
Dicky tersenyum puas melihat Willy yang berhasil membuat Ranty mengenang masa indahnya bersama sang mantan. Karena sikap dingin Rizal, Ranty mulai terjebak dalam permainan yang diciptakan Dicky. Setelah puas mengamati Ranty yang mulai terjebak dalam permainannya, Dicky segera pergi dari café itu.
Sementara itu, di café yang lain, Almira tengah menunggu Said. Sebentar-sebentar Almira melihat jam tangannya. Rupanya, sudah lumayan lama dia menunggu Said. Dan, lima menit kemudian datanglah Said. Dia tampak terengah-engah dan berkeringat. Dia
langsung duduk di depan Almira.
“Uhft … maaf, Mira. Tadi aku habis di kejar anjing klienku,” kata Said sambil menyeka keringat di wajahnya.
Almira keheranan memandangi Said sambil menahan tawa. Tampak sesekali Said meringis menahan perih. Dia menghela nafasnya sesaat. Said akhirnya menenangkan dirinya dengan
meneguk air mineral yang dia bawa.
“Uhft! Oh ya, Mira. Katanya kamu mau ngomong sesuatu. Kalo boleh tahu, apa yang mau kamu omongkan?” tanya Said ingin tahu.
Almira tersenyum manis.
“Said, aku sudah lulus. Aku dapat predikat cumlaude,” kata Almira sambil tersenyum manis.
Said menatap Almira dengan senyum simpul. Dia merasa senang Almira dapat menyelesaikan kuliahnya.
“Mira, selamat ya. Alhamdulillah, kamu lulus dengan niali bagus. Papamu pasti bangga kepadamu,” kata Said memberi ucapan selamat.
“Terima kasih, Said. Kamu betul-betul laki-laki yang special buat aku. Tapi … ,” kata Almira memutus ucapannya sambil tersenyum.
Said memandangi Almira dengan wajah keheranan. “Tapi? Koq ada tapinya?”
Almira tersenyum simpul, sementara Said menatapnya dengan ekspresi keheranan. Dia merasa begitu penasaran dengan sikap Almira.
“Eh, koq malah senyum-senyum sih? Aku serius nih. Aku bener-bener penasaran, Mira,” kata Said yang sangat penasaran dengan apa yang hendak dikatakan Almira.
“Uhm, enaknya kasih tahu gak ya?” kata Almira semakin membuat Said penasaran.
Said yang kebingungan memicingkan matanya. Dia merasa sangat penasaran dengan sikap Almira. Almira hanya diam sambil tersenyum. Dan, tak berapa lama kemudian, datanglah pesanan Almira. Pelayan itu menyajikan pesanan Almira di meja. Ketika akan pergi, Almira menahan pelayan itu.
“Pak, tunggu. Teman saya mau pesan juga,” kata Almira.
Said terkejut. Dia menggelengkan kepalanya. “Mira, aku baru saja makan.”
“Udah, sebelum aku jelasin, kamu pesan dulu, gih. Ayo, buruan. Kalo gak pesan, aku gak mau jelasin,” kata Almira dengan senyum manis.
Karena penasaran, dengan terpaksa, Said akhirnya memesan kopi hangat. Setelah pelayan itu pergi, Almira melanjutkan pembicaraanya.
“Said. Bukan kelulusanku yang ingin aku bicarakan kepadamu. tapi hal lain.” Almira mulai menjelaskan.
“Hal lain?” tanya Said keheranan.
“Iya, hal lain.” Almira menghela nafasnya sesaat. Dia kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Said, setelah sekian lama kamu dampngi aku, aku merasa kamu adalah orang yang tepat untukku. Memang, awalnya aku tak mencintaimu. Kini, aku berharap kamu mulai mencintaiku,
Said,” kata Almira dengan nada lembut.
Deg! Said mulai canggung. “Waduh! Koq jadi begini? Ugh! Sial … perutku,” bathinnya.
