Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 37


__ADS_3

Maghrib berkumandang Citra segera berjalan ke depan untuk menutup pintu dan jendela rumah. Saat hendak kembali ke kamarnya dia melewati ruang tengah yang nampak Mila masih saja asyik berbicara di telepon entah dengan siapa.


Citra tidak mengambil pusing dengan hal itu dan memilih untuk kembali ke kamarnya untuk menunaikan salat. Usai salat Citra menyempatkan untuk mengaji. Dia juga menyematkan doa agar Allah memberikan kesembuhan bagi Andra. Sebab sudah beberapa hari Andra koma dan belum juga siuman.


Usai berdoa Citra melipat kembali mukena dan sajadahnya, kemudian beranjak ke luar kamar hendak menuju dapur. Perutnya sudah lapar minta diisi.


Dia ingat tadi sore sebelum pulang bunda sudah menyiapkan makanan untuk makan malamnya. Citra tidak sabar untuk segera menyantap sate kambing yang dibelikan bunda.


Namun, saat melewati ruang tengah Betapa kagetnya dia saat melihat Mila masih saja berbicara di telepon. Citra merasa heran dengan tingkah Mila yang seolah belum dewasa.


Tidakkah telinganya panas selama satu jam berbicara di telepon? batin Citra.


"Tan!" tegur Citra seraya menepuk pelan pundak Mila dari belakang.


Mila segera menoleh ke belakang ke arah Citra. "Ada apa, Cit?" tanyanya.


"Tante, udah salat?" tanya Citra.


"Em .. belom," jawab Mila dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau gitu mending Tante salat dulu, waktunya udah mau habis lhoh," ujarnya mengingatkan.


Mila segera melirik ke arah jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 18.25 WIB. "Oh ... iya!" jawabnya.


"Sis, lanjut ntar malem lagi ya telponnya, dah!" ucapnya pada lawan bicaranya di telepon, kemudian memutus teleponnya.


"Tante, aku tunggu di dapur ya? kita makan bareng!" tutur Citra.


"Oke!" Mila lantas bergegas menuju kamarnya.


Setelah kepergian Mila, Citra beranjak ke dapur hendak mengambil makan. Sembari menunggu Mila, Citra menuang nasi ke dalam piring agar nasinya tidak terlalu panas saat di makan.


Beberapa saat kemudian Mila datang. Mila tertegun melihat makanan yang tersaji di atas meja makan.


"Ayo makan, Tante! Nih, nasinya udah aku ambilin!" tutur Citra seraya menaruh piring berisi nasi kehadapan Mila yang baru mendudukkan diri.


"Em, menu makan malamnya cuma sate, ya?" tanya Mila.


"Iya Tante, tadi bunda udah siapin ini buat makan malam kita. Kayaknya enak nih, satenya. Bismillah," ujar Citra seraya mengambil satu tusuk sate kambing dan menyantapnya dengan lahap.


Mila hanya bisa menelan ludahnya menyaksikan hal itu.


"Tante, kok malah bengong lihat aku makan? nggak makan?" tanya Citra seraya menghentikan makannya.


"Em, aku nggak suka sate, Cit," tutur Mila.


"Lhah, terus gimana dong?" tanya Citra.


Mila kemudian beranjak berdiri menuju kulkas. Dia mencari-cari bahan makanan yang bisa dimasak olehnya. Namun, dia hanya menemukan telur mentah dua biji saja. Dia baru ingat jika kemarin dia menolak saat bundanya Citra hendak membelanjakan bahan memasak. Dan tadi sore dia lupa untuk belanja.


Astaga kenapa aku bisa lupa nggak ngecek lauk yang disiapkan sama mbak Ratih, sih! gumamnya di dalam hati.


Apa boleh buat, akhirnya Mila hanya bisa membuat telur dadar saja untuk makan malamnya. Sebab, dia sudah sangat lapar dan malas untuk keluar rumah untuk membeli lauk.


"Tante, nggak doyan daging kambing, ya?" tanya Citra saat kembali duduk serta membawa telur dadarnya.


"Doyan sih, tapi nggak suka aja sama sate," tutur Mila.


"Oh, misal masih laper Citra pesenin makanan lain deh. Pengen apa?" tanyanya yang merasa iba saat melihat Mila hanya makan nasi dan telur dadar.

__ADS_1


"Oh iya, ya ... kenapa nggak kepikiran dari tadi buat delivery order!" Mila menepuk jidatnya karena melupakan hal itu.


