Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Rencana Licik Ranty


__ADS_3

Siang harinya, Ranty datang mengajak Rizal makan siang. Dengan alasan bisnis, Rantyberhasil membujuk Rizal untuk makan siang bersamanya. Namun, di tengah jalan, Rizal teringat akan perbuatan Ranty. Emosinya kembali muncul.


"Ranty, ada yang mau aku tanyakan sama kamu," kata Rizal dengan menahan emosinya.


Dengan tetap fokus menyetir, Rizal melanjutkan pembicaraannya.


"Ranty, tadi pagi, aku berantem sama Nissa perkara foto yang kamu kirimkan kepadanya. Kamu koq tega sih merusak hubunganku dengan Nissa?" tanyanya dengan nada marah.


Ranty terkejut. Dia sedikit shock melihat Rizal yang tampak sangat marah. Namun, Ranty tidak merasa bersalah. Dia justru tertawa simpul.


"Rizal … Rizal. Kenapa sih kamu tak peka kepadaku?" tanya Ranty seolah mentertawakan Rizal.


Rizal makin marah. Dia tak daoat mengendalikan emosinya. Dia langsung menepikan mobilnya dan menghentikannya.


"Rizal? Koq berhenti di sini?" tanya Ranty keheranan.


Rizal tak menjawab pertanyaan Ranty. Dia langsung turun dari mobilnya, dan duduk di kap mobil itu. Dia hanya diam menatap jauh ke depan. Ranty yang keheranan menghampirinya. Dia


coba memegangi pundaknya, namun Rizal menepisnya. Dia pandangi Ranty dengan wajah marah.


"Ranty! Kamu ini apa-apaan!" bentaknya pada Ranty.


Rizal menatap Ranty dengan wajah marah. Kemarahannya memuncak.


"Rizal, salahkah aku jika mperjuangkan cintaku kepadamu?" tanya Ranty dengan wajah serius.


"Tidak, Ranty. Tapi tindakanmu justru membuat aku malu!" bentaknya.


Rizal begitu marah. Dia menatap jauh ke depan, dan menghela nafas panjangnya. Dia kembali pandangi Ranty dengan sorot mata tajam.


"Dan, satu lagi. Kamu ini begitu dingin ya. Ranty … Ranty. Aku tak tahu harus berkata apa lagi mengenaimu," lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua kembali terdiam. Terdengar Rizal berulang kali membaca istighfar. Dia hanya diam di depan mobilnya sambil menatap jauh ke depan.


Ranty kembali menatap wajah Rizal dengan ekspresi serius. Dia memegangi kedua tangan Rizal, namun Rizal menepismya.


"Rizal, maaf jika perbuatanku salah. Tapi aku bisa jelaskan mengapa aku lakukan itu," kata Ranty mencoba memohon maaf.


Rizal memandangi Ranty. Dengan senyum tipis, dia menatapnya.


"Owh. Oke. Sekarang jelasin!" balas Rizal dengan nada ketus.


Ranty berusaha tampak tenang. Dia pandangi Rizal.


"Rizal, aku melakukan ini semua demi kamu. Aku mencintaimu, Rizal. Aku tak ingin Nissa ataupun wanita lain bersanding denganmu. Aku hanya ingin kau temani aku di sisa hidupku," kata Ranty dengan sungguh-sungguh.


"Tapi, Ranty. Aku tak mencintai kamu. Aku mencintai Nissa seorang. Jika kau mencintaiku, biarkanlah aku bersama Nissa," balas Rizal.


"Tidak, Rizal. Pokoknya, aku ingin bersanding denganmu," balas Ranty dengan nada sengit.


Rizal yang begitu marah kembali diam. Dia hanya berkata singkat.


"Kamu sakit jiwa, Ranty!" balasnya singkat seolah kehabisan kata-kata.


Dengan marah, Rizal segera masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya. Ranty hendak masuk ke dalam mobilnya, namun Rizal.langsung mengunci pintunya.


"Rizal! Rizal! Buka pintunya!" teriak Ranty sambil menggedor pintu mobilnya.


