Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 26


__ADS_3

Dengan berat hati Citra beranjak ke luar ruang ICU meninggalkan Andra. Sebelum ke luar ruangan. Diusapnya air mata yang sempat membasahi kedua pipinya.


Saat membuka pintu, ternyata di luar sudah ada papanya Andra.


"Om!" ujar Citra sembari melangkah mendekat ke arah papanya Andra berada dan menyalaminya.


"Kebetulan sekali bertemu dengan kamu, Nak. Bisa kita bicara sebentar?" tutur papanya Andra kepada Citra.


Citra melirik ke arah Amel yang sedari tadi menunggunya untuk meminta jawaban. Amel yang tahu akan maksud tatapan Citra, kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda tidak keberatan.


"Baik, Om!" ujar Citra kepada papanya Andra.


Papa Andra kemudian meminta Citra untuk sedikit menjauh dari Amel dan juga Bejo, agar bisa berbicara empat mata dengannya. Saat dirasa jarak mereka sudah aman dan tidak akan terdengar oleh mereka, papa Andra mengajak Citra untuk duduk di ruang tunggu pasien di ruangan lain untuk mengatakan maksudnya.


"Begini, Nak. Nanti malam saya ingin meminta ijin untuk mendatangi rumahmu dengan seorang paranormal," ujar papanya Andra dengan lirih sembari menahan rasa malu.


Citra yang mendengar jika papanya Andra akan datang ke rumahnya dengan membawa seorang paranormal seketika mengernyitkan dahi merasa ada yang tidak wajar.


Kenapa harus membawa paranormal? batin Citra yang terlintas dipikirannya saat itu.


"Untuk apa, Om?" tanya Citra yang merasa penasaran dengan tujuan dari papanya Andra membawa paranormal ke rumahnya.


"Nak, di masa muda saya pernah berbuat kesalahan. Dan selama ini saya terus dihantui dengan rasa bersalah, terlebih saat mengetahui di sekitar rumah itu juga Andra mendapatkan musibah. Untuk itu saya ingin membereskan yang menjadi masalah saya."


"Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan mu, justru saya ingin membereskan yang selama ini mengganggumu dan juga Andra. Saya hanya ingin memindahkan sesuatu yang berada di samping rumahmu ketempat yang semestinya menjadi tempatnya," tutur papanya Andra menjelaskan panjang lebar tentang maksud dan tujuannya mendatangi rumah Citra.


"Saya masih belum paham, Om?" ujar Citra masih tidak mengerti tentang apa yang ingin dipindahkan dari rumah itu dan untuk apa?


"Maaf, Nak. Saya tidak bisa menceritakan detailnya. Tapi yang jelas saya harus melakukan itu demi menebus kesalahan saya!" tutur papanya Andra yang kekeuh ingin merahasiakan alasan sebenarnya kepada Citra.


"Baiklah, terserah Om saja jika hal itu adalah sesuatu yang tidak merugikan saya, maka saya akan mengijinkannya.Tapi saya tidak bisa menemani, Om. Karena saya nanti tidak akan pulang ke rumah, sekarang saya menyewa kamar kost," tutur Citra memberitahu.

__ADS_1


"Kamu ngekost, Nak? itu bagus daripada kamu tinggal di rumah itu sendirian, sungguh membahayakan!" tutur papanya Andra.


"..." Citra tidak menjawabnya dan hanya menganggukkan kepala untuk menanggapi.


"Baiklah itu saja yang ingin saya bicarakan, Nak. Terima kasih sudah menjenguk Andra," tutur papanya Citra merasa lega sudah mengantongi ijin dari pemilik rumah yang dulu merupakan rumah ibunya itu.


"Sama-sama, Om. Kapan Andra akan dipindahkan, Om?" tanya Citra yang mengingat jika Andra akan dipindahkan ke Singapura.


"Kita akan menunggu beberapa hari lagi hingga semua persiapannya telah siap dari pihak rumah sakit untuk membawa Andra ke Singapura, Nak."


"Baiklah, Om. Semoga Andra cepat sembuh! kalau begitu saya permisi pulang, Om!" ujar Citra berpamitan.


"Terima kasih sudah menjenguk Andra, Nak. Hati-hati di jalan!" ujar papa Andra.


"Assalamu'alaikum, Om," ujar Citra kemudian segera menuju Amel berada dan mengajaknya pulang.


