Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab.22


__ADS_3

Sesampainya di rumah, mama Amel langsung menyambut anak-anaknya.


"Lhoh Mel, mana Citra?" ujar mama Amel.


"Mama-a ...!" ujar Amel seraya memeluk erat mamanya.


"Kamu kenapa, Mel?" tanya mama Amel yang heran melihat anak perempuannya menangis sesenggukan. "Adek kenapa, Kak?" tanya mama Amel kepada anak sulungnya.


"Nggak tahu tuh mah dari tadi Amel enggak mau cerita!" tutur Kakak Amel.


"Mah ... hiks hiks! Mamah ..., Amel takut, Amel nggak mau ke rumah Citra lagi pokoknya!" ujar Amel dengan terisak dan tubuh gemetaran.


"Memangnya ada apa, Mel?" tanya Mama yang heran melihat anak gadisnya yang menangis sesenggukan dan wajah pucat.


"Ta-tadi itu yang Amel bonceng bukan Citra, Kak! tapi seperti dedemit, kaya tengkorak yang terbungkus kain pembungkus jenazah, Ma! udah gto kain putihnya melambai-lambai di samping kanan dan kiri Amel," ujar Amel sembari mengingat-ingat kejadian yang baru saja dialaminya, saat dia menoleh kebelakang ternyata yang berada di belakangnya bukan citra melainkan sosok yang tak kasat mata.


"Astaghfirullah, yang bener, Dek? kok aku nggak lihat ya? yang aku lihat ya kamu boncengin, Citra. Tapi, sehabis ada sorot lampu mobil yang sangat menyilaukan tadi, tiba-tiba aku tidak melihat Citra di manapun," tutur Kakak Amel menceritakan apa yang tadi dilihatnya.


"Beneran lah, Kak. Amel sampai enggak bisa berpikir lagi, tahunnya ngegas terus dan enggak kepikiran mau berhenti," tutur Amel.


"Astaghfirullah! terus Citra gimana dong, Mel?" tanya mama merasa khawatir pada teman Amel.


"Bodo ah, Ma. pokoknya Amel nggak mau ke rumah Citra lagi, udah kapok tiap kali Amel ke sana pasti selalu diganggu oleh hantu yang berada di rumah Citra!" ujar Amel yang trauma diganggu hantu penghuni rumah Citra.


"Ya udah sekarang udah malam. Kalian bersih-bersih diri dulu habis itu tidur yah!" titah mama Amel.


"Iya, Ma," jawab kakak Amel, kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Mah, temenin Amel yuk, Mah. Amel takut! gimana kalau hantunya ngikutin Amel sampai ke rumah? pokoknya malam ini Mama tidur sama Amel ya? please!" ujar Amel mohon agar mamanya menemaninya.


"Ya, sudah ayo Mama temani!" ujar mama dengan lembut kemudian mereka berdua masuk ke dalam kamar Amel.


****

__ADS_1


Keesokannya Citra berpamitan kepada Pak Bejo dan Bi Minah pembantu di rumah Andra untuk kembali pulang ke rumahnya.


Saat akan pulang Citra mendengar perdebatan antara dua orang dari dalam rumah.


"Mas, kita tidak mungkin terus-menerus ada di sini. Bagaimana dengan pekerjaan kita? sebaiknya kita bawa Andra ke Singapura, di sana pengobatannya lebih canggih, siapa tahu Andra akan lebih cepat sembuh ketimbang di sini, Mas! di sana kita lebih mudah mengawasi perkembangan Andra dan juga kita tetap bisa bekerja," tutur mama Andra.


"Harusnya kamu berhenti bekerja dan mengurus Andra. Andra itu anak kita satu-satunya, siapa yang akan mengurusnya jika kita sibuk kerja? tugas mencari nafkah itu aku. Seharusnya sejak dulu kamu memperhatikan anak kita!" tutur papa Andra yang terdengar marah pada istrinya.


"Ssstt ..!"


Tiba-tiba terdengar suara decitan dari seseorang. Citra menengok ke arah belakang. Ternyata suara dari bi Minah. Tangannya melambai-lambai agar Citra mendekat ke arahnya.


Citra mengangguk kemudian segera berlari ke arah dapur.


"Iya, Bi?" tanya Citra.