__ADS_1
Said mulai memandangi Almira dengan wajah tegang. Dia merasakan sakit perut karena canggung. Almira kembali berkata, “Said. Aku tahu mungkin aku tak sempurna, tapi aku butuhseorang pria sebagai tempatku berlabuh. Dan, pelabuhan hatiku kini tertuju kepadamu. Aku sudah mantap untuk memilihmu sebagai pendamping hidupku, Said. Bagaimana denganmu, Said?” tanya Almira.
Said teriam sejenak. Dia berusaha berfikir jernih. Setelah agak lama akhirnya dia tersenyum pada Almira.
“Mira, aku mungkin belum bisa mencintaimu. Tapi, aku siap mendampingimu. Aku siap selalu ada buat kamu, Mira,” kata Said yang sudah mulai bisa mengatasi rasa canggungnya.
Almira tersenyum manis. Dia menggenggam erat tangan Said.
“Terima kasih, Said. Aku berharap, nanti ketika wisuda kamulah yang dampingi aku. Kamu mau kan?” tanya Said.
“Iya, Mira. Aku mau. Tapi, kapan kamu wisuda?” tanya Said.
Tak lama kemudian, datanglah minuman hangat pesanan Said. Dengan bersemangat, Said meminum minuman itu. Ketika said tengah meminum minuman hangat itu, Almira langsung menjawab pertanyaan Said,
“Aku wisuda seminggu lagi, Said,” kata Almira.
Said yang terkejut langsung batuk. Rupanya dia tersedak. Sejenak dia pejamkan matanya dan wajahnya memerah. Almira yang tanggap langsung memijat tengkuknya. Akhirnya, Said
kembali tenang.
“Maaf, Mira. Koq mendadak sekali?” tanya Said dengan nada terkejut setelah batuknya reda.
Almira tak langsung menjawab. Dia tersenyum sambil membersihkan wajahnya. Setelah tenang, Almira akhirnya berkata, “ Said. Aku tak ingin ada fitnah karena hubungan dekat kita.
Aku ingin segera menghalalkan hubungan kita. Maafkan aku jika kamu terkejut dengan keputusanku yang mendadak.”
Said hanya tersenyum manis. Dia cium tangan Almira.
“Baiklah, Almira. Aku akan segera melamarmu, namun, aku belum bisa menikahimu ketika kamu wisuda,” kata Said.
Said mengangguk. Mereka segera bangkit dan berjalan ke kasir. Almira sempat keheranan melihat Said berjalan seperti menahan sakit. Berulang kali dia pegangi bagia belakang tubuhnya. Dengan berbisik, Almira bertanya pada Said.
“Eh, Said. Koq kamu seperti menahan sakit gitu?” bisiknya.
Dengan wajah malu, Said berbisik pada Almira.
“Ugh! Pantatku digigit anjing besar klienku. Mana celana belakangku robek lagi,” bisik Said sambil menutupi bagian belakang celananya.
Almira menahan tawa, namun dia mengerti kesulitan Said.
“Udah, said. Kamu tunggu aku di luar aja, daripada kamu jadi tontonan pengunjung café,” kata Almira.
Said segera berjalan keluar sambil menutupi bagian belakang celanaya yang robek. Sesekali tampak wajahnya menringis menahan perih karena gigitan anjing kliennya.
Setelah membayar pesanannya di café, Almira segera menyusul Said di parkiran mobil, dan langsung pergi dari tempat itu. Sebelum menuju ke rumah, mereka mampir ke dokter untuk mengobati luka yang di derita Said.
Sore harinya, ketika jam pulang kerja Rizal dikejutkan dengan suara di hpnya. Sebuah pesan dari Ranty.
"Ya elah! Ranty lagi. Ngajak ketemuan?" bathinnya.
Rizal.yang sudah malas awalnya hendak menolaknya, namun dia teringat akan ayahnya yang begitu berharap pada Ranty. Dia berfikir sejenak di kantornya.
Akhirnya, Rizal memutuskan untuk mengalah. Dia menyanggupinya. Dia balas pesan Ranty dan segera beranjak dari ruang kerjanya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, di sebuah taman dia temui Ranty. Rupanya Ranty sudah cukup lama menunggu.
