Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 44


__ADS_3

Senja di pagi hari menyiratkan secercah cahaya yang masuk dari celah-celah jendela. Sementara Citra masih terdiam meringkuk di bawah selimut sedari subuh.


"Cit, mau sarapan apa?" tanya Dinara sembari duduk di tepian kasur.


"Mbak aja yang makan, aku pengen tidur lagi aja, Mbak," tutur Citra tanpa membuka mata. Ia masih tak bergeming di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Kamu nggak berangkat sekolah?" tanya Dinara lagi.


"Enggak, Mbak. Aku nggak enak badan!" jawab Citra beralasan.


"Ya udah, aku keluar sebentar, ya?"


"Hmm ...," gumam Citra.


Dinara lantas keluar dari kamar dan beranjak menuruni tangga. Dia berjalan kaki hingga ke depan. Tidak jauh dari tempat kostnya ada sebuah warung yang menjajakan aneka lauk dan sayur mayur ala masakan rumahan.


"Bu, mau nasi liwetnya dua bungkus, ya?" tutur Dinara pada penjaga warung.


"Iya, Mbak. Tunggu sebentar, ya!" ujar wanita setengah baya itu.


Dinara mengangguk kemudian duduk di salah satu bangku yang tersedia bagi pembeli yang ingin makan di tempat.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Eh ...!" pekiknya terkejut.


"Mbak, beli sarapan kok nggak ngajak-ngajak!" ujar Bima seraya mendudukkan diri pada bangku di samping Dinara.


"Kamu nih ngagetin aja sih, Bim!" ujar Dinara seraya mengelus dadanya.


"Ngalamun aja sih, Mbak. Citra nggak ikut?" tanya Bima saat tidak melihat keberadaan Citra.


"Ciyee ..., nyarinya kok yang nggak ada sih, Bim. Di sini kan yang ada gue!" goda Dinara.


"Apaan sih, Mbak. Kalau udah jelas ada kenapa musti ditanyain coba!" sanggah Bima.


"Iya, ya. Hehehe ...!" jawab Dinara seraya cekikikan. "Citra lagi nggak enak badan. Katanya ntar juga nggak berangkat ke sekolah dulu," ujarnya.


"Dia sakit?" Bima seketika menoleh ke arah Dinara.


"Semalaman dia banyak menangis. Aku rasa dia juga nggak bisa tidur hingga larut. Menjelang subuh barulah aku lihat dia terlelap dalam tidur. Aku rasa dia terus kepikiran dengan masalahnya. Kasihan dia ...," tutur Dinara menjelaskan.


"Sebenarnya dari pandangan aku ada yang nggak wajar dari konflik yang terjadi di dalam keluarganya, Mbak," tutur Bima lirih.


"Nggak wajar gimana maksud kamu, Bim?" tanya Dinara penasaran.


"Mbak, ini nasi liwetnya sudah saya bungkuskan," tutur si penjaga warung seraya menyerahkan sebuah kantung kresek kecil kepada Dinara.


"Oh iya, berapa, Bu?"


"Dua puluh ribu, Mbak."


Dinara menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan kepada penjaga warung. "Ini, Bu."

__ADS_1


"Makasih, Mbak!"


Dinara tersenyum kemudian berbalik hendak beranjak pergi. "Bim, lo hutang penjelasan soal ucapan lo barusan sama gue. Pagi ini gue ada janji konsul sama dosen, kalau nanti siang gue belum pulang dan lo udah pulang, lo beliin dia makan siang sekalian, ya?" perintah Dinara.


"Ogah lah, Mbak. Nanti kalau laper juga bakalan nyari makan sendiri!" tolak Bima.


"Ya ampun, Bim. Wanita kalau lagi sakit hati tuh nggak bakalan keinget mau makan. Lo mau, nanti disalahin ortunya kalau sampai Citra kenapa-napa?" hasut Dinara.


