepala.


Arman dengan perhatian mengantar Mila menuju kamar utama.


Tok tok tok.


"Assalamu'alaikum."


Arman seketika berhenti dan menoleh kepada istri pertamanya. "Apa yang datang itu tamu mu?"


"Mungkin teman, Citra," jawab Ratih seraya berdiri hendak melihat ke ruang tamu.

__ADS_1


..._______Ney-nna______...


__ADS_2