
Perjalanan menuju ke desa sebelah tidaklah mudah. Rupanya jalan pedesaan pun cukup menanjak dan terdapat turunan tajam. Citra yang tidak terbiasa menghadapi medan yang seperti ini agak ngeri.
Meskipun jalannya sudah diaspal tapi banyaknya tikungan dan turunan tajam membuatnya harus ekstra hati-hati. Sejauh mata memandang masih banyak kebun-kebun yang luas. Jarak antara rumah satu dengan yang lainnya tidak terlalu dekat, sebab di desa ini setiap rumah memiliki pekarangan yang luas.
Mereka juga harus menyeberangi jembatan gantung dan di bawahnya mengalir sungai yang cukup deras. Kata Pak Budi itu jalan yang lebih dekat yang bisa dilewati oleh motor. Jika menaiki mobil jalannya lebih jauh karena harus memutar jalur terlebih dahulu.
Setelah sepuluh menit berkendara sampailah mereka pada pondok pengobatan Ustadz Fahri. Pondoknya terlihat nyaman. Halamannya cukup luas dan banyak pepohonan yang rindang. Meskipun masih pagi namun sudah ada beberapa orang yang terlihat sudah mengantri di depan pondok pengobatan.
Usai memarkirkan motornya, Citra dan yang lainnya berjalan masuk menuju pondok pengobatan tersebut. Mereka sudah disambut dengan seorang laki-laki paruh baya dengan ramah.
"Assalamu'alaikum, Pak!" ucap pak Budi yang memimpin jalan kita di depan.
"Wa'alaikumsalam," jawab laki-laki itu menyambut kedatangan Pak Budi dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Beliau juga menjabat tangan Bima, lalu mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada untuk memberi salam kepada Citra dan bundanya.
Citra pun membalas dengan melakukan hal yang sama.
"Mari silakan masuk, Pak, Bu. Hendak berobat atau bertamu?" tanya bapak itu.
"Kami ingin berobat, Pak. Ibu ini yang sakit!" jawab Pak Budi seraya menunjuk ke arah bundanya Citra.
"Oh iya, mohon maaf harus mengantri terlebih dulu ya, Bu. Selagi menunggu bisa duduk pada bangku panjang yang terletak di depan dan di samping ruang pengobatan Pak, Bu."
"Baik, Pak terima kasih!" ucap Pak Budi kemudian mereka semua mendekat ke ruang tunggu yang masih kosong.
Citra mengedarkan pandangannya untuk mengelilingi seluruh pekarangan pondok yang nampak luas. Di samping pondok ini ada sebuah rumah yang terpisah. Ada beberapa pintu-pintu di sana. Halamannya pun sangat luas terdapat beberapa taman bunga dan kolam.
Dari luar terdengar sayup-sayup lantunan ayat-ayat yang terdapat di Al-Qur'an yang disuarakan oleh seorang laki-laki yang kemungkinan adalah ustadz Fahri yang tengah meruqyah pasiennya.
Sedangkan di luar tempat antrian ada seorang anak yang terus menangis dalam gendongan ibunya. Citra merasa kasihan melihat sang ibu yang terlihat kelelahan. Sedangkan si anak sangat rewel sekali dalam gendongan ibunya meronta-ronta tidak jelas maunya apa.
"Anaknya sakit apa, Mbak?" tanya bunda pada sang ibu.
"Demam, Bu. Sudah saya periksakan ke bidan tapi panasnya belum juga turun. Kadang-kadang dia terus saja rewel seperti ketakutan dan terus saja menangis!" ucap si ibu.
__ADS_1
Bima seketika beralih melihat ke arah anak yang terus saja menangis itu.
"Kasihan ya sama anak itu, Bim!" komentar Citra yang memergoki bima saat melihat lekat ke arah anak itu.
"Ayo ke sana!" ujar Bima mengajak Citra menuju ke dekat taman.
"Bun, Citra ke sana dulu, ya?" pamitnya pada bunda. Bunda pun mengangguk mengiyakan.
Memang agak membosankan sih menunggu antrian seperti itu. Terlebih banyak orang yang menunggu dan suasana bising.
Bima berdiri di pinggir kolam ikan. Citra lalu mendudukkan diri di bangku sebelahnya.
"Dulu waktu kecil aku juga seperti itu. Makanya Mama ku kerepotan menjaga anak-anaknya yang masih kecil seorang diri," tutur Bima.
"Berapa selisih usiamu dengan kakakmu?" tanya Citra.
"Kami selisih dua tahun dan Mama bilang aku selalu terbangun saat menjelang subuh di waktu yang sama setiap malamnya. Menangis tanpa mengeluarkan air mata," tutur Bima memulai bercerita.
"Mendengar tangisanku yang tak kunjung henti pada akhirnya kakakku akan ikut terbangun dan ikut menangis. Mama menjadi kebingungan menghadapi kami berdua. Sedangkan ayahku tak mau tahu dan hanya tidur saja. Begitu seterusnya, dan semakin usiaku bertambah semakin banyak kejadian aneh yang aku alami."
