Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Canggung Pada Mantan


__ADS_3

Hari berganti hari. Tak terasa, tiga hari berlalu. Nissa terlah selesai mengerjakan baju pengantin pesanan Almira. Pagi itu, dia membungkus pakaian pengantin untuk Almira dan Said dan memasukkannya ke dalam tas.


“Retno, aku mau kirim pesanan dulu. Titip toko sebentar ya,” kata Nissa berpamitan.


“Iya, Bu,” jawab Retno singkat.


Nissa segera menyalakan motornya, dan pergi ke alamat yang di berikan Almira. Sesampainya di sana. Nissa terkejut.


“Lho. Ini kan rumahnya Rizal. Apa aku salah kirim?” tanya Nissa dalam hati.


Dia amati sekali lagi alamat itu, dan ternyata benar. Baru saja Nissa hendak memencet bel, dia bertemu Rizal yang hendak berangkat kantor.


“Loh, Nissa?” sapa Rizal.


“Oh … Uhm … ini benar rumahnya Almira?” tanya Nissa yang sedikit gugup setelah bertemu Rizal.


Rizal menjawabnya dengan ramah. “Iya, benar. Almira itu adikku. Sebentar saya panggilkan dia.”


Nissa hanya mengangguk. Rizal segera masuk ke dalam. Nissa yang begitu gugup terdiam. Dalam hatinya, dia belum rela melepas Rizal. Namun, dia berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan. Ketika di tengah lamunannya, Almira dan Rizal menemuinya. Nissa yang terdiam


dalam lamunannya tak menyadari jika Almira sudah di belakangnya. Dia menepuk pundaknya.


“Mbak? Koq gak masuk dulu?” tanya Almira dengan senyum ramah.


Nissa terkejut. “Oh … Uhm … aku Cuma mau anterin pesanan kamu, Mira.”


“Yah, Mbak ini. Ayo masuk dulu. Saya kan perlu mencobanya. Yuk, masuk,” ajak Almira sambil menggandeng tangan Nissa.


Rizal hanya diam memandangi Nissa. Hatinya masih terasa sakit ketika harus melepas Nissa, dan kini kesakitannya makin terasa karena dia harus segera menikahi Ranty setelah Almira


menikah. Rizal berusaha membuang kesedihanya. Dia segera bergegas berangkat ke kantor.


Di dalam rumah, Almira mencoba gaun pengantinnya. Dia tunjukkan pada Farida, ibunya.


“Ma, bagaimana gaun ini?” tanya Almira.


Farida begitu senang dengan konsep gaun pengantinnya. Dia tersenyum memandangi Almira yang begitu anggun memakai gaun pengantin itu.


“Mira, mama senang dengan gaun pengantin ini. Kamu pesan di mana?” tanya Farida.


“Oh ya, Ma. Yang membuat ada di ruang tamu. Ayo, kita temui dia,:” ajak Almira.


Farida menyetujui ajakan Almira. Mereka berdua pergi ke ruang tamu. Sesampainya di sana, Farida terperanjat. Dia terkejut melihat Nissa yang duduk di ruang tamu. Farida begitu senang Nissa datang ke rumahnya. Dengan ramah, dia menyapa Nissa.


“Nissa? Kamu yang buat baju pengantin untuk Mira?” tanya Farida.


“Iya, Tante,” jawab Nissa singkat.


“Wah, bagus desain bajumu. Coba lihat, Tante senang lihat Almira pakai gaun itu. Begitu cantik dan anggun,” puji Farida.


Nissa tersenyum manis. “Terima kasih, Tante. Saya hanya berusaha melayani pemesan dengan baik.”


Nissa melihat sekilas gaun yang dia buat. Dia sejenak mengamatinya. Sambil mengamati, Nissa membenarkan pemakaian gaun itu. Dia mengamati sesaat dengan senyum kepuasan.


“Almira, semoga nanti di hari pernikahan pangeranmu nempel terus kayak perangko,” kata Nissa sambil sedikit bercanda.


“Amiin. Terima kasih, Mbak. Uhm … Oh ya, pelunasannya. Tunggu sebentar,” kata Almira langsung masuk ke dalam.


Sepeninggal Almira, Farida dan Nissa bercakap-cakap. Dia tampak menyesali putusnya hubungan Nissa dengan Rizal.


“Nak, tante secara pribadi minta maaf. Tante itu sebenarnya kurang setuju Rizal menikah dengan Ranty. Orangnya manja banget. Tante kurang suka dengan Ranty. Entah, kenapa Om malah maksa Rizal menikah dengan Ranty. Tante aja sebel lihat perilakunya dia,” kata Farida mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


Farida menceritakan perilaku Ranty selama dekat dengan Rizal. Wajah Farida tampak kurang suka dengan perjodohan itu. Nissa hanya diam sambil mendengarkan cerita Farida.