"Citra, kamu harus cepat pergi sebelum nyonya dan tuan tahu jika semalam kamu menginap di sini! mereka sedang ribut suasana hati mereka sedang tidak baik, jadi pergilah segera!" tutur bi Minah.


"Baik, Bi. Terima kasih karena sudah memberi tumpangan," semalam tutur Citra sebelum pergi.


Citra menatap kepada sekotak nasi di tangannya, merasa beruntung atas berkah pagi ini. Meskipun dia bagaikan anak yang telantar yang hidup sebatang kara, namun ada saja orang-orang baik di sekitarnya yang selalu membantunya dikala ia sedang kesusahan.


"Terima kasih banyak, Bi!" ujar Citra kemudian segera pergi setelah melihat Minah mengangguk sembari tersenyum.


Citra segera ke luar lewat pintu samping dengan mengendap-endap. Dia bergegas pulang ke rumahnya untuk mengganti baju dengan seragamnya dan segera berangkat ke sekolah.


Sesampainya di depan rumah Citra kaget karena motornya ada di luar pagar dengan kunci motor yang masih menempel di sana.


"Pagi, Mbak Citra!" sapa tetangganya yang sedang lari pagi.


"Pagi, Pak!" jawab Citra ramah.


"Sedari semalam sepeda motornya kok gak di masukkan ke dalam rumah, Mbak?" tanya pak Nardi tetangga sebelah rumah Citra.

__ADS_1


"Oh, sepertinya saya lupa, Pak menaruhnya di luar," ujar Citra beralasan.


"Alhamdulillah nggak ada yang ambil ya, Mbak. Tapi, saya rasa juga nggak akan ada yang berani ngambil benda-benda dari rumah ini sih, Mbak! maaf saya permisi!" ujar pak Nardi kemudian beranjak pulang ke rumahnya karena merasa tidak nyaman berada di depan rumah yang terkenal angker itu.


Citra mengernyitkan dahinya mencerna perkataan tetangganya. Citra tidak ambil pusing dan segera masuk ke dalam pekarangan rumahnya sembari menuntun sepeda motornya.


Citra bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Citra membawa serta beberapa baju ganti dan juga buku-buku pelajarannya. Makanan yang tadi diberikan oleh bi Minah dibawanya ke sekolah juga.


Cita mengunci pintu rumahnya dan bergegas berangkat ke sekolah.


****


Sesampainya di sekolah Citra segera pergi ke belakang sekolah menuju rumah mess tukang kebun sekolah. Citra menitipkan barang-barangnya pada tukang kebun sekolah yang bernama Pak Katman.


"Mau dibawa ke mana, Mbak barang-barangnya?" tanya pak Katman.


"Mau pindah ke kos-kosan, Pak. Tapi belom dapat tempat kosnya. Saya mencari kos-kosan yang bisa langsung ditempati, Pak," ujar Citra.


"Wohh, di jalan Mangesti ada, Mbak. Tapi agak mahal sih, karena lebih dekat dari kompleks sekolahan dan perkantoran," tutur pak Katman.


"Di sebelah mana, Pak?" tanya Citra yang tertarik dengan tempat kos yang ditunjukkan oleh pak Katman.


"Dari jalan raya lurus ada lampu merah belok kiri, kurang lebih jarak 200 meter ada bangunan baru nanti di depan ada papan nama kosnya, Mbak. Tapi, saya lupa namanya!" tutur pak Katman.


"Baik, terima kasih, Pak. Nanti coba saya cek ke sana!" tutur Citra kemudian beranjak pergi menuju kantin sekolah.


Citra membawa nasi kotak yang diberi oleh bi Minah tadi dan hendak memakannya di kantin sekolah. Citra duduk di meja kantin yang masih kosong di semua meja, karena jam masih menunjukkan pukul 06.15. Murid-murid yang lain belum banyak yang datang, hanya ada segelintir siswa yang sudah datang itu pun hanya hitungan jari. Mereka yang yang datang biasanya siswa yang kedapatan tugas piket di kelas.


Citra kemudian memesan teh hangat untuk minumnya. Biasanya di jam ini Citra masih bersiap-siap di rumahnya.


Tiba-tiba saat asik-asiknya makan ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.


"Kamu!"

__ADS_1


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2