Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Siang itu di sebuah Food Court tampak seorang pemuda yang parlente. Dia adalah Rizal. Dia


begitu resah menunggu makan siangnya di sebuah foodcourt belum juga tiba.


"Duh! Gimana sih? Lama amat makanannya. Keburu jam kantor datang nih … , " bathinnya.


Sebentar-sebentar dia lihat jam tangannya. Ketika tengah melamun, tiba-tiba seorang gadis


mengajaknya bicara.


"Mas, semua bangku penuh. Boleh saya duduk di sini?" tanyanya.


Rizal memandang gadis itu. Dia lihat di sekelilingnya, semua bangku telah penuh.


"Oke, silahkan," kata Rizal mempersilahkan.


Gadis itu duduk di depannya. Dia tersenyum ramah. Rizal kembali melihat jam tangannya. Dan,


akhirnya hidangan pesannnya tiba. Wajahnya begitu riang.


"Aaah, alhamdulillah. Akhirnya hidangan datang," katanya dengan senyum.


"Maaf, Mas. Tadi yang ini menunya belum ready," kata pelayan itu.


Rizal hanya tersenyum mengangguk. Dia segera memakan makanan itu dengan lahap. Gadis


di depannya memandang dengan senyum tersungging.


"Mas, kelaparan ya," katanya.


Rizal terkejut. Dia pandangi gadis itu.


"Uhm … nyam … iya. Lapar banget," sahutnya sambil tetap mengunyah makanannya.


"Hihihi, Mas ini lucu deh," kata gadis itu tersenyum.


Rizal segera melahap hidangan itu. Dengan cepat, dia menghabiskannya. Di suapan terakhir,


Rizal tersedak. Dia tak sengaja mengunyah cabe.


"Uhuk … uhuk …. " Rizal terbatuk-batuk.


"Mas, kamu gak apa-apa?" Gadis itu terkejut.


Dia memberikan air mineral yang di bawanya pada Rizal.


"Mas, minum ini," katanya memberikan botol kecil air mineral.


Rizal meminumnya. Dan dia merasa lega.


"Ahh … terima kasih, Mbak," jawab Rizal.


"Iya, sama-sama. Masnya koq tadi makan kayak di kejar waktu gitu?" tanyanya.


"Uhm, abis pesanannya lama," jawab Rizal.


Gadis itu tersenyum manis. Rizal teringat jika mereka belum saling kenal. Dia akhirnya


memperkenalkan diri.


"Oh ya, aku Rizal," kata Rizal memperkenalkan diri.


Rizal hendak.mengajaknya bersalaman, namun Nissa hanya bersikap layaknya seorang muslimah yang bukan muhrim. Rizal mengerti. Dia urungkan niatnya.


"Aku Nissa," kata gadis itu merapatkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Tak lama kemudian, minuman pesanan Nissa datang. Rizal yang tertarik dengan Nissa justru


memesan minuman yang sama.


"Loh, tadi kayaknya keburu di kejar waktu, koq sekarang malah pesan minuman lagi?" tanya


Nissa keheranan.


"Uhm … ya ingin aja. Lagian, biar gak seret nih tenggorokan," kata Rizal dengan senyum


manisnya.


Dia berusaha menutupi alasannya. Padahal, dalam hatinya dia begitu kagum dengan Nissa.


"Ya Allah, wanita ini begitu indah. Semoga saja dia adalah seorang muslimah yang Kau kirim


kepadaku tuk dampingi aku selamanya," bathinnya.


Gadis itu tersenyum manis melihat Rizal yang melamun memandangj Nissa. Nissa begitu malu.


"Mas … Mas …." Nissa memandangi Rizal dengan ekspresi heran.


Rizal segera tersadar dari lamunannya.


"Ya ampun … Ma--Maaf. Aku tadi termenung," kata Rizal dengan senyum menahan malu.


Mereka kembali terlibat sebuah pembicaraan. Di tengah pembicaraan, gadis itu begitu khawatir.


"Waduh! Gawat. Aku hampir lupa sholat dhuhur. Mana di sana gak ada musholla lagi. Sebentar,


Mas. Aku mau sholat dulu," kata Nissa.


Rizal mengangguk. Nissa buru-buru mencari musholla dan sholat dhuhur. Dan, tak lama


kemudian, Nissa kembali muncul.

