
Sore harinya, sepulangnya dari kantor, Rizal kembali mampir di taman kenangannya bersama Nissa. Dia duduk di sebuah bangku di mana dia dan Nissa biasa duduk. Sambil memakan roti yang tadi di belinya, dia amati sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Andai aku jadi menikah dengan Ranty, apakah mungkin aku seperti mereka?" bathinnya.
Rizal terus memandangi keluarga kecil yang tengah bercengkrama di deoannya. Rupanya, sang anak melihat Rizal yang tengah melamun. Dia berlari menghampiri Rizal.
"Aji, kamu kemana?" panggil ibunya yang keheranan.
Anak kecil itu tak menggubrisnya. Dia tetap berlari mendatangi Rizal yang tengah melamun. Ayahnya mengejarnya. Ketika anak itu di dekatnya, Rizal terkejut. Dia pandangi anak itu.
"Mas, maaf. Ini anak saya," kata ayah dari anak itu.
"Oh, tak apa-apa. Anaknya lucu," balas Rizal dengan senyum ramah.
Rizal mengajak keluarga kecil itu duduk di sebelahnya. Dengan nada polos, anak itu bertanya pada Rizal.
"Om, koq dari tadi ngelihatin aku?" tanyanya dengan nada polos.
Rizal terkejut. Dia tersenyum mendengarnya. Dengan lembut, di belainya kepala bocah kecil itu.
"Om gak apa-apa, Nak," jawab Rizal.
Karena bocah kecil itulah, Rizal terlibat dalam sebuah percakapan ringan dengan ayah dari anak itu. Ibunya tengah sibuk menemani bocah kecil yangmenyapanya. Tak lama mereka berbincang-bincang.
"Mas, aku harus pulang dulu, udah mu maghrib," kata orang itu.
Rizal memandangi jam tangannya.
Dilihatnya langit mulai petang.
"Iya, Mas. Makasih sudah diingatkan," kata Rizal yang akan beranjak.
Keluarga kecil itu segera pulang. Rizal seperti enggan untuk pergi dari tempat itu. Sejenak, dia duduk mengenang kisah manisnya yang telah sirna, sebelum akhirnya dia beranjak dan pergi ke masjid untuk sholat manghrib.
Malam harinya, Rizal yang baru tiba di rumah terkejut dengan kedatangan Ranty. Rupanya, Ranty telah menunggunya pulang. Ayahnya menemaninya di ruang tamu. Melihat Rizal yang baru pulang, ayahnya langsung memarahinya.
"Rizal! Kamu ini bagaimana sih? Masak janji sama tunanganmu bisa lupa?" tegur ayahnya.
Rizal hanya diam di marahi ayahnya. Ayahnya kembali menegurnya.
"Rizal, kamu habis darimana sih? Tadi papa telepon ke kantor, katanya kamu gk lembur. Kamu nemui Nissa ya?" Ayahnya menatap Rizal dengan nada curiga.
"Maaf, Pa. Rizal akan jujur. Rizal memang mencintai Nissa. Tapi, Rizal sadar siapa Ranty. Rizal faham Ranty tunanganku, dan juga calon istriku. Tapi, Pa. Rizal hanya mencintai Nissa," kata Rizal berusaha sabar.
Plak!! Tamparan keras ayahnya mendarat di pipi kirinya.
"Dengar, Rizal! Lupakan Nissa. Dia hanya masa lalumu. Masa depanmu adalah Ranty," bentak ayahnya.
Rizal menunduk. Dia terdiam. Ayahnya menghela nafas panjang. Dia kembali tenang.
"Rizal, papa minta kamu jangan membantah. Sudah, temui Ranty," kata Ayahnya sambil berjalan ke ruang tengah.
Rizal terdiam menahan tangis. Matanya berkaca. Dia berusaha mengendalikan dirinya. Setelah tenang, dia temui Ranty di ruang tamu. Rizal berusaha ramah kepada Ranty.
