
Sesampainya di rumah Pak Budi, Bima, Citra dan bunda dipersilakan masuk. Mereka diberi tumpangan untuk melaksanakan salat dan juga dijamu dengan makan malam.
"Mari silakan dinikmati. Maaf seadanya ya!" ujar bu Ratna istri pak Budi.
"Ini sudah lebih dari cukup kok, Bu. Terima kasih banyak atas bantuannya," ujar bunda dengan sopan.
Mereka kemudian menyantap makanan yang terhidang dengan tenang.
Usai makan malam Citra dan bunda masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh pemilik rumah itu untuk beristirahat. Kamar yang dipakai Citra dan bunda adalah bekas kamar anaknya yang kini sudah berkeluarga dan sekarang tinggal bersama suaminya.
Citra mencoba memejamkan matanya namun tidak bisa. Mungkin karena ini adalah lingkungan yang baru untuknya maka dia merasa kurang nyaman sehingga susah tidur.
Citra bangkit dan beranjak keluar kamarnya untuk mengambil minum. Saat melewati ruang tengah ia melihat pintu utama masih terbuka. Citra memberanikan diri untuk menengok ke depan. Citra perlahan-lahan berjalan mengendap-endap ke ruang tamu, kemudian mengintip sedikit keluar. Rupanya di luar ada Bima dan pak Budi yang tengah berbincang-bincang.
"Tadinya hendak ke mana, Nak?" tanya pak Budi kepada Bima.
"Kami hendak pergi ke rumah Ki Agung Sentono, Pak. Seingat saya rumahnya tidak jauh dari sini. Tapi, belum sampai malah mobil saya tiba-tiba mogok," tutur Bima bercerita.
"Oh, Ki Agung Sentono. Masih harus naik sekitar dua meter kalau dari sini. Hendak berobat kah, Nak?" tanya pak Budi.
"Benar, Pak. Jadi begini ... ibunya teman saya tadi menderita penyakit yang sudah cukup lama. Beliau sudah berobat berulang kali ke rumah sakit, namun tidak kunjung sembuh. Karena itu kami ingin mencoba untuk pengobatan secara non medis. Saya mendengar dari teman saya kalau Ki Agung Sentono paranormal yang hebat. Beliau bisa menyembuhkan penyakit yang tidak wajar. Seperti itu, Pak!" tutur Bima.
"Oh, maksudnya disantet begitu, Nak?" tutur pak Budi.
"Ya sejenis itu lah, Pak!"
"Memang saya pernah dengar Ki Agung sentono orang yang dibilang pintar atau sakti. Tapi, saya sendiri kurang percaya untuk berobat ke paranormal seperti itu, Nak. Takutnya nanti jatuhnya musyrik!" tutur pak Budi.
__ADS_1
"Kalau warga sini, misalkan ada yang mengalami penyakit tidak wajar biasanya warga kampung sini lebih memilih untuk datang ke pondok Ustad Fakhri yang terletak di desa sebelah. Beliau menggunakan metode ruqyah untuk mengobati pasiennya.
"Alhamdulillah, banyak yang cocok apalagi berobat di sana itu biayanya tidak mahal. Karena kami hanya perlu membayar seikhlasnya," tutur pak Budi.
"Oh saya belum pernah menjumpai pengobatan yang seperti itu, Pak," ujar Bima.
Citra yang turut mendengar hal itu kemudian teringat kepada ibu Nurma yang pernah menolongnya saat berada di bus. Dia ingat Bu Nurma pernah menceritakan jika suaminya mengobati pasiennya dengan metode ruqyah.
Astaghfirullah, kenapa aku bisa melupakan perkataan Bu Nurma tempo hari untuk mampir ke pondoknya. Mungkin saja bunda bisa sembuh dengan diruqyah! gumam Citra di dalam hati.
Citra kemudian memberikan diri untuk keluar dan ikut bergabung dengan mereka.
"Maaf, Pak. Saya tadi tidak bisa tidur dan berniat untuk mengambil minum. Namun, saya melihat pintunya masih terbuka. Saya penasaran ingin melihat ada apa di luar, ternyata bapak dan teman saya ini sedang berbincang-bincang. Tanpa sengaja saya mendengar bapak menyebutkan tentang pengobatan dengan metode ruqyah. Apa benar pondok itu tidak jauh dari desa ini, Pak?" tanya Citra.
