
Sejak kepergian Ranty ke Amerika, pertemanan Rizal.dan Nissa kembali.erat. Benang-benang
cinta pun terbentuk kembali. Beberapa bulan kemudian di sebuah cafe, Rizal mengajak Nissa makan siang.
"Nissa, uhm ... ," kata Rizal sambil menenangkan dirinya.
Nissa tersenyum keheranan melihat Rizal yang tampak gugup.
"Zal. Koq kamu kelihatan gimana gitu?" kata Nissa sambil tersenyum simpul.
Dilihatnya Rizal berkeringat seperti orang yang habis berlarian. Rizal tersenyum malu.
"Nissa. Setelah apa yang kita lalui, entah mengapa aku ingin ... uhm ... ingin mengulang kembali masa-masa indah kita." Rizal berdehem sebentar.
Dia kembali pandangi Nissa dengan tatapan syahdu. Rizal yang tampak canggung akhirnya memberanikan diri memegang tangan Nissa.
"Nissa, aku ingin melamarmu," kata Rizal.
Bak di sambar geledek, Nissa terdiam. Dia tampak terkejut mendengar pernyataan Rizal.
"Rizal. Aku tak tahu harus bagaimana menjawabnya," kata Nissa.
Nissa kembali teringat masa-masa indahnya bersama Rizal, namun ada kekhawatiran jika masa indah itu kembali terkoyak. Dia hanya diam sambil meminum sedikit minuman di depannya.
"Jujur. Aku begitu senang akhirnya kau nyatakan cintamu kepadaku. Perasaanku kepadamu juga tak berubah. Namun, aku masih sedikit trauma dengan yang pernah terjadi," kata Nissa.
Rizal mengangguk. Dia pahami trauma yang di alami Nissa.
"Baiklah, Nissa. Aku mengerti. Kamu gak harus jawab sekarang," kata Rizal berusaha bersabar.
"Terima kasih atas pengertianmu, Rizal. Aku perlu waktu beberapa saat untuk mengatasi kebimbanganku," kata Nissa.
Sejenak, mereka saling pandang. Dan mereka kembali menjalani pertemanan mereka seperti biasa.
Tak terasa, jam istirahat telah berakhir. Mereka segera kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
Sementara itu, di California hari telah malam. Ranty tengah sibuk melayani mengecek keuangan restoran milik tantenya. Ketika tengah mengecek, tantenya datang membawakan
minuman hangat.
"Ranty, ini teh hangat buat kamu,* kata Reny, Tantenya.
Ranty tersenyum.manis. Dia cicipi teh hangat itu.
"Terima kasih, Tante," kata Ranty sambil terus mengerjakan pekerjaannya.
Reny tersenyum manis.
"Makasih loh kamu udah repot-repot datang kemari buat ngegantiin kerjaan tante sementara. Maklumlah, anak tante masih kecil," kata Reny.
"Gak apa-apa, Tan. Lagian, Ranty senang dengan suasana di sini," balas Ranty.
Reny melihat cincin pertunangan di jari manis Ranty. Dia yang mengetahui rusaknya pertunangan Ranty merasa penasaran.
"Ranty, kamu masih jalan sama ... siapa tuh? Rizal?" tanya Reny.
Ranty memandangi sejenak cincin pertunangan itu.
"Uhm ... nggak, Tan. Cincin ini hanya tinggal kenangan," kata Ranty.
Terdengar suara bayi menangis.
"Waduh, Rheiner nangis. Tante tinggal dulu ya," kata Reny.
Ranty hanya mengangguk. Dia teruskan pekerjaannya. Akhirnya, selesailah pekerjannya. Dia nikmati teh hangat itu sambil memandangi pemandangan melalui jendela rumah tantenya.
"Uhm ... tenang rasanya," kata Ranty dalam hati.
Dia kembali memandangi cincin di tangannya. Dia lepas cincin pertunangan itu dari jari manisnya.
