Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab.30


__ADS_3

Citra bangkit kemudian menyeka wajahnya dengan air kran. Kini wajahnya terasa lebih segar, namun kepalanya terasa berat. Dia merasai suhu tubuhnya meningkat, namun dia merasa kedinginan. Meski begitu dia tetap mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Seusai melaksanakan salat, dia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Citra menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan bagian kepalanya saja. Dia kembali memejamkan mata untuk sejenak memulihkan tenaga.


Tak berapa lama Citra kembali terjaga. Dia teringat bahwa dia tidak akan mampu untuk berangkat ke sekolah hari ini, dengan kondisi tubuhnya yang terasa tidak baik-baik saja. Diambilnya handphone kemudian diketiknya pesan kepada Amel.


📨 Me.


Mel, gue nggak bisa masuk skul, gue lagi nggak enak badan. Tolong ijinin ke guru, ya?


Setelah pesan dikirim Citra kembali memejamkan mata. Dia ingat bahwa dia tidak membawa obat-obatan ke kost. Dia pun pasrah, dia hanya ingin beristirahat dan berharap kondisinya akan semakin membaik dengan tidur. Hingga pukul tujuh lewat Citra masih tertidur di kamarnya.


Dinara melihat ke arah kamar Citra yang sedari tadi masih tertutup dengan lampu menyala pun merasa heran. Sebab, seharusnya Citra sudah berada di sekolah, tapi mengapa kamarnya tidak dimatikan. Dinara kemudian memutuskan untuk mengecek keberadaan tetangga kamarnya itu.


Tok tok tok!


"Cit, lo ada di dalam?" seru Dinara dari luar.


Mendengar ketukan di pintu akhirnya Citra kembali membuka mata. Perlahan-lahan dia bangkit untuk membukakan pintu.


"Ada apa mbak?" tanya Citra.


"Lhoh, lo nggak sekolah, Cit?"


"Enggak, Mbak. Aku lagi nggak enak badan!" tutur Citra.


"Udah minum obat?"


"Belum juga, Mbak. Aku sama sekali nggak bawa obat ke kost, tadinya mau dipakai istirahat aja berharap bisa pulih setelah beristirahat." Citra beranjak ke luar kamar dan hendak duduk di kursi yang berada tepat di depan kamarnya.


Kursi itu sengaja di sediakan oleh pemilik kost untuk bersantai sembari melihat pemandangan dari teras atas kost di lantai dua.


"Eh, jangan-jangan!" ujar Dinara melarang Citra yang hampir menduduki kursi itu.


Citra seketika kembali bangkit dan tidak jadi menduduki kursinya. "Kenapa, Mbak?"


"Lo tidur di dalam aja! kan lo lagi sakit," ujar Dinara beralasan.


Citra mengernyitkan dahi merasa aneh dengan sikap Dinara. Namun, akhirnya dia mengangguk dan beranjak kembali masuk ke dalam kamar. Dinara mengikutinya dari belakang.


"Apa yang kamu keluhkan, Cit?" tanya Dinara.

__ADS_1


"Emm, kepala Citra rasanya pusing, Mbak. Badan panas dingin, dan terasa lelah!"


"Udah sarapan?"


"Belom, Mbak. Sedari subuh saya belum ke luar kamar. Pengennya rebahan aja di kamar," tutur Citra.


"Ya udah, mau makan apa biar gue pesenin online!"


"Apa aja, Mbak. Aku nggak nafsu makan sebenarnya." Citra kembali meringkuk di bawah selimut tebalnya.


"Bubur ayam, mau?" tanya Dinara.


"Boleh deh, Mbak."


"Oke, gue pesenin dulu!"


Dinara mulai menekuni layar handphone dan melakukan searching, dia mencari penjual bubur ayam yang alamatnya paling dekat dan banyak digemari oleh pembeli.


"Cit, rumah lo di mana?" tanya Dinara.


"Komplek perumahan Permata Hijau, Mbak." jawab Citra.


"Nggak nyaman tinggal di sana, Mbak. Apalagi Citra hanya seorang diri" jawab Citra jujur.


"Kenapa nggak nyaman? ada hantunya?" tanya Dinara seolah tepat sasaran Citra langsung mendelik ke arahnya.


"Begitulah, Mbak," jawab Citra singkat.