“Itulah, Nissa. Tante sebenarnya sih kurang suka dengan Ranty. Tapi tante tak berdaya mencegah keinginan Om,” kata Farida.


Nissa hanya tersenyum manis. Dia berusaha menahan sakit hatinya.


“Tante, Nissa sudah ikhlas melepas Rizal. Memang, awalnya Nissa sedih. Namun, Nissa sadar bahwa jodoh, rezeki, maut di tangan Allah. Nissa serahkan semuanya kepada-NYA.” Nissa menghela nafasnya.


Dengan senyum simpul, dia memegangi tangan Farida.


“Tante, mungkin Ranty perlu penyesuaian. Tapi Nissa yakin, perlahan Rizal akan mencintai Ranty sepenuh hati. Ranty pun akan berubah sikapnya seiring waktu. Insya Allah, setelah menikah nanti Ranty akan berubah,” lanjutnya sambil menahan sakit hatinya.


Mendengar perkataan Nissa, Farida tersenyum haru. Dia begitu takjub akan ketabahan Nissa.


"Nissa, jangan kapok datang kemari. Oh ya, tante minta kartu namanya dong. Mungkin sewaktu-waktu tante mau berkunjung ke toko yang kamu kelola," kata Farida.


Nissa memberikan kartu namanya. Pembicaraan mereka terhenti ketika Almira yang telah berganti baju membawa sebuah amplop berisi uang.


“Mbak, ini pelunasanya. Coba dihitung, saya takut ada kurangnya,” kata Almira.


Nissa menerima amplop itu, dan melihat isinya. Dia hitung uang itu. Setelah menghitungnya, Nissa kembali memasukkan uiang itu ke dalam amplop.


“Uangnya sudah cukup. Terima kasih atas kepecayaan mbak di butik kami,” kata Nissa dengan senyum manis.


Almira tersenyum. Nissa tak berlama-lama di sana. Dia langsung pamit untuk kembali ke toko yang dia kelola. Sementara itu, di kantornya Rizal tampak termenung. Dia tak menyangka pertemuannya dengan Nissa di rumahnya membuatnya kembali teringat luka lama.


“Ck! Kenapa aku musti canggung waktu ketemu Nissa?” bathinnya.


Rizal sejenak terdiam. Dia merasa kurang fokus untuk bekerja. Buru-buru dia keluar sejenak dari kantor untuk melepas penat. Dia pergi ke warung dekat kantornya dan membeli minuman hangat.


“Rizal, ayolah. Kamu sudah berjanji pada Ranty. Kamu harus tepati, Rizal,” kata suara hatinya.


Siang itu, Nissa merasakan hal yang sama. Dia tampak melamun di ruangan kerjanya. Vonny yang datang ke tokonya melihat Nissa yang tengah melamun. Dia dekati Nissa, dan menepuk lembut pundaknya.


“Assalamu’alaikum, Bu Nissa,” katanya dengan senyum manis.


“Oh, Wa’alaikum salam,” kata Nissa yang tersadar dari lamunannya.


Vonny tersenyum manis. Nissa tampak terkejut melihat penampilan Vonny yang baru. Penampilannya tampak lebih feminin dengan gaun terusan panjang yang dia gunakan.


“Bu Vonny? Uhm, maaf. Saya tak tahu jika ibu datang,” kata Nissa dengan nada gugup.


“Oh, gak apa-apa. Kamu tadi kayak ngelamun gitu? Kenapa?” tanya Vonny.


Nissa begitu terkejut. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya.


“Uhm … gak, Bu. Gak apa-apa,” kata Nissa sambil memberikan laporan transaksi penjualan toko itu pada Vonny.


Vonny tersenyum manis. dia buka laporan penjualan toko itu. Dia melihatnya dengan teliti. Tampak senyum kepuasan di wajahnya.


“Good job, Nissa. Rupanya yayangku tak salah menganjurkan kamu sebagai orang yang aku percaya,” kata Vonny dengan senyum kepuasan.


Nissa mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan Vonny. Dia ingin bertanya, namun merasa tak enak. Setelah membaca laporan keuangan toko, Vonny mengembalikan laporan keuangan itu pada Nissa.


“Nissa, aku senang banget dengan perkembangan toko yang pesat. Dan, aku lihat rancanganmu bagus loh. Aku senang sekali,” kata Vonny.


Tak lama kemudian, Dicky datang menemui Vonny di toko itu. Dia mengetuk ruang kerja Nissa. Vonny memberikan isyarat pada Dicky untuk menunggunya. Vonny tengah duduk di depan meja kerja Nissa. Dia mencatat keuntungan toko yang di kelola Nissa. Setelah agak lama, Dia berikan catatan itu pada Nissa.