"Cincin ini ... sebuah kenangan manis, namun menyakitkan. Apakah pantas aku
menggunakannya?" bathinnya.
Ranty hendak menyimpannya, namun dia kembali teringat Nissa. Dia ingat ketika Nissa justru memasangkan cincin itu setelah dia melepasnya.
"Baiklah, Nissa. Demi kamu, demi persahabatan kita, aku akan tetap pakai cincin ini," katanya dalam hati.
Ranty yang merasa lelah setelah bekerja langsung berbaring. Dia mendengarka. lantunan lagu Roller Coaster dari Taylor Swift sambil berbaring di tempat tidurnya.
Waktu di California menunjukkan dini hari. Ranty baru saja terlelap setelah seharian bekerja.
Sementara itu, di Jakarta malam baru saja tiba. Adzan isya begitu keras berkumandang. Nissa buru-buru mengambil air wudhu dan melakukan sholat isya'. Dalam doa nya, dia menangis haru.
"Ya Allah Ya Rabb, Hamba mohon petunjuk-Mu. Hamba tengah kembali jatuh cinta pada seorang pria. Berilah hamba jalan yang terbaik, Ya Allah," kata Nissa dalam doanya.
__ADS_1
Agak lama Nissa berdoa. Dan setelah doa penutup, Nissa melanjutkan dengan mengaji.
Di lokasi lain, Rizal yang baru saja melaksanakan sholat isya tengah melakukan wirid, lalu berdoa.
"Ya Allah Ya Rabb. Hamba begitu menyayangi Nissa, namun hamba masih begitu was-was jika hamba salah," kata Rizal.
Dia diam sesaat. Rizal kembali melanjutkan perkataan dalam do'anya.
"Ya Allah Ya Rabb, jika memang Nissa dan Hamba berjodoh, permudahkanlah langkah hamba. Namun, jika dia bukanlah jodohku, berilah aku dan dia keikhlasan untuk menerimanya.
Rabbana Aatina Fiddunya Hasanah, Wafil Akhiroti Hasanah waqina 'adza bannar," lanjutnya sambil menutup do'a.
Setelah selesai berdo'a, Rizal tampak tenang dan pasrah menghadapi hari-hari selanjutnya.
Dua hari berlalu. Pagi itu, Rizal pergi ke toko uang di kelola Nissa. Dia sengaja menemui Nissa untuk memesan busana wanita
"Ya, Masuk," kata Nissa dari dalam.
Rizal masuk dengan senyum manisnya. Nissa yang melihat Rizal terkejut.
"Bu, saya mau pesan busana wanita," kata Rizal berpura-pura memesan busana.
Nissa tersenyum ramah.
"Baik, busana untuk acara apa?" tanya Nissa.
"Busana untuk acara tasyakuran sih, sebenarnya. Tapi saya mau pesankan buat calon tunangan saya," kata Rizal dengan nada tenang.
Deg! Nissa sempat tersentak. Dia diam sejenak karena terkejut. Ada perasaan sakit di hatinya, namun dia berusaha mengabaikannya.
"Uhm ... Baik. Sebentar, saya ambil design buatan saya," kata Nissa sambil membuka laci meja kerjanya.
Dia keluarkan katalog rancangannya dan memberikannya pada Rizal.
"Uhm ... ini juga pilihan bahan-bahannya, Pak. Silahkan di pilih," kata Nissa sambil memberikan katalog bahan.
Rizal tampak serius melihat-lihat rancangan busana itu. Dia membuka katalog itu, dan tampak serius memlih. Dia pandangi katalog design dan bahan itu secara bergantian. Setelah agak
lama, akhirnya terpilihlah model dan bahan yang diinginkan.
"Baik, Bu Nissa. Saya pilih design yang ini dan bahan ini dengan warna turkish," kata Rizal.
