
Dan, tak berapa lama kemudian, sampailah Dicky di rumah Ranty. Dia temui petugas kemanan di rumah Ranty.
“Pak, Ranty tengah mabuk. Bisa minta tolong buka gerbangnya?” kata Dicky pada satpam di rumah Ranty.
Satpam tersebut tak langsung membukanya. Dia melihat ke dalam mobil Ranty, dan ternyata Ranty tengah mabuk. Tercium aroma bau alkohol. Satpam itu langsung membuka pintu
gerbang, dan membiarkan Dicky memasukkan mobil Ranty di garasi.
Setelah mematikan mesin mobil, Dicky langsung membawa Ranty masuk ke dalam rumah. Dia membantu Ranty berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dicky membantu Ranty duduk di ruang tamu. Setelah mengantar Ranty ke dalam, Dicky berniat langsung pulang. Namun, Ranty kembali mengigau sambil memegangi tangan Dicky.
“Say, jangan tinggalin aku. Please … temani aku malam ini, Say,” pinta Ranty di tengah pengaruh minuman keras.
Dicky tersenyum manis. Namun, dia memiliki rencana lain. Dia berencana membuat Ranty menyesali memutuskannya.
“Say, maaf, hari sudah malam. Aku harus pulang,” kata Dicky.
“Nggak, Say. Tolong, temani aku malam ini, please … ,” pinta Ranty di bawah pengaruh minuman keras.
Tiba-tiba, ibunya yang terbangun dari tidurnya berjalan ke ruang tengah. Dia mendengar Ranty yang tengah mabuk langsung berjalan ke ruang tamu.
Dilihatnya, Ranty memegang erat tangan
Dicky seolah tak mau melepaskannya. Ibunya mendatangi Ranty, dan mencium aroma alkohol.
“Dicky! Kamu apakan Ranty?! Jujur, tante kecewa sama kamu, ****. Ranty itu sudah tunangan dengan Rizal,” bentak ibunya Ranty sambil menampar Dicky.
Dicky sejenak terkejut. Namun, dia menahan emosinya. Dia berusaha menenangkan dirinya. Dia akhirnya berhasil melepaskan pegangan tangan Ranty. Ranty yang tengah mabuk
akhirnya tak sadarkan diri. Dengan sabar, dia mulai menjelaskan apa yang dilakukan Ranty.
“Tante, mohon maaf. Saya tak bermaksud merusak hubungan pertunangan Ranty dengan Rizal. Saya sebenarnya hanya menolong Ranty yang tengah mabuk,” kata Dicky mulai
menjelaskan.
Dicky menceritakan kejadian di bar itu. dia ceritakan kejadian itu sesuai dengan apa yang dia lihat hingga akhirnya dia mengantarkan Ranty pulang ke rumah.
“Begitulah Tan ceritanya. Saya tak mengerti mengapa Ranty tiba-tiba ada di bar itu dan mengacau di sana,” kata Dicky.
Dicky menghela nafasnya. Dia kembali menlanjutkan perkataannya.
“Tan, memang saya sakit hati pada keputusan Ranty. Saya sakit hati kepadanya karena saya sudah terlanjur mengatakan pada kedua orang tua saya di kampung untuk melamar Ranty.
Orang tua saya sudah merestui, dan dia akan datang kemari. Namun, keesokan harinya ternyata Ranty justru memilih Rizal dan langsung bertunangan,” kata
Dicky berusaha menahan sakit hatinya.
Dia menghela nafas panjang, dan tanpa terasa matanya berkaca.
“Saya sakit hati karena itu, Tante. Tapi demi Tuhan, saya taka da maksud untuk merusak hubungan pertunangan ini, Tante,” lanjutnya.
Sejenak, ibunya Ranty terkejut. Diam-diam, dia mengagumi Dicky. Ibunya Ranty akhirnya menyadari kekeliruanya.
“Nak Dicky, tante mohon maaf. Tante salah sangka kepadamu,” kata Ibunya Ranty memohon maaf pada Dicky.
Dicky hanya tersenyum manis. Dia memahami perasaan ibunya Ranty.
“Oh, gak apa-apa Tante,” kata Dicky sambil menghela nafasnya.
Tak berlama-lama di sana, Dicky langsung pamit pulang. Ibunya mengantar Dicky ke luar. Ketika Dicky akan pergi, ibunya berkata pada Dicky.
“Nak, maafkan Ranty, ya. Jujur, Tante sebenarnya tak setuju dengan hal ini. Tapi, Ranty begitu manja,” kata ibunya Ranty.
“Sudah, Tan. Gak apa-apa. Semoga Ranty bahagia dengan Rizal,” balas Dicky.
Dicky segera berlalu dan berjalan keluar pagar rumah Ranty. Dia mencegat taxi yang lewat, dan langsung pergi dari sana. Di dalam taxi, Dicky tersenyum puas. Dia lihat foto-foto dan video di hpnya. Dia lihat Ranty yang begitu manja kepada dirinya, dan begitu mesra pada dirinya. Dia yang mengetahui kontak Rizal setelah mengintip handphone Ranty langsung mencatat di nomor handphonenya.
