Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Sementara itu, Izam dan Syifa tampak sibuk menyebarkan undangan pernikahan. Sejak memutuskan untuk bertunangan, Izam dan Syifa semakin mantab untuk hidup bersama.


Dan, sore itu Syifa dan Izam datang ke rumah Nissa. Nissa yang baru datang dari toko menyambutnya dengan senyum manis.


“Syifa? Sudah lama tak bertemu. Masuk dulu, yuk,” ajak Nissa.


Syifa dan Izam mengikuti Nissa. Mereka duduk di ruang tamu. Begitu duduk, Syifa langsung memberikan undangan pernikahannya pada Nissa.


“Niss, datang ya. Aku kangen banget sama kamu,” kata Syifa.


Nissa membaca undangan pernikahan itu. dia tersenyum manis.


“Uhm, Insya Allah aku datang, Fa,” balas Nissa sambil menutup undangan itu.


“Oh ya, Niss. Bagaimana pekerjaan barumu?” tanya Syifa.


“Alhamdulillah. Baik, Fa. Kebetulan, orang yang beri aku pekerjaan itu namanya Vonny, bekas pelanggan kita dulu,” kata Nissa.


Izam terkejut. Dia teringat akan wanita muda yang berdandan funky itu.


“Loh, jadi sekarang dia bossmu?” tanya Izam.


“Iya, Izam. Dia pemilik toko dan butik busana muslim tempatku bekerja,” kata Nissa.


Izam manggut-manggut. Dia tampak kagum pada Vonny.


“Benar-benar mandiri dia. Sudah cantik, dia …. “ kata Izam sambil memandangi Syifa yang menatapnya dengan wajah cemburu.


“Dia kenapa? Kamu naksir dia?” tanya Syifa dengan nada cemburu.


“Enggak, Fa. Aku bercanda. Kamu tetap yang paling cantik di hatiku,” kata Izam berusaha menyanjung Syifa.


Syifa kembali tersenyum manis.Akhirnya, mereka bertiga kembali terlibat dalam sebuah percakapan. Agak lama mereka bercakap-cakap. Ketika menjelang maghrib, Syifa dan Izam pamit untuk pulang.


Sementara itu, di lokasi lain Rizal tengah berusaha keras melobi Pak Reyhan. Dia berusaha membujuknya untuk kembali melakukan kerjasama dengan


perusahaannya.


“Pak, mohon maaf saya tadi lupa kalo kita ada meeting,” kata Rizal.


Reyhan memandangi Rizal dengan wajah kecewa sekalius keheranan. Dia tersenyum tipis.


“Rizal, bagaimana orang seperti kamu bisa melupakan janji meeting kita? Padahal, setahu saya anda professional sekali. Dan, jujur saya sangat-sangat kecewa dengan penurunan performa


anda,” kata Reyhan dengan nada kecewa.


“Iya, Pak. Saya tahu saya salah. Tapi pak, saya mohon, berilah saya kesempatan untuk memperbaikinya. Saya janji akan memberikan yang terbaik untuk bapak. Saya akan berikan feedback lebih untuk bapak,” kata Rizal berusaha membujuk Pak Reyhan.


Pak Reyhan diam sejenak. Dia mengamati kesungguhan di wajah Rizal. Setelah berfikir, dia mulai tersenyum manis.


“Baiklah. Aku beri kamu kesempatan kedua, tentu dengan feedback yang kamu janjikan tadi. Kapan kamu mempresentasikan bentuk kerjasama kita?” tanya Reyhan.


“Sekarang saya bisa, Pak. Kebetulan bahan presentasinya saya bawa,” kata Rizal.


Pak Reyhan tersenyum. Dia akhirnya mengajak Rizal dan beberapa staffnya ke ruang meeting di kantornya. Kebetulan jam pulang kantor masih satu jam lagi. Sesampainya di ruang meeting, Pak reyahan sendiri yang memimpin. Meeting itu berlangsung cepat. Rizal langsung


mempresentasikan bentuk kerjasama yang dia tawarkan. Beruntung dia mampu menjelaskan dengan baik, sehingga Pak Reyhan terkesan. Di akhir meeting, Pak Reyhan menandatangani


kontrak kerjasama itu.


“Pak, terima kasih atas kepercayaan perusahaan bapak. Saya akan lakukan yang terbaik,” kata Rizal sambil berjabat tangan dengan Pak Reyhan.


“Sama-sama, Rizal. Tetap semangat ya. Jangan kendor,” balas Reyhan.


Rizal tersenyum manis. dia akhirnya berpamitan untuk kembali ke kantornya. Hari itu telah petang, namun Rizal masih bekerja di kantor. Setelah beberapa lama, dia bersiap untuk pulang.

