
Sepulang dari kampus Dinara mengurungkan langkahnya yang hendak masuk ke dalam kamar. Dia putuskan untuk mendatangi Bima yang sedang membuat teh di dapur.
"Satu lagi juga boleh, Bim. Haus nih! makasih, ya?" ujarnya setelah berhasil menyerobot cangkir teh yang dibuat oleh Bima.
Bima menatap kesal pada Dinara, namun akhirnya dia membuat secangkir lagi untuknya tanpa protes. Beruntunglah dia belum membuang air panas sisa rebusan. Sehingga dia tinggal membuatnya lagi tanpa menunggu lama.
"Gimana tadi? kamu udah beliin Citra makan? udah bantuin dia 'kan?" tanya Dinara bertubi-tubi.
"Nanya apa mau interogasi sih, Mbak? satu-satu dong!" protes Bima.
"Hehe ... maaf! habisnya aku juga penasaran sih!" ujar Dinara dengan menyunggingkan bibirnya selebar lima jari.
"Aku rasa nggak perlu ikut campur deh, Mbak. Dia ada yang menggunakan. Aku malas kalau berhubungan dengan hal-hal klenik kayak gitu. Palingan juga cuma membuntuti saja. Citra nggak akan kenapa-napa," ujar Bima.
"Lo yakin nggak akan kenapa-kenapa sama, Citra, Bim? kasihan tau, katanya kemaren digangguin!" tutur Dinara.
"Jangan berlebihan, Mbak. Kalau ada kayak gini di jalan dan aku musti turun tangan pada semua yang memohon, aku tidak akan punya waktu untuk mengurus kehidupanku sendiri, Mbak. Palingan dia cuma mau menunjukkan diri saja dan minta bantuan. Lama-lama jika tidak digubris juga akan pergi sendiri," tutur Bima.
"Kamu yakin nggak akan kenapa-napa?" tanya Dinara memastikan.
"Iya. Semuanya sudah takdir dari yang di atas. Tanpa kita turut campur tangan, dunia tidak akan runtuh sekarang juga jika Allah belum menghendakinya!"
"Baiklah!"
"Aku pernah mencoba ikut campur, aku sudah memperingatkan kepadanya. Tapi dia nggak percaya, dan akhirnya terjadi juga. Jadi tidak ada gunanya 'kan aku membantu, pada akhirnya hal buruk itu tetap terjadi juga!" tutur Bima pesimis.
"Begitu ya? ya udah deh kalau gitu!" Dinara nampak lesu merasa bersalah sudah memaksa Bima untuk membantu Citra.
"Mandi sana Mbak, bau ...!" ujar Bima seraya melipir mendahului pergi menuju ke kamarnya.
"Ehh ... beraninya kamu ngelunjak, Bim!" seru Dinara yang masih terdengar di telinga Bima.
......................
Keesokkannya Citra bangun dengan perasaan bahagia. Semalam dia dapat tidur dengan nyenyak bahkan tidak terganggu dengan suara apa pun atau bermimpi yang aneh-aneh. Dia segera bangkit untuk membersihkan diri dan melakukan rutinitas seperti biasanya.
Pagi itu Citra memutuskan untuk berangkat sekolah karena badannya sudah enakan. Karena belum sarapan Citra mampir ke kantin untuk mengganjal perutnya.
Saat berada di kantin rupanya sudah ada Bima di sana. Bima tengah menyantap nasi dengan soto daging ditemani secangkir teh hangat.
__ADS_1
Setelah memesan Citra duduk di hadapan Bima. Bima nampak cuek seolah tidak mempedulikan kedatangan Citra dan terus menyantap makanannya dengan lahap.
"Bim, aku tahu kamu punya six sense. Kamu beneran nggak mau bantu aku?" tanya Citra.
"Kamu tidak perlu mempedulikannya, bersikaplah dengan sewajarnya seolah tidak terjadi apa-apa. Seperti halnya dirimu yang tidak tahu apa-apa tidak perlu mencari tahu. Terlalu mencari tahu maka kamu akan terseret lebih jauh lagi nantinya. Kamu sendiri yang akan rugi!" ujar Bima memperingatkan.
"Aku memimpikan sesuatu, Bim. Aku rasa itu kisah semasa hidupnya. Dia memberitahu aku lewat mimpi," ujar Citra.
"Apa yang ada di mimpimu?" tanya Bima.