Nissa keheranan dengan pilihan Rizal. Dia mengernyitkan dahinya.
"Loh, koq pesanan dia mirip dengan seleraku? " tanyanya dalam hati.
"Uhm, baiklah, Pak. Pesanan akan segera day kerjakan. Uhm ... tapi mana calon tunangannya?" tanya Nissa keheranan
Rizal tersenyum manis. Dia mengeluarkan sebuah bunga yang terbuat dari kain.
"Oh ya, Bu. Jangam lupa ya, nanti bunga kain ini di sertakan di busana yang saya pesan," kata Rizal sambil menahan tawa.
Rizal memberikan bunga kain itu pada Nissa.
"Loh, koq selera dia kebetulan sama dengan aku?" tanyanya dalam hati.
Nissa makin terkejut. Dia tahu itu bunga kesukaannya. Dilihatnya di tangkai bunga, ternyata terdapat sebuah tulisan.
"Nissa, Menikahlah denganku. By Rizal"
Nissa terkejut membaca tulisan itu. Hantinya begitu berbunga-bunga. Belum sempat dia berkata, Rizal.mengeluarkan sebuah cincin.
"Nissa, aku ingin melamarmu. Aku sudah mentap memilihmu sebagai pendamping. Dan pagi ini, orang tuaku sudah ke rumahmu untuk melamarmu," kata Rizal sambil mengeluarkan teleponnya.
Dia menghubungi ibunya.
"Halo, Ma. Ini Rizal. Rizal sudah bertemu Nissa," kata Rizal.
"Oh ya, Nak. Mama boleh bicara pada Nissa?" tanya ibunya melalui telepon.
"Boleh, Ma. Sebentar," balas Rizal sambil memberikan teleponnya pada Nissa.
Nissa begitu deg-degan. Dia terima telepon itu dan mulai berbicara.
"Iya, Tante. Di sini Nissa," kata Nissa melalui telepon.
"Nissa, tante dan Om sudah berbicara dengan ayah dan ibumu. Jika kamu terima Rizal, dua bulan kalian akan kami nikahkan. Bagaimana, Nissa?" tanya Farida melalui telepon.
Nissa seolah tak percaya. Dia pandangi sejenak Rizal di depannya. Nissa tersenyum simpul. Rizal menatap Nissa dengan perasaan deg-deg an.
"Ya Allah. Semoga Nissa menerima lamaranku," bathinnya.
Setelah menghela nafas, Nissa akhirnya menjawab pertanyaan Farida
"Iya, Tante. Saya mau menerima Rizal," katanya.
__ADS_1
Rizal begitu senang. Agak lama Nissa bercakap-cakap dengan Farida. Setelah itu, Nissa mengembalikan handphone itu. Rupanya Farida telah menutup panggilannya.
"Mas, jadi kamu pesan busana buat aku?" tanya Nissa.
"Alhamdulillah, iya. Aku sudah mantap memilihmu, Nissa," kata Rizal dengan senyum manis.
Dia genggam erat kedua tangan Nissa.
"Nissa, terima kasih kau sudah menerimaku," lanjutnya.
Nissa hanya diam dan tersenyum manis. Sejak hari itulah, Nissa dan Rizal kembali menjalani manisnya cinta mereka. Dan kali ini, hubungan mereka telah mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Malam harinya, di California Ranty yang telah sembuh total dari kecelakaan itu tengah menunggu pesawat untuk terbang ke Jakarta. Sudah sejam dia di sana. Dibukanya IG nya, dan dia melihat Rizal.dan Nissa yang kembali bersatu. Ranty tersenyum manis seolah bebannya hilang.
"Attention. For flight passengers to Jakarta, please prepare to the plane." Suara wanita terdengar melalui pengeras suara.
(Perhatian. Untuk penumpang penerbangan ke jakarta silahkan bersiap ke pesawat)
Ranty segera membawa kopornya dan bersiap naik ke dalam pesawat. Dia mengirim pesan pada Fahmi sebelum akhirnya dia matikan hpnya.