"Pengen apa, Tante? biar Citra pesenin!" Citra mengambil handphone yang ada di saku celananya, kemudian membuka aplikasi orange.


"Em ... pesenin salad buah aja deh, Cit. Soalnya kan udah makan sama telor. Yang penting ada buahnya biar kandungan aku tetap mendapat asupan gizi." Mila terlihat tersenyum senang seraya memegangi perut buncitnya.


Melihat hal itu Citra pun ikut senang. Sayangnya bunda tidak pernah memberikannya seorang adik. Mungkin jika dia punya adik akan menyenangkan pikirnya. Akan ada teman berbagi suka dan duka di rumah ketika orang tua mereka sibuk bekerja.


Citra kemudian membuat pesanan salad buah pada aplikasi orange.


"Tante, apakah bayinya sering bergerak-gerak di dalam perut?" tanya Citra.


"Tentu saja, Cit. Apalagi sekarang sudah mendekati HPLnya. Dia makin aktif saja menendang-nendang," ujarnya sembari mengelus lembut pada perutnya yang bulat. "Nih, 'kan lagi dibicarain dia nendang-nendang!"


Citra nampak antusias untuk mengetahui bagaimana rasanya. "Boleh Citra pegang, Tante?" tanyanya.


"Boleh dong! sini deh, Cit!" ujar Mila seraya menggeser duduknya agar tidak terhalang oleh meja.


Mila menarik tangan Citra dan menaruhnya di atas perut Mila yang buncit. Citra pun mulai meraka gerakan-gerakan dari dalam perut Mila.


Citra terharu merasakan pergerakan dari perut Mila. Ada perasaan senang dan sesuatu yang menarik yang belum pernah dia rasakan.


"Suatu saat nanti kamu juga akan merasakannya ketika kamu hamil, Cit," tutur Mila.


"Aduh, Tante. Itu masih lama banget lah. Citra belum kepikiran sama sekali untuk ke arah itu. Citra mah fokus belajar dulu. Sebentar lagi kan ujian. Habis lulus juga mau kuliah dulu, dong!" tutur Citra.


"Good girl. Kamu punya pacar, Cit?" tanya Mila.


"Em, nggak ada, Tante."


"Oh, bagus deh. Kamu fokus aja sama belajar dan jangan pikirkan yang lain!" gumam Mila dengan lirih.


"Nggak apa-apa, tidak perlu dipikirkan. Mau nambah pake telor, Cit? aku habiskan dulu makanku!" ujar Mila seraya menyuap makanannya.


"Udah kenyang, Tante. Silakan dihabiskan!"


Usai makan dan mencuci piring, mereka ke ruang tengah untuk melihat televisi bersama. Sudah setengah jam dari saat Citra membuat pesanan, namun makanan yang dipesannya belum juga sampai. Mila pun menjadi uring-uringan.


"Aduh, ini mana sih kok nggak datang-datang!" gerutunya.


"Mungkin sebentar lagi, Tante. Tunggu aja dulu!" tutur Citra menenangkan. Namun dia masih tak berpaling dari melihat acara drama korea di televisi.


Satu jam berlalu...


Mila semakin tidak sabaran. "Cit, tolong dong di cek ke hapenya! tanyain udah sampe mana gitu kurirnya!" desak Mila.


Citra mengangguk kemudian segera membuka aplikasi orange di handphonenya. Citra kemudian mengontak pada kurirnya.


"Halo?" Terdengr jawaban dari seberang telepon.


"Pak sudah sampai mana? kok lama sekali ya pesanan saya nggak datang-datang?" tutur Citra.


"Maaf Mbak, saya dari tadi sudah puterin komplek ini sampai tiga kali, tapi saya tidak menemukan alamat anda. Saya dari tadi juga sudah mencoba menghubungi nomor anda, namun tidak bisa tersambung terus dari tadi," tutur si kurir.


"Hah, kok bisa begitu ya, Pak!" Citra seketika terperanjat mendengarnya. "Begini saja, saya akan keluar untuk menemui Bapak. Sekarang Bapak ada di mana?" tanya Citra.


"Saya di pertigaan deretan komplek paling ujung, Mbak. Di blok G!"


Citra semakin merasa aneh. Sebab perempatan itu sudah sangat dekat dengan lokasi alamat rumahnya. Bagaimana mungkin bapak itu bisa tidak menemukan rumahnya.

__ADS_1


"Oke baik saya akan ke luar sekarang ya, Pak!" tutur Citra kemudian menutup teleponnya.


Citra kemudian bergegas keluar rumah. Mila mengekorinya dari belakang hingga ke terass rumah.


