
Seminggu berlalu sejak kematian Rahmat. Almira yang begitu menyayangi Rahmat memutuskan untuk sendiri, kendati ayahnya mendorongnya untuk segera menikah dengan Said.
Keinginan Almira di dukung oleh Said yang memang belum siap menikah dengan Almira. Pagi itu, Almira bersiap untuk melakukan skripsi. Said yang akan berangkat kerja mengantarnya ke kampus. Ketika di tengah perjalanan, Almira berbicara pada Said.
"Said, aku ingin berziarah ke makam Rahmat," kata Almira.
Said menyetujuinya. Dia mengarahkan mobilnya ke suatu area pemakaman. Tak lama kemudian, sampailah dia di areal pemakaman tempat Rahmat di makamkan. Mereka langsung turun dari mobilnya.
Setelah membeli bunga, mereka berjalan ke pusara Rahmat. Di dekat pusara kekasihnya, mereka mengirim do'a.
"Sayang, kamu yang tenang di alam sana. Semoga amal kebaikanmu di terima Allah SWT,"
kata Almira sambil menyentuh pusara kekasihnya.
"Rahmat, semoga kebaikanmu menjadi cahaya di alam kubur, dan semoga kuburmj di lapangkan Allah SWT." Said menimpalinya.
Ketika mereka akan beranjak, mereka dikagetkan dengan kemunculan seseorang. Almira melihatnya. Ternyata Dicky berziarah ke makam Rahmat.
"Mas?" sapa Almira pada Dicky.
Dicky tersenyum manis. Dia pandangi Almira dan Said.
"Aku kemari untuk berziarah. Aku merasa bersalah kepadanya," kata Dicky.
Almira hanya diam dan tersenyum.
"Ya sudah, kami permisi dulu, Mas," kata Almira berpamitan.
Said hanya tersenyum manis menyapa Dicky, dan mereka pun berlalu dari sana.
Sepeninggal Almira dan Said, Dicky berjongkok dan menabur bunga di atas makam Rahmat. Setelah mengirim do'a, Dicky beranjak dari areal pemakaman itu.
Sementara itu, Ranty yang begitu mencintai Rizal terus berupaya untuk mendekatinya. Berbagai cara dia lakukan. Siang itu, dia mendatangi tempat kerja Nissa. Nissa yang baru saja
beristirahat terkejut melihat Ranty yang menunggunya.
"Mau apa lagi kamu kemari?" tanya Nissa sambil menatap Ranty.
"Owh, loe lupa atau pura-pura lupa?" balas Ranty dengan senyum sinis.
Nissa mengernyitkan dahinya. Dia tersenyum keheranan mendengar perkataan Ranty.
"Maaf, mbak ini maunya apa sih?" tanya Nissa yang sudah mulai emosi.
"Loe jauhi Rizal. Dia cowok gue! Paham!" bentaknya sambil mendorong Nissa.
Nissa terdorong mundur dan hampir jatuh. Beruntung ada yang menolongnya. Syifa yang baru keluar kerja memeganginya. Dia pandangi Ranty dengan wajah marah.
"Nis, kamu gak apa-apa?" tanya Syifa.
"Gak, Fa. Sebentar. Aku mau selesaikan urusanku sama dia," kata Nissa sambil melepaskan pegangan Syifa.
Dia mendekati Ranty yang tengah berkacak pinggang. Mereka tengah berdebat panas.
"Mbak! Bisa gak sih bicara baik-baik?!" bentak Nissa.
Ranty yang merasa jengkel tersenyum sinis.
"Owh! Apa perlu aku bicara baik-baik sama orang sok alim kayak loe!" balas Ranty dengan wajah marah dan nada timggi.
Nissa menatap Ranty dengan wajah marah. Nissa menggelengkan kepalanya dengan wajah marah.
"Terserah mbak nilai aku bagaimana. Asal kamu tahu, aku tidak merasa ngerebut Rizal dari kamu. Aku gak ada waktu buat ngurusin orang macam kamu," balas Nissa dengan nada marah.
Ranty yang tersinggung hendak menampar Nissa, tapi Nissa memegang tangannya. Karena tak terima, dia menarik kasar hijab Nissa.
"Loe gak pantas pake hijab, Nissa!* bentak Ranty.
Nissa terkejut sekaligus marah. Dia pandangi hijabnya yang jatuh ke tanah.
