
Belum sempat Bima menjawab pertanyaan dari Citra, terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin.
"Oekk oekk oekk!"
Sejenak Citra terpaku mendengar suara tangis bayi itu. Rasanya mengharukan, sebab dia tidak pernah mendengar ada suara tangis bayi di rumahnya.
Tak berselang lama seorang perawat keluar membuka pintu, dia memberitahukan jika bayi Mila sudah lahir. Ada perasaan senang saat mendengar kabar tersebut.
Meski Mila dan bayinya bukan anggota keluarganya, namun setelah sebulan lebih tinggal bersama dengan Mila, hal itu membuat Citra terbiasa dengan hadirnya Mila.
"Keluarga ibu Mila!" seru sang perawat.
"Ya, suster!" ujar Citra seraya beranjak mendekat kepada suster itu.
"Selamat ya, bayi dan ibunya selamat! bayinya berjenis kelamin laki-laki."
"Laku-laki, suter? Alhamdulillah!" Citra turut bergembira mendengarnya.
"Apakah suaminya belum datang?" tanya suster sembari celingukan melihat ke belakang tubuh Citra. Namun, dia tidak menemukan siapa pun selain dua anak muda itu.
"Em, suaminya sedang berada di luar kota, Suster," tutur Citra.
"Sayang sekali, padahal ini adalah kelahiran pertama putranya."
"Apakah saya boleh melihatnya bayinya, suster?" tanya Citra dengan antusias.
"Bayinya sedang dimandikan, dan ibu Mila sedang diberi tindakan lanjutan oleh dokter. Tunggu beberapa saat lagi, nanti akan saya beritahu lagi jika semua sudah selesai, permisi!"
"Baik, terima kasih, suster!"
Perawat itu tersenyum seraya mengangguk dengan sopan. Setelah itu dia masuk kembali ke ruangan bersalin.
"Apa dia baik sama kamu?" tanya Bima sesaat setelah Citra kembali duduk.
"Maksudnya Tante Mila?" tanya Citra menegaskan.
__ADS_1
Bima mengangguk pelan mengiyakan.
"Em, sejauh ini dia cukup baik, sih sama aku. Tante Mila orangnya juga rajin, jadi aku cukup terbantu dan nggak merasa kesepian lagi semenjak ada dia."
Selama tinggal di rumah Citra, Mila selalu menyempatkan diri untuk memasak, bersih-bersih rumah, dan tidak merepotkan. Dia juga sudah Citra anggap seperti saudara bagi Citra. Meskipun ada banyak perbedaan diantara mereka, namun antara keduanya tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Bima terdiam memikirkan kembali tentang apa yang barusan terlintas dari mata batinnya. Dia merasa Citra telah berkata yang sesungguhnya. Tapi, selintas dia sempat mendapatkan gambaran kejadian yang tidak begitu baik, entah itu peristiwa yang sudah terjadi atau gambaran peristiwa yang belum terjadi.
Gambaran itu memperlihatkan Citra seperti tengah berbicara serius dengan Mila. Namun, dalam pembicaraan itu Citra terlihat sangat marah dan emosi. Bahkan ia terlihat mengeluarkan air mata.
Bima yang tadinya ingin pulang mengurungkan niatnya. Dia merasa khawatir jika hal itu yang akan terjadi antara Citra dan Mila sepeninggalnya nanti.
"Ekhm, sudah adzan aku mau ke masjid dulu. Mau ikut?" tanya Bima.
Citra seketika melirik ke arah pintu ruang bersalin yang masih tertutup. Ia kemudian mengiyakan ajakan Bima. Mereka berdua lalu pergi ke musala bersama.
Citra baru kali ini merasakan sisi baik dari sikap Bima yang berbeda dari biasanya. Bima sesungguhnya cukup toleran. Sikapnya yang mengesalkan tempo hari ditunjukkan seolah-olah hanya caranya untuk mengelabuhi orang-orang agar tidak mendekatinya.
Dari tatapan matanya kali ini Citra merasa Bima seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak seperti biasanya yang mengesalkan dan menakutkan. Dia tahu bahwa Bima tengah mengasihaninya hingga sudi untuk menemaninya di rumah sakit.
Usai melaksanakan salat mereka kembali ke ruang bersalin. Rupanya Mila sudah digantikan baju dan sudah bersih. Dia juga sudah dipindahkan pada ruang rawat inap.
