
Empat tahun kemudian ...
"Kakak ...!" Seorang anak laki-laki berlari kecil menuju seorang gadis yang tengah sibuk memilah-milah barang yang akan dibelinya.
Citra menunduk melihat ke arah bajunya yang di genggam oleh balita itu.
"Apa, Sayang? Yodha mau apa?" tanya Citra sembari berjongkok di depan bocah itu.
"Ayo, beli ice cream! Yodha, mau yang besar, Kak!" rengek si bocah.
"Iya-iya, bentar Yo, Kakak kan belum selesai belanja," ujar Citra.
"Nggak mau, maunya sekarang!"
"Hhhhhuft." Citra menghembuskan nafasnya pelan.
"Ya sudah ayo ke sana!" ujarnya seraya berdiri menggandeng adiknya menuju chest freezer ice cream.
"Aku mau yang ini!" Yodha langsung antusias menunjuk ice cream yang paling besar.
"Besar banget sih, Dek!" tanya Citra.
"Iya, kan buat Adek, Kakak, Bunda dan Ayah," ujarnya.
__ADS_1
Citra tersenyum lalu menurutinya ia pun mengambil ice cream dengan berat 8 liter itu ditangannya. Ice cream dengan tiga rasa coklat, strawberry dan vanila.
Meski lahir dari ibu yang berbeda namun Citra sangat menyayangi adiknya itu. Begitupun bunda yang menyayanginya bagai anaknya sendiri. Semenjak Mila sakit-sakitan, bunda lah yang mengasuhnya sedari bayi. Citra pun turut membantunya. Dan, ikatan persaudaraan mereka semakin terjalin kuat. Bahkan Yodha lebih dekat dengannya dan bunda ketimbang ibu kandungnya.
Sebab, ketika sakit Mila tidak bisa merawat Yodha. Ia bahkan hanya bisa berbaring di tempat tidurnya dengan luka di sekujur tubuhnya. Setahun kemudian Mila meninggal dunia tanpa melihat putranya tumbuh.
"Ayo, Yo ... kita bayar dulu!" ujar Citra kemudian membawa seember ice cream itu ke tempat pembayaran.
"Sekalian yang ini ya, Mbak!" ujar seseorang dari arah samping Citra.
Citra terkejut dan seketika melihat ke arah samping.
"Bima!" pekik Citra.
"Lagi, belanja juga? sendirian?" tanya Citra seraya menegok ke kiri dan kanan.
"Sama, Mama. Masih belanja!" ujarnya.
"Mama udah sembuh?" tanya Citra.
"Alhamdulillah, Mama sudah baikan sekarang nggak berobat ke psikiater lagi."
Setelah melihat keberhasilan bundanya Citra waktu itu, Bima membawa mamanya juga untuk di ruqyah. Sekarang mamanya sudah bisa mengikhlaskan kakaknya yang telah tiada karena ditumbalkan oleh mantan suaminya. Mama Bima tidak lagi menabur bunga di jalanan melainkan rajin mengirimkan doa kepada almarhum putrinya usai melaksanakan salat.
__ADS_1
"Mbak, Mas totalnya 254 ribu. Mbak atau Mas'nya nih yang mau bayar?" tanya si kasir.
"Saya, Mbak!" ujar Bima lalu mengeluarkan tiga lembar uang berwarna merah itu kepada kasir.
"Eh, Nih yang punya aku!" ujar Citra menyerahkan satu lembar uang berwarna merah kepada Bima untuk mengganti uang ice cream.
"Nggak usah orang cuma ice cream ini, kok!" tolak Bima.
"Ya udah makasih ya, Bim! ucapkan apa sama kak Bima, dek!" tanya Citra pada adiknya.
"Makasih!" ucap balita itu.
"Sama-sama anak pintar!" ujarnya seraya mengacak rambut Yodha gemas.
"Dia semakin pintar saja meminta jajan!" ujarnya seraya memberikan seember ice cream yang dibeli Citra untuk Yodha.
"Tentu saja, apalagi kalau gratis begini. Mungkin besok-besok akan minta double! sering-sering saja ya, Bim!" ujarnya seraya terkekeh.
"Oh ya, ada sesuatu untukmu. Tapi aku menaruhnya di mobil," ujar Bima.
" Sesuatu? apa?" tanya Citra yang merasa penasaran dengan apa yang ingin diberikan oleh Bima untuknya.
...______Ney-nna______...
__ADS_1