“Nissa, karena peningkatan toko yang kamu kelola bagus, saya beri bonus buat kamu. Nah, coba kamu lihat catatan itu,” kata Vonny.


Nissa melihatnya. Dia tersenyum.

__ADS_1


“Maaf, Bu. Ini apa bagian saya gak kebanyakan?” tanya Nissa.


“Nissa, kamu sudah bekerja keras. Aku juga dapat laporan dari pegawaimu kalo kamu membuat pegawaimu betah di sini. Aku dengar, kamu cukup baik memimpin. Jadi, aku rasa kamu pantas dapat bonus itu,” kata Vonny menjelaskan penilaiannya.


Nissa memahami penjelasan Vonny. Dia mengangguk.


“Terima kasih, Bu. Senang bermitra dengan ibu,” kata Nissa berjabata tangan dengan Vonny.


Vonny tersenyum manis. Dia segera berpamitan pada Nissa, dan bersama Dicky dia tinggalkan toko itu.Sepeninggal Vonny, Nissa tampak kembali bersemangat.


Di sebuah restoran, Dicky dan Vonny tengah berbicara sambil menunggu makan siang pesanannya.


"Von, gua gak nyangka dengan penampilan loe sekarang. Loe tahu gak, loe tampak cantik dengan gaya feminin," kata Dicky memuji kecantikan Vonny.


Vonny tersipu malu. Dia seolah kehabisan kata-kata dengan sanjungan Dicky.


"Ah, kamu ini. Bisa aja ngerayunya.


"Eeeh, Vonny. Aku serius," kata Dicky sambil tersenyum manis pada Vonny.


Secara tak sengaja, Dicky melihat Ranty yang tengah bermesraan di restoran yang sama. Dicky yang berencana balas dendam berencana mengirimkan foto-foto Ranty yang ada di hpnya.


Dia ambil hpnya, dan fokusnya beralih ke gadget yang dia pegang. Vonny memandangi Dicky yang sibuk dengan hpnya. Tampak dia begitu kecewa.


"Say, aku berdandan gini belajar loh semalaman. Kan kamu tahu, aku biasa tampil tomboy," kata Vonny tiba-tiba.


Dicky seolah tersadar dari lamunannya. Dia tampak terkejut.


"Oh, Benarkah?" tanya Dicky sambil mengutak-atik hpnya.


Vonny yang begitu kecewa karena merasa tak di perhatikan langsung merampas hp Dicky. Dia lihat foto mesra Ranty dan pria lain yang hendak dikirimkan pada Rizal. Vonny begitu kecewa.


"Dicky! Jadi selama ini kamu belum move on dari Ranty?!" kata Vonny dengan nada tinggi.


Dicky tercekat. Dia terdiam.


"Jawab, Dicky. Apa maksudmu mengirim foto-foto ini?" tanya Vonny.


Vonny memandangi sekitarnya, dan dia lihat Ranty tengah bermesraan dengan Rizal. Vonny mengerti. Dia bangkit dari duduknya dan beranjak. Vonny pergi keluar restoran dengan perasaan kecewa. Dicky segera menyusulnya.


"Vonny, aku sakit hati dikhianati Ranty. Aku bukannya gak move on dari dia," kata Dicky menjelaskan.


"Sakit hati?! Dicky, aku sakit hati dengan Alvin, tapi aku tak balas dengan cara kotor seperti itu! Kenapa sih tak biarkan saja Ranty bahagia dengan cowok itu?!" bentak Vonny dengan mata berkaca.


Vonny merasakan sesak di dadanya. Air matanya menetes karena kekecewaannya pada Dicky. Dia pandangi Dicky dengan wajah marah.


"Jangan-jangan kamu buat aku sebagai pelarian," lanjutnya dengan nada curiga.


"Vonny. Aku tak menganggap kamu sebagai pelarian. Aku sayang kamu, Vonny. Aku serius menyayangi kamu," kata Dicky berusaha meyakinkan.


"Kamu sayang aku?! Oke! Hapus foto Ranty di hpmu sekarang! Cepat!" bentaknya sambil menyerahkan hp Dicky yang dia rampas.


Dicky membuktikan ucapannya. Dia hapus semua foto Ranty yang ada di gallery hpnya, termasuk foto mesra Ranty dan Willy yang ada di hpnya.


"Ini, coba kamu lihat, Vonny," kata Dicky kembali menyerahkan hpnya pada Vonny.


Vonny mengamati gallery foto di hpnya Dicky. dilihatnya, Dicky bersungguh-sungguh. Dia kembalikan hp Dicky.


"Oke, Dicky. Aku percaya," balas Vonny singkat.


Dicky kembali mengajak Vonny masuk ke dalam restoran. Karena mejanya telah diduduki orang lain, Dicky dan Vonny terpaksa mrmbungkus pesanannya dan memakannya di tempat lain.

__ADS_1


__ADS_2