"Ketika aku mulai bersekolah, aku tumbuh menjadi anak yang lebih sensitif dengan hal-hal yang tak kasat mata. Teman-temanku menganggap ku aneh. Merekapun bilang aku bohong aku anak yang mengerikan sampai mereka tidak ingin bermain denganku karena takut ketika main denganku pasti ada saja yang aku katakan tentang sosok yang tidak terlihat yang membuat mereka menjadi ketakutan."
"Wanita yang mengikutimu waktu di kosan dulu itu, dia adalah teman hantu pertamaku yang aku kenal selama tinggal di rumahmu. Dia terus mengikuti, dia juga meminta tolong kepadaku untuk mencari laki-laki yang menghamilinya agar memindahkan makam janinnya ke samping makamnya tapi aku kesulitan saat mencari laki-laki itu."
"Sekian lama aku mencoba mencari namun aku tidak menemukan laki-laki itu. Dan, di saat kamu pertama kalinya datang ke kosku waktu itu, dia mengatakan bahwa kamu tahu siapa laki-laki itu. dia mengatakan aku harus mengikutimu agar aku bisa bertemu dengan laki-laki itu."
"Disaat kamu datang ke rumah sakit waktu itu aku mengikutimu. Aku mendengar apa yang kamu katakan kepada papanya Andra tentang mimpimu yang melihat masa lalu dari papanya Andra. Aku juga mendengar saat kamu bilang agar papanya Andra memakamkan bayi janin itu secara layak di samping kuburan ibunya."
"Aku mulai memantau papanya Andra. Aku lihat beliau kesulitan menemukan makam wanita itu. Keesokannya aku menemui papanya Andra dan memberitahu kepadanya di mana letak kuburan wanita itu."
"Jadi begitu? Syukurlah!" ujar Citra merasa senang. Pantas saja wanita itu tidak muncul lagi di mimpinya Citra. "Apa setelah itu wanita itu bisa kembali dengan tenang dan tidak mengganggu Andra dan keluarganya lagi?"
"Entahlah aku tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak saat itu. Tapi, kemungkinan sosok itu hanya qorinnya dari sosok wanita yang sudah meninggal itu saja!" tutur Bima.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu. Aku juga tidak lagi di datanginya lewat mimpi lagi. Semoga saja semuanya berjalan dengan semestinya dan semoga Andra bisa segera sembuh setelah semua urusan itu selesai!" harap Citra.
Bima menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia lalu melirik ke arah Citra yang terlihat senang. "Apa kamu menyukainya?" tanya Bima.
"Menyukai bagaimana maksudmu? aku dan dia hanya berteman saja!" jawab Citra kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain menyembunyikan pipinya yang merona.
"Citra, kan?" panggil seseorang dari teras pondok. Citra segera menoleh ke arah sumber suara.
"Bu Nurma!" pekik Citra.
"Sudah dari tadi?" tanya Bu Nurma.
"Iya, Bu. Lumayan," jawab Citra.
"Kenapa tidak mengatakan ke Mang Abdul kalau mencari, Ibu?"
"Oh, em ...." Citra bingung mau berkata apa. Sebelumnya Citra tidak tahu kalau pondok ini adalah pondok pengobatan keluarga ibu Nurma sebab Citra tidak membawa kartu nama yang bu Nurma berikan saat itu.
"Sebentar ya, Ibu harus mengantarkan obat kepada pasien yang mondok, nanti saya akan kembali ke sini lagi!" tutur Nurma yang terlihat membawa sebuah nampan berisi beberapa cawan yang entah apa isinya.
"Baik, Bu!" jawab Citra seraya tersenyum.
Bu Nurma berjalan ke arah bangunan yang berada di sebelah pondok yang Citra lihat tadi banyak pintu-pintunya. Ternyata itu adalah kamar pasiennya yang sedang mondok.
Citra merasa bersyukur karena ia merasa berada di tempat yang tepat. Ia yakin bahwa ini adalah petunjuk dari Allah bagi ikhtiar ibunya. Sebab sudah dua kali ini tanpa disengaja ia bertemu lagi dengan Bu Nurma.
Pintu terbuka kemudian beberapa orang keluar dari kamar pengobatan. Lantas laki-laki yang tadi menyapa di awal memerintahkan ibu yang menggendong anaknya tadi untuk membawa masuk. Sudah tiba giliran anaknya yang akan diruqyah selanjutnya.
"Cit, gue ke toilet dulu, ya!" tutur Bima kemudian pergi.
"Iya," jawab Citra pendek.
Tak berapa lama dari kejauhan Citra melihat bu Nurma ke luar dari sebuah kamar sembari mendorong seorang pasiennya yang berada di atas kursi roda.
__ADS_1
Melihat hal itu Citra seketika berdiri hendak memastikan sesuatu.
..._______Ney-nna_______...