Citra dan Amel berpamitan. Kemudian Citra segera mengantarkan Amel untuk pulang ke rumahnya. Karena hari sudah sore dan hampir maghrib, Mama Amel meminta Citra untuk singgah sebentar setelah melaksanakan salat untuk makan malam bersama. Citra pun akhirnya menyetujuinya toh tidak ada apa-apa juga yang bisa dia makan di tempat kostnya nanti.


"Tante, terima kasih atas makanannya. Saya permisi pulang dulu, Tante!" ujar Citra seusai makan malam bersama dengan keluarga Amel. Lantas Citra segera berpamitan kepada mamanya Amel.


"Iya, Tante. Sayang udah bayar kost nggak ditempati," seloroh Citra dengan cengiran, sungkan jika harus merepotkan keluarga Amel terus-terusan.


"Ya sudah hati-hati di jalan ya, Cit!" ujar mama Amel pada akhirnya.


"Baik, Tante," jawab Citra kemudian salim kepada mamanya Amel.


"Balik dulu ya, Mel! assalamu'alaikum," pamitnya kemudian berjalan menuju motornya berada.


"Wa'alaikumsalam, sampai kost jangan lupa kabarin gue ya, Cit!" pesan Amel.


Citra tidak menjawab dan hanya memberikan tanda 'ok' dengan salah satu tangannya.

__ADS_1


Setelah itu Citra segera melajukan motornya menuju tempat kostnya.


****


Citra memarkirkan sepeda motornya di tempat khusus untuk penghuni kost. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 19.45 saat dilihatnya pada jam dinding yang terpasang di ruang tamu bersama, yang bisa digunakan penghuni kost untuk menerima tamu. Tempatnya berada di lantai satu yang menghubungkan dengan tangga ke lantai dua.


Citra bergegas menaiki tangga menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada.


"Ah ...!" pekiknya kaget dan seketika berhenti sembari memegangi dadanya tepat pada jantungnya yang serasa akan melompat ke luar saat melihat ada yang duduk di anak tangga.


Seorang perempuan berambut panjang dengan baju berwarna merah terlihat seperti sedang mendengarkan musik dari handphone yang di genggamnya. Wanita itu sedikit pucat namun tersenyum ramah ke arah Citra.


Kakak ini pasti penghuni kost yang berada di lantai dua! batin Citra.


Citra membalas tersenyum kepadanya. "Permisi, Kak!" ujar Citra kemudian sedikit menunduk saat akan melewatinya.


Sesampainya di atas, Citra segera membuka kunci pintu kamarnya dan menguncinya kembali dari dalam, setelah berhasil masuk ke dalam kamar.


Citra merasakan sangat letih, rasanya ingin segera mandi karena badannya sudah lengket bercampur dengan keringat setelah seharian beraktivitas di luar.


Citra mengambil perlengkapan mandinya dan juga baju ganti, kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi. Beruntung di tempat kostnya tersedia air hangat. Diguyurnya seluruh tubuh dengan air shower dari ujung kepala yang mengucur ke bawah membasahi seluruh tubuhnya. Hal itu cukup merefresh syaraf-syaraf di otaknya. Setelah usai memakai shampo pada rambutnya dan membalurkan busa sabun di seluruh tubuhnya, Citra kembali mengguyur tubuhnya dengan air shower.


Damn!


Tiba-tiba saja lampu mati sebelum Citra menyelesaikan mandinya. Beruntungnya sudah tidak ada busa sabun atau shampoo di tubuhnya.


Dengan melawan rasa takut, Citra meraba-raba mencari handuknya yang tergantung di tempat gantungan baju. Citra segera mengenakan kain tebal itu untuk menutupi tubuh polosnya yang basah. Selintas pikiran yang aneh-aneh bermunculan di otaknya. Bayangan diganggu oleh makhluk tak kasat mata menjadikannya bimbang antara tetap tinggal dan ingin ke luar kamar mandi. Sebab ini adalah tempat baru bagi dirinya. Dan Citra tidak tau seperti apa kondisi tempat kostnya ini dalam tanda kutip.


Citra memunguti baju gantinya yang belum sempat dia pakai dan berniat ke luar dari kamar mandi untuk di pakainya di luar saja. Namun, saat dia membuka pintu kamar mandi tiba-tiba dalam sekejap lampu kembali menyala.


"Huhh!" pekik Citra tanpa suara.

__ADS_1


Rasanya jantungnya hampir saja copot dengan peristiwa yang barusan terjadi. Citra bergegas ke luar dan mengganti bajunya dengan segera.


...________Ney-nna________...


__ADS_2