“Oke, Rizal. Kita mulai permainan ini,” kata Dicky dalam hati sambil tersenyum menyeringai.
Dia mengirim foto-foto dan dua video dirinya dan Ranty yang barusan dia rekam menggunakan hpnya. Dia kirimkan file-file itu melalui WhatsApp messenger, dan menuliskan pesan menohok untuk Rizal. Isi pesan itu,
__ADS_1
“Rizal, terima kasih loe udah biarin tunanganmu merana, dan kini dia
beralih kepada gue. Terima kasih loe udah kembalikan cinta dia kepadaku. See ya.”
Tak lama kemudian, sampailah dia ke tempat yang di kehendaki, Dicky langsung membayar sejumlah uang pada sopir taxi dan segera berlalu mengambil mobilnya yang terparkir, dan langsung pulang dengan senyum kemenangan.
Keesokan paginya, Rizal yang baru menyalakan hpnya terkejut melihat sebuah notifikasi dari nomor yang tak dikenal. Dia buka pesan itu.
“Loh, ini pesan apa maksudnya?” tanya Rizal.
Dilihatnya foto-foto mesra Ranty, dan juga dua file video yang dikirimkan Dicky. Rizal hanya menggelengkan kepalanya. Dia langsung menghubungi Ranty, namun tak di jawab. Rizal hanya
diam. Dia segera makan pagi dan berangkat ke kantor. Dia segera makan pagi dan berangkat ke kantor. Di tengah perjalanan, Rizal termenung. Ada sedikit rasa bersalah yang menghinggapi
hatinya. Dan, ketika tengah merenung, mobilya hampir menabrak pengendara motor yang tiba-tiba keluar dari sebuah gang.
"CKIIIIIT!!" Suara ban mobil Rizal bergesekan dengan aspal, dan meninggalkan jejak hitam. Beruntung Rizal cukup tanggap, dan mobilnya tak terlalu kencang, sehingga dia berhenti tepat di samping sepeda motor itu.
"Astaghfirullah ... Tuh motor gimana sih?" bathinnya sambil melepas sabuk pengaman dan turun dari mobilnya.
Dia hampiri pengendara motor yang sempat shock itu.
"Mbak. Gimana sih?! Kalo jalan lihat-lihat ...." Rizal terkejut ketika pengendara motor itu membuka helmnya.
Ternyata, pengendara motor itu adalah Nissa, wanita tang selama ini dia cari. Nissa menyadari kesalahannya. Dia berusaha tegar melihat sang mantan yang berdiri di depannya.
"Maaf, Mas. Saya tadi buru-buru sampai lupa tak melihat jalan," kata Nissa dengan nada menyesal.
Rizal yang merasa di khianati Ranty tersenyum manis. Hatinya begitu berbunga-bunga. Sejenak, dia termenung. Dia hanya memandangi Nissa tanpa berkedip. Nissa yang awalnya merasa bersalah manjadi heran. Dia pandangi Rizal yang diam mematung. Nissa yang menjadi
pusat perhatian pengguna jalan merasa risih.
"Mas, jalanan jadi macet loh. Mobil mas berhenti terlalu ke tengah," kata Nissa mengingatkan.
Rizal tersentak. Dan benar saja, terdengar suara klakson bersahutan, dan juga suara orang yang marah.
TIIIIIN .... TIIIIN .... TIIIIN. Suara berisik klakson di jalanan mengagetkan Rizal. Beberapa pengendara motor yang berhasil melewati kemacetan meneriaki Rizal dan Nissa.
"Bhuuuuu!!! Kasmaran malah bikin macet!" teriak seorang pengendara motor yang lain.
Rizal segera minta maaf, dan segera menepikan mobilnya. Setelah dia tepikan mobilnya, perlahan kemacetan di jalan itu terurai dan jalanan kembali lancar
"Nissa, kamu sekarang kerja di mana?" tanya Rizal berbasa basi.
Nissa sebenarnya ingin pergi, namun dia merasa tak enak jika langsung pergi. Nissa akhirnya menjawab pertanyaan Rizal.
"Aku sekarang mengelola toko busana muslim di komplek pertokoan permata, dekat komplek Gandaria. Aku di percaya seseorang untuk mengelolanya dengan pembagian hasil," kata Nissa sambil mulai memakai kembali helmnya.
Rizal manggut-manggut. Nissa segera berpamitan.
"Mas, udah dulu ya. Gak enak aku sama pemilik toko, soalnya ini jam kerja," kata Nissa segera menyalakan motornya dan langsung berlalu.
Rizal termenung sesaat. Ada rasa kagum, sekaligus berbunga-bunga setelah selama sebulanan tak bertemu Nissa, dan tak tahu kabar mengenai Nissa. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan menlajutkan perjalanan ke lokasi relasi kerjanya.
Sementara itu, di kampusnya Almira tengah menghadapi sidang skripsinya. Dia begitu deg-degan menunggu gilirannya. Setelah sekitar 10 menit dia menunggu, akhirnya giliran
Almira menghadapi sidang skripsi.