Rizal tak menggubrisnya. Berulang kali dia menggedor pintu mobil Rizal, namun sedikitpun dia tak memandangny. Dia nyalakan mobilnya dan langsing tancap gas. Dia meninggalkan Ranty di tepi jalan.

__ADS_1


"Iiihh!! Brengsek kamu , Rizal!" teriaknya.


Ranty menatap nanar mobil Rizal yang terus menjauh.


"Awas kamu, Rizal. Aku gak akan lepasin kamu. Lihat aja, aku pasti akan dapetin kamu," katanya dengan nada marah.


Sejenak Ranty terdiam. Dia begitu kebingungan karena jalanan di sana terlampau sepi.


"Yah, Sial! Mana mobilku di kantornya Rizal. Begonya aku. Ngapain aku pake mobilnya dia?!" bathinnya.


Dilihatnya jalanan itu. Begitu sepi, dan tak ada kendaraan umum di sana.


Namun, nasib baik berpihak kepadanya. Dicky yang kebetulan lewat situ melihat Ranty yang kebingungan di pinggir jalan.


"Lho, koq Ranty di sini?" tanyanya dalam hati.


Dia hentikan mobilmya, dan segera turun. Dia berlari mendekati Ranty yang tempak kebingungan. Di tepuknya pundak Ranty.


"Sayang, koq kamu sendirian di sini?" tanyanya dengan senyum manis.


Ranty melihatnya dengan wajah jutek. Dia berusaha tersenyum di tengah kelecewaannya.


"Yah! Dia lagi. Tapi, apa boleh buat. Terpaksa deh!" pikirnya


"Uhm … Aku tadi … bawa mobil. Tapi, karena mobilku mogok, aku jalan sejauh ini buat cari bengkel," kata Ranty dengan nada gugup.


Ranty tampak gugup berusaha menutupi pernasalahann sesungguhnya. Dicky yang mendengar alasan Ranty tampak keheranan.


"Oh, baiklah. Bagaimana jika mobilmu aku derek? Yuk, naik. Tunjukin di mana mobilmu," ajak Dicky sambil berlalu.


Ranty begitu kebingungan. Dia menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal, sementara Dicky yang mengira Ranty di belakangnya sibuk mengajaknya bicara.


"Duh! Gimana nih?! Nanti kalo Dicky tahu mobilku di kantornya Rizal, yang ada malah dia ketawain gue … ," bathinnya.


"Sayang, aku punya kejutan untukmu. Aku sudah beli …. " Dicky yang menoleh ke belakang begitu keheranan."Loh! Kemana Ranty?" lanjutnya keheranan.


Dia mencari kekasihnya, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Ranty yang masih di tempatnya sambil menggaruk rambutnya.


"Yaelah, Ranty … ," katanya dalam hati.


Dia segera berjalan mendekati Ranty. Dicky tersenyum simpul melihat Ranty yang tampak kikuk.


"Yaelah, Sayang. Aku kira udah jalan, eeeh, ternyata masih disini. Udah, ayo jalan," ajaknyasambil menarik tangan Ranty.


Ranty tak ada pilihan. Dia terpaksa mengikuti Dicky yang berjalan ke mobilnya. Setelah mereka berdua naik mobil, Dicky langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Rizal yang begitu jengkel karena perilaku Ranty malah menjemput Nissa di tempat kerjanya. Mereka langsung makan siang di sebuah cafe tak jauh dari tempat kerjanya Nissa.


"Sayang, kamu koq kelihatan jutek gitu? Kenapa?" tanya Nissa pada Rizal.


Rizal berusaha tersenyum. Dia teringat akan perilaku Ranty yang kelewatan. Selain itu, ternyata Ranty membohongi dirinya. Tak ada meeting di luar. Sejenak, Rizal menghela nafasnya.


"Nissa, tadi tuh aku jengkel sama Ranty, rekan kerja aku. Trga-teganya dia permalukan aku," katanya dengan wajah kecewa.


Nissa mendengarkan cerita Rizal. Rizal kembali melanjutkan ceritanya.


"Tahu gak. Tadi, katanya ada meeting. Ternyata, setelah aku amati dan aku konfirmasi, tidak ada. Tega banget tuh orang bohongi aku. Tahu gitu mendingan kerjain kerjaan di kantor. Uhft! Pusing aku ama perilaku dia," katanya dengan nada berapi-api.