"Say, koq dari tadi pesanku tak kau balas? Kamu bosan ya dengan pertunangan kita?" tanya Ranty dengan nada manja.
__ADS_1
Rizal tampak kurang suka dengan gaya bicara Ranty. Dia menatap Ranty dengan sorot mata datar. Dia keluarkan hpnya.
"Tuh, lihat! Hpku lagi drop. Aku lupa gak bawa charger," kata Rizal.dengan nada ketus.
Rizal kembali melanjutkan perkataannya.
"Gak hanya kamu yang tak kubalas pesannya karena ini. Beberapa relasi ku juga begitu," lanjutnya.
Ranty mencoba menyalakan hp itu, ternyata tak bisa. Dengan rasa jengkel, dia taruh hp itu.
"Say, maafkan aku. Aku janji akan lebih percaya kepadamu. Tapi, aku sejujurnya tulus mencintaimu," kata Ranty meminta maaf.
Rizal hanya diam.menghela nafas. Dia ambil kembali handphonenya. Ranty yang begitu mencintai berusaha membujuk Rizal. Dia berusaha mencairkan kebekuan diantara mereka.
Demi ayahnya, akhirnya Rizal mulai menanggapi perkataan Ranty. Namun, dalam hatinya dia tetap memikirkan Nissa.
Di tempat lain, Dicky tengah berada di cafe. Dia duduk sendiri di sana. Tak lama kemudian, datanglah Vonny dan langsung duduk di depan Dicky.
"****, udah lama nih nunggunya?" tanya Vonny.
"Uhm … nggak koq. Baru aja datang," balas Dicky.
Vonny berfikir sejenak. Dia melihat Dicky seperti mencari apa yang beda.
"Dicky, tunggu. Koq kamu ada yang beda ya?" tanya Vonny.
Dicky keheranan. Dia pandangi dirinya sendiri, dan sesekali menciumi parfumnya. Dengan mengernyitkan dahinya, Dicky balik bertanya pada Vonny.
"Ada yang beda gimana? Parfumku sama, terus aku ya begini. Lalu, bedanya apa?" Dicky mencoba tersenyum
"Bedanya, tumben kamu ngajak aku ketemuan tanpa si doi," balas Vonny.
Dicky berusaha tersenyum. Dia tahan sakit hatinya. Dia diam sejenak, dan menghela nafas panjang.
"Von, Kita baru putus. Ini buktinya," kata Dicky dengan nada berat.
Dia merogoh saku celananya, dan menunjukkan cincin yang di kembalikan Ranty. Dicky menahan kesedihannya. Dia berusaha tersenyum pada Vonny.
"Von, ini adalah hadiahku untuk Ranty. Aku berikan ini sebagai tnda cinta. Namun, dia khianati aku demi pacar orang lain," lanjutnya.
Dicky memandang jauh ke depan. Dia mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Dia hembuskan asap rokoknya kuat-kuat.
"Uhm … kadang ada untungnyz juga jadi ahli hisab," kata Dicky sambil memaninkan rokoknya.
Vonny keheranan. "Ahli hisab? Hisab apaan nih? Kalo bisa hisab debu, mau dong di hisapin," balas Vonny dengan nada bercanda.
Dicky tersenyum tipis. Tak lama dia tersenyum, wajahnya kembali murung. Vonny menatap Dicky yang tampak sedih. Dia seolah tak percaya Ranty berbuat sejauh itu pada Dicky.
"Yah, aku gak nyangka ya, Ranty segitu tega sama kamu. Padahal kamu kurang apa? Aku gak faham deh ama maunya tuh anak. Yang lajang gak dikejar, malah kejar yang udah ada gandengan," kata Vonny.
Dicky tetap diam. Vonny kembali melanjutkan ucapannya.
"Dicky, kamu yang sabar. Cewek kan banyak. Kamu pasti bisa lalui ini," kata Vonny sambil memegang lembut pundak Dicky.
Dicky terkejut. Dia pandangi Vonny yang tersenyum lembut memberinya semangat. Dicky membalas senyum manis Vonny.
