Cinta Di Alam Mimpi

Cinta Di Alam Mimpi
Bab. 60


__ADS_3

Pasca pengobatan di padepokan ustadz Fahri, Ratih terus mendapat bimbingan untuk menjalankan ibadah salat sunah di malam hari dan juga untuk perbanyak zikir. Nurma lah yang terus berkomunikasi dengan Ratih untuk menyampaikan pesan-pesan itu.


[ Mbak, tambahkan dengan membaca doa ini ya, Mbak!


Laa ilaaha illaa anta subhaanaka, inni kuntu minadz dzaalimiin ]


...Dan, ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, "bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, Maha suci Allah, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim" maka Kami telah memperkenankan doanya yang doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan, dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman....


...QS surat Al-Anbiya 87-88...


Ratih pun senantiasa untuk mengikutinya, setelah melaksanakan salat, Ratih selalu membaca zikir di tambah dengan membaca Al-Fatihah, tiga surat pendek, Ayat Kursi (Al-Baqarah), doa Nabi Yunus di atas. Dan selain itu yang paling penting adalah ia selalu berusaha untuk ikhlas dan sabar.


......................


Pada malam berikutnya sang paranormal yang dibayar oleh Mila pun melayangkan aksinya. Lewat tengah malam Ki Sapta sudah siap dengan segala persiapannya. Dibantu dengan sang asisten serangkaian kebutuhan untuk menunjang aksinya pun telah tersedia. Mulai dari bunga tujuh rupa yang masih segar, foto korban, dan syarat-syarat lainnya pun sudah tersedia.


Ki Sapta mulai membakar dupa dan kemenyan di atas perapian seraya komat-kamit merapal mantra.


"Wezz weez wezz wezz wezz wezz wezz wezz!" hanya itu yang terdengar dari telinga asistennya, entah apa yang ia baca di dalam hatinya tidak ada yang tahu. Sebab ia tidak membagi kepada siapapun ilmunya itu.


Ki Sapta hendak mengirim santet dari jarak jauh. Kesaktiannya yang tidak diragukan lagi menurut sebagian orang yang percaya kepadanya. Namun, sebagian orang di desanya yang tidak mempercayainya hanya menganggapnya sebagai pembohong besar.

__ADS_1


Klien yang datang kebanyakan dari luar daerah yang terkadang sembunyi-sembunyi saat berkunjung ke kediamannya. Menunggu waktu terbenamnya matahari atau larut malam. Rumahnya yang berada di pojokan kampung dengan ditumbuhi banyak pohon bambu yang rimbun, membuat rumahnya terkesan angker.


Namun, jaman sudah modern. Dukun pun mengikuti perkembangan jaman. Dalam menjalankan aksinya Ki Sapta tidak mengharuskan kliennya untuk repot-repot datang. Cukup dengan telepon pekerjaan akan segera dilaksanakan, setelah bukti transfer terlampir.


Begitupun dengan Mila, ia bahkan tidak perlu repot-repot datang ke rumahnya. Ia hanya perlu menelepon pada kontak handphonenya, kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening sang paranormal. Maka perintahnya akan segera dilaksanakan sesaat setelah bukti transfer masuk di notifikasi pesannya.


Terlebih Mila sudah berlangganan menggunakan jasa Ki Sapta untuk mewujudkan keinginannya selama ini. Mulai dari pelet hingga santet yang berulang kali ia perintahkan pada Ki Sapta tidak pernah mengecewakan.


Malam itu pun Ki Sapta mulai melancarkan aksinya. Ia kirimkan sejumlah dedemit yang menurutnya berkompeten di bidangnya untuk mendatangi Ratih dan mencelakakannya.


Namun, di tempat tinggalnya Ratih tengah melaksanakan salat di sepertiga malam. Ia dengan khusyuk melaksanakan salat. Kemudian tak lupa dengan membaca zikir sebanyak-banyaknya.


Duaaarrrr!


Seisi penghuni rumah pun turut mendengarnya saking kerasnya. Citra yang awalnya tidur pulas pun terbangun dan melihat jika bundanya tengah bermunajat di atas sajadahnya. Citra segera mendekat ke arah bundanya.


"Bunda, yang barusan itu apa?" tanya Citra.


"Entahlah, Bunda juga tidak tahu. Ayo Nak, berdoalah bersama Bunda agar keluarga kita terhindar dari mara bahaya!" ujar Ratih.


Citra mengangguk kemudian mengambil wudhu dan turut melaksanakan salat.

__ADS_1


Sementara di kamar lain, Bayi Mila mulai rewel. Mila kewalahan menenangkan bayinya yang terus menangis. Terlebih ia merasakan badannya yang terasa panas luar biasa di sekujur tubuhnya seperti terbakar.


"Mas, bangun! tolong tenangkan Yodha! aku merasa badanku panas sekali, aku tidak sanggup menggendongnya. Aku mau ke kamar mandi dulu!" ujar Mila dan segera menyerahkan bayi itu pada suaminya.


Arman yang juga kebingungan membawa bayi itu keluar dari kamar dan terus mencoba menenangkan.


Bunda yang mendengar hal itu keluar dari kamar dan ikut membantu menenangkan bayi Mila. Sembari menggendong ia terus melantunkan ayat-ayat doa.


"Mas, tolong buatkan Yodha susu di botol!" perintah Ratih.


Usai membuat susu Arman memberikan botol susu itu kepada Ratih dan pergi melihat Mila di kamarnya. Dari luar kamar mandi Arman mendengar suara racau Mila dan disusul dengan bunyi guyuran air.


"Panas ... panas ... tolong!"


"Mila buka pintunya!" seru Arman seraya menggedor pintu kamar mandi.


Setelah pintu terbuka betapa terkejutnya ia melihat keadaan Mila saat itu.


"Astaga, Mila. Kenapa bisa sampai seperti itu?" pekik Arman yang terperanjat dengan apa yang dilihatnya.


..._______Ney-nna______...

__ADS_1


__ADS_2