Nissa memahami.perasaan Rizal. Dengan seyum manisnya, di genggam tangan kekasihnya.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Yang sabar. Ini mungkin cobaan buat Mas," katanya dengan nada lembut.


Senyum manis Nissa akhirnya meluluhkan perasaan Rizal. Rizal kembali tenang. Sementara itu, Ranty yang melihat kemesraan mereka kembali terbakar cemburu. Dia lihat kemesraan


mereka melalui mobil Dicky yang melewati temoat itu.


"Iiih! Brengsek kamu, Nis. Lihat aja. Gua gak akan nyerah buat dapetin Rizal!" ktanya dalam hati.


Dicky yang melihat kekasihnya melamun menegurnya.


"Say, koq melamun?" tanya Dicky sambil menyetir.


"Oh … eh … nggak. Yuk kita makan siang dulu. Laper nih," ajak Ranty untuk mengalihkan perhatian Dicky.


Mereka langsung mampir ke sebuah cafe. Di sana, mereka langsung memesan makan siangnya, dan langsung memakannya dengan lahap. Ketika itulah, Dicky memberikan kejutan


untuk Ranty.


"Say, aku punya kejutan untuk kamu. Sebentar," katanya sambil mengeluarkan kotak cincin.


Dia buka, dan langsung memasangkannya di jari manis Ranty.


"Sayang, ini adalah ujud cintaku kepadamu. Semoga kamu suka cincin yang sederhana ini," kata Dicky sambil mencium mesra tangan Ranty.


Perasaan Ranty campur aduk. Di satu sisi, dia berharap banyak Rizal menerima cintanya, dan di sisi lain, perasaan cintanya pada Dicky mulai muncul.


"Uhm … ****, cincin ini begitu indah. Aku … menyukainya. Terima kasih, ****," kata Ranty dengan perasaan campur aduk.


Dicky tersenyum manis. Ranty melihat jam tangannya. Ternyata jam masuk kerjanya sudah dekat. Buru-buru dia habiskan makan siangnya, dan mereka segera meninggalkan cafe itu. Dicky menyempatkan diri mebgantar Ranty sebelum akhirnya kembali ke ruang kerjanya.


Malam harinya, di rumahnya Ranty berfikir keras. Dia ayang begitu menginginkan Rizal akhirnya menemukan cara untuk mendapatkannya.


"Uhm, Rizal kan tak pernah bantah kedua orang tuanya. Oke, aku manfaatkan ini," kata Ranty dengan senyum licik.


Melalui ayahnya, Ranty menyampaikan keinginannya.


"Pa, Ranty boleh bicara?" tanya Ranty


yang menemui ayahnya di ruangtengah.


Pak Randy tersenyum. Dia melipat koran yang dia baca dan meletakkannya di atas meja kopi di depannya.


"Ya tentu boleh dong, anak papa yang cantik. Apa yang mau kau bicarakan, Nak," kata Randy.


Ranty harap-harap cemas. Dia sejenak memainkan tangannya karena merasa gugup. Randy melihatnya sambil tersenyum.


"Nak, katanya mau bicara. Koq diam? Daripada mainin tagan gimana jika kita main qiu-qiu?" kata Randy sambil bercanda.


Ranty terkejut mendengar guyonan ayahnya. Dia memanyunkan bibirnya.


"Pa, Ranty serius. Ranty … Ranty pingin nikah," katanya dengan nada manja.


Randy yang tengah minum teh hangat terkejut. Dia sempat menyemburkan teh yang dia minum karena seolah tak percaya mendengar jawaban Ranty.


"Ranty, kamu serius?" tanya Randy keheranan.


"Iih, Papa. Ranty serius, Pa. Ranty cinta sama Mas Rizal," kata Ranty dengan nada manja.


Randy tersenyum senang. Dia duduk di sebelah putrinya, dan merangkulnya.

__ADS_1


"Nak, Papa begitu bahagia. Baiklah, papa akan mengubungi Pak Hasan."


Randy menghubungi Hasan. Dia sampaikan keinginan Ranty, anaknya.


__ADS_2