__ADS_1
"Terima kasih, Von. Yuk kita pesan minuman," ajak Dicky.
Vonny menyetujuinya. Mereka memesan minuman di cafe itu. Sambil menikmati minuman di depannya, Vonny berterima kasih pada Dicky karena dia telah menemukan orang yang bisa mengelola toko busana muslim miliknya. Tampak terdengar canda ringan diantara keduanya.
Tanpa terasa, sebulan berlalu. Kenyataan pahit yang dialami Rizal rupanya menyebabkan Dicky begitu terpukul. Dia yang begitu mencintai Ranty tak terima dengan perjodohan Ranty dan Rizal.
Pagi itu, ketika melihat Rizal yang tengah termenung sendiri di taman, Dicky mendatanginya.
"Rizal, gue mau bicara," kata Dicky.
Rizal memandangi Dicky dengan tatapan keheranan. Dia diam sejenak.
"Maaf, anda siapa?" tanya Rizal.
Dicky hanya tersenyum simpul. Dia langsung duduk di sebelah Rizal. Dan tanpa di persilahkan.
Dicky langsung berbicara pada Rizal.
"Loe tahu Nissa? Annisa Rahmatus Saudah?" tanya Dicky.
Rizal terkejut. Dia teringat kekasihnya yang di kenalnya sekitar beberapa bulan lalu. Dia sudah lama tak mendapat kabarnya. Dicky kembali melanjutkan pembicaraannya.
"Rizal, dia begitu shock setelah dengar kabar pertunanganmu dengan Ranty. Dan asal loe tahu, gua adalah orang pertama yang kecewa dengan pertunangan loe," lanjutnya.
Rizal menatap Dicky dengan wajah sedih. Dia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, jangan anda kira saya menginginkan ini. Saya muak dengan perjodohan ini. Saya begitu sayang kepadanya," kata Rizal.
Dicky tersenyum sinis menatap jauh ke depan.
"Heh! Loe sayang dia? Beneran saang dia? Putusin pertunanganmu dengan Ranty, atau gue yang bertindak. Camkan itu!" balas Dicky langsung bangkit dari duduknya.
Baru berjalan beberapa langkah, Dicky terkejut merasakan tangannya di pegang Rizal.
"Oke, aku akan cari cara buat akhiri perjodohan ini. Tolong, beri tahu di mana Nissa?" kata Rizal.
Dicky hanya tersenyum. Dia mencatat sebuah nomor handphone di sebuah kertas, dan memberikannya pada Rizal.
"Telepon aja itu nomor," tukas Dicky sambil berlalu.
Rizal memandangi nomor telepon itu. Dia segera menghubunginya. Dan ternyata tersambung.
Di tempat kerjanya, Nissa yang tengah mendesain busana muslim pesanan pelanggan terkejut melihat ada panggilan masuk di handphonenya. Nissa menerimanya.
"Halo, dengan siapa saya bicara?" jawab Nissa.
Rizal tercekat. Perasaan bersalahnya muncul. Dengan mata berkaca, Rizal seolah tak mampu berbicara. Mulutnya seolah terkunci. Nissa keheranan. Dia mendengar suara tawa anak kecil di sekitar.
"Halo, maaf dengan siapa saya berbicara?" tanya Nissa.
Mendadak telepon ditutup. Nissa keheranan, namun dia akhirmya kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara itu, di taman Rizal duduk termenung. Dalam hati, dia begitu bahagia mendengar suara lembut Nissa, namun perasaan pedih dia rasakan.
"Ya Allah. Pernikahan hamba makin dekat, namun hingga saat ini, hamba belum mampu mencintai Ranty, calon oengantin wanita untukku. Ya Allah, berilah hamba petunjuk-Mu untuk lalui ini," doanya dalam hati.
Tanpa terasa, air mata Rizal menetes. Dia begitu kebingungan mengatasi masalah yang menimpanya.
__ADS_1