"Iya benar, Nak. Tepatnya di desa sebelah. Kalau kalian berkenan, besok bisa saya antarkan ke sana!" ujar pak Budi menawarkan bantuan.
"Maaf, Bim. Sepertinya aku berubah pikiran. Bukannya aku ingin menolak bantuanmu, tapi aku aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba metode ruqyah itu juga untuk pengobatan bundaku. Sebab ibuku sebenarnya kurang yakin saat aku mengatakan jika kita akan pergi ke paranormal," ujar Citra hati-hati.
"Kalian bisa pikirkan baik-baik tentang masalah ini. Tidak perlu berdebat hanya karena berbeda pendapat. Yang penting adalah kesehatan bagi si penderita. Diskusikan dahulu hal itu dengan ibumu. Mungkin beliau mempunyai keyakinan di antara kedua pengobatan itu mana yang menurutnya lebih baik untuk didatangi. Sebab yang hendak berobat kan ibumu. Misalkan dengan di ruqyah ibu Ratih tidak kunjung sembuh juga, barulah dicari solusinya kembali. Saya permisi masuk dulu ke dalam!" ujar pak Budi kemudian pamit untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.
"Bagaiman, besok kita tidak jadi ke rumah Ki Agung sentono?" tanya Bima.
"Nanti aku tanyakan dulu ke bunda ya, Bim? Oh ya, bagaimana dengan mobilmu yang mogok?" tanya Citra
"Besok akan coba kuperbaiki. Sebenarnya sejak awal kita berangkat ada yang mengikuti kita dari belakang. Dan, aku terus menerima serangan. Tepat di sana tadi aku mendapatkan gangguan yang cukup besar di tempat yang tadi."
"Kebetulan di sana tadi banyak penghuninya juga yang tak kasat mata yang suka jahil. Aku rasa yang sosok hitam itu meminta bantuan untuk mencelakai kita. Untung saja aku masih bisa menghalaunya, sehingga hanya mesin mobilku saja yang mogok. Jika salah-salah bisa jadi tadi masuk ke jurang!" tutur Bima.
__ADS_1
"Tapi kenapa makhluk itu ingin mencelakai kita?" tanya Citra penasaran.
"Ada yang menyuruhnya, ia yang selama ini mengganggu ibumu atas kiriman seseorang!" ungkap Bima.
"Jadi, dia terus mengikuti kita sampai ke sini?"
"Iya, tapi setelah kita masuk ke desa ini, sosok itu tidak berani mendekati kita. Aku merasa ada aura yang cukup baik di desa ini. Makanya terasa tenang dan nyaman. Bisa jadi leluhur yang menjaga desa ini adalah orang yang baik dan cukup berpengaruh pada masanya. Sehingga sosok yang mempunyai pandangan buruk tidak akan bisa masuk ke wilayah ini. Terbukti, ibu tidak kambuh penyakitnya setelah kita masuk ke wilayah ini," tutur Bima panjang lebar.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Semoga saja bunda bisa segera mendapatkan pengobatan yang baik!" tutur Citra.
"Aku yakin Ki Agung sentono bisa mengobati ibumu. Tapi, kalau kamu ingin membawa ibumu ke pondok ruqyah tadi ya sudah, silakan saja!" tutur Bima pasrah.
"Terima kasih atas bantuanmu, Bim. Jika bukan karena kamu aku pun mungkin tidak akan bisa berada di sini sekarang dan mendapatkan pencerahan untuk ikhtiar bunda!"
"Iya, sama-sama. Aku sebenarnya selalu mengabaikan saat ada yang terkena gangguan seperti ini dan meminta tolong padaku. Aku tadinya malas untuk ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, entahlah saat kamu yang mengalaminya aku tertarik untuk membantumu!" ujar Bima seolah tengah menyembunyikan sesuatu.
"Seperti apa yang dikatakan Mbak Nara, kamu sebenarnya orang yang baik. Tidak seperti yang aku pikirkan saat pertama kali kita bertemu," tutur Citra jujur.
"Ah, Mbak Nara melebih-lebihkan!"
"Oh ya, Bim. Aku seperti pernah melihat mamamu tapi aku lupa!" tutur Citra.
"Sebenarnya aku pernah tinggal di rumahmu bersama keluargaku sewaktu aku masih kecil, Cit!" ujar Bima.
"Oh ya?" Citra nampak terkejut mendengarnya.
...________Ney-nna_______...
__ADS_1