
Satu tahun yang lalu ...
"Kenapa melamun?" tanya Arman.
"Kemaren saat pulang Citra merengek lagi minta adik, Mas. Aku merasa bersalah karena tidak akan pernah bisa memberinya adik," tutur Ratih dengan sendu.
Delapan belas tahun silam usai melahirkan Citra, Ratih mengalami pendarahan secara terus-menerus. Dokter sudah mengupayakan cara lain untuk membuat pendarahan itu berhenti, namun gagal. Segala cara sudah diupayakan namun tidak membuahkan hasil. Jalan satu-satunya adalah menghentikan sumber perdarahan itu sendiri yaitu dengan cara pengangkatan rahim.
Sebagai suami tentunya Arman mengutamakan keselamatan Ratih. Terlebih bayi Citra yang baru saja dilahirkan itu tentunya sangat membutuhkan ibunya. Akhirnya ia menyetujui untuk dilakukannya histerektomi (pengangkatan rahim) total. Jelas sekali bahwa dengan dilakukannya tindakan itu, Ratih tidak akan bisa hamil lagi.
"Jangan terlalu dipikirkan, Citra akan mengerti jika sudah dewasa. Istirahatlah!" Arman menyuruh istrinya untuk istirahat usai bekerja.
Tanpa mereka sadari Mila yang berdiri di balik pintu mendengar pembicaraan mereka. Ia sebenarnya tidak sengaja untuk menguping. Namun, ini adalah keadaan darurat yang harus ia lakukan. Ia bermaksud untuk meminjam uang kepada bosnya.
Mila kemudian menemui Ratih dikamarnya bermaksud meminjam uang.
Tok tok tok.
"Masuk!" seru Ratih dari dalam.
Mila segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Bu, maaf karena telah mengganggu waktu istirahat Anda?" ujar Mila dengan lirih.
"Ada apa, Mila?" tanya Ratih seraya mengajaknya untuk duduk di sampingnya.
"Bu, saya ingin meminjam uang."
"Uang? untuk apa, Mila?" tanya Ratih.
"Untuk membayar biaya rumah sakit ibu saya, Bu. Ibu saya juga harus segera dioperasi tapi saya tidak punya uang," tutur Mila seraya menitikkan air matanya yang tak berhenti mengalir.
"Berapa?" tanya Ratih.
"Biaya operasinya seratus juta, saya sudah menjual rumah orang tua saya tapi belum terjual, Bu. Tolong pinjami saya uang untuk biaya operasinya, setelah rumah itu terjual akan segera saya kembalikan!" tutur Mila.
Ratih sontak terperangah atas permintaan Mila, uang seratus juta bukanlah jumlah yang sedikit. Meskipun dia dan suaminya memiliki uang simpanan sebesar itu tapi itu cukup merogoh kantongnya. Uang itu bahkan senilai biaya pendanaan iklan besar yang ia kelola dengan suaminya. Atau hasil dari mengumpulkan keuntungan dari beberapa iklan kecil yang ia mereka garap.
__ADS_1
"Mila, saya harus membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan suami saya," tutur Ratih.
Mila terdiam kemudian mengangguk dengan lesu.
Usai mendengarnya Mila menjadi lemas dia bingung harus bagaimana lagi sebab dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa selain ibunya. Dia juga tidak mengenal orang lain yang dirasa mampu untuk meminjami uang sebanyak itu.
"Em, tunggu Mila ...," ujar Ratih menghentikan langkah Mila yang hendak keluar dari ruangannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Mila usai berbalik.
Ratih mengambil sebuah amplop berisi uang kemudian memberikannya kepada Mila.
"Ini memang hanya sedikit, tapi bisa kamu pergunakan untuk membayar biaya perawatan di rumah sakit terlebih dahulu. Mengenai biaya operasinya setelah saya bicarakan hal itu dengan suami saya, saya akan segera mengabari kamu," tutur Ratih seraya mengulurkan amplop coklat berisi uang itu kepada Mila.
Mila menerimanya dengan sendu. "Terima kasih, Bu!"
Mila kemudian segera pergi setelah meminta ijin untuk tidak masuk kerja selama beberapa hari ke depan karena harus menunggui ibunya yang sakit di rumah sakit.
Hingga seminggu lamanya Ratih belum mengabari tentang permintaan dana pinjaman untuk biaya operasi. Sebenarnya Ratih sudah memberitahu suaminya untuk memberi pinjaman kepada Mila. Namun, Arman yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga melalaikan untuk memberikan uang pinjaman itu kepada Mila.
Mila semakin terpuruk karena telah kehilangan satu-satunya keluarganya bahkan setelah kepergian ibunya Mila masih harus menuntaskan biaya perawatan selama ibunya dirawat di rumah sakit. Uang dua puluh juta yang diberikan Ratih tidak cukup. Mila akhirnya tetap harus menjual rumahnya.