__ADS_1


Diam-diam, Rizal mengagumi kecantikan Nissa. Dan tak lama kemudian, minuman pesanannya


tiba. Sambil menikmati minuman itu, mereka saling mengenal saru sama lain. Setelah lama


bercakap-cakap, Rizal dan Nissa saling bertukar nomor handphone.


"Nissa, aku harus kembali kerja. Nanyi kita kontak-kontak, ya," kata Rizal.


"Iya, aku juga harus balik nih," kata Nissa.


"Barengan, yuk," ajak Rizal.


"Uhm, boleh. Kantormu ke arah mana?" tanya Nissa.


Rizal menunjuk ke sebuah arah. Nissa tersenyum manis.


"Kantor kita searah. Yuk, " kata Nissa.


Rizal menuju ke mobilnya yang terparkir. Tak lama, Rizal dan Nissa meninggalkan foodcourt itu


menuju ke tempat kerjanya Nissa.


Sesampainya di sebuah usaha konveksi, Nissa turun.


"Mas, ini tempat kerjaku. Terima kasih sudah mengantar. Duh, maaf ngerepotin," kata Nissa


merasa sungkan.


Rizal tersenyum ramah. "Nggak koq. Toh kantorku sudah dekat dari sini."


"Syukurlah. Udah ya, Mas. Aku masuk kerja dulu," kata Nissa berpamitan.


Rizal tersenyum. "Oke. Sampai ketemu lagi."


Nissa segera masuk ke tempat kerjanya.


Sejenak, Rizal memandangi Nissa yang berjalan ke


tempat kerjanya sebelum akhirnya dia pacu mobilnya ke kantornya.


Di tempat kerjamya, Syifa yang merupakan sahabat Nissa menggodanya.


"Ciye … yang baru di amtar cowker nih. Pantes mukanya pada bening gitu," goda Syifa.


Wajah Nissa memerah menahan malu. Dia mencubit lengan Syifa.


"Auwh! Sakit tahu," kata Syifa sambil senyum.


Nissa memandang ke sekitar. Dia begitu malu kebersamaannya dengan Rizal di ketahui Syifa.


"Iih. Kamu tuh. Jangan keras-keras. Aku malu," kata Nissa setengah berbisik.


Tak lama kemudian, banyak pegawai yang telah


datang. Nissa dan Syifa kembali bekerja.


Sementara itu, di kantornya, Rizal menemui relasi


ayahnya. Dia datang bersama anaknya.


“Nak Rizal, ini Ranty, anak saya. Dia baru pulang dari luar negeri. Nanti, untuk urusan kita dia


yang handle,” kata Pak Randy memperkenalkan Ranty.


Ranty tersenyum manis pada Rizal. Namun, Rizal tak menyadari bahwa Ranty sebenarnya


sudah lama mengetahui dirinya. Sejak pertama bertemu, dia langsung jatuh cinta. Namun, Rizal


tak mengetahuinya.


“Pak Rizal, kami senang bermitra dengan perusahaan anda,” kata Ranty sambil menerima jabat


tangan Rizal.


Rizal tersenyum ramah.


“Ya sudah,ayo kita bicarakan kerjasama kita di dalam,” ajak Rizal.


Mereka bertiga segera masuk ke ruang kerja Rizal dan membicarakan masalah bisnis. Agak


lama mereka bicarakan masalah bisnis. Hingga menjelang sore, Pak Randy dan Ranty kembali


ke kantornya. Sepeninggal mereka, Rizal termenung.


“Nissa, cantik sekali dia. Mana dia muslimah yang bertaqwa,” katanya mengangumi Nissa.


Rizal membuka kontak di hpnya. Sebelum berisah, dia sempat bertukar nomor telepon dengan


Nissa. Dia tersenyum.


"Uhm, Nissa. Aku begitu tertarik kepadamu. Semoga Allah mengrimmu


sebagai pendampingku, sebagai pelengkap tulang rusukku,” katanya dalam hati.


Sementara itu, di kantor Pak Randy, Ranty begitu senang. Dia begitu senang akhirnya dia bisa


menemui pujaan hatinya, yaitu Rizal. Dia teringat ketika pertama kalinya secara tak sengaja


bertemu Rizal di suatu tempat.


“Ternyata, kamu adalah Rizal,” bathinya.

