Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Penolakan Bunda


__ADS_3

"Lo ngapain sih, Cit? celingak-celinguk gitu mau cari apa?" tanya Bima.


Ternyata yang menepuk bahu Citra adalah Bima.


"Enggak, gue tadi cuma kaya lihat seseorang yang mirip dengan yang gue kenal. Ternyata gue salah. Yuk balik ke sana, bentar lagi giliran bunda 'kan?" tanya Citra seraya memastikan keberadaan bundanya dari kejauhan.


"Sepertinya begitu. Ayo!" Mereka kembali berjalan menuju pondok pengobatan.


Citra kembali duduk di di samping bundanya. Menunggu hingga giliran bundanya tiba.


"Bunda, gugup?" tanya Citra.


"Iya, Sayang. Rasanya Bunda ragu untuk masuk ke sana. Sebaiknya kita pulang saja!" tutur bunda yang tiba-tiba terlihat panik dan gelisah.


"Bunda ... kenapa? kita sudah berada di sini lhoh! cuma tinggal nunggu sebentar lagi giliran Bunda!" ujar Citra yang merasa sikap bunda aneh.


"Enggak, Cit. Bunda mau pulang aja, di sini Bunda merasa tidak nyaman!" ujar bunda seraya berdiri dengan tiba-tiba.


Bunda berjalan dengan gelisah menuju ke halaman. Citra dan Bima seketika mengejarnya.


"Bunda ..., Bunda tunggu!" seru Citra seraya berlari kecil mengikuti ibunya.

__ADS_1


"Kenapa dengan Bundamu, Cit?" tanya Bima berusaha mengimbangi langkah Citra.


"Aku nggak tau, Bim!"


Bunda terlihat berjalan cepat menuju ke halaman. Citra bergegas lari agar bisa menyusul bundanya.


"Bunda! Tunggu, Bun!"


Citra segera meraih lengan tangan bundanya saat bisa mensejajarkan langkahnya.


Grep.


"Hah ... hah ...! Bunda, mau ke mana?" tanya Citra seraya mengatur napasnya yang sudah ngos-ngosan.


"Itu bukan sepenuhnya perkataan, Bundamu, Cit. Bunda mendapatkan bisikan-bisikan untuk pergi setelah mendengar suara ustadz Fahri yang tengah membacakan ayat-ayat ruqyah," bisik Bima di dekat telinga Citra.


"Bisikan? bisikan dari mana, Bim?" tanya Citra tidak mengerti.


Dari arah belakang nampak bu Nurma berlari kecil dengan salah seorang wanita bertubuh tinggi besar.


"Citra, mau ke mana?" seru bu Nurma.

__ADS_1


"Maaf Bu, tiba-tiba Bunda tidak mau diobati dan ingin pulang ke rumah!" jawab Citra.


"Oh, jika seperti itu serahkan saja pada saya!" ujar Nurma.


Bu Nurma beranjak maju mendekati Bundanya Citra.


"Bu, kenapa terburu-buru. Jika tidak ingin di ruqyah tidak apa-apa. Mari, kita mengobrol saja di rumah saya!" bujuk bu Nurma.


"Baiklah!" ujar bunda.


Mereka pun lalu menuju rumah bu Nurma. Bu Nurma mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu. Salah seorang ART membawakan mereka teh sebagai teman mengobrol.


Bu Nurma mulai mengajak bunda mengobrol tentang hal lain. Mereka pun semakin akrab hingga bunda melupakan kecemasannya di awal. Citra dan Bima hanya mengikuti kode yang diberikan bu Nurma lewat matanya saja.


Tanpa mereka ketahui sebenarnya hal itu hanyalah trik yang dilakukan oleh Bu Nurma untuk menahan langkah bunda agar tidak pergi sebelum di ruqyah.


Pada saat giliran bunda tiba, Ustadz Fahri dan asistennya mendatangi rumahnya untuk melakukan ruqyah pada bunda sesuai dengan apa yang dikatakan istrinya.


Ustadz Fahri mulai mengenakan sarung tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas kepala bunda. Beliau melantunkan ayat-ayat Al Qur'an untuk meruqyah bunda.


Bunda mulai histeris dan merintih kesakitan saat mendengar lantunan ayat-ayat tersebut di bacakan oleh ustadz Fahri. Bahkan hingga bunda mengumpat kesal seperti bukan dirinya sendiri!"

__ADS_1


...______Ney-nna______...


__ADS_2