__ADS_1


“Fiuh, Alhamdulillah aku berhasil mendapatkan kerjasama ini. Semoga papa senang mendengarnya,” kata Rizal dalam hati.


Akhirnya, setelah merapikan meja kerjanya di kantor, Rizal beranjak dari ruang kerjanya dan langsung pulang ke rumahnya. Di tengah jalan. Rizal sempat merenungi perkataan Dicky pagi


tadi. Dia berfikir.


“Pria tadi sepertinya begitu sakit dengan pertunaganku. Padahal, aku tak mengenalnya. Ya Allah, mengapa permasalahan jodoh begitu pelik? Jika aku putuskan pertunangan ini, bukan


hanya Ranty yang sakit, tapi papa. Ya Allah, berilah aku petunjukmu,” kata Rizal dalam hati.


Dan, tak lama kemudian, sampailah dia di rumahnya. Dia terkejut melihat mobil Ranty ada di sana. Rial segera masuk ke dala rumah, dan ketika masuk ke kamar ayahnya, dia begitu terperanjat melihat Ranty di sebelah ayahnya. Ayahnya tampak begitu gembira dengan kedatangan Ranty. Dia tak menghiraukan keberadaan Ranty di sana. Rizal langsung menyapa ayahnya.


“Pa, aku sudah mendapatkan kontrak kerjasama dengan Pak Reyhan,” kata Rizal sambil memberikan berkas itu kepada ayahnya.


Hasan membacanya. Dia tersenyum puas.


“Bagus, Nak. Oh ya, Papa sekarang ini lagi senang. Sekarang kondisi papa agak baikan,” kata Hasan dengan nada senang.


Rizal bernafas lega. “Alhamdulillah, papa sudah baikan. Rizal janji akan lebih fokus di pekerjaan, Pa. Maafkan Rizal tadi sempat mengecewakan papa.”


Hasan menyentuh lembut pundak Rizal. Dia tersenyum manis.


“Uhm, sudahlah Rizal. Jangan ingatkan papa dengan permasalahan tadi. Papa mau istirahat. Kamu temani Ranty di ruang tamu. Kasihan dia, sudah sejam menunggumu. Dia sudah bantu


mamamu tadi,” kata Hasan.


Rizal berusaha tersenyum, walau dia begitu muak dengan Ranty.


“Baik, Pa. Selamat beristirahat,” kata Rizal.


Hasan hanya mengangguk. Rizal segera mengajak Ranty keluar dari kamar ayahnya. Ketika di ruang tamu, Rizal tampak diam. Ranty berusaha mencairkan suasana.


“Say, kamu koq diam aja?” tanya Ranty.


“Ranty, maaf. Aku tadi capek banget habis lembur. Jadi, aku minta pengertianmu,” kata Rizal


dengan nada dingin.


Tak lama kemudian, Farida muncul sambil membawakan minuman untuk Rizal dan Ranty.


“Nak Ranty, silahkan di minum,” kata Farida dengan nada ramah.


Ranty tersenyum manis. “Terima kasih, Tante.”


Farida langsung beranjak ke ruang tengah. Speninggal ibunya, Rizal tetap banyak diam. Setelah mencicipi minuman itu, Ranty kembali mencoba membuka percakapan.


“Sayang, tadi kamu kenapa? Koq gak masuk kantor?” tanya Ranty.


Rizal yang merasa penat diam sejenak. Dia sebenarnya malas menjawab, namun demi ayahnya, dia akhirnya menjawabnya.


“Ranty, aku tak ingin membahas itu dengan kamu. Udah deh. Sejujurnya, aku ingin sendiri malam ini. Please, beri aku waktu untuk sendiri,” jawab Rizal dengan malas.


“Tapi, Zal. Aku ngerasa kamu seperti tak pernah hargai cintaku kepadamu,” kata Ranty dengan nada sedikit marah.


Rizal hanya menatap Ranty dengan mata tajam. Dia tak menjawabnya. Dengan tenang, dia kembali meminum teh hangat yang di sajikan ibunya. Dia minum sedikit, lalu beranjak dari duduknya.


Dia berjalan ke teras rumahnya, dan menatap bintang yang bersinar terang. Ranty keheranan dengan sikap Rizal. Dia segera menyusulnya.


“Say, kamu lihat deh bintang yang bersinar itu. Begitu cerah,” kata Ranty mencoba merayu Rizal.


Rizal hanya tersenyum sinis.


“Iya, tapi sayang Ranty. Hatiku tak secerah bintang di langit itu. Please, Ran. Aku lagi ingin istirahat. Aku capek banget malam ini,” kata Rizal dengan nada dingin.