"Aku melihat seorang perempuan yang usianya sepantaran dengan kita masih mengenakan seragam SMA dan juga seorang laki-laki dengan seragam yang sama. Si wanita itu dipaksa meminum dua butir obat yang entah obat itu apa, yang jelas setelahnya dia merasakan kesakitan yang luar biasa dan mengeluarkan gumpalan darah dan ada juga yang seperti sebuah bayi berukuran sangat kecil berlumur darah. Si laki-laki itu mengambilnya dan menguburkannya di samping kamar aku. Sedangkan si wanita terus kesakitan dan mengeluarkan darah dari sela-sela pahanya. Dia pada akhirnya meninggal karena menahannya semalaman. Aku rasa ini ada kaitannya dengan sosok yang berada di rumah aku, Bim. Please, bantu aku, Bim!" ujar Citra memohon.
Bima menyeruput cangkir tehnya hingga sisa setengahnya. "Aku pikirkan dulu, karena ini nggak segampang apa yang kamu pikirkan. Ada yang menggunakannya untuk ilmu hitam, dan aku yakin tidak akan mudah untuk melepaskannya begitu saja!"
Bima beranjak berdiri, kemudian dia berlalu pergi setelah membayar makanannya.
Drrrt drrt drrt!
Mendapati getar pada handphonenya, Citra segera merogoh saku roknya dan mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo, Assalamualaikum, Yah!" ucapnya saat mengangkat telepon.
"Sudah, Yah. Ayah sama bunda, Sehat 'kan? Citra kangen sama bunda.
"Iya, Alhamdulillah bunda sama Ayah sehat. Citra nanti malam Ayah sama bunda akan pulang bersama dengan istrinya teman Ayah yang tempo hari Ayah katakan akan menginap, ya?" ujar ayah.
"Iya, Yah. Citra lagi di kantin, Citra makan dulu ya, Yah. Assalamu'alaikum.
"Waalaikumsalam."
Telepon ditutup.
"Ini pesanannya, Mbak. Nasi soto daging dengan es jeruk," ujar si ibu penjaga kantin.
"Terima kasih, Bu."
Setelah makanannya dihidangkan Citra segera menyantapnya. Samar-samar terdengar ada siswa yang tengah berbincang-bincang tak jauh dari mejanya berada, seraya menyebut tentang Andra. Citra menajamkan pendengarannya untuk mengetahui arah obrolan mereka.
"Andra nggak jadi di pindahkan ke Singapura?"
__ADS_1
"Enggak, katanya ada urusan yang belum terselesaikan dari orang tuanya. Sehingga kepindahannya di tunda."
"Wah kasihan sekali, ya, Andra!" ujar salah seorang yang lain.
"Nanti kita jenguk lagi deh! katanya orang yang koma itu bisa ngelihat siapa saja yang datang menjenguknya. Mudah-mudahan dengan kita berkunjung Andra merasa senang dan memberikan semangat baginya untuk kembali dan sadar."
"Iya, bener. Nanti sepulang sekolah kita jenguk dia lagi, oke!"
"Oke!"
Mendengar hal itu Citra menjadi sangat senang. Itu artinya masih ada kesempatan baginya intuk menjenguk Andra kembali sebelum dipindahkan ke Singapura. Citra berniat sepulangnya sekolah nanti dia juga akan menemui Andra di rumah sakit.
Seusai jam pelajaran terakhir Citra mengajak Amel untuk mampir ke kosnya untuk mengambil beberapa buku dan seragamnya. Sebab, nanti malam dia harus kembali ke rumahnya, karena orang tuanya akan datang. Meskipun tidak akan ditempati tapi sesekali Citra akan kembali ke kostnya karena sudah dibayar dimuka untuk satu bulan.
Setelah dari kost, Citra dan Amel bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Andra. Terlihat papa Andra sedang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Citra menghampiri mama Andra yang duduk di depan kamar Andra.
"Assalamu'alaikum, Tante!"
"Wa'alaikumsalam."
"Boleh saya menjenguk Andra, Tante?" tanya Citra.
Mama Andra mengangguk pelan. "Silakan!"
"Lo mau ikut masuk nggak, Mel?" tanya Citra.
"Enggak deh, Lo aja!" ujar Amel.
Citra kemudian masuk ke dalam sedangkan Amel duduk di sebelah mama Andra.
"Kenapa kamu tidak ikut masuk?" tanya mama Andra kepada Amel.
"Maaf, saya tidak mengenal Andra, Tante. Kita beda kelas," jawab Amel jujur.
"Lantas, teman kamu itu apa dia cukup dekat dengan Andra?" tanya mamanya lagi.
Amel nampak bingung bagaimana harus menjelaskannya karena hubungan Andra dan Citra cukup rumit. "Saya rasa begitu, Tante!" ujarnya.
"Apa dia pacar Andra?" Mama Andra semakin penasaran karena dia tidak pernah tahu tentang siapa saja yang dekat dengan putranya atau apa saja yang dilakukan putranya selama tinggal di Indonesia.
__ADS_1
...________Ney-nna________ ...