Dan, tak lama kemudian, pesawat yang di tumpangi Ranty akhirnya terbang ke Jakarta. Tepat tengah malam, Ranty tiba di bandara Soekarno Hatta. Fahmi telah menunggunya.
"Say, Kamu pasti lelah. Kita makan dulu yuk," ajak Fahmi.
"Iya, Say. Aku kangen dengan masakan Indo," kata Ranty sambil menggandeng mesra tangan Fahmi.
Mereka segera naik mobil dan pergi meninggalkan bandara. Rupanya, sejak kecelakaan itu, Ranty akhirnya justru jatuh hati pada Fahmi. Ketika di Amerika, dia diam-diam dia menjalin hubungan dengan Fahmi. Waktu terus berjalan.
Dua bulan kemudian, di rumah Rizal tengah dilangsungkan akad nikah antara Rizal dan Nissa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Rahmatus Saudah binti Mochammad Karim dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," kata Rizal menucapkan akad nikah tersebut.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" jawab para saksi.
Akhirnya akad nikah pun di tutup. Rizal dan Nissa begitu bahagia. Tampak pula Izam dan Syifa hadir bersama buah hati mereka. Lalu, Dicky dan Vonny yang baru memiliki anak.
"Nissa, selamat ya," kata Syifa memeluk hangat Nissa.
"Terima kasih, Fa," kata Nissa.
Izam tersenyum melihat kebahagiaan mantan bawahannya. Dia berjabat tangan dengan Rizal.
"Selamat ya, semoga jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah," kata Izam pada Rizal.
"Thanks, Izam," balas Rizal singkat.
Dicky dan Vonny juga memberi ucapan selamat pada Rizal dan NIssa.
"Bhro, selamat berbahagia," kata Dicky dengan senyum manisnya pada Rizal.
"Thanks, Bhro. Anak lo lucu banget," kata Rizal sambil mencolek bayi yang di gendong Vonny.
Dicky tersenyum manis. Vonny agak lama berbincang dengan Nissa.
"Niss, selamat ya," kata Vonny.
"Iya, makasih. Uhm, Von. Tunggu Ranty ya. Dia segera datang. Kabarnya dia bawa gebetan barunya," kata Nissa tersenyum.
"Gebetan? Koq kayak anak SMA?" kata Vonny keheranan.
"Udah, tunggu aja," balas Nissa tersenyum.
Dan tak lama kemudian, Ranty datang bersama Fahmi. Vonny dan Dicky tak menyangka jika Ranty ternyata justru menjalin hubungan serius dengan Fahmi.
"Nissa, selamat berbahagia," kata Ranty memeluk hangat Nissa.
"Terima kasih, Ran," kata Nissa.
Ranty memberikan cincin tunangannya pada Nissa. Dia tersenyum manis.
"Nissa, ambillah cincin ini, karena cincin ini telah di gantikan dengan yang baru," kata Ranty menunjukkan cincin di jari manisnya.
Nissa menerimanya, namun dia keheranan.
"Loh, itu cincin dari siapa, Ran?" tanya Nissa.
Tanpa di komando, Fahmi menjawab dengan wajah lucu.
"Dari saya. Kami.baru saja bertunangan," kata Fahmi.
Mereka berempat tertawa terbahak-bahak. Rupanya Ranty kini tengah menjalin hubungan serius dengan Fahmi.
"Oh ya, Bhro. Untuk hemat biaya, bulan depan datang ya ke acara pernikahan saya dan Ranty, si cantik sejagat semut," kata Fahmi tertawa ringan.
__ADS_1
Mereka berenam tertawa mendengar lelucon Fahmi. Kebahagiaan pagi itu begitu terasa. Rizal dan Nissa tak henti-hentinya bersyukur pada Allah SWT.
TAMAT