Meskipun merasa sakit hati dengan Ratih dan Arman karena tidak dipinjami uang untuk biaya operasi ibunya. Mila tetap kembali kerja di perusahaan Arman demi menyambung hidup. Sebab mencari pekerjaan sangat sulit.
Suatu saat teman kerja Mila bercerita. "Mil, kemarin gue ketemu temen SMA gue kan di resto depan. Gila dia tuh yang dulunya dekil dan culun, sekarang bajunya bagus, pakai tas branded, pakai perhiasan lengkap segalanya dipakai."
"Setelah aku tanya sama temen aku yang juga satu kampung sama dia ternyata gosipnya dia itu adalah simpenan om-om. Denger-denger dia tuh pakai susuk pemikat buat menjerat orang kaya itu. Gila yah orang sekarang suka pakai cara-cara instan yang gak wajar gitu!" tutur teman Mila.
"Emang beneran bisa memikat Mbak kalau pakai susuk pemikat kayak gitu?" tanya Mila penasaran.
"Nah itu buktinya aku lihat semua yang dipakai dia itu barang-barang mahal dari mana coba dia dapat uang kalau bukan dengan cara yang gitu-gituan," tutur teman Mila.
Sepanjang hari Mila memikirkan tentang perkataan temannya itu dia mulai tertarik untuk mencari tahu tentang susuk pengasihan. Mila kemudian tergoda untuk melakukan hal yang sama demi membalas rasa sakitnya terhadap Arman dan Ratih.
Mila mendatangi seorang paranormal yang terkenal bisa memasang susuk yang katanya ampuh anti gagal.
Mila kemudian menggunakan uang sisa penjualan rumahnya untuk membayar pemasangan susuk tersebut kepada seorang paranormal itu.
__ADS_1
"Mila, ingat pesan saya jangan melanggar pantangan yang sudah saya beritahukan tadi kalau kamu tidak bisa mematuhinya khasiat susuk ini akan luntur!" tutur si paranormal usai memasang susuk pada bagian wajah Mila yang dikehendaki, yaitu mata dan di bawah bibirnya.
"Baik, Nyai. Saya pasti akan mematuhinya. Ada yang inginkan lagi, Nyai," ujar Mila
"Katakan!" jawab si paranormal.
"Bagaimana cara agar istrinya menolak untuk berhubungan badan, Nyai," tanya Mila.
Si paranormal itu membisikkan sesuatu di telinga Mila kemudian memberikan sebuah jarum jahit beserta benang sebagai media yang dapat mengikat gairah si istri dan menggantinya dengan rasa sakit.
Usai dari tempat paranormal itu Mila segera melancarkan aksinya. Dan terbukti Ratih sering tidak enak badan dan bolak-balik ke dokter. Hubungan rumah tangga Ratih dengan Arman terlihat tidak baik.
Secara sembunyi-sembunyi Mila menemui Arman saat istrinya sedang tidur.
"Pak saya ingin bicara dengan, Bapak!" ujar Mila seraya menaruh secangkir kopi di atas meja Arman.
"Ada apa Mila? katakan!" tutur Arman.
"Bagaimana jika saya menawarkan diri untuk menjadi asisten pribadi Anda selama Ibu sakit? saya lihat Anda akhir-akhir ini sangat kerepotan saat harus melakukan prepare ke luar kota," tutur Mila.
Selama istrinya sakit, Arman kerepotan untuk menyiapkan kebutuhannya baik pribadi maupun prepare pekerjaan. Sebab Arman akan sering bepergian keluar kota mengunjungi lokasi syuting iklan yang sedang mereka garap.
Arman seolah patuh dengan kata-kata Mila, ia pun langsung menyetujuinya karena ia membutuhkan asisten pribadi juga demi kelancaran pekerjaannya. Lama-kelamaan Arman semakin tergantung dengan Mila.
Sampai di sana Mila tidak puas, ia ingin memiliki Arman juga. Mila kembali mendatangi paranormal itu dan memasang susuk pemikat agar Arman semakin terpikat kepadanya.
"Maaf Pak, secara tidak sengaja saya mendengar percakapan antara Bapak dan ibu tempo hari tentang ibu yang sudah tidak bisa hamil lagi karena rahimnya sudah diangkat," tutur Mila dengan hati-hati ia khawatir jika Arman akan marah.
Tanpa ia duga bukannya marah Arman justru berdiri dan mendekatinya. Arman menarik tangan Mila kemudian mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya.
"Iya Mila, memang benar istri saya sudah tidak bisa hamil lagi. Memangnya ada apa, Mila?" tanya Arman.
"Bagaimana jika saya menawarkan diri untuk hamil anak Anda. Bukankah putri Anda menginginkan adik? dan bayi yang saya lahirkan nanti bisa kalian akui sebagai anak kalian di depan putri Anda."
"Sebenarnya saya mencintai Anda, Pak. Saya rela menjadi istri kedua, Anda. Bukankah selama ini Ibu juga tidak bisa melayani Anda dengan baik? biarkan saya yang akan melayani Anda," tutur Mila dengan percaya diri.
...______Ney-nna_____...
__ADS_1