"Justru merekalah yang paling bersalah dalam hal ini, Mbak!" sungut Bima.


Dinara tidak menimpali lagi. Dia lantas beranjak meninggalkan warung dan kembali ke tempat kostnya.


Sesampainya di kamar ternyata Citra terlihat sudah mandi. Wajahnya sudah nampak segar meski terlihat bengkak di sekitar matanya.


"Nah, begini kan lebih seger dilihatnya, Cit," sapa Dinara saat memasuki kamarnya. "Nih, aku belikan nasi liwet untuk sarapan!"


"Makasih, Mbak. Maaf merepotkan! InsyaaAllah nanti saya akan cari tempat kost lain biar nggak ngeganggu kamu, Mbak," tutur Citra dengan lirih.


"Udah nggak usah dipikirin. Lo boleh nginep di sini sampai lo ngerasa lebih baik dan siap untuk pulang ke rumah, lo, Cit. Lagian kamar ini sering aku tinggal-tinggal. Kalau kamu di sini kan nggak sia-sia bayar kostnya," canda Dinara.


"Makasih, Mbak!"


"Iya, buruan gih di makam dulu! hati boleh sakit, tapi perut harus tetap diisi biar tetep bisa mikir! Kalau otak ikutan oleng nanti yang kendaliin setan."


"Awas ya, jangan berpikir yang enggak-enggak ketika hati sedang kalut!" ujar Dinara memperingatkan.


Citra terdiam memikirkan perkataan Dinara. Dia jadi teringat dengan bundanya. Bagaimana dengan keadaan bunda saat ini, dan apa yang sebenarnya membuat bunda bersedia untuk di madu?


Citra menjadi sangat penasaran dan bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya terjadi pada bunda, hingga menyetujui ayah untuk menikahi Mila.


"Cit, Bima itu sebenarnya anak yang baik. Dia itu lebih banyak diam karena itu cara dia untuk melindungi dirinya," tutur Dinara.


"Melindungi dirinya? melindungi dari apa, Mbak?" tanya Citra.


"Coba aja kalian itu saling mengobrol dan mencoba berteman. Kalian kan sebaya, siapa tahu bisa saling membantu."


"Tapi, dia nggak pernah jawab pertanyaan aku, Mbak. Dan seringnya malah bikin kesel," ungkap Citra.


"Sebenarnya dia juga membutuhkan teman, lhoh. Kalau sudah merasa nyaman dengan seseorang, dia pasti akan bercerita sendiri tanpa diminta," tutur Dinara.


Cerita sebenarnya juga penasaran dengan kehidupan Bima. Kemarin saat melihat Bima menaiki mobil mewah, sementara dia hanya tinggal ditempat kost, hal itu membuatnya bertanya-tanya seperti apa latar belakang keluarganya.


Citra seketika teringat dengan wanita setengah baya yang diantar oleh Bima. Rumah wanita itu berada tidak jauh dari rumahnya.


Sebenarnya ada hubungan apa wanita itu dengan Bima? batin Citra.


Kemarin saat berada di cafetaria rumah sakit, Citra sebenarnya sudah bertanya. Namun, Bima belum sempat menjawabnya. Citra mengurungkan niatnya untuk mengorek lebih jauh saat mengingat karakter Bima yang tertutup dan misterius.


......................


Drrrrt drrtt drrtt.


Beberapa kali handphone Citra berbunyi. Terlihat bertuliskan 'ayahku' pada layar handphone.

__ADS_1


Citra mengabaikannya karena tidak sanggup untuk menjawab telepon dari ayahnya. Perasaan marah dan benci kembali datang tatkala mengingat apa yang dilihatnya kemarin di rumah sakit. Tenggorokannya seolah tercekat hingga tak mampu berkata-kata.


Setelah berulangkali mengabaikan panggilan itu, tiba-tiba ada pesan masuk dari ayahnya.


[ Ayahku : Cit, bunda sakit. Bunda dirawat di RS. Tolong jenguk bunda, karena bunda terus nanyain kamu.]