"Say, akhirnya kamu datang juga," kata Ranty dengan nada mesra.
"Oke. To the point, Ranty. Apa yang mau kamu bicarakan," kata Rizal dengan nada dingin.
Ranty tampak tenang. Dengan mesra, dia gandeng tangan Rizal dan mengajaknya berkeliling.
"Sayang, kamu koq selalu dingin kepadaku? Aku kurang apa sih?" kata Ranty dengan nada manja.
Rizal hanya diam sambil menunjukkan foto dan video yang dikirim Dicky ke hpnya. Nomor itu pun nomor yang tak di kenal.
"Sekarang kamu jelaskan! Mengapa kamu begini, Ranty? Mengapa kamu mabuk?!" tanya Rizal dengan nada tinggi.
Ranty sejenak terkejut. Namun, dia terus membujuk Rizal. Dia memegangi tangan Rizal.
"Sayang ... Maaf. aku lakukan itu karena aku sayang kamu. Aku khilaf, Rizal. Please ... Maafkan aku," kata Ranty dengan nada manja.
Rizal menatap Ranty dengan tatapan dingin.
"Ranty! Jujur. Aku kecewa dengan kamu," jawab Rizal ketus.
Ranty tak menyerah. Dia tetap berusaha membujuk Rizal. Namun, Rizal yang terlanjur kecewa hanya diam. Karena diamnya Rizal, Ranty semakin manja. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Rizal, dan semakin erat menempelkan tubuhnya sambil berjalan mengelilingi taman itu.
"Say, kamu koq diem aja, sih? Ngomong dong ... Aku kan kangen banget sama kamu." Ranty merengek manja berusaha membujuk Rizal.
Rizal akhirnya bicara. "Ranty, kita duduk aja. Aku lelah tadi seharian kerja,"katanya dengan nada dingin.
Ranty menuruti kemauan Rizal. Di sebuah bangku, mereka akhirnya duduk berdua. Ranty masih tetap bersikap manja. Dia merangkul mesra Rizal. Dilihatnya, wajah Rizal penuh peluh.
"Sayang, biar aku bersihkan wajahmu," kata Ranty berusaha merayu Rizal.
Dia mengambil tissue dan hendak menyeka keringat di wajah Rizal, namun Rizal menolaknya dengan halus.
"Ranty, sudah. Jangan lakukan itu. Gak enak nih diliatin orang. Maaf ya," tolak Rizal dengan halus.
Wajah Ranty berubah. Dia tampak jengkel karena merasa tak di perhatikan. Air matanya menetes perlahan, dan bibirnya tampak manyun.
"Iiih! Kenapa sih, kamu itu tak menghargai usahaku sedikitpun?" kata Ranty sambil menyeka air matanya.
Rizal terdiam. Dia merasa iba, namun dia tak bisa mencintai Ranty. Rizal begitu dilema. Dia hanya diam menatap jauh ke depan.
"Mas, koq diam sih? Kamu masih mikir perempuan sok alim itu?" kata Ranty dengan nada tinggi.
Rizal terkejut mendengarnya.
"Ranty, jaga ucapanmu. Aku dan Nissa sudah tak ada apa-apa," kata Rizal dengan nada sedikit emosi.
"Tuh kan?! Kamu ngaku aja! Kamu masih mikirin Nisaa kan?!" balas Ranty dengan nada tinggi.
Tangisnya mulai pecah. Dia begitu sakit hati dengan sikap dingin Rizal.
"Rizal! Kenapa sih kamu tak bisa mencintai aku?! Kenapa?!" bentak Ranty di tengah tangisnya.
__ADS_1
Rizal terdiam. Dia makin kebingungan menghadapi situasi itu. Di tengah kebingungannya, Ranty akhirnya pergi meninggalkan Rizal yang termenung sendiri. Dia begitu kecewa karena tak berhasil membujuk Rizal.