
Nissa begitu sedih mengetahui hubungannya berakhir. Dia berusaha tegar menghadapinya. Dengan langkah gontai, dia masuk ke tempat kerjanya. Di tempat kerjanya, dia melihat Syifa
begitu gembira. Sebagai sahabat, Nissa berusaha menutupi kesedihannya.
"Syifa, aku lihat kamu koq cantik banget hari ini. Dan … dari tadi aku lihat kamu
senyum-senyum aja kayak habis dapat hadiah," kata Nissa.
Syifa tersenyum simpul. Dia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.
"Niss, aku seneng banget hari ini. Izam melamrku," kata Syifa yang begitu gembira.
Nissa berusaha tersenyum mendengar kebahagiaan temannya. Dia melihat cincin pertunangan di jari manis Syifa.
"Wah, selamat ya Syifa. Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya," balas Nissa dengan senyum manisnya.
Syifa memeluk erat sahabatnya. "Nissa, terima kasih atas dukunganmu. Aku do'akan kamu segera menyusul untuk bertunangan dengan Rizal."
Deg! Perasaan Nissa begitu sakit. Dia menyadari Syifa belum tahu jika hubungannya dengan Rizal baru saja berakhir. Namun, Nissa berusaha tabah.
"Iya, Syifa. Amin. Terima kasih atas do'anya," kata Nissa sambil memeluk erat Syifa.
Dilihatnya, jam kerja sudah mulai. Mereka kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan yang di depannya. Sementara itu, di sebuah cafe, Rizal tengah menikmati makan siangnya. Dia makan sendirian. Ranty tiba-tiba menghampirinya. Dia duduk di depan Rizal.
"Rizal! Kamu ini apa-apaan sih? Katanya mau terima aku, koq masih datangi tuh cewek sok alim itu?" tanyanya dengan nada marah.
Mendengar perkataan Ranty, Rizal menghentikan makan siangnya. Dia pandangi Ranty dengan tatapan tajam
.
"Ranty! Kamu tak tahu rasanya dikhianati?" tanya Rizal.
"Tentu tahu. Sakit rasanya, seperti yang ku lakukan tadi!" bentak Ranty.
Rizal tertawa kecil. Dia kembali menatap Ranty dengan wajah marah.
"Owh! Kamu kira, aku khianati kamu? Ck … ck … ,Ranty. Kita belum bersama tapi kamu begitu buta menilai sesuatu," katanya dengan nada halus tapi menahan amarahnya.
Sejenak, Rizal tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Asal kamu tau, akulah yang mengkhianati Nissa. Kamu mau tahu?" tanya Rizal sambil menatap Ranty dengan tajam.
Rizal menghela nafasnya dalam-dalam. Sejenak, Rizal menyeka air matanya yang menetes mengingat Nissa.
"Kamulah penyebabnya, Ranty! Kamulah yang buat aku khianati wanita sebaik Nissa!" bentaknya seraya bangkit dari duduknya.
Dia tinggalkan Ranty yang terdiam sendirian di cafe itu. Rizal tak menghiraukan Ranty yang memanggilnya. Ranty yang melihat Rizal pergi tak tinggal diam. Dia berusaha mengejarnya, namun Ranty kembali tak berhasil mengejar Rizal. Rizal sudah menjalankan mobilnya kembali ke kantor.
"Yah! Sial! Kalo ke kantor, gak mungkin gue bicarain ini," bathinnya.
__ADS_1
Dengan kekecewaan, Ranty masuk ke mobilnya dan kembali ke tempat kerjanya.
Sementara itu, di sore harinya, Said hendak menjemput Almira. Sebenarnya, saat itu dia ada janji dengan temannya. Namun, demi menyenangkan ayahnya, dia mau tak mau melakukannya. Di depan kampus, dia menunggu Almira sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Yah! Nasib. Aku tak tega melihat Almira harus dibjodohkan, tapi gegara aku akuin kalo cincin itu dari aku, eeeh malah disuruh cepet tunangan ama dia," katanya dalam hati.
Said menghisap sebatang rokok yang dibawanya. Dia tampak bingung mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Duh!! Gimana nih caranya supaya aku tak terjebak di situasi ini? Aku juga tak suka perjodohan," lanjutnya dalam hati.
Dengan wajah lesu, dia menunggu Almira. Sambil duduk di kap mobilnya, dia menatap jauh ke depan sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Di tengah lamunannya, Almira yang baru keluar kelasnya melihat Said yang kebingungan. Dia merasa iba melihat
ekspresi Said. Dia duduk di sebelah Said. Dengan nada lembut, dia menepuk pundak Said.
"Said. Kamu koq kayak begitu kebingungan?" tanya Almira.
Said pandangi Almira. Dia berusaha tersenyum manis, namun Almira melihat ada yang salah pada Said.
"Almira, aku tak suka perjodohan ini. Aku tahu, kamu pasti ingin memilih pria yang kamu sukai. Tapi, karena aku terlalu sok menolongmu, akhirnya Papamu mengira aku akan melamarmu," katanya dengan nada lesu.
Said kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Dia pandangi Almira.
"Mira, aku ngerasa udah nikung temen aku sendiri, Rahmat. Aku ngerasa bersalah," kata Said.
Almira tersenyum manis. Dia pegangi tangan Said dengan lembut.
"Said, kamu tak perlu begitu. Kamu sudah begitu baik menyelamatkan aku. Dan, jujur. Aku mulai menikmti perjodohan ini," kata Almira.