Citra berlari ke jalan seraya menengok pada perempatan jalan yang tidak jauh dari rumahnya. Dia melihat ada pengemudi sepeda motor yang tengah parkir di pinggir jalan yang mengenakan sebuah jaket identitas aplikasi online food yang dipesannya.


"Pak!" seru Citra sembari melambaikan tangan agar kurir tersebut melihat ke arahnya.


Kurir online itu segera mendatangi Citra ketika melihat keberadaannya.


"Mbak Citra, 'kan?" tanyanya.


"Iya benar, Pak."


"Wah padahal saya dari tadi sudah muter-muter daerah sini, Mbak. Tapi saya kok sampai tidak melihat rumah ini, ya?" tanyanya bingung.


"Masa sih, Pak?" Citra merasa heran dengan penuturan si kurir.


"Beneran, Mbak. Saya dari tadi sudah melewati jalan ini bahkan sampai tiga kali ini!" tutur kurir online food tersebut.


"Ya sudah ini Pak uangnya, lebihnya buat Bapak saja, terima kasih!" tutur Citra seraya menyerahkan uang lima puluh ribuan dari kantong celananya. Uang itu adalah uang yang diberikan oleh Mila kepadanya. Citra kemudian beranjak masuk ke dalam rumah bersama Mila.


Namun, kurir itu masih berada di pinggir jalan depan gerbang rumah Citra. Sebab tiba-tiba saja motornya mogok tidak bisa di starter.


"Hrrmmm ...!"


Tiba-tiba kurir itu mendengar ada suara geraman dari arah depannya. Kurir itu pun berpaling mencari ke sumber suara. Betapa kagetnya dia ketika melihat sosok yang berada tak jauh dari hadapannya. Kurir itu segera berlari dari sana dengan menuntun sepeda motornya.


Setelah berada cukup jauh dari rumah Citra beliau baru merasa sedikit lega saat melihat ada kendaraan lain yang melintas dan lalu lalang kendaraan yang keluar masuk kompleks perumahan itu.


"Mogok, Mas?" tanya salah seorang satpam yang tengah berjaga di dekat pintu masuk kompleks perumahan itu.


"Hah ... hah ..., i-iya, tidak bisa saya starter, Pak!" jawabnya seraya mengatur napasnya yang ngos-ngosan setelah melarikan diri dari rumah Citra.


"Boleh saya coba bantu genjot, Mas?" tanya si satpam itu.


"Silahkan, Pak. Saya sudah kehabisan napas tidak kuat lagi untuk mencoba menghidupkan sepeda motor ini!"


Satpam itu pun mencoba untuk menggenjotnya, dan hanya sekali genjot mesin motornya langsung hidup.


Si kurir online food pun menatap dengan heran akan hal itu. Sebab, dia tadi sudah mencoba berulang-ulang namun tidak bisa.


"Wah sepertinya ini bukan motornya yang bermasalah, Pak. Tapi karena saya tadi mendapat gangguan di kompleks ini!" tuturnya.


"Ah yang betul, Mas? Gangguan apa, Mas?" tanya pak satpam.


"Saya tadi tiga kali muterin komplek nggak ketemu sama alamat si pemesan, Pak. Baru setelah si pemesan keluar saya baru nelihat jika ada rumah itu. Kemudian saat hendak pulang motor saya mogok, saya melihat sosok tinggi besar berbulu lebat berwarna hitam nangkring di pagar rumah paling ujung, Pak. Sosok itu matanya besar dan menyala merah. Saya langsung lari sangking takutnya, Pak!" tuturnya dengan muka pucat mengingat kejadian yang baru dialaminya.


"Innalilahi. Memang di rumah itu terkenal angker, Mas. Cepat pulang saja, Mas!" pesan si satpam.


"Iya, Pak saya permisi. Lama-lama di sini saya merasa ngeri!" tuturnya kemudian segera beranjak pergi dengan menaiki sepeda motornya meninggalkan kompleks perumahan itu.


"Hati-hati, Pak di jalan!" ujar si satpam.


Tiba-tiba saat di toleh lagi oleh si kurir online food itu, satpamnya sudah tidak nampak di mana pun.


"Lhah ke mana pak satpamnya tadi?" gumamnya sembari celingukan ke kanan kiri. Namun, beliau tidak mendapati siapapun selain dirinya.


Kurir itu pun bergegas pergi dari kompleks itu dan tancap gas dengan sekencang-kencangnya.

__ADS_1


...________Ney-nna_________...


__ADS_2