Cinta Di Taman Surga

Cinta Di Taman Surga
Terjebak Emosi Sesaat


__ADS_3

Keesokan harinya, Ranty bersiap pergi ke kantornya. Setelah sarapan pagi, dia segera masuk ke dalam mobilnya dan langsung berangkat ke kantornya. Sesampainya di sana, petugas resepsionis memanggilnya.


“Bu, Ranty. Ada paket untuk anda,” kata Petugas resepsionis itu.


“Paket? Paket apa?” tanya Ranty.


Petugas itu memberikan sebuah rangkaian bunga yang indah, dan sekotak coklat kesukaan Ranty. Ranty yang menerimanya begitu senang, namun perasaan keheranan meliputinya.


“Mbak, ini siapa yang mengirim?” tanyanya.


“Oh ya, Bu. Saya hampir lupa,” kata petugas itu sambil menyerahkan sebuah amplop.


Ranty menerimanya. Dia membuka amplop itu, ternyata berisi sebuah surat. Ranty membacanya, dan tak menyangka ternyata surat itu dari Rizal. Dia tuliskan kata-kata cinta dan syair yang romantis di dalam surat itu.


“Dear, Ranty


Mungkin, selama ini aku tak sadari bahwa tak ada pasangan sempurna. Tak ada manusia yang sempurna. Setelah beberapa lama kita berhubungan, saat ini aku sudah mulai sadar bahwa tidak butuh kesempurnaan untuk jalin kebersamaan. Kita sama-sama mempunyai kekurangan, dan aku sadar itulah sebab Allah ciptakan kita dengan segala ketidak sempurnaannya.


Ranty, maafkan aku yang terlalu egois dengan perasaanku. Semoga rangkaian bunga dan sekotak coklat dapat menjadi sebuah symbol untuk kita memulai hubungan yang baru. Aku janji, akan mencintaimu sesulit apapun itu, Ranty.


Tertanda,


Rizal”


Ranty kembali melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Dia tersenyum manis.


“Terima kasih, Mbak. Uhm … saya permisi dulu,” kata Ranty sambil berjalan masuk ke ruang kerjanya.


Setelah masuk di ruang kerjanya, Ranty mengirim pesan kepada Rizal.


“Sayang, terima kasih dengan hadiahnya. Aku begitu bahagia menerimanya,” isi pesan Ranty pada Rizal.


Setelah mengirim pesan, Ranty meletakka hp dan bingkisanya, lalu memulai pekerjaan di kantornya.


Di lokasi lain, Nissa menghadiri pernikahan Syifa dan Izam. Nissa tampak cantik dengan setelan hijab biru toska yang dia gunakan. Nissa memberi ucapan selamat pada Izam


dan Syifa.


“Syifa, selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga dianugrahi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah,” kata Nissa sambil berjabat tangan dengan Syifa.


Syifa memeluk erat sahabatnya. “Terima kasih, Nissa.”


“Nissa, kita berfoto yuk. Sebagai kenang-kenangan,” ajak Izam.


Nissa mengangguk. Izam memberi isyarat pada sang fotografer. Mereka sempat berfoto bersama, sebelum akhirnya Nissa kembali ke toko yang dia kelola.


Sekembalinya dari resepsi pernikahan Syifa dan Izam, Nissa kembali termenung. Dia rupanya belum bisa move on dari Rizal. Di pandanginya foto Rizal yang dia simpan di handphonenya.


“Rizal, aku hingga sekarang ini seolah belum rela jika kau bersanding dengan Ranty, namun aku tak ingin mengganggu hubunganmu dengan Ranty,” katanya dalam hati.


Nissa segera tersadar. Dia kembali fokus pada pekerjaanya.

__ADS_1


Di kantornya, Rizal membaca pesan dari Ranty. Dia membacanya tanpa ekspresi. Dalam lamunannya, Rizal sempat memandangi foto Nissa di hpnya. Dia sentuh layar hpnya.