"Astaghfirullah, Mbak. Keterlaluan kamu." Nissa yang merasa kehormatannya diinjak-injak, diapun melawan. Kedua wanita itu saling menjambak rambut.
Pertengkaran itu menarik perhatian teman kerjanya. Syifa berusaha melerainya.
__ADS_1
"Sudah! Hentikan!" teriak Syifa berusaha melerai pertengkaran itu.
Bersamaan dengan itu, Vonny yang baru saja menemui Izam terkejut melihat pertengkaran sengit antara Nissa dan Ranty. Dia berlari ke arah Ranty.
"Ranty! Hentikan!" teriak Vonny sambil melerai pertengkaran itu.
Syifa memandangi Ranty dengan wajah marah.
"Mbak! Pergi dari sini! Bikin kacau aja!" bentak Syifa.
Ranty yang tak terima melotot ke aeah Syifa. Dia mencoba merangsek, namun Vonny memeganginya.
"Ranty, jangan. Sudah, jangan terusin. Gak enak dilihat orang," kata Vonny mengingatkan.
Vonny berusaha membujuk Ranty. Dia berusaha menenangkan temannya.
"Ranty, sudah. Kita pergi aja, yuk," ajak Vonny.
Ranty memandangi Vonny. Dia mengangguk menyetujui ajakan Vonny. Namun, dia yang masih tak terima dengan perkataan Syifa memandanginya sambil menunjuk ke arahnya.
"Heh! Loe gak usah ikut campur urusan gue! Awas kalo loe ikut campur," bentaknya sebelum berlalu.
Syifa yang merasa marah ingin mendekati Ranty, namun Nissa menahannya.
"Sudah, biarkan aja, Fa." Nissa memegangi tangan Syifa.
Syifa mengangguk. Dengan wajah marah, dia menatap Nissa sambil.berusaha tersenyum. Dia pungut hijab Nissa yang terjatuh.
"Nissa, hijabmu kotor, nih," kata Syifa sambil memberikan hijab itu.
"Udah, Fa. Gak apa-apa. Yuk, kita sholat dhuhur," ajak Nissa.
Syifa mengangguk. Dia berjalan bersama Nissa ke sebuah surau dekat tempat kerjanya.
Sementara itu, di suatu cafe Vonny dan Ranty tengah makan siang. Mereka terlibat dalam sebuah perdebatan kecil ketika Ranty menceritakan sebab pertengkarannya.
"Ranty, sudahlah. Kenapa kamu tak mendekati pria lain? Biarlah dia bahagia dengan Rizal," kata Vonny mengingatkan.
Ranty yang sudah di butakan cinta menatap Vonny.
Vonny menghela nafasnya.
"Ranty, namanya juga cinta. Kita gak bakalan tahu kemana cinta itu datang," kata Vonny.
"Nah itu kamu bilang. Aku juga gak nyangka akan jatuh cinta pada dia," kata Ranty dengan wajah sewot.
Vonny berusaha tersenyum. Dia mencoba menenangkan Ranty.
"Sudahlah, Ranty. Cobalah mencari pria lain, contohnya …. " Vonny memutus perkatannya.
Dilihatnya Dicky yang tengah mencari makan siang di cafe itu. Dia menunjuk ke arah Dicky. "Tuh, pria tampan di sana."
Ranty yang penasaran melihat ke arah Vonny menunjuk. Namun, pandangn Ranty bukanlah Dicky melainkan seorang pria paruh baya yang berbadan tambun di sebelah Dicky. Ranty keheranan.
"Von, masak kamu jodohin aku ama aki-aki …," kata Ranty.
Vonny tertawa lepas. "Ya elah, Ran. Lihat tuh sebelah bapak-bapak. Dicky yang gue maksud."
Ranty menatap wajah Vonny dengan wajah sewot.
"Iiih! Koq kamu jodohin aku dengan Dicky. Aku tak suka," balasnya.
Rupanya Ranty melihat Rizal yang baru masuk di cafe itu. Dia datang sendirian. Tanpa bicara, Ranty langsung bangkit. Vonny keheranan.
"Ran, loe mau kemana?" tanya Vonny.
"Gue mau temuin idola gue. Loe disini aja," balas Ranty.
"Ranty!" kata Vonny memanggilnya.
Namun Ranty tak menggubris. Dia tetap berjalan mendekatinya.
"Yeee … ini anak ternyata aneh juga kalo udah bucin," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tanpa di ketahui Vonny , Dicky diam-diam berjalan mendekati Vonny. Dia menepuk pundaknya.