"Coba ceritakan seperti apa hantu yang gangguin, kamu, Cit!"


"Sepertinya ada sosok bayi, dan sosok anak kecil, Mbak. Ada sih satu lagi tapi Citra nggak tahu itu wujudnya seperti apa, tapi dia sempat menyerupai orang yang aku kenal dan membuat aku seolah tidak dapat mendengar suara yang ada di sekitar rumah."


"Namun, ternyata nggak jauh beda dengan di sini, Mbak. Semalam aku digangguin dan bermimpi buruk tentang suatu peristiwa yang terjadi di rumah aku, Mbak!"


"Semalam kamu diganggu? coba ceritakan, Cit!" perintah Dinara.


"Mbak kemarin bilang 'kan, kalau penghuni kost di lantai atas cuma dua orang yaitu Mbak dan Bima?" tutur Citra dengan hati-hati.


"Ehem ... terus kenapa?"


"Kemarin sepulang dari rumah teman, pas saya lagi naik tangga, ada yang duduk-duduk di anak tangga, Mbak. Seorang wanita cantik dengan baju merah dan berambut panjang. Dia terlihat pucat dan seolah menikmati kesendirian dengan mendengarkan musik lewat handphonenya. Awalnya aku pikir penghuni kost yang lain, namun aku salah, ternyata bukan!" tutur Citra kembali takut saat haris mengingatnya lagi.

__ADS_1


"Jelas bukan, itu adalah sosok yang terus mengikutimu, Cit! barusan pas kamu mau duduk, itu dia lagi duduk juga di situ. Makanya aku larang kamu duduk di situ!"


Deg!


Citra seketika merinding mendengarnya. Dia tidak menyangka jika selama ini ada sosok yang mengikutinya.


"Mengikuti aku? siapa dan mengapa dia mengikuti aku, Mbak?" tanya Citra was-was dan segera beranjak duduk.


"Sayangnya aku nggak tahu, Cit. Aku hanya bisa melihat mereka tapi aku belum cukup mampu untuk mengajak mereka berkomunikasi."


"Kami yang memiliki six sence mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Nanti coba kamu tanyakan ke Bima soal itu. Bima lebih menguasai untuk berkomunikasi dengan mereka, mintalah tolong sama dia untuk membantumu agar terbebas dari sosok perempuan itu," tutur Dinara menasehati panjang lebar.


"Sosoknya seperti apa, Mbak?" tanya Citra yang penasaran.


"Wujud aslinya berbaju putih lusuh dengan noda merah di bagian bawah. Baunya sangat menyengat seperti bau busuk. Relung matanya menghitam dan berkerut, rambutnya panjang dan tebal. Tatapannya tajam seolah menyimpan kebencian."


Tiba-tiba ada panggilan masuk pada handphone Dinara. Rupanya bubur ayamnya sudah sampai. Dinara segera beranjak turun ke bawah untuk mengambilnya.


Dinara kembali sembari menyerahkan bubur ayam dan juga obat penurun panas untuk Citra.


"Nih, makan dulu, Cit. Habis itu minum obatnya biar cepet baikan!" perintah Dinara.


"Makasih banyak, Mbak!" Citra kemudian segera menyantap bubur ayamnya.


Di sela-sela makan, Citra bercerita kepada Dinara tentang mimpi buruknya semalam. Dinara yakin bahwa hal itu ada hubungannya dengan sosok yang terus mengikuti Citra. Dinara menduga mungkin kah sosok wanita itu tengah berkomunikasi dengan Citra lewat mimpi?


......................


Siangnya Dinara pergi ke kampus sehingga Citra hanya sendirian. Tadinya Citra meminta Amel untuk datang ke kostnya, namun ternyata Amel tidak bisa karena ada acara di rumahnya, sehingga dia diminta mamanya untuk bantu-bantu.


Tok tok tok!


Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu. Citra sedikit ragu untuk membukanya. Sebab Dinara sudah berpamitan untuk pergi ke kampus. Lantas siapa lagi yang datang ke kamarnya kali ini. Citra beranjak bangun dan memberanikan diri untuk membukakan pintu.


Klek!


Terlihat Bima berdiri di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Citra dengan penasaran.


..._______Ney-nna_______...

__ADS_1


__ADS_2