"Terima kasih, Citra. Berkat bantuan kamu juga bayinya bisa lahir dengan selamat."
"Itu sudah tugas Citra untuk menjaga, Tante bukan. Oh, ya di mana bayinya, Tante?" tanya Citra yang tidak sabaran ingin melihat bayi Mila.
"Dia dibawa suster ke ruangan bayi, Cit," tutur Mila menjelaskan.
"Oh begitu, ya? padahal pengen gendong." Citra merasa kecewa.
"Sementara kamu bisa melihatnya dari kaca kok, Cit. Nanti kalau waktunya menyusui suster akan mengantarkannya kemari dan kamu bisa menggendongnya," tutur Mila .
"Benarkah? baiklah Citra ke sana dulu ya, Tante?" Citra seketika berubah riang.
"Iya, Cit," ujar Mila dengan tersenyum.
__ADS_1
Citra bergegas keluar dari ruangan kamar Mila. Dia lantas pergi ke ruangan di sebelah tempat para bayi-bayi. Bima mengikutinya dari belakang.
Citra berdiri di depan jendela kaca itu seraya menajamkan netranya untuk mencari keberadaan bayi Mila di antara banyak box bayi di falam ruangan itu. Ia kemudian menemukan papan nama yang bertuliskan 'Bayi Ny. Mila Anjani'.
Citra pun merasa sangat senang melihat betapa lucunya bayi Mila. Tiba-tiba bayi Mila menangis.
Citra seketika panik. "Eh, bayinya kenapa?"
Bima yang awalnya sedang menekuni handphone, kemudian menoleh ke arah Citra yang panik. Dia kemudian ikut melihat ke arah ruang para bayi.
Bima menajamkan pandangannya tatkala melihat ada sosok hitam besar dan berbulu tengah berdiri sembari memandangi bayi Mila. Melihat hal itu Bima menatap tajam pada sosok itu dan berkomunikasi tanpa suara. Tak berapa lama sosok itu pun pergi bertepatan dengan kedatangan seorang perawat yang kemudian menggendong bayinya.
Perawat itu kemudian membawa bayinya keluar dari ruangan para bayi, lalu membawanya ke kamar Mila untuk di susui ibunya. Citra lantas mengikutinya untuk melihat lebih dekat bayi Mila.
"Aduh, Sayang kamu menangis pasti karena haus, yah?" gumam Citra sembari mengelus pucuk kepala si bayi yang sedang di susui oleh Mila.
"Iya benar, sepertinya dia sangat haus," timpal Mila.
Setelah merasa cukup kenyang bayi itu pun tertidur kembali di gendongan Mila. Suster lalu membawanya kembali ke ruangan para bayi. Sementara bayi belum bisa di tempatkan satu ruang dengan ibunya karena Mila masih belum cukup kuat untuk berjalan.
"Tante, ini makanannya di makan dulu," tutur Citra seraya menaruh kotak makan yang sudah disiapkan dari pihak rumah sakit ke hadapan Mila.
"Terima kasih ya, Cit. Sebaiknya kamu juga makan dulu. Temanmu masih di luar kan? ajak dia makan dulu gih, kasian!" perintah Mila.
"Em, Tante nggak apa-apa aku tinggal sendirian?" tanya Citra.
"Enggak apa-apa, Cit. Kan tinggal makan doang!" ujar Mila, "Oh ya, uangnya ambil aja di dalam dompet Tante!"
"Nggak perlu, Tante. Uang dari Ayah masih ada, kok. Ya udah aku ke depan dulu ya, Tante. Nih, handphone, Tante. Nanti kalau ada apa-apa Tante WA atau telpon aku, ya!" Citra mendekatkan handphone Mila di sisi samping bantal Mila.
"Oke, terima kasih, Cit!"
Citra kemudian keluar untuk menemui Bima. Mereka berdua kemudian pergi menuju cafetaria rumah sakit.
Usai makan Citra dan Bima kembali menuju ke kamar Mila. Citra melihat kamar Mila pintunya sedikit terbuka dan terlihat kedua orang tuanya sudah tiba. Citra merasa sangat senang mengetahui hal itu.
__ADS_1
Namun, ketika berada di ambang pintu Citra mengurungkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruang kamar Mila tatkala dia mendengar sesuatu.
..._______Ney-nna_______...