Notifikasi pesan itu dapat terlihat pada tampilan awal pada handphonenya, tanpa ia membuka pesannya.


"Hah, bunda sakit!" gumam Citra terkejut. Dia menjadi bimbang antara tetap sembunyi di kost ini atau ke rumah sakit menjenguk bundanya.


Jika pergi ke rumah sakit, pastilah dia akan bertemu dengan ayahnya dan juga Mila. Namun, jika dia tidak segera datang, ia takut jika bundanya akan semakin kepikiran tatkala mencemaskan keberadaannya.


Citra lalu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menjenguk bundanya. Citra duduk di halte yang tak jauh dari tempat kost itu. Beruntungnya, tak berapa lama menunggu bus datang. Citra segera masuk ke dalam bus ketika bus berhenti.


Sepanjang perjalanan Citra lebih banyak diam melamun seraya melihat pada pemandangan yang terlewatkan di luar kaca jendela. Setelah sekitar dua puluh menit berlalu, Citra menyadari jika tak berapa lama lagi dia hampir sampai di tempat tujuan.


Citra bergegas merogoh dompet di dalam tasnya. Namun, setelah mengobrak-abrik ke dalam tasnya dompetnya tidak diketemukan juga.


Citra menjadi kesal, takdir seolah tidak berpihak padanya. Justru kemalangan hidup silih berganti datang kepadanya.


Citra hendak menangis memikirkan ia tidak memiliki uang sepeserpun. Entah apa yang akan terjadi nanti ketika kenek bus meminta bayarannya.


Benar saja saat kenek bus datang padanya Citra gelagapan.


"Pak, dompet saya hilang. Dompet saya pasti dicopet di bus ini!" tutur Citra.


"Halah pasti kamu bohong supaya tidak harus bayar, 'kan? cantik-cantik kok menipu. Nanti kamu harus turun di halte depan!" ucap si kenek bus dengan garang.


"Saya tidak bohong, Pak. Sa-," perkataan Citra terpotong saat ada wanita berjilbab mengulurkan selembar uang pada kenek itu.


"Oke, terima kasih!"


Citra menoleh ke samping pada wanita yang menolongnya barusan. "Bu, terima kasih atas bantuan, Anda Maaf telah merepotkan, Anda. Tapi, saya tidak berbohong bahwa dompet saya bener-bener hilang!" ujar Citra meyakinkan.


"Saya tahu, saya percaya padamu."


Saat turun, ternyata ibu penolong Citra tadi juga turun di rumah sakit. Citra segera menghampirinya.


"Bu, boleh saya minta nomor handphone, Anda? nanti ketika saya sudah memiliki uang saya akan mengembalikan uang, Anda."


Wanita itu merogoh kartu namanya kemudian menyerahkannya kepada Citra. "Tidak perlu diganti, Nak. Saya ikhlas. Jika ada waktu mainlah ke pondok keluarga saya!" tuturnya.


"Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya tadi."


"Sama-sama, Nak. Ketika sedang ada masalah jangan banyak melamun, ya! Cukup bersedih seperlunya dan berperilaku sewajarnya. Setiap orang akan diuji dengan permasalahan hidupnya masing-masing. Tinggal bagaimana kita menyikapinya agar masalah itu terselesaikan dengan benar. Bukan dengan cara lari dari masalah."


"Cobalah untuk ikhlas, sebab semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Mungkin itu adalah cara Allah untuk menguji seberapa iman kita kepada-Nya. Pasrahkan semua kepada Allah, dan mintalah pertolongan hanya kepada-Nya."


Ujarnya sembari mengusap lembut bahu Citra. "Saya, permisi!"


Citra mengangguk sembari tersenyum pada ibu itu. Sepeninggal ibu tadi ia masih terdiam untuk mencerna kata-kata ibu itu.


...________Ney-nna________...

__ADS_1


__ADS_2