“Nissa, maafkan aku yang tak berdaya dengan perjodohan ini. Aku harus berusaha melupakan kenangan indah bersamamu, walau tak mungkin aku hapus dari hatiku. Maafkan aku, Nissa,” katanya sambil menghapus foto Nissa di hpnya.


Rizal tampak sedih. Dengan berlinang air mata, dia hapus satu persatu foto Nissa di handphonenya.


“Nissa, maafkan aku. Aku terpaksa mengkhianati cinta kita, dan terpaksa aku ingkari janjiku demi ayahku. Aku malu, Nissa. Semoga kau dapat jodoh yang jauh lebih baik daripada aku yang tak berdaya dengan perjodohan ini,” lanjutnya dalam hati.


Setelah menghapus semua foto Nissa, Rizal mengirim pesan pada Ranty untuk mengajaknya makan siang. Pesan itu berbalas. Ranty menyetujuinya.


“Oke, Ranty. Aku mau korbankan perasaanku demi kamu. Please, jangan kecewakan aku,” bathinnya dengan wajah terpaksa sambil meletakkan hpnya di meja kerjanya.


Rizal kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tak terasa, siang pun tiba. Di ruang kerjanya, Ranty yang hendak pergi makan siang di kejutkan dengan sebuah pesan di hpnya. Dia membuka pesan itu. Pesan itu dari Willy, mantannya.


“Yah, dari Willy,” katanya dalam hati.


Dengan perasaan kecewa, dia buka pesan itu.


“Sayang, aku sudah di tempat yang semalam kau janjikan. Aku tunggu kedatanganmu. Please, jangan mangkir,” isi pesan itu.


Ranty berfikir keras. Diam-diam, dia menyesali emosi sesaatnya malam itu. Dia tampak kebingungan karena sudah terlanjur buat janji pada Rizal.


“Waduh! Gimana nih? Aku koq lupa sih kalo ada janji dengan Willy?” katanya dalam hati.


Ranty begitu kebingungan. Dia mondari-mandir ri ruang kerjanya. Ranty mencoba membatalkan pesan dengan Willy.


“Wii, sorry. Gua gak bisa makan siang denganmu hari ini, soalnya tunganan gue ngajak jalan,” isi pesan Ranty pada Willy.


Di sebuah café, Willy hanya tersenyum mananggapi pesan Ranty.


Willy mengirim sebuah pesan yang berbunyi, “Ranty, gua udah bersabar nungguin loe selama


ini. Kalo loe main-main, Gua akan samperin tunangan loe, dan gua bocorin hubungan kita. Sekarang, loe pilih penuhi janjimu, atau gua akan samperin tunangan loe!”


Ranty yang membaca pesan Willy begitu takut. Dia tak siap jika kehilangan Rizal.


“Waduh! Brengsek! Gua salah langkah. Gimana nih?” tanyanya dalam hati.


Ranty kembali berfikir keras. Dia mencari alasan yang tepat untuk membatalkan acara makan siang dengan Rizal. Setelah lama berfikir, Akhirnya Ranty mengirim pesan pada Rizal.


“Sayang, maaf. Aku ada meeting di luar kota sebentar lagi. Aku tak bisa makan siang denganmu,” isi pesan Ranty.


Ranty menunggu balasan dari Rizal dengan perasaan was-was. Agak lama Ranty menunggu balasan pesan dari Rizal. Dan setelah beberapa menit kemudian, balasan pesan itu tiba. Ranty


membuka pesan dari Rizal dengan perasaan was-was.


“Baiklah, Sayang. Aku ngerti. Semoga sukses dengan meetingnya,” isi pesan dari Rizal.


Ranty menghela nafas lega. Dia segera bersiap keluar dari kantornya dan menuju ke sebuah café tempat Willy menunggunya. Sebelum berangkat, Ranty mengirim pesan pada Willy.


Sementara itu, di sebuah café, Willy membaca pesan dari Ranty. Dia tersenyum penuh kemenangan. Dengan tenang, dia menunggu Ranty sambil memberi isyarat pada Dicky yang

__ADS_1


mengawasinya dari kejauhan. Dan, beberapa menit kemudian datanglah Ranty. Willy menyambutnya dengan senyum manis.