"Eeeh! Loe, ****." Vonny begitu terkejut.
Dicky hanya tertawa ringan dan langsung duduk di sebelah Vonny. Sementara itu, Ranty menyapa Rizal.
"Rizal, kita ketemu juga disini," sapa Ranty dengan senyum ramah.
Rizal.begitu terkejut. Dia begitu gugup.
"Oh, Eh … iya," balasnya dengan wajah terkejut.
Rizal tampak memandangi sekitar seolah ada yang dia cari. Ranty menepuk pundaknya.
"Eh, Rizal. Loe cari siapa?" tanya Ranty keheranan.
Rizal menjawabnya dengan terus terang.
"Ini, aku cari … ," kata Rizal sambil melihat sekitar.
Dan ternyata Nissa kembali muncul. Dia berjalan bersama Syifa dan Izam di cafe itu. Sejenak, Rizal terdiam. Dia langsung berjalan mendekati Nissa. Ranty yang melihat Rizal mendekati Nissa mencegahnya. Dia pegangi tangan Rizal.
Rizal yang terkejut menghentikan langkahnya. Dia pandangi Ranty
sambil mengernyitkan dahi.
"Ranty, kamu ini kenapa? Tolong, lepasin tanganku," kata Rizal berusaha sabar
"Rizal, kenapa kamu mau sama Nissa?" tanya Ranty.
"Ranty, apa yang salah jika aku mencintai Nissa? Dia wanita yang baik, sholehah," kata Rizal.
"Tapi, Rizal. Aku mencintaimu. Aku tak rela kamu dengan Nissa," kata Ranty.
Rizal terkejut. Dia pandangi Nissa yang ternyata sudah di dekatnya. Izam dan Syifa terkejut mendengar perkataan Ranty. Nissa yang terbakar cemburu hanya diam.
"Ranty, ayolah. Aku tak bisa terima cintamu. Aku mencintai Nissa, bukan kamu," jawab Rizal.
Ranty menatao Rizal dengam wajah kecewa. Dia mulai emosi.
"Rizal, mengapa kau memilih wanita yang sok alim itu? Bukannya dia juga datang dengan pria lain?" katanya sambil menatap Izam.
Rizal menanggapi ucapan Ranty dengan senyum manis. Sementara, Izam merasa keheranan. Dia dan Syifa saling berpandangan. Rizal tetap tenang.
"Ranty, kamu lihat coba. Bukannya mereka datang bertiga? Bisa aja kan mereka berteman. Apa yang salah?" bantah Rizal.
Syifa yang tak terima langsung membalas ucapan Ranty.
"Heh! Mbak! Jangan asal nuduh loe! Punya mulut tolong jangan suka sebar fitmah. Loe mau tahu siapa dia? Dia cowok gue!" balas Syifa dengan nada tinggi.
Ranty tak dapat berkata-kata. Rizal justru tersenyum manis dan menasehati Ranty.
"Ranty, bukankah sebaiknya kamu itu tabayyun sebelum mengucapkan sesuatu. Nanti jatuhnya malah fitnah," kata Rizal menasehati Ranty.
Ranty menghela nafasnya. Perasaannya begitu jengkel. Dia langsung berlalu meninggalkan Rizal dan Nissa. Syifa memandangi Ranty yang berjalan dengan wajah kecewa.
"Yeee … tuh anak belagu amat," cibir Syifa.
"Sudah, sayang. Gak perlu begitu," kata Izam menasehatinya.
Nissa yang sempat terbakar cemburu awalnya menunjukkan sikap dingin.
"Oh, begitu. Rizal, mengapa tak kau terima saja cinta dia? Dia begitu sayang loh sama kamu," kata Nissa yang merasa cemburu.
Rizal.berusaha sabar menghadapi Nissa.
"Say, aku pilih kamu. Bukan dia. Ayolah, jangan kau masukkan hati perkataan dia," kata Rizal
menenangkan perasaan Ranty.
Nissa menghela nafasnya. Perlahan dia sedikit tenang.
"Ya sudah, Nissa. Kita makan, yuk. Sekalin ajak kedua temanmu itu," ajak Rizal.
__ADS_1
Mereka segera duduk di satu meja. Sambil menunggu pesanan, mereka berempat terlibat dalam sebuah percakapan ringan. Kendati baru mengenal, Izam tampak akrab dengan Rizal.