"Almira?! Kenapa kamu berubah?" tanya Said.
"Said, kamu biarkan sebagian dari Rahmat hidup di hatiku. Kamu lihat cincin ini?" tanyanya sambil menunjukkan cincin di jari manisnya.
Said mengangguk. Almira kembali berkata, "Said. Rahmat ada di dirimu. Jasadnya boleh terkubur, tapi kebaikan doa tumbuh di dirimu. Dan, kamu tahu? Sejak aksi konyolmu beberapa hari lalu, sekarang aku mengerti bahwa kamu adalah seorang pria yang ditunjuk Allah untuk menjagaku." Almira menatap Said dengan tatapan teduh.
"Said, aku siap jika engkau melamarku. Aku yakin, di alam sana Rahmat akan tenang melihat kaulah yang melanjutkan perannya sebagai tempat aku berlabuh nanti," kata Almira.
Said tersentuh mendengar perkataan Almira. Dia terharu.
"Said, aku siap mendampingimu untuk menghabiskan sisa usiaku," kata Almira tersenyum manis.
Said kembali tenang. Dilihatnya, hari telah petang. Mereka mampir ke musholla untuk sholat maghrib sebelum akhirnya mengantarkan Almira pulang ke rumah. Malam harinya, mereka baru tiba di rumah. Hasan menyambut kedatangan Said dengan ramah. Namun, Said mendadak kaget melihat Ranty ada di sana.
"Lho, Mira. Itu … itu cewek songong ngapain kemari?" tanya Said berbisik pada Almira.
"Ssst! Itu calonnya kakakku, Rizal," kata Almira dengan suara lirih.
Said mengernyitkan dahinya. Dia melihat Ranty dengan ekspresi tidak suka. Hasan memperkenalkan Said pada Ranty.
"Nak Ranty, ini calonnya Almira, adiknya Rizal. Said namanya," kata Hasan memperkenalkan Said.
__ADS_1
Ranty sempat terkejut melihat Said di depannya. Dia teringat ketika akan menabrak Nissa, dan ternyata yang menyelamatkan Nissa adalah Said. Ranty memandang Said dengan tajam,
namun dia berusaha tampak ramah.
"Aku, Ranty," kata Ranty berusaha menyembunyikan ketidak sukaannya pada Said.
"Said," jawab Said menatap dingin Ranty.
Hasan memanggil Rizal ke ruang tamu. Dengan langkah gontai, Rizal menuruti kemauan ayahnya untuk menemani Ranty di ruang tamu, sementara Said langsung pamit untuk pulang.
"Om, saya mau pulang dulu," katanya pada Hasan.
"Oh ya, Nak Said. Oh ya, kapan kamu mau melamar Almira?" tanya Hasan
.
Said memandangi Almira. Dia tersenyum manis kepadanya. Dengan tenang, Said
menjawabnya.
"Om, saya serahkan pada Almira. Jika Almira siap, saya akan melamarnya," kata Said.
Almira begitu senang mendengar jawaban Said. Dia tersenyum manis. Hasan akhirnya bertanya pada putrinya.
"Gimana, Nak. Kamu kapan siap?" tanya Hasan.
"Secepatnya, Pa. Secepatnya jika Mira siap, Mira akan memberi tahu Said. Mira ingin menikmati hubungan Mira dengan Said dulu," jawab Almira dengan tenang.
Hasan tersenyum manis. Sebelum pulang, dia mengambil sebuah bingkisan untuk Irsyad, ayahnya Said. Dia berikan botol madu untuk temannya.
"Nak Said, ini madu buat papamu. Oh ya, jangan lupa, dua hari lagi datang kemari ya. Kebetulan Om undang kamu untuk tasyakuran atas pertunangan Rizal dengan Ranty," kata Hasan dengan perasaan suka.
Said tersentak, namun dia berusaha tetap tenang.
"Iya, Om. Saya akan datang kemari dua hari lagi. Terima kasih atas madunya. Saya permisi dulu, Om," kata Said.
Setelah bersalaman dengan Hasan, Said langsung pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, Said berfikir.
"Yah, Om Hasan ini gimana sih? Masak orang sebaik Rizal di jodohin ama tuh cewek songong gitu?" bathinnya.
Malam itu, di kamarnya Nissa menangis mengingat kisah cintanya yang kandas. Di tengah sholatnya, Nissa terus menangis. Dia berusaha tabah, namun kini tak kuat.
"Ya Allah, Ya Rabb. Aku mencintai Rizal karena keimanannya. Aku sayangi dia karena-Mu, Ya Allah." Tangisnya kembali muncul di tengah do'anya.
Nissa mencoba menenangkan dirinya. Dia kembali menghela nafas panjang.
"Ya Allah … Setelah aku mencintainya karena-Mu, kini aku harus merelakannya pergi juga karena-Mu. Namun, aku begitu berat melepasnya, Ya Rabb. Jika kita berjodoh, kembalikan dia kepadaku, Ya Allah. Namun, jika memang aku tak berjodoh dengannya, berilah dia wanita yang terbaik menurut-Mu, dan berikanlah aku jalan untuk mengikhlaskannya, Ya Allah," lanjutnya di tengah tangisnya.
Nissa yang begitu sedih tak kuasa menahan tangisnya. Dia berusaha keras untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Rabbana Aatina fiddunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah waqina adzaa bannar," lanjutnya menutup do'a di malam itu.