__ADS_1


Ranty teringat kembali pertemuan pertamanya dengan Rizal sekitar setahun lalu.


---Ingatan Ranty---


Setahun sebelumnya, ketika dia masih kuliah di luar negeri. Kala itu, Ranty yang sedang cuti


kuliah memutuskan untuk berlibur di rumahnya. Dan sore itu sehabis reuni bersama teman


SMU nya, Ranty tengah kebingungan. Mobil yang dia kemudikan secara tiba-tiba mogok di tepi


jalan. Jalanan begitu sepi.


“Yah, Sial! Nih mobil kenapa mogok sih? Aneh …. “ Ranty menendang ban mobilnya.


Dia membuka kap mesinnya, dan keluarlah asap putih dari mesin mobilnya. Matanya begitu


perih terkena asap panas yang menerpa wajahnya.


“Ihh! Ini mobil pake ngeluarin asap segala.” Ranty mengucek matanya yang terasa perih.


Sejenak, dia memejamkan matanya, dan perlahan membuka matanya. Untuk sesaat


pandanganya kabur. Namun, akhirnya pandanganya kembali pulih. Dilihatnya sebuah mobil


tengah melintas.


Ranty yang membutuhkan pertolongan mencegatnya. Mobil itu berhenti di


dekat mobil Ranty yang mogok, dan turunlah pengemudinya. Ternyata, pengemudi itu adalah


Rizal.


“Maaf, Mbak. Mobilnya mogok?” tanyanya.


Ranty yang terpana dengan ketampanan Rizal terdiam. Rizal keheranan.


Dia pandangi Ranty


yang mematung. Dia lambaikan tangannya di depan wajahnya, namun Ranty tetap diam.


Karena Ranty diam, Rizal menjentikkan jarinya di depan Ranty.


CTAK! Dan lamunan Ranty buyar. Dia begitu gugup.


“Eh, Ma—Maaf, Mas,” kata Ranty gugup.


Rizal hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia kembali mengulang


pertanyaannya. Ranty akhirnya menjelaskan kejadian yang menimpanya. Rizal hanya


mengangguk. Dia mengecek mesin mobil itu. Dan, dia akhirnya menemukan akar masalahnya.


“Mbak, ini yang bermasalah adalah dua busi ini,” kata Rizal.


Ranty terdiam. Dia pandangi sekelilingnya tak ada bengkel.


“Aduh, sial aku hari ini. Mana tempat ini jauh dari bengkel lagi,” kata Ranty.


Rizal tersenyum. Dia pandangi busi itu.


“Mbak, tenang aja. Saya kebetulan ada busi yang sama. Memang, bekas sih, tapi masih bagus.


Gimana?” tanyanya.


“Yah, boleh dah. Daripada begini,” kata Ranty.


Rizal langsung mengambil busi bekas di mobilnya. Tak lama kemudian, Rizal memasangkan


busi itu di mobil Ranty. Setelah memasangkannya, dia coba menyalakan mesin mobilnya. Dan,


mobilnya kembali menyala. Ranty begitu senang.


“Mas, Maksih sudah bantu saya,” kata Ranty.


Rizal hanya tersenyum. “Iya, Mbak. Sama-sama. Udah, saya permisi dulu.” Katanya


berpamitan.


Ranty hanya tersenyum memandanginya. Rizal segera naik ke mobilnya, dan tancap gas


meninggalkan tempat itu. Ketika Ranty akan masuk, dia menemukan kartu nama Rizal di


joknya.


“Loh, kartu nama ini. Rizal? Dan, bukankah ini perusahaan relasi papa?” bathinnya.


Ranty menyimpan kartu nama Rizal. Dia segera pergi meninggalkan tempat itu. Sesmpainya di


rumah, dia tanyakan perusahaan itu. Dan, dari ayahnya dia tahu bahwa pemuda yang


menolongnya bernama Rizal.


“Rizal, kamu begitu menarik. Aku akan dapatkan kamu, Rizal,” katanya dalam hati sambil


tersenyum.


---Ingatan Ranty---


Di kamarnya, Ranty tersnyum memandangi kartu nama Rizal yang dia temukan di mobilnya. Dia


begitu senang akhirnya, dia bisa bertemu dengan Rizal.

__ADS_1


__ADS_2