Ranty yang merasa tak dihiraukan akhirnya tak tahan. Dia hanya mengangguk sambil menahan

__ADS_1


rasa sakit.


“Baiklah, Sayang. Aku pulang dulu. Istirahatlah. Kamu kelihatan lelah,” kata Ranty menahan kekecewaannya.


Rizal memandang ranty dengan tatapan datar. Dia berusaha tersenyum.


“Terima kasih, Ranty,” jawabnya singkat.


Ranty segera berpamitan pada Rizal. Dengan menahan sakit hatinya, dia beranjak menuju mobilnya. Dan, sebelum pergi, dia pandangi Rizal.


“Uhm … kenapa sih Rizal tak pernah mencintaiku,” bathinnya sambil menyalakan mesin mobilnya.


Tak lama kemudian, Ranty pergi dari rumah Rizal. Di tengah jalan, dia menangis. Dia begitu kecewa setelah Rizal menganggapnya dingin. Karena kekecewaannya, Ranty akhirnya lupa


diri. Dia lupa jika hubungannya dengan Rizal adalah sebuah ikatan yang cukup sakral.


Ranty yang begitu sakit dengan perilaku Rizal akhirnya mencari pelarian. Dia pergi ke sebuah club untuk melupakan sakit hatinya. Sesampainya di sana, Ranty memesan sebuah minuman.


Tanpa diketahui Ranty, Dicky yang juga ada di sana melihatnya. Dia tersenyum manis. Rupanya, Dicky yang begitu sakit hati berniat membalas dendam pada Ranty.


“Uhm. Baiklah, Ranty. Aku akan buat kamu malu,” kata Dicky dalam hati.


Dia duduk di tempat dudukyang agak jauh dari Ranty sambil mengawasinya. Ranty tak sadar jika dia sedang diawasi Dicky.


“Pak, tambah lagi minumannya,” kata Ranty yang sudah mulai mabuk.


Rupanya Ranty memesan vodka yang di campur sari buah. Setelah dua tegukan, dia mulai mabuk. Namun, karena sakit hati, Ranty kembali memesan minuman itu.


“Pak, tambah lagi doong. Please …. “ katanya mulai mabuk.


Pelayan restoran itu tak sampai hati. Dia mengingatkan Ranty yang sudah mabuk.


“Mbak, sudah. Mbak udah mabuk tuh,” kata Pelayan mengingatkan.


Ranty yang telah dibawah pengaruh minuman keras langsung membanting cangkirnya hingga pecah. Prang! Cangkir Kristal itu pecah.


“Heh! Loe jadi orang belagu amat sih?! Gue beli minuman ini bayar, bego!” bentak Ranty yang tengah mabuk.


Pelayan itu tercekat. Dia tak sampai hati untuk memenuhi keinginan Ranty. Pelayan itu hanya terpaku. Ranty yang sudah dibawah pengaruh alcohol langsung menghardik.


“Heh, tolol! Buatin aku minuman tadi! Gua pasti bayar,” kata Ranty sambil merogoh tasnya.


Dia ambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan melemparkanya ke wajah penjual. Karena aksinya, petugas security segera mendatangi Ranty.


“Mbak, tolong jangan buat gaduh di sini. Lebih baik, mbak pulang sekarang,” kata Petugas keamanan.


Ranty yang telah mabuk meronta dari cengkraman petugas security itu.


“Heh! Lepaskan aku, Tolol! Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!” bentak Ranty sambil meronta.


Petugas security itu tak menggubris. Dia menyeret Ranty yang tengah mabuk keluar dari club. Di saat itulah, Dicky memanfaatkan kesempatan itu. Dia dekati petugas security itu.


“Pak, biar dia saya tangani. Maafkan teman saya, pak. Mungkin dia terlalu lelah bekerja,” kata Dicky pada petugas security.


“Oke. Antar dia pulang, Mas. Dia sudah mabuk berat,” kata Petugas Security.


Dicky mengangguk. Dia memapah Ranty yang tengah mabuk berat. Dicky mendegar ingauan Ranty, dan mengira Dicky adalah Rizal.


“Say, aku pingin pulang. tolong, Say. Temani aku,” kata Ranty dalam igauannya.


Dicky yang berniat balas dendam tersenyum puas. Dia merasa inilah saatnya dia balas dendam.


“Iya, Say. Aku akan tetap di sisimu. Yuk, kita pulang,” kata Dicky sambil membantu Ranty masuk ke mobilnya.


Setelah Ranty masuk di kursi penumpang, Dicky segera masuk ke kursi kemudi, dan pergi dari tempat itu

__ADS_1


__ADS_2