“Sayang, akhirnya kamu datang,” sapa Willy pada Ranty.


Ranty berusaha tersenyum manis pada Willy. “Iya, Will. Yuk, kita langsung pesan makan siang saja.”


Willy mengangguk. Dia segera memesan makan siangnya. Setelah pelayan café itu datang, mereka segera memesan makan siangnya. Sepeninggal pelayan itu, Willy merangkul mesra Ranty.


“Sayang, tahu gak aku menunggumu semenit rasanya seperti menahan kerinduanku kepadamu selama setahun,” kata Willy dengan nada mesra.


Ranty berusaha tersenyum, namun di hati kecilnya menjerit. Dia tampak melihat ke sekeliling dengan perasaan was-was.


“Iiih, kamu ini, Will. Selalu aja pintar ngegombal,” kata Ranty dengan hati yang berkecamuk.


Dia berusaha melepaskan rangkulan Willy. Willy menatapnya penuh curiga.


“Sayang, kemarin kamu begitu mesra, kenapa sekarang berubah? Bukannya kamu kemarin merasa sakit hati dengan Rizal, tunanganmu? Mengapa sekarang berubah?” tanya Willy dengan perasaan curiga.


Ranty tercekat. Dia tak mampu menjawab pertanyaan Willy. Sejenak dia berfikir, dan akhirnya dia menjawab pertanyaan Willy.


“Willy, kemarin aku emosi. Aku sakit hati dengan perlakuan Rizal kepadaku. Namun, aku tak ingin kecewakan Rizal walau dia belum mencintaiku sepenuhnya,” jawab Ranty.


Willy hanya mengglengkan kepalanya. Dia melepaskan rangkulannya dan hendak beranjak. Ranty yang begitu takut jika pertemuanya dengan sang mantan di sebarluaskan segera memegang tangan Willy.


“Will, maafkan aku Please jangan marah dong,” Raty memegangi tangan Willy.


"Ranty, aku tak bisa paksakan cintaku kepadamu. Kalo kamu tak mencintaiku, it's oke. Aku pergi saja," kata Willy dengan tenang.


Namun, dalam hatinya dia tersenyum penuh kemenangan. Dipandanginya Ranty yang begitu ketakutan.


"Willy, please. Jangan begitu. Ayolah, aku sudah batalin janji dengan dia karenamu," kata Ranty.


Willy diam sejenak. Akhirnya dia kembali kembali duduk. Ranty tak ada pilihan lain selain membiarkan Willy melakukan kemesraan itu. Dari kejauhan, Dicky memotret momen itu tanpa sepengetahuan Ranty.


"Good job. Ranty, loe bakalan hancur kali ini," katanya dalam hati


Dicky yang sudah puas dengan foto yang diambilnya segera beranjak. Bersamaan dengan perginya Dicky, datanglah seorang gadis cantik di cafe itu. Dia dekati Ranty dan langsung


melabraknya.


"Oh, jadi ini kelakuanmu, Willy!" bentaknya.


Willy tampak kebingungan. Dia tak menyangka kelasihnya datang dan langsung marah.


"Connie, maafkan aku. Wanita ini yang menggodaku," kata Willy berusaha mencari aman.


Cinnie menatap Ranty dengan tatapan marah.


"Owh, jadi ini penggoda suami orang?!" bentaknya pada Ranty.


"Eh! Enak aja. Suamimu itu yang ganjen!" bentak Ranty sambil mendorong kasar Connie.

__ADS_1


Pertengkaran pun tak terhidarkan. kedua wanita itu saling jambak dan saling tampar, sehingga menarik perhatian pengunjung cafe yang lain. Pertengkaran itu akhirnya di lerai oleh petugas


keamanan cafe itu. Ranty yang kecewa segera pergi meninggalkan cafe itu dengan perasaan dongkol dan menyesal.


__ADS_2