Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 43


__ADS_3

"Sayang, lihat bayinya laki-laki! Citra pasti senang sekali mempunyai adik laki-laki," ujar ayah seraya menggendong bayi Mila. Dia menunjukkan bayi itu kepada bunda.


"Em, iya, Mas. Semoga Citra bisa menyayanginya!" tutur bunda.


"Tentu saja, Mbak. Tadi Citra kelihatan seneng banget saat melihat bayinya. Sampai-sampai dia tidak sabar untuk menunggu agar bisa menggendongnya," tutur Mila.


"Iya, Citra anak yang baik, dia pasti akan menyayangi adiknya. Apalagi adiknya laki-laki sesuai dengan keinginannya," timpal ayah Citra.


"Benar sekali, Mas. Kelak dia akan menjaga kakaknya," tutur Mila.


"Oek oek oek ...!" terdengar suara tangis si bayi.


"Mil, sepertinya dia haus, coba lihat! dia hampir menangis!" tutur ayah seraya berjalan mendekat ke arah Mila.


"Oh, Sayang ayo sama Mama!" Mila mengambil alih bayinya dan menyusuinya. Bayi itu pun seketika diam dan menyusu dengan tenang.


"Mas, lihatlah bukankah wajahnya mirip denganmu!" tutur Mila seraya tersenyum.


"Benarkah? jagoan Ayah tentu saja mirip dengan Ayah!" tutur ayah sembari mendudukkan diri di samping Mila seraya merangkul bahu Mila dengan mesra.


Citra yang baru saja kembali dari cafetaria seketika terkesiap mendengarnya. Hatinya terasa perih dan memanas menyaksikan ayahnya begitu mesra terhadap Mila. Dia merasa telah dibohongi oleh mereka. Ingin rasanya untuk tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Namun, semuanya nampak sangat jelas.


Citra lalu menoleh ke arah bundanya yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Mila. Bunda nampak diam saja melihat hal itu. Meskipun matanya nampak sayu, tapi beliau nampak tidak keberatan dan seolah sudah mengetahui perihal hubungan tersembunyi antara ayah dan Mila.


"Citra!" seru bunda saat melihat ke arah Citra yang tengah berdiri di depan pintu kamar Mila. Bunda nampak terkejut dan sangat mengkhawatirkan Citra.


Mendengar hal itu semuanya beralih melihat ke arah pintu.


"Apa maksud perkataan kalian?" ujar Citra dengan emosinya yang tertahan. "Ayah tolong jelaskan!" serunya lagi.


"Citra, Ayah bisa jelaskan. Ayo masuklah kita bicarakan dengan baik-baik!" ujar ayah Citra seraya beranjak berdiri.


"Apa yang mau Ayah jelaskan? semuanya sudah jelas, Yah. Tega-teganya Ayah berselingkuh dengan Tante Mila! Bahkan Bunda sampai tidak bisa berbuat apa-apa melihat perbuatan kalian!" tutur Citra dengan nada meninggi.


Air matanya sudah tak mampu terbendung. Dadanya terasa sesak melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ayahnya tengah menduakan bundanya.


Citra merasa dikhianati sebab hal itu dirahasiakan darinya. Dalam hatinya tercabik-cabik bagaimana mungkin hal seperti itu telah disembunyikan oleh orang tuanya. Padahal selama ini hubungan antara ayah dan ibunya terlihat baik-baik saja. Siapa sangka jika orang tuanya yang terlihat rukun tanpa masalah ternyata menyimpan kebusukan di dalamnya.


"Citra, kami tidak berselingkuh! Kami menikah secara resmi. Semua itu atas ijin Bunda kamu juga. Ini adalah adikmu, bukankah kamu menginginkan adik laki-laki. Ini semua demi kamu, Citra!" tutur Mila yang membuat Citra semakin emosi setelah mendengar jawaban itu.

__ADS_1


"Tante, siapa yang menginginkan adik dari perempuan perebut suami orang? Kalaupun Citra mau adik tentunya adik yang Bunda lahirkan, bukan dari Tante. Citra tidak akan sudi mengakuinya sebagai adik. Citra nggak punya adik!" ujar Citra telak.


"Citra, jangan sembarangan berbicara kamu! Mila bukan perempuan seperti apa yang kamu tuduhkan. Mila perempuan yang Ayah nikahi secara baik-baik atas persetujuan Bunda. Kami punya alasan untuk itu. Kamu jangan kurang ajar sama, Mila. Bagaimana pun mau tidak mau dia adalah ibumu juga, dan bayi ini adalah adikmu!" bentak ayah seraya berkacak pinggang dengan muka sangarnya.


Citra melirik ke arah bunda yang yang terlihat menangis tersedu-sedu tanpa bisa berucap apa pun untuk menjelaskan tentang perkara ini.