Sekitar dua puluh menitan sidang itu berlangsung. Beberapa dosen mengajukan beberapa pertanyaan mengenai skripsinya, dan Almira berhasil melaluinya dengan. baik. Akhirnya sidang skripsinya selesai, dan Almira dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude.
"Selamat, Almira. Anda telah lulus sidang skripsi dengan nilai A," kata Dosen pemimpin sidang sambil berjabat tangan dengan Almira.
"Terima kasih, Pak Aldi," balas Almira singkat.
Almira keluar dari ruang sidang dengan senyum puas. Beberapa teman kuliahnya
mendekatinya.
"Eh, Mira. Gimana sidangnya?" tanya Zahra, temannya yang juga menunggu giliran.
__ADS_1
"Alhamdulillah, berjalan lancar, Ra," balas Almira.
Zahra begitu berdebar-debar menunggu giliran. Dan, ketika itu, gilirannya menjalanj sidang. Zahra tampak begitu canggung.
"Duh, sekarang nih giliranku ... aku deg-degan," katanya pada Almira.
Almira tersenyum manis. Dia pegang lembut pundaknya.
"Tenang, Zahra..Berdoalah. Insya Allah kamh bisa lalui ini," kata Almira menyemangati temannya.
Zahra mengangguk, dan segera beraniak ke ruang sidang skripsi. Sepeninggal Zahra, Almira menghubungi Said untuk mengajaknya ketemuan.
Sementara itu, Ranty yang telah terbangun dari tidurnya melihat ada sebuah miss call di hpnya. Dia membukanya, ternyata panggilan itu
berasal dari tunangannya.
"Rizal?" bathinnya.
Ranty mencoba menelepon, namun terdengar nada sibuk. Ranty sedikit kecewa, namun dia berfikir mungkin tunangannya sedang sibuk. Buru-buru dia mandi dan bersiap untuk.bekerja.
Siang harinya, Ranty mendatangi kantor tempat Rizal bekerja. Dia bermaksud mengajaknya makan siang. Namun, dia kecewa setelah mendapat kabar dari resepsionis jika Rizal hari itu tak
pergi ke kantor.
"Maaf, Bu Ranty. Untuk hari ini, Pak Rizal sedang dinas luar. Dia ada jadwal meeting dengan. beberapa relasi, dan salah satunya di daerah Bandung. Mungkin, baru nanti sore atau malam
selesainya," kata petugas Resepsionis menjelaskan.
"Uhm, ya sudah Mbak. Terima kasih atas informasinya," kata Ranty menahan kekecewaannnya.
Dia segera berlalu dari tempat itu. Ranty mencoba menghubungi Rizal, namun handphonenya tak aktif.
"Ugh! Sial! Say, kamu koq gak kasih kabar kalo meeting seharian?" bathinnya.
Ranty begitu kecewa. Dia coba beberapa kali menghubungi Rizal, dan handphonenya tak aktif. Akhirnya, Ranty pergi sendiri ke sebuah cafe. Dia duduk di sebuah meja yang kosong, dan
segera memesan makan siang. Setelah menerima daftar pesanan, pelayan itu langsung menyiapkan pesanan Ranty.
Ranty terdiam sesaat, namun dia di kagetkan ketika pundaknya di tepuk seorang laki-laki di belakangnya.
Dia terkejut melihat Willy, teman kuliahnya di luar negeri.
"Wlly?" sapa Ranty.
"Ranty? Iiih, udah lama loh kita gak ketemu," kata Willy dengan nada senang.
Ranty mempersilahkan Willy duduk. Mereka akhirnya melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu sang mantan. Mereka terlibat dalam percakapan ringan. Percakapan mereka sempat
terputus ketika pesanan Ranty datang.
"Willy, temani aku makan siang ya. Please ... aku langen banget sama kamu," pinta Ranty dengan nada manja.
"Ya, deh. Aku pesen minuman aja deh, soalnya aku tergesa," kata Willy.
Ranty menyetujuinya. Dia kembali memesan minuman untuk Willy. Mereka akhirnya kembali terlibat dalam sebuah percakapan ringan. Sesekali, Willy memandang ke suatu tempat sambil
tersenyum. Ranty keheranan.
"Will, koq kamu beberapa kali lihat ke situ?" kata Ranty dengan nada manja sambil melihat ke arah itu.
Willy hanya tersenyum.
"Uhm ... gak apa-apa. Cuman, aku ingat ketika kita pertama jadian di cafe ini," kata Willy mengenang masa lalu.
Dari percakapan itulah, Ranty mulai hanyut dengan nostalgia masa lalu, dan merasakan kembali cintanya pada Willy, sang mantan yang pernah menjalin hubungan cinta di masa lalu.
Ranty tak menyadari jika kehadiran Willy itu adalah skenario yang diatur Dicky. Dari tempat yang tersembunyi, Dicky melihat Ranty yang begitu manja menyandarkan kepalanya di bahu
Willy. Dia memotret momen kemesraan mereka dan menyimpannya.
__ADS_1
"Good Job, Willy," kata Dicky dalam hati.