"Citra nggak mau punya adik tiri!" seru Citra seraya mendorong pintu dan berlari dengan sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu.


Bunda sempat ingin mengejarnya, namun tiba-tiba tubuhnya limbung dan ia jatuh pingsan. Ayah dengan sigap segera menangkap tubuhnya dan membaringkan pada sofa yang berada di kamar itu. Akhirnya beliau mengabaikan Citra yang berlari pergi dan memilih untuk mengurus bunda kemudian juga harus menjalani rawat inap dan menjaga Mila di rumah sakit.


Bima akhirnya membawa Citra pulang ke tempat kostnya, karena Citra tidak mau pulang.


......................


Tok tok tok.


"Mbak!"


"Ya, bentar!" terdengar sahutan dari dalam.


Tak berapa lama pintu kamar pun terbuka dan memperlihatkan Dinara membuka pintu kamarnya.


"Baik, Mbak! Em, boleh nggak malam ini saya nginep di kamar, Mbak?" tanya Citra dengan sedikit ragu.


Dinara sejenak memperhatikan penampilan Citra yang terlihat sedikit kacau dengan rambutnya yang sedikit tak beraturan dan netranya yang terlihat sembab. Dia menduga pasti sedang terjadi sesuatu pada Citra yang mengharuskan dia pergi dari rumahnya.


"Boleh dong, yuk masuk!" ujar Dinara seraya merangkul bahu Citra dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Dinara menuntun Citra masuk dan menyuruhnya duduk. "Sebentar aku ambilkan baju ganti!"


"Nggak usah repot-repot, Mbak. Nggak apa-apa saya pakai baju saya saja!" tolak Citra agar tidak merepotkan Dinara.


Dinara membuka almari dan mengambil satu stel piyama tidur miliknya, lalu dia berikan kepada Citra.


"Kamu bersih-bersih dulu, habis itu ganti baju kamu biar nyaman untuk tidur!" perintah Dinara.


Citra akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh Dinara. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.


Seraya menunggu, Dinara beranjak keluar kamar untuk menemui Bima. Dinara meminta penjelasan mengenai Citra yang tiba-tiba datang bersamanya dengan wajah kacau.

__ADS_1


"Bim, kamu apakan dia? jangan-jangan-." Dinara tidak melanjutkan kata-katanya. Namun, ia mulai berpikir yang aneh-aneh.


"Jangan sembarangan, Mbak!" sanggahnya.


Bima lalu menceritakan apa yang tengah terjadi pada Citra dan mengapa dia bisa membawa pulang Citra ke kostnya.


"Mbak, dia pasti sedang butuh teman berbagi kesedihan. Tolong Mbak temani dan hibur dia! Ini mungkin hal yang cukup berat yang dialami olehnya," tutur Bima menjelaskan.


"Baiklah, jangan khawatirkan dia. Aku akan menjaganya!" tutur Dinara seolah dapat menangkap kecemasan Bima.


"Aku tidak mengkhawatirkan dia, Mbak!" kilah Bima.


"Iya ...," jawab Dinara dengan tersenyum sumbang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar terlihat Citra telah usai melaksanakan salat. "Mbak, maaf aku pinjem mukenanya tanpa ijin barusan!" ujarnya.


"Nggak apa-apa. Udah makan belum?" tanya Dinara seraya mendudukkan diri di kursi depan meja belajarnya.


"Udah kok, Mbak. Tadi makan di kantin rumah sakit sama Bima."


"Oh ya sudah kalau gitu. Jika butuh sesuatu bilang aja sama aku!" tutur Dinara.


"Aku numpang istirahat ya, Mbak. Aku boleh tidur duluan kan, Mbak? rasanya badanku lelah banget," ujar Citra.


"Iya, tidur duluan aja, Cit. Aku mau ngerjain skripsi dulu."


Citra kemudian merangkak ke atas kasur. Dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Dinara. Dia mencoba memejamkan mata agar bisa tertidur. Namun, bayangan penghianatan ayahnya dengan Mila hingga menghasilkan seorang bayi membuat dadanya kembali bergemuruh.


Teresan air mata terus menerus menetes dari sudut matanya tanpa bisa ia tahan.


"Hiks hiks hiks ...!" Citra semakin terisak dan tak sanggup untuk menahan kesedihan yang berkecamuk di dalam hati.


Dinara beranjak mendekat kemudian mengusap pelan bahu Citra. "Menangislah, keluarkan semua kesedihan yang terpendam sampai kamu merasa lebih baik!"


Citra beranjak duduk lalu memeluk Dinara. Dia menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan di bahu Dinara.


Malam itu menjadi malam yang paling menyedihkan bagi Citra.


..._________Ney-